공유

RAJA TEGA MELELEH

last update 게시일: 2026-04-22 16:32:57

"Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.

Elara menghentikan langkahnya. “Apa lagi?”

Kael berjalan mendekat dengan langkah santai. “Aku antar pulang.”

"Aku naik bus saja.”

Kael menyeringai tipis. “Kamu baru sehari di sini dan sudah bikin seluruh sekolah heboh. Naik bus hari ini berarti besok gosipnya akan jauh lebih parah. Naiklah!"

Theo di belakang menyeringai. “Boss jarang nawarin orang. Kamu spesial, new girl.”

Elara tahu ini jebakan, tetapi menolak di depan umum tanpa alasan masuk akal sama dengan bunuh diri. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku tas ranselnya. Ia pura-pura memencet nomor kontak teman lama dari Oakhaven yang sebenarnya sudah lama tidak dihubungi.

“Halo? Rina? Iya, ini Elara,” katanya cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya dibuat santai. “Aku sudah di depan gerbang. Kamu jemput di mana? Oh, oke, aku tunggu di halte depan, ya. Sampai ketemu!”

Ia mematikan panggilan sebelum “Rina” sempat menjawab apa-apa, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku dengan tangan sedikit gemetar.

"Aku sudah ada janji dijemput teman,” kata Elara tegas, menatap Kael langsung. “Jadi nggak usah repot-repot antar. Terima kasih.”

Suasana di tempat parkir langsung hening. Theo dan Rian saling pandang dengan alis terangkat. Lyra menyeringai kecil, seolah sudah menduga drama ini akan terjadi.

Kael tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elara dengan ekspresi datar yang perlahan berubah menjadi senyum miring yang dingin. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Jadi kamu lebih memilih naik bus atau dijemput ‘teman’ daripada naik mobilku?” tanyanya pelan, tetapi nada suaranya penuh ejekan. “Menarik sekali pilihanmu, Elara Quinn.”

Ia melangkah lebih dekat hingga jarak mereka tinggal satu langkah. Tubuh tingginya membayangi Elara sepenuhnya. Tangan kanannya terulur cepat, merebut ponsel dari saku Elara sebelum cewek itu sempat bereaksi.

"Kael!” Elara memekik kaget, mencoba merebut kembali. “Kembalikan!”

Kael mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi dengan satu tangan. Sementara tangan kirinya menahan pergelangan tangan Elara dengan kuat. Tidak sampai menyakiti, tetapi cukup untuk menunjukkan siapa yang berkuasa di sini.

Ia membuka riwayat panggilan. Senyumnya semakin lebar, tetap dingin dan penuh bahaya.

“Rina?” ejeknya sambil tertawa kecil. “Panggilan cuma dua detik dan langsung dimatikan. Kamu pikir aku sebodoh itu, new girl?”

Kael melempar ponsel itu ke arah Theo yang langsung menangkapnya dengan sigap. Kemudian ia menunduk, wajahnya sangat dekat dengan wajah Elara. Suaranya rendah, hanya terdengar oleh Elara dan anggota Sovereigns di sekitar.

“Dengar baik-baik,” bisiknya kasar, “di sekolah ini, aku yang menentukan siapa boleh dekat dengan siapa. Kamu sudah duduk di sebelahku. Sekarang kamu pikir bisa seenaknya menolakku di depan semua orang?”

Elara menarik tangannya dengan keras, berhasil melepaskan diri meski pergelangannya terasa panas. Matanya berkilat marah.

"Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi kamu. Aku mau pulang.”

Kael tertawa pelan, suara itu terdengar menyeramkan karena tidak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya. Matanya menyipit, penuh obsesi yang mulai terbakar karena perlawanan Elara yang justru semakin membuatnya tertarik.

“Kamu berani melawan aku,” gumamnya, hampir seperti sedang menikmati. “Bagus! Aku ingin lihat sejauh mana perlawanan kamu.”

Ia mencondongkan tubuh lebih dekat lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga Elara.

"Hanya aku yang boleh mengganggu hidupmu. Hanya aku yang boleh menerormu. Kalau ada orang lain yang coba-coba, mereka akan menyesal. Termasuk ‘teman’ khayalanmu itu.”

Kael mundur selangkah, lalu mengangguk ke arah mobilnya.

"Sekarang naik! Jangan buat aku ulangi perintah dua kali!" Ia rebut ponsel dari tangan Theo, lalu melemparkan ke jok ke dalam mobil.

Elara berdiri kaku beberapa detik. Ia tahu kalau menolak lebih keras lagi, situasinya akan semakin buruk. Dengan rahang mengeras dan hati yang penuh amarah, ia akhirnya melangkah masuk ke mobil sport hitam itu.

Kael membanting pintu di belakangnya, lalu duduk di kursi pengemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia melirik Elara dengan tatapan yang sudah tidak lagi sekadar penasaran. Ada kegelapan obsesif yang mulai terbentuk di sana.

"Kamu boleh melawan sekuat tenaga, Elara,” katanya lembut, tapi penuh ancaman manis. “Tapi ingat satu hal, aku nggak akan biarkan kau menang.”

Mobil sport hitam itu meluncur keluar dari gerbang Diamond High School dengan kecepatan yang membuat Elara mencengkeram sabuk pengaman. Suasana di dalam kabin terasa pengap, meski AC menyala dingin.

Kael menyetir dengan satu tangan, sikapnya santai seolah tidak ada yang terjadi. Sesekali ia melirik Elara dari samping, senyum miring masih terukir di bibirnya.

"Kenapa diam saja?” tanyanya dengan nada santai yang penuh ejekan. “Tadi di parkiran mulutmu cukup lancar."

Elara menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. “Aku nggak punya urusan bicara dengan orang yang suka memaksa orang lain.”

Kael tertawa pelan, suara rendah yang terdengar seperti dengkuran binatang buas. Ia sengaja memutar setir agak tajam di tikungan, membuat tubuh Elara bergeser ke samping.

"Memaksa?” ulangnya dengan nada pura-pura terkejut. “Aku cuma mengantar murid baru yang kebetulan duduk di sebelahku. Kamu yang bikin ribut sendiri dengan drama ‘teman khayalan’ itu.”

Ia meraih tangan Elara yang berada di pangkuan dengan cepat, meremasnya cukup kuat hingga Elara meringis kecil. Kael tidak melepaskan, malah mengusap punggung tangan Elara dengan ibu jempolnya secara lambat, kontras dengan kata-katanya yang kasar.

"Asal kamu tahu, Elara? Di sekolah ini, tidak ada yang berani menolakku. Apalagi di depan umum.” Suaranya menjadi lebih rendah, lebih gelap. “Kamu baru satu hari, sudah berani melawan aku."

Elara menarik tangannya dengan keras, berhasil melepaskan diri. Matanya menyala marah saat menoleh ke arah Kael.

"Kalau kamu memang sehebat itu, kenapa harus repot-repot mengganggu cewek biasa seperti aku? Aku nggak minta perhatianmu, Kael Draven. Aku cuma mau hidup tenang.”

Kael menoleh sekilas. Matanya menyipit, ada kilau obsesif yang semakin jelas. Perlawanan Elara bukan membuatnya marah, justru sebaliknya. Semakin Elara menolak, obsesinya semakin terpacu.

“Tenang?” Ia tersenyum sinis. “Terlambat! Kamu sudah merusak ketenanganku sejak pagi tadi. Kamu pikir aku akan membiarkan itu begitu saja?”

Tangan Kael kembali terulur, kali ini meraih dagu Elara dengan kasar tetapi terkontrol, memaksa cewek itu menoleh menghadapnya saat mobil berhenti di lampu merah.

“Suka nggak suka, inilah aku," tegas Kael dengan tatapan mata tajam.

Elara menepis tangan Kael dengan kasar, napasnya sedikit tersengal.

“Kamu gila,” gumamnya.

Kael hanya tertawa kecil, suara itu penuh kepuasan.

“Mungkin.” Ia menyalakan mobil lagi saat lampu hijau menyala. “Semakin kamu melawan, semakin aku ingin melihat sampai di mana batasmu."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   JADI ADIK KAKAK

    "Aku pengen segera dapat hak mengelola perusahaan dan punya keluarga sendiri. Hidupku membosankan, El."Elara geleng-geleng kepala, lalu mengamati wajah kekasihnya. "Padahal hidup berumah tangga itu rumit, Kael.""Asal sama kamu. Semua mudah bagiku," balas Kael mantap."Udah, ah. Aku mau buru-buru mandi.""Oke. I love you, El," ucap Kael lalu mengecup bibir Elara sekilas."I love you too, Kael."Mereka berpisah dengan berat hati. Elara berjalan masuk ke asrama sambil memeluk jaket Kael yang masih hangat. Sementara Kael melajukan motornya ke arah mall dengan kecepatan sedang. Pikirannya terbagi dua. Ada rasa khawatir dengan Elara yang harus menghadapi mamanya lagi, dan rasa kesal karena harus ikut acara keluarga yang tak ia inginkan.***Jam 6.45 malam, di toko perhiasan Emerald yang mewah.Kael berdiri di samping papanya yang sedang memperhatikan deretan kalung berlian. Cahaya lampu etalase menyilaukan.“Yang mana menurutmu bagus?” tanya papanya tanpa menoleh.Kael hanya mengangkat b

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KELUARGA BARU

    Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan.Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman.“Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah."Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka.“Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air.Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam.“Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aj

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   SIENNA GIRANG

    Kael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban."Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael."Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu."Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?""Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!""Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!"Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua. Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih."Ngomong apaan? Aku nggak denger!""Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   HARUS MEMILIH

    Kael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu."El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.”Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael."Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup.Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pe

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   GAGAL KENCAN

    Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara."Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar."El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KASMARAN

    Elara berjalan menyusuri trotoar. Rambut blonde bergelombangnya dikuncir asal-asalan. Ia memakai hoodie hitam polos, berharap tak ada yang mengenalinya. Harapan itu hancur dalam hitungan detik.Tiga cowok berbadan besar dari geng rival The Sovereigns — kelompok “Black Vipers” — tiba-tiba muncul dari gang kecil, langsung mengepungnya.“Lo temen sebangku Kael Draven, kan?” tanya yang paling tinggi, suaranya penuh ancaman.Elara mundur selangkah, punggungnya menempel tembok. “Aku bukan siapa-siapa. Minggir!”Cowok itu tertawa sinis. “Kayaknya incaran baru Kael."Sebelum Elara sempat bergerak, tangan salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah hoodie-nya.“Lepaskan!”Benturan keras terdengar. Tiba-tiba tubuh cowok itu terpental ke belakang.Kael muncul dari arah belakang, napasnya memburu, mata hitamnya membara seperti api neraka. Tanpa bicara, ia langsung menyerang. Tinju, tendangan, suara tulang beradu. Dua cowok lainnya ikut mengeroyoknya sekaligus.Elara berteriak, “Kael! Stop!”N

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status