Masuk"Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.
Elara menghentikan langkahnya. “Apa lagi?” Kael berjalan mendekat dengan langkah santai. “Aku antar pulang.” "Aku naik bus saja.” Kael menyeringai tipis. “Kamu baru sehari di sini dan sudah bikin seluruh sekolah heboh. Naik bus hari ini berarti besok gosipnya akan jauh lebih parah. Naiklah!" Theo di belakang menyeringai. “Boss jarang nawarin orang. Kamu spesial, new girl.” Elara tahu ini jebakan, tetapi menolak di depan umum tanpa alasan masuk akal sama dengan bunuh diri. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku tas ranselnya. Ia pura-pura memencet nomor kontak teman lama dari Oakhaven yang sebenarnya sudah lama tidak dihubungi. “Halo? Rina? Iya, ini Elara,” katanya cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya dibuat santai. “Aku sudah di depan gerbang. Kamu jemput di mana? Oh, oke, aku tunggu di halte depan, ya. Sampai ketemu!” Ia mematikan panggilan sebelum “Rina” sempat menjawab apa-apa, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku dengan tangan sedikit gemetar. "Aku sudah ada janji dijemput teman,” kata Elara tegas, menatap Kael langsung. “Jadi nggak usah repot-repot antar. Terima kasih.” Suasana di tempat parkir langsung hening. Theo dan Rian saling pandang dengan alis terangkat. Lyra menyeringai kecil, seolah sudah menduga drama ini akan terjadi. Kael tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elara dengan ekspresi datar yang perlahan berubah menjadi senyum miring yang dingin. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Jadi kamu lebih memilih naik bus atau dijemput ‘teman’ daripada naik mobilku?” tanyanya pelan, tetapi nada suaranya penuh ejekan. “Menarik sekali pilihanmu, Elara Quinn.” Ia melangkah lebih dekat hingga jarak mereka tinggal satu langkah. Tubuh tingginya membayangi Elara sepenuhnya. Tangan kanannya terulur cepat, merebut ponsel dari saku Elara sebelum cewek itu sempat bereaksi. "Kael!” Elara memekik kaget, mencoba merebut kembali. “Kembalikan!” Kael mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi dengan satu tangan. Sementara tangan kirinya menahan pergelangan tangan Elara dengan kuat. Tidak sampai menyakiti, tetapi cukup untuk menunjukkan siapa yang berkuasa di sini. Ia membuka riwayat panggilan. Senyumnya semakin lebar, tetap dingin dan penuh bahaya. “Rina?” ejeknya sambil tertawa kecil. “Panggilan cuma dua detik dan langsung dimatikan. Kamu pikir aku sebodoh itu, new girl?” Kael melempar ponsel itu ke arah Theo yang langsung menangkapnya dengan sigap. Kemudian ia menunduk, wajahnya sangat dekat dengan wajah Elara. Suaranya rendah, hanya terdengar oleh Elara dan anggota Sovereigns di sekitar. “Dengar baik-baik,” bisiknya kasar, “di sekolah ini, aku yang menentukan siapa boleh dekat dengan siapa. Kamu sudah duduk di sebelahku. Sekarang kamu pikir bisa seenaknya menolakku di depan semua orang?” Elara menarik tangannya dengan keras, berhasil melepaskan diri meski pergelangannya terasa panas. Matanya berkilat marah. "Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi kamu. Aku mau pulang.” Kael tertawa pelan, suara itu terdengar menyeramkan karena tidak ada sedikit pun kehangatan di dalamnya. Matanya menyipit, penuh obsesi yang mulai terbakar karena perlawanan Elara yang justru semakin membuatnya tertarik. “Kamu berani melawan aku,” gumamnya, hampir seperti sedang menikmati. “Bagus! Aku ingin lihat sejauh mana perlawanan kamu.” Ia mencondongkan tubuh lebih dekat lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga Elara. "Hanya aku yang boleh mengganggu hidupmu. Hanya aku yang boleh menerormu. Kalau ada orang lain yang coba-coba, mereka akan menyesal. Termasuk ‘teman’ khayalanmu itu.” Kael mundur selangkah, lalu mengangguk ke arah mobilnya. "Sekarang naik! Jangan buat aku ulangi perintah dua kali!" Ia rebut ponsel dari tangan Theo, lalu melemparkan ke jok ke dalam mobil. Elara berdiri kaku beberapa detik. Ia tahu kalau menolak lebih keras lagi, situasinya akan semakin buruk. Dengan rahang mengeras dan hati yang penuh amarah, ia akhirnya melangkah masuk ke mobil sport hitam itu. Kael membanting pintu di belakangnya, lalu duduk di kursi pengemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia melirik Elara dengan tatapan yang sudah tidak lagi sekadar penasaran. Ada kegelapan obsesif yang mulai terbentuk di sana. "Kamu boleh melawan sekuat tenaga, Elara,” katanya lembut, tapi penuh ancaman manis. “Tapi ingat satu hal, aku nggak akan biarkan kau menang.” Mobil sport hitam itu meluncur keluar dari gerbang Diamond High School dengan kecepatan yang membuat Elara mencengkeram sabuk pengaman. Suasana di dalam kabin terasa pengap, meski AC menyala dingin. Kael menyetir dengan satu tangan, sikapnya santai seolah tidak ada yang terjadi. Sesekali ia melirik Elara dari samping, senyum miring masih terukir di bibirnya. "Kenapa diam saja?” tanyanya dengan nada santai yang penuh ejekan. “Tadi di parkiran mulutmu cukup lancar." Elara menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. “Aku nggak punya urusan bicara dengan orang yang suka memaksa orang lain.” Kael tertawa pelan, suara rendah yang terdengar seperti dengkuran binatang buas. Ia sengaja memutar setir agak tajam di tikungan, membuat tubuh Elara bergeser ke samping. "Memaksa?” ulangnya dengan nada pura-pura terkejut. “Aku cuma mengantar murid baru yang kebetulan duduk di sebelahku. Kamu yang bikin ribut sendiri dengan drama ‘teman khayalan’ itu.” Ia meraih tangan Elara yang berada di pangkuan dengan cepat, meremasnya cukup kuat hingga Elara meringis kecil. Kael tidak melepaskan, malah mengusap punggung tangan Elara dengan ibu jempolnya secara lambat, kontras dengan kata-katanya yang kasar. "Asal kamu tahu, Elara? Di sekolah ini, tidak ada yang berani menolakku. Apalagi di depan umum.” Suaranya menjadi lebih rendah, lebih gelap. “Kamu baru satu hari, sudah berani melawan aku." Elara menarik tangannya dengan keras, berhasil melepaskan diri. Matanya menyala marah saat menoleh ke arah Kael. "Kalau kamu memang sehebat itu, kenapa harus repot-repot mengganggu cewek biasa seperti aku? Aku nggak minta perhatianmu, Kael Draven. Aku cuma mau hidup tenang.” Kael menoleh sekilas. Matanya menyipit, ada kilau obsesif yang semakin jelas. Perlawanan Elara bukan membuatnya marah, justru sebaliknya. Semakin Elara menolak, obsesinya semakin terpacu. “Tenang?” Ia tersenyum sinis. “Terlambat! Kamu sudah merusak ketenanganku sejak pagi tadi. Kamu pikir aku akan membiarkan itu begitu saja?” Tangan Kael kembali terulur, kali ini meraih dagu Elara dengan kasar tetapi terkontrol, memaksa cewek itu menoleh menghadapnya saat mobil berhenti di lampu merah. “Suka nggak suka, inilah aku," tegas Kael dengan tatapan mata tajam. Elara menepis tangan Kael dengan kasar, napasnya sedikit tersengal. “Kamu gila,” gumamnya. Kael hanya tertawa kecil, suara itu penuh kepuasan. “Mungkin.” Ia menyalakan mobil lagi saat lampu hijau menyala. “Semakin kamu melawan, semakin aku ingin melihat sampai di mana batasmu."“Ale, aku hanya ingin bersama kamu,” ucap Elara.Alessandro terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.Ia menatap Elara beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan menghargainya.”Elara mengusap air matanya.“Aku capek, Ale.”“Aku tahu.”“Aku capek harus menjelaskan kenapa aku mencintaimu. Aku capek harus merasa bersalah setiap kali memilih perasaanku sendiri.”Alessandro menarik napas panjang.“Kamu gak perlu merasa bersalah karena mencintai seseorang.”Elara menatapnya dengan raut wajah semakin tertekan.“Tapi aku sudah menikah dengan Kael.”Alessandro tidak langsung menjawab. “Aku tahu.”“Secara hukum dan di hadapan keluarga, aku adalah istrinya,"ucap Elara penuh sesal. “Aku tahu," sahut Alessandro sambil menyeka air mata Elara ujung jari.“Lalu bagaimana mungkin aku bisa bersamamu?”Alessandro menatap mata Elara.“Itu sebabnya aku gak akan memintamu melakukan apa pun malam ini.”Elara terdiam dengan
Sementara itu, Kael sudah tiba di Kyoto pada malam harinya. Ia check-in di hotel dekat area tempat jejak terakhir Elara terdeteksi. Dari kamar hotel, ia terus menghubungi orang-orangnya.“Cek semua apartemen sewaan di area itu. Fokus pada perempuan berambut pirang, sendirian, baru datang dalam seminggu terakhir.”Di waktu yang hampir bersamaan, Marco menerima telepon dari Thomas.“Marco, datang ke sini! Kita perlu bicara soal Alessandro dan Elara.”Marco yang sedang di rumah sakit langsung menuju ruang Thomas. Begitu masuk, ia melihat wajah Tuan Thomas yang jauh lebih muram dari biasanya.“Ada apa, Pak?”Thomas menatapnya berat. “Alessandro mengajukan syarat. Dia hanya mau mengakui saya sebagai ayah kandung jika saya membantu membatalkan pernikahan Kael dan Elara.”Marco terkejut. “Pembatalan? Itu sangat sulit. Kemudian besar Kael gak akan setuju. Dia sangat mencintai Elara."“Saya tahu,” jawab Thomas. “Tapi itu satu-satunya yang dia minta. Maka dari itu saya ajak kamu diskusi."Marc
Tiba-tiba ponsel milik Alessandro berdering. Tampak nomor asing dari negara Jepang.“Siapa, ya?” tanya Alessandro sambil menoleh ke arah Maria.“Angkat saja, Ale!”Alessandro mengangkat telepon itu dengan ragu. “Halo?”Keheningan sejenak di seberang. Lalu suara yang sangat familiar terdengar, pelan dan sedikit serak.“Ale… ini aku.”Alessandro membeku. Maria yang melihat ekspresinya langsung menegakkan tubuh.“Elara?” suara Alessandro turun menjadi bisikan, seolah tidak percaya. Kedua matanya tampak berbinar-binar, penuh harapan.Di seberang, Elara menarik napas. “Aku di Kyoto. Aku… hanya ingin bilang," terdengar isakan beberapa saat. "Aku sudah sampai dengan selamat. Dan… maaf karena pergi tanpa bilang langsung.”Alessandro menutup mata, menekan ponsel lebih erat ke telinganya. “Kamu telepon dari nomor Jepang.”“Aku beli nomor lokal. Aku gak ingin mudah dilacak.” Elara terdiam sebentar. “Aku dengar kamu drop setelah donor. Sekarang … gimana keadaan kamu?”Alessandro tertawa kecil, te
Di kota yang jauh, Elara mulai membangun rutinitas baru. Ia tidak menyalakan ponsel kecuali untuk membalas Clara. Ia menolak semua permintaan lokasi. Bahkan Clara hanya tahu bahwa ia aman, tanpa detail alamat lengkap.Sementara itu di rumah sakit, Alessandro akhirnya sadar penuh pada pagi ketiga. Yang pertama ia tanyakan bukan kondisi tubuhnya.“Elara?”Maria yang duduk di samping tempat tidur terdiam. Marco yang kebetulan ada di ruangan juga tidak langsung menjawab.Alessandro mengulang, suaranya serak. “Di mana Elara?”Maria menunduk. “Dia pergi, Ale. Setelah kamu donor. Dia bilang ingin hidupnya sendiri.”Alessandro menatap langit-langit lama. Tak ada ekspresi marah maupun kaget. Namun seolah dalam dirinya ada sesuatu yang mengunci.“Aku tahu,” bisiknya. “Aku sudah duga.”Di sisi lain rumah sakit, hasil tes DNA akhirnya keluar. Dokter pribadi Thomas menyerahkan amplop itu langsung ke tangan pria tua itu. Thomas membuka dengan tangan gemetar. Hasilnya jelas bahwa Alessandro Bianchi
Marco buru-buru membungkam mulut Kael dan menyeretnya menjauh dari Maria yang masih menempel di kaca ICU.Begitu mereka mencapai ujung koridor, Kael menepis tangan Marco dengan kasar.“Lepas!” teriak Kael dengan wajah memerah.“Berani benar, kamu membungkam aku?”Marco menatapnya tegang. “Kamu mau bilang apa barusan di depan Nyonya Maria? Mau bilang Elara sudah jadi istrimu? Sekarang? Saat anaknya drop di dalam sana?”Kael menegakkan tubuhnya. “Itu fakta. Elara sudah menikah denganku. Sah. Aku gak akan diam saja, sementara semua orang pura-pura gak tahu.”“Fakta yang akan membuat Nyonya Maria meledak,” potong Marco. “Anaknya baru saja kolaps. Elara menghilang. Kalau kamu sekarang berdiri di situ dan mengklaim Elara sebagai istrimu, kamu hanya akan menambah kekacauan.”Kael tertawa pahit. “Jadi aku harus tutup mulut? Sementara Alessandro yang hampir menjadi calon suaminya terbaring di ICU, dan aku yang sah harus pura-pura gak ada?”Marco menghela napas berat. “Bukan pura-pura gak ada. T
Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka







