Share

DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU
DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU
Author: Citra Rahayu Bening

KESAN PERTAMA

last update publish date: 2026-04-22 15:02:21

Elara Quinn menarik napas dalam-dalam di depan gerbang besi tinggi Diamond High School. Tas ransel hitam polosnya terasa berat. Ini hari pertamanya sebagai murid pindahan dari kota kecil Oakhaven

Mamanya baru menikah dengan Thomas Draven—salah satu orang terkaya di Silverport City. Elara memilih tinggal di asrama sekolah daripada ikut tinggal di penthouse mewah itu. Ia hanya ingin hidup tenang, belajar, dan sesekali kerja paruh waktu. Tidak lebih.

"Blend in, Elara. Kamu bisa,” gumamnya sambil menunduk, membiarkan rambut blonde bergelombang menutupi separuh wajahnya.

Ruang kelas 11-4 sudah ramai saat ia masuk. Guru BK tersenyum ramah dan memperkenalkannya di depan kelas.

“Ini Elara Quinn, murid pindahan dari luar kota. Tolong bantu dia beradaptasi, ya.”

Beberapa siswa berbisik. Elara hanya mengangguk kecil lalu langsung menuju kursi paling belakang, dekat jendela. Tempat yang aman.

Tak lama setelah bel masuk, pintu kelas terbuka. Kael Draven melangkah masuk dengan langkah santai yang langsung membuat suasana kelas berubah. Tubuh tinggi, bahu lebar, rambut hitam acak-acakan, dan aura dingin yang membuat orang-orang secara otomatis menunduk.

Dia pemimpin The Sovereigns—geng paling berpengaruh di Diamond High School. Anak tunggal keluarga Draven. Siapa pun yang mengganggu ketenangannya biasanya berakhir menyesal.

Kael melewati deretan meja tanpa melihat siapa pun. Hingga langkahnya terhenti sebentar di dekat meja Elara. Ia menatap cewek baru yang sedang meletakkan tasnya dengan ekspresi datar.

Elara mendongak. Ia tidak tahu siapa cowok di depannya. “Maaf,” katanya pelan, suara datar. “Kursi ini kosong. Kalau mau duduk, silakan.”

Seluruh kelas langsung membeku. Kael menatapnya lama, alisnya terangkat sedikit. Bukan senyum manis, melainkan ekspresi setengah geli, setengah meremehkan.

Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi di sebelah Elara dan duduk dengan santai, seolah itu hal paling biasa di dunia.

Bisik-bisik di antara penghuni kelas langsung meledak.

"Dia duduk di sebelah new girl?”

"Gila, biasanya kursi itu kosong.”

"Kael nggak pernah duduk sembarangan.”

Elara mengerutkan kening, tetapi memilih tak peduli. Ia mengeluarkan buku catatan dan berusaha fokus pada pelajaran. Namun ia bisa merasakan tatapan aneh Kael. Tatapan yang sesekali menyelinap ke arahnya—bukan tatapan lembut, melainkan tatapan seperti sedang menilai barang baru yang aneh.

Saat jam istirahat, masalah datang lebih cepat dari yang ia duga. Tiga gadis mendekat ke meja Elara. Yang paling depan adalah Sienna, ketua klub penggemar Kael sekaligus ratu gosip Diamond High. Ia bersedekap, tersenyum smirk. Ia mengamati Elara dari atas sampai ke bawah, tak ada jejak orang kaya.

“New girl,” kata Sienna dengan suara manja yang dibuat-buat. “Kursi itu biasanya kami simpan untuk orang tertentu. Kamu mungkin belum tahu aturan di sini.”

Elara menghela napas. “Aku cuma duduk di tempat kosong. Kalau kalian mau, aku pindah—”

"Oh, sayang sekali,” potong Sienna sambil tertawa kecil. Suaranya cukup keras agar beberapa siswa di sekitar ikut mendengar. “Kamu pikir semudah itu? Duduk di sebelah Kael Draven di hari pertama? Berani sekali!"

Dua teman di belakang Sienna ikut menyeringai. Yang satu mengibaskan rambutnya dengan sombong.

“Kamu tahu nggak sih, berapa banyak cewek yang sudah berusaha duduk di situ tapi langsung ditolak?” kata gadis kedua. “Dan kamu? Langsung nyaman di sana seolah tempat itu milikmu.”

Sienna mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangan di meja Elara. Senyumnya semakin lebar, tetapi tatapannya dingin dan penuh ancaman.

“Dengar ya, new girl. Kael itu milik kami. Mi-lik a-ku. Kamu cuma anak pindahan dari entah kampung mana yang kebetulan dapat kursi kosong. Jangan sok deket-deket! Besok pagi mending kamu pindah sendiri ke belakang, atau—"

Sienna sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik ke arah teman-temannya. Salah satunya langsung menyambung dengan nada sinis.

"Atau kami yang bantu ‘pindahin’ barang-barangmu. Tas ransel murahan itu pasti gampang hilang di asrama.”

Elara tetap diam dengan tangannya mengepal pelan di bawah meja. Ia tidak mau ribut di hari pertama, tetapi juga tidak mau ditindas.

"Aku nggak cari masalah,” jawab Elara datar. “Aku cuma mau belajar.”

Sienna tertawa nyaring, suaranya penuh ejekan.

"Belajar? Di Diamond High? Dengan muka polos dan rambut blonde murahan begitu? Kamu pikir kami percaya?” Ia menegakkan tubuh dan menyilangkan tangan. “Cewek seperti kamu biasanya cuma datang buat cari perhatian Kael atau cari duit dari cowok kaya. Mana mungkin kamu beda.”

Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang penuh racun.

"Jadi mending kamu sadar diri sekarang? Jauhi Kael! Kalau nggak, aku pastiin hidupmu di sekolah ini jadi neraka. Camkan itu baik-baik!"

Suasana di sekitar meja mulai tegang. Beberapa siswa pura-pura tidak melihat, tetapi jelas mereka sedang menyimak. Elara bisa merasakan tatapan penasaran dan iba dari siswa lain.

Tepat saat Sienna hendak melanjutkan ancamannya, suara dingin yang familiar terdengar dari belakang Elara.

"Ada apa ini?”

Kael berdiri di sana, tangannya bertumpu di meja Elara dengan santai. Akan tetapi aura tubuhnya langsung membuat ketiga gadis itu mundur selangkah.

Sienna langsung memucat. “Kael, kami cuma mau—”

“Kalau kalian bosan, cari mainan lain,” potong Kael datar. “Jangan ganggu kursiku!"

Ketiga gadis itu langsung mundur tanpa berani membantah lagi. Kael kembali duduk, tetapi kali ini ia menyandarkan punggungnya dengan santai sambil memiringkan kepala. Ia menatap Elara dengan ekspresi sulit dibaca.

“Kamu nggak minta tolong,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.

Elara menoleh, tatapannya tegas. “Aku nggak butuh. Aku bisa handle sendiri.”

Kael tertawa kecil—suara pendek yang tak sampai ke mata. “Menarik.”

Sepanjang sisa jam pelajaran, ia tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik Elara dengan tatapan yang semakin lama semakin intens, seolah cewek di sebelahnya ini adalah teka-teki yang mengganggu.

Sepulang sekolah, berita sudah menyebar seperti kebakaran. Elara berjalan menuju gerbang dengan kepala tertunduk. Ia berusaha menghindari tatapan semua orang. Ponselnya sudah banjir pesan dari grup kelas yang entah siapa yang menambahkan nomornya.

Saat tiba di tempat parkir, Kael sudah bersandar di mobil sport hitamnya yang mewah, dikelilingi The Sovereigns: Theo, Rian, dan Lyra.

"Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KELUARGA BARU

    Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan.Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman.“Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah."Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka.“Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air.Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam.“Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aj

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   SIENNA GIRANG

    Kael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban."Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael."Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu."Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?""Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!""Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!"Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua. Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih."Ngomong apaan? Aku nggak denger!""Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   HARUS MEMILIH

    Kael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu."El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.”Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael."Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup.Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pe

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   GAGAL KENCAN

    Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara."Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar."El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KASMARAN

    Elara berjalan menyusuri trotoar. Rambut blonde bergelombangnya dikuncir asal-asalan. Ia memakai hoodie hitam polos, berharap tak ada yang mengenalinya. Harapan itu hancur dalam hitungan detik.Tiga cowok berbadan besar dari geng rival The Sovereigns — kelompok “Black Vipers” — tiba-tiba muncul dari gang kecil, langsung mengepungnya.“Lo temen sebangku Kael Draven, kan?” tanya yang paling tinggi, suaranya penuh ancaman.Elara mundur selangkah, punggungnya menempel tembok. “Aku bukan siapa-siapa. Minggir!”Cowok itu tertawa sinis. “Kayaknya incaran baru Kael."Sebelum Elara sempat bergerak, tangan salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah hoodie-nya.“Lepaskan!”Benturan keras terdengar. Tiba-tiba tubuh cowok itu terpental ke belakang.Kael muncul dari arah belakang, napasnya memburu, mata hitamnya membara seperti api neraka. Tanpa bicara, ia langsung menyerang. Tinju, tendangan, suara tulang beradu. Dua cowok lainnya ikut mengeroyoknya sekaligus.Elara berteriak, “Kael! Stop!”N

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   RAJA TEGA MELELEH

    "Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.Elara menghentikan langkahnya. “Apa lagi?”Kael berjalan mendekat dengan langkah santai. “Aku antar pulang.”"Aku naik bus saja.”Kael menyeringai tipis. “Kamu baru sehari di sini dan sudah bikin seluruh sekolah heboh. Naik bus hari ini berarti besok gosipnya akan jauh lebih parah. Naiklah!"Theo di belakang menyeringai. “Boss jarang nawarin orang. Kamu spesial, new girl.”Elara tahu ini jebakan, tetapi menolak di depan umum tanpa alasan masuk akal sama dengan bunuh diri. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku tas ranselnya. Ia pura-pura memencet nomor kontak teman lama dari Oakhaven yang sebenarnya sudah lama tidak dihubungi.“Halo? Rina? Iya, ini Elara,” katanya cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya dibuat santai. “Aku sudah di depan gerbang. Kamu jemput di mana? Oh, oke, aku tunggu di halte depan, ya. Sampai ketemu!”Ia mematikan panggilan sebelum “Rina” sempat menjawab apa-apa, lal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status