LOGIN
Elara Quinn menarik napas dalam-dalam di depan gerbang besi tinggi Diamond High School. Tas ransel hitam polosnya terasa berat. Ini hari pertamanya sebagai murid pindahan dari kota kecil Oakhaven
Mamanya baru menikah dengan Thomas Draven—salah satu orang terkaya di Silverport City. Elara memilih tinggal di asrama sekolah daripada ikut tinggal di penthouse mewah itu. Ia hanya ingin hidup tenang, belajar, dan sesekali kerja paruh waktu. Tidak lebih. "Blend in, Elara. Kamu bisa,” gumamnya sambil menunduk, membiarkan rambut blonde bergelombang menutupi separuh wajahnya. Ruang kelas 11-4 sudah ramai saat ia masuk. Guru BK tersenyum ramah dan memperkenalkannya di depan kelas. “Ini Elara Quinn, murid pindahan dari luar kota. Tolong bantu dia beradaptasi, ya.” Beberapa siswa berbisik. Elara hanya mengangguk kecil lalu langsung menuju kursi paling belakang, dekat jendela. Tempat yang aman. Tak lama setelah bel masuk, pintu kelas terbuka. Kael Draven melangkah masuk dengan langkah santai yang langsung membuat suasana kelas berubah. Tubuh tinggi, bahu lebar, rambut hitam acak-acakan, dan aura dingin yang membuat orang-orang secara otomatis menunduk. Dia pemimpin The Sovereigns—geng paling berpengaruh di Diamond High School. Anak tunggal keluarga Draven. Siapa pun yang mengganggu ketenangannya biasanya berakhir menyesal. Kael melewati deretan meja tanpa melihat siapa pun. Hingga langkahnya terhenti sebentar di dekat meja Elara. Ia menatap cewek baru yang sedang meletakkan tasnya dengan ekspresi datar. Elara mendongak. Ia tidak tahu siapa cowok di depannya. “Maaf,” katanya pelan, suara datar. “Kursi ini kosong. Kalau mau duduk, silakan.” Seluruh kelas langsung membeku. Kael menatapnya lama, alisnya terangkat sedikit. Bukan senyum manis, melainkan ekspresi setengah geli, setengah meremehkan. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi di sebelah Elara dan duduk dengan santai, seolah itu hal paling biasa di dunia. Bisik-bisik di antara penghuni kelas langsung meledak. "Dia duduk di sebelah new girl?” "Gila, biasanya kursi itu kosong.” "Kael nggak pernah duduk sembarangan.” Elara mengerutkan kening, tetapi memilih tak peduli. Ia mengeluarkan buku catatan dan berusaha fokus pada pelajaran. Namun ia bisa merasakan tatapan aneh Kael. Tatapan yang sesekali menyelinap ke arahnya—bukan tatapan lembut, melainkan tatapan seperti sedang menilai barang baru yang aneh. Saat jam istirahat, masalah datang lebih cepat dari yang ia duga. Tiga gadis mendekat ke meja Elara. Yang paling depan adalah Sienna, ketua klub penggemar Kael sekaligus ratu gosip Diamond High. Ia bersedekap, tersenyum smirk. Ia mengamati Elara dari atas sampai ke bawah, tak ada jejak orang kaya. "New girl,” kata Sienna dengan suara manja yang dibuat-buat. “Kursi itu biasanya kami simpan untuk orang tertentu. Kamu mungkin belum tahu aturan di sini.” Elara menghela napas. “Aku cuma duduk di tempat kosong. Kalau kalian mau, aku pindah—” "Oh, sayang sekali,” potong Sienna sambil tertawa kecil. Suaranya cukup keras agar beberapa siswa di sekitar ikut mendengar. “Kamu pikir semudah itu? Duduk di sebelah Kael Draven di hari pertama? Berani sekali!" Dua teman di belakang Sienna ikut menyeringai. Yang satu mengibaskan rambutnya dengan sombong. "Kamu tahu nggak sih, berapa banyak cewek yang sudah berusaha duduk di situ tapi langsung ditolak?” kata gadis kedua. “Dan kamu? Langsung nyaman di sana seolah tempat itu milikmu.” Sienna mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangan di meja Elara. Senyumnya semakin lebar, tetapi tatapannya dingin dan penuh ancaman. "Dengar ya, new girl. Kael itu milik kami. Mi-lik a-ku. Kamu cuma anak pindahan dari entah kampung mana yang kebetulan dapat kursi kosong. Jangan sok deket-deket! Besok pagi mending kamu pindah sendiri ke belakang, atau—" Sienna sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik ke arah teman-temannya. Salah satunya langsung menyambung dengan nada sinis. "Atau kami yang bantu ‘pindahin’ barang-barangmu. Tas ransel murahan itu pasti gampang hilang di asrama.” Elara tetap diam dengan tangannya mengepal pelan di bawah meja. Ia tidak mau ribut di hari pertama, tetapi juga tidak mau ditindas. "Aku nggak cari masalah,” jawab Elara datar. “Aku cuma mau belajar.” Sienna tertawa nyaring, suaranya penuh ejekan. "Belajar? Di Diamond High? Dengan muka polos dan rambut blonde murahan begitu? Kamu pikir kami percaya?” Ia menegakkan tubuh dan menyilangkan tangan. “Cewek seperti kamu biasanya cuma datang buat cari perhatian Kael atau cari duit dari cowok kaya. Mana mungkin kamu beda.” Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang penuh racun. "Jadi mending kamu sadar diri sekarang? Jauhi Kael! Kalau nggak, aku pastiin hidupmu di sekolah ini jadi neraka. Camkan itu baik-baik!" Suasana di sekitar meja mulai tegang. Beberapa siswa pura-pura tidak melihat, tetapi jelas mereka sedang menyimak. Elara bisa merasakan tatapan penasaran dan iba dari siswa lain. Tepat saat Sienna hendak melanjutkan ancamannya, suara dingin yang familiar terdengar dari belakang Elara. "Ada apa ini?” Kael berdiri di sana, tangannya bertumpu di meja Elara dengan santai. Akan tetapi aura tubuhnya langsung membuat ketiga gadis itu mundur selangkah. Sienna langsung memucat. “Kael, kami cuma mau—” “Kalau kalian bosan, cari mainan lain,” potong Kael datar. “Jangan ganggu kursiku!" Ketiga gadis itu langsung mundur tanpa berani membantah lagi. Kael kembali duduk, tetapi kali ini ia menyandarkan punggungnya dengan santai sambil memiringkan kepala. Ia menatap Elara dengan ekspresi sulit dibaca. “Kamu nggak minta tolong,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Elara menoleh, tatapannya tegas. “Aku nggak butuh. Aku bisa handle sendiri.” Kael tertawa kecil—suara pendek yang tak sampai ke mata. “Menarik.” Sepanjang sisa jam pelajaran, ia tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik Elara dengan tatapan yang semakin lama semakin intens, seolah cewek di sebelahnya ini adalah teka-teki yang mengganggu. Sepulang sekolah, berita sudah menyebar seperti kebakaran. Elara berjalan menuju gerbang dengan kepala tertunduk. Ia berusaha menghindari tatapan semua orang. Ponselnya sudah banjir pesan dari grup kelas yang entah siapa yang menambahkan nomornya. Saat tiba di tempat parkir, Kael sudah bersandar di mobil sport hitamnya yang mewah, dikelilingi The Sovereigns: Theo, Rian, dan Lyra. "Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.Di dalam mobil yang melaju kencang, Elara menarik napas tersengal. Ia menatap Kael yang memegang setir dengan tangan gemetar dan mata merah.“Kael, hentikan mobil ini!” teriaknya, meski sedikit bergetar. “Kamu tidak bisa melakukan ini!”Kael tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia hanya terus menginjak gas, membawa Elara menjauh dari rumah von Hohenzollern. Jalan berliku di antara hutan mulai mereka masuki. Pohon-pohon tinggi menutupi langit.Elara menarik sabuk pengamannya lebih kencang, lalu mencoba membuka kunci pintu. Namun pintu terkunci.“Kael!” suaranya naik. “Dengar aku! Ini penculikan. Kamu sedang menghancurkan dirimu sendiri!”Kael akhirnya berbicara, suaranya serak dan rendah. “Aku tidak menculikmu. Aku hanya tidak mau kehilangan kamu lagi.”“Kehilangan?” Elara tertawa pahit. Air matanya mulai mengalir. “Kamu sudah kehilangan aku sejak lama. Dan sekarang kamu semakin menjauhkanku.”Kael mengertakkan gigi. Kecepatan mobil semakin tinggi. “Aku akan bawa kamu ke tempat yang ama
Elara menyandarkan kepala di bahu Alessandro. Mereka diam cukup lama, hanya mendengarkan angin dan suara daun yang bergesekan. Tiba-tiba Maria menghampiri mereka dengan wajah panik.“Ale… Elara…” suaranya sedikit tersengal. “Ada masalah.”Alessandro langsung berdiri. “Ada apa, Ma?”Maria menggenggam erat ponselnya. “Tuan Thomas menelepon. Kael sudah tahu. Dia tahu kalian menikah. Dia tahu soal pernyataan keuskupan. Dia sedang dalam perjalanan ke sini.”Elara membeku. “Ke sini? Ke rumah ini?”Maria mengangguk dengan wajah pucat. “Tuan Thomas bilang Kael pergi tanpa bilang-bilang semalam. Tiketnya ke Frankfurt. Dia akan tiba dalam hitungan jam.”Alessandro mengerat rahangnya. “Bagaimana dia bisa tahu begitu cepat?”“Mungkin seseorang di keuskupan Milan membocorkan info,” jawab Maria. “Bisa juga dari notaris. Tuan Thomas sendiri yang menghubungi Mama. Dia minta kita berhati-hati. Kael dalam kondisi tidak stabil.”Elara bangkit dari bangku, tangan masih digenggam Alessandro. “Dia tidak bi
Elara membuka mata. Senyum kecil terukir di bibirnya. Alessandro masih memegang tangannya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Elara pelan.Maria yang berdiri di barisan belakang mengusap air matanya diam-diam. Mr. Bauer membungkuk hormat, lalu menyerahkan dua salinan akta pernikahan yang sudah ditandatangani dan distempel.“Selamat, Tuan dan Nyonya Bianchi,” katanya formal dengan suara hangat.Elara menatap nama di akta itu lama. Elara Bianchi. Bukan nama yang dipaksakan dan datang dari rasa takut. Nama yang ia pilih dengan hatinya.Mereka keluar dari kapel. Udara pagi Jerman terasa segar. Kabut sudah mulai tipis, menyisakan sinar matahari yang lembut di antara pohon-pohon tua. Alessandro melepas jas dan menyampirkannya di bahu Elara karena angin masih dingin.“Gimana rasanya?” tanyanya pelan.Elara menghela napas panjang, lalu tersenyum. “Begitu ringan dan lega. Seperti aku akhirnya bisa bernapas dengan benar.”Alessandro mengangguk. Ia meraih pinggang Elara dan menariknya ke dalam
Pagi tiba dengan cahaya lembut yang menyelinap lewat celah gorden. Elara membuka mata pelan. Alessandro masih duduk di lantai di samping sofa, kepala tersandar di tepi bantal.Tangan mereka masih saling menggenggam. Alessandro terlihat kelelahan, tetapi wajahnya tenang.Elara mengusap punggung tangan pria itu pelan. Alessandro langsung terbuka matanya.“Pagi,” bisiknya serak.“Pagi,” jawab Elara. “Kamu tidak tidur di kasur?”Alessandro tersenyum tipis. “Takut kamu butuh sesuatu di tengah malam.”Elara menggeleng pelan, lalu menariknya naik ke sofa. “Istirahatlah sebentar. Aku sudah jauh lebih baik.”Alessandro menurut, berbaring di sisi Elara dengan hati-hati. Mereka diam beberapa saat, hanya mendengarkan napas satu sama lain.Beberapa jam kemudian, ponsel Alessandro bergetar. Ada pesan dari Maria.[Tiket ke Frankfurt sudah siap. Keberangkatan lusa malam. Mr. Bauer akan menjemput di bandara. Rumah utama sudah dibersihkan.]Alessandro menunjukkan pesan itu ke Elara. Wanita itu membaca,
"Aku semakin yakin setelah lihat kamu tersiksa seperti ini. Biarlah tidak jadi anak dari Tuan Thomas. Aku juga tidak peduli jika sikapku ini membuat aku tidak mendapat hak waris. Bagiku kau segalanya," ucap Alessandro dengan tegas.Elara terdiam lama. Air matanya kembali mengalir dan kali ini hatinya semakin mantap menapaki masa depan bersama Alessandro.“Baik,” bisiknya. “Aku mau.”---Dua hari kemudian, setelah kondisi Elara stabil, mereka terbang ke Milan. Maria sudah menunggu di bandara dengan wajah tegang tapi. Saat pasangan itu tiba, Maria segera memeluk Elara singkat, lalu menatap Alessandro.“Semua sudah diatur,” kata Maria pelan. “Pastor yang dulu membantu Mama sudah siap memberikan keterangan resmi. Kita harus ke keuskupan pagi ini.”Perjalanan menuju keuskupan berlangsung dalam keheningan. Elara duduk di kursi belakang, tangan masih digenggam Alessandro. Di dalam hatinya, rasa takut dan lega bercampur aduk.Begitu tiba, mereka disambut oleh seorang pastor senior dan notaris
Elara terdiam lama setelah mendengar penjelasan Alessandro. Matanya menatap langit-langit kamar yang putih, tetapi fokusnya kosong. Semua beban yang selama ini ia tahan seolah menumpuk sekaligus dalam dadanya.Bibirnya bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia menangis dalam diam, bahu-bahunya bergetar pelan. Bukan tangisan histeris, tetapi tangisan orang yang sudah terlalu lelah menahan segalanya sendirian.Alessandro langsung berdiri dari kursi, mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tanpa banyak kata, ia meraih tubuh Elara dan memeluknya dengan hati-hati, menyandarkan kepala wanita itu di bahunya.“Ssh… menangislah,” bisiknya pelan. “Tidak apa-apa biar hatimu lega. Aku di sini untukmu."Elara membalas pelukan itu lemah, jari-jarinya mencengkeram baju Alessandro. Isaknya semakin terdengar, tetapi pelan-pelan melembut di dalam pelukan yang hangat itu. Alessandro mengusap punggungnya dengan gerakan lambat, memberi ruang bagi Elara untuk melepas semua yang sel







