LOGINElara berjalan menyusuri trotoar. Rambut blonde bergelombangnya dikuncir asal-asalan. Ia memakai hoodie hitam polos, berharap tak ada yang mengenalinya. Harapan itu hancur dalam hitungan detik.
Tiga cowok berbadan besar dari geng rival The Sovereigns — kelompok “Black Vipers” — tiba-tiba muncul dari gang kecil, langsung mengepungnya. “Lo temen sebangku Kael Draven, kan?” tanya yang paling tinggi, suaranya penuh ancaman. Elara mundur selangkah, punggungnya menempel tembok. “Aku bukan siapa-siapa. Minggir!” Cowok itu tertawa sinis. “Kayaknya incaran baru Kael." Sebelum Elara sempat bergerak, tangan salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah hoodie-nya. “Lepaskan!” Benturan keras terdengar. Tiba-tiba tubuh cowok itu terpental ke belakang. Kael muncul dari arah belakang, napasnya memburu, mata hitamnya membara seperti api neraka. Tanpa bicara, ia langsung menyerang. Tinju, tendangan, suara tulang beradu. Dua cowok lainnya ikut mengeroyoknya sekaligus. Elara berteriak, “Kael! Stop!” Namun Kael tak mendengar. Ia seperti binatang yang sedang melindungi wilayahnya. Hanya dalam waktu singkat, ketiga cowok itu sudah terkapar di trotoar. Darah menetes dari sudut bibir Kael, buku jarinya robek. Namun ia masih berdiri tegak, menatap Elara dengan tatapan yang membuat lututnya lemas. “Kamu, nggak apa-apa?” tanya Kael dengan suara serak. Elara menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Kamu yang berdarah! Bodoh!” Saat itu Lyra dan Theo tiba dengan mobil. Lyra langsung turun, wajahnya tegang. “Kael, lo gila! Ini wilayah Black Vipers. Kalau ketahuan ayah lo—” "Antar dia ke sekolah,” potong Kael dingin, tak membiarkan Lyra menyelesaikan kalimatnya. “Gue nggak masuk hari ini.” “Kael—” “Antar Elara! Sekarang!” Lyra menggigit bibir, tetapi akhirnya mengangguk. Ia membawa Elara masuk ke mobil, meninggalkan Kael yang masih berdiri di tengah kegelapan, darah menetes di aspal. Sepanjang perjalanan, Elara diam membisu. Tangannya mengepal di pangkuan. Ia tak bisa berhenti memikirkan wajah Kael yang terluka. Setelah jam pelajaran selesai, Elara langsung mencari Lyra di parkiran. "Antar aku ke tempat Kael,” katanya tegas, tak ada keraguan di suaranya. Lyra mengangkat alis. “Kamu yakin? Markas The Sovereigns bukan tempat yang cocok buat cewek kayak kamu.” “Aku nggak peduli. Aku harus lihat dia.” Lyra menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Naik!” Markas The Sovereigns ternyata bukan gedung mewah seperti yang Elara bayangkan. Itu sebuah gudang tua di pinggir pelabuhan yang sudah direnovasi jadi tempat rahasia. Dindingnya penuh grafiti, lampu neon merah menyala redup. Saat pintu terbuka, Elara langsung melihatnya. Kael duduk di sofa hitam, dada telanjang, perban putih melilit pinggang dan bahu kirinya. Wajahnya pucat, bibir bawahnya robek, tetapi matanya masih tajam seperti biasa. Theo yang sedang merokok di pojok langsung berdiri. “Gue keluar dulu.” Lyra ikut keluar tanpa kata. Hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan yang temaram itu. Elara berjalan mendekat, suaranya gemetar. “Kenapa kamu lakukan itu? Aku bisa handle sendiri.” Kael mengangkat wajahnya. Senyum sinisnya kembali muncul, meski terlihat sakit. “Handle sendiri?” Ia tertawa pelan, lalu meringis karena luka di bibirnya. “Kamu bahkan gemetar waktu itu.” Elara berlutut di depannya. Tangan kecilnya dengan hati-hati menyentuh perban di pinggang Kael. “Ini karena aku?” Kael menatapnya lama. Tatapannya tak lagi dingin. Ada sesuatu yang lebih dalam dan itu tembus ke jantung Elara. "Karena kamu,” jawabnya pelan. “Mulai hari ini, siapa pun yang berani sentuh kamu, akan aku hancurkan. Termasuk diriku sendiri.” Elara menggigit bibir, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ia ambil kotak obat kecil dari dalam tas, lalu menyodorkan sebutir pil dan air dalam gelas. “Minumlah! Ini obat anti nyeri." Kael mengangkat tangannya yang terluka, lalu meringis kesakitan. "Aduh! Bantuin!" Elara dengan canggung menyodorkan pil ke mulut Kael, lalu menyorongkan gelas. Kael meminum air sampai tandas. Saat Elara meletakkan gelas ke meja, jemari Kael menyentuh pipi Elara dengan lembut. "Bilangnya sakit,"protes Elara dengan wajah bersemu merah. "Langsung sembuh, habis minum obat," sahut Kael sambil tersenyum menggoda. "Kamu gila, Kael!" “Mungkin,” bisiknya. “Tapi aku senang, gila karena kamu, Elara Quinn." Udara di antara mereka terasa berat. Hanya terdengar detak jantung mereka berdua. Untuk pertama kalinya, Elara tidak lagi ingin lari. Kael menatap Elara dalam-dalam, jempolnya masih mengusap lembut pipi yang memerah itu. Suaranya turun jadi berat, pelan, tetapi menusuk tepat ke dada. "Elara, kalau kamu terus bikin aku sesak gini, aku nggak perlu obat nyeri. Cukup kamu aja. Kamu obatnya, sekaligus racunnya.” Dia mendekat, hidungnya hampir menyentuh hidung Elara, bisikannya panas menerpa wajah Elara. “Dan aku rela terluka setiap hari, asal dirawat kamu.” Elara memejamkan mata, napasnya tersendat. Kael tersenyum tipis, lalu menggeser wajahnya ke samping, bibirnya menyapu telinga Elara pelan sekali. "Jantung kamu lagi ngebut banget. Aku denger, loh,” bisiknya pelan, suaranya penuh godaan. “Padahal aku cuma pegang pipi doang, bayangin kalau aku pegang yang lain.” Dia mundur sedikit, matanya penuh api saat menatap bibir Elara yang terbuka. “Bilang ‘stop’ kalau berani! Kalau nggak, malam ini aku nggak janji bakal berhenti di pipi doang, Elara.” Elara terengah, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Kael. Suara Kael makin dalam, hampir seperti geraman lembut. "Aku nggak main-main, El. Dari pertama liat kamu, aku udah tahu, kamu bakal bikin hatiku berantakan. Dan aku malah pengen dihancurin sama kamu." Dia mengusap bibir Elara dengan ibu jarinya pelan sekali, matanya gelap penuh hasrat. "Satu kata aja dari kamu dan aku bakal cium kamu sampe kamu lupa jalan pulang. Kamu mau?" Elara menelan ludah, dadanya naik turun cepat. Matanya masih terpaku ke mata Kael yang gelap itu, napasnya sudah tidak karuan. Akhirnya suaranya keluar, kecil tetapi jelas. "A-Aku harus balik ke asrama," ucap Elara dengan suara gugup. Ia buru-buru berdiri. Kael ikutan berdiri. Tangannya cekatan memegang pinggang Elara. Ia menunduk, lalu mencium bibir Elara lembut. Nyatanya gadis itu tidak menolak dan membalas ciuman Kael. Kael melepaskan ciuman itu perlahan, napasnya hangat di bibir Elara. Matanya masih gelap, tetapi sekarang ada senyum kecil di sudut bibirnya. Tangannya di pinggang Elara makin erat, menariknya lebih dekat. "Balik ke asrama?" gumamnya pelan, suaranya serak. "Sekarang? Setelah kamu balas ciumanku barusan?" Jempolnya mengusap pinggang Elara pelan-pelan, mata mereka masih saling mengunci. "Nggak usah bohong! Kamu nggak mungkin tega ninggalin aku yang terluka." "Maaf, Kael. Malam ini aku ada janji sama mama aku untuk dinner bareng keluarga barunya." "Bilang aja ke mama kamu, kalau lagi nggak enak badan, atau ada tugas mendadak. Tinggal telepon doang!"Salah satu teman Sienna mengambil kain pel kotor dan melemparkannya ke lantai di depan Elara.“Bersihin yang bersih! Siapa tahu Kael datang dan lihat kamu lagi jadi pembantu di sini,” kata gadis itu sambil cekikikan.Sienna mencondongkan wajahnya mendekat, suaranya rendah penuh ancaman.“Dengar, Elara! Ini baru awal. Kalau kamu nggak jauhi Kael, besok-besok bukan seragam kamu doang yang basah. Aku bikin kau dikeluarkan dari sekolah."Tubuh Elara menegang. Air kotor merembes ke sepatu ketsnya yang sudah usang. Ia menggenggam kain pel lebih erat, tetapi tetap diam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak mau memberi Sienna kepuasan dengan menangis di depan mereka.“Apa hak kamu ngomong gitu?” tanya Elara pelan. Suaranya hampir hilang di antara gemericik air.Sienna tertawa kecil mengejek dan bergema di ruang toilet yang kosong. Dua temannya ikut terkikik. Satu di antaranya mengambil ponsel, lalu mulai merekam.“Hak? Gue pacarnya Kael sebelum lo muncul, New Girl. Dia lagi pengen main-main aj
Kael tersenyum tipis, lalu kedua tangannya memegang kedua pipi Elara. "Kita nikah," ucapnya tanpa beban."Apaan, sih! Sekolah juga belum kelar," protes Elara, meski hatinya sempat melambung gara-gara omongan Kael barusan. Siapa yang tidak bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh cowok sekeren Kael."Aku nggak mau pisah sama kamu, El. Aku cinta kamu."Elara geleng-geleng kepala mendengarnya. "Emang aku cinta kamu?""Sudah pasti cinta, buktinya semalam mau aku cium," ejek Kael. "Bilang, dong sekarang!""Ogah! Buruan, aku ditunggu Mama!"Dengan berat hati, Kael menghidupkan motor. Perjalanan kembali terasa berat. Kael mengemudikan motor lebih pelan dari sebelumnya. Ia sengaja memperpanjang waktu mereka berdua. Elara memeluk pinggangnya dari belakang, pipinya menempel di punggung Kael yang hangat. Air mata diam-diam mengalir di pipinya. "I love you, Kael," ucapnya lirih."Ngomong apaan? Aku nggak denger!""Nggak ada," balas Elara dan rona merah pipinya tampak jelas pada pantulan kaca spi
Kael mengulurkan helm cadangan ke arahnya. “Kalau gitu, kita kabur. Hari ini cuma kita berdua. Kamu mau?”Elara masih berdiri di depan gerbang asrama, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya erat-erat. Motor hitam Kael sudah menyala, knalpotnya mengeluarkan suara rendah yang menggema di pagi yang sepi itu."El, cepetan!” desak Kael pelan, suaranya masih serak karena luka. Matanya yang hitam menatap Elara dengan tatapan yang bikin lutut si gadis lemas. Tatapan memelas dan penuh hasrat. “Aku udah nggak tahan nunggu kamu dari semalam.”Elara menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke belakang. Beberapa siswi lain sudah mulai keluar dari asrama, saling berbisik sambil menatap motor Kael."Aku nggak mau bolos. Baru juga beberapa hari jadi murid pindahan,” bisiknya gugup.Kael tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil membuat hati Elara jungkir balik. Ia turun dari motor, mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. Tangan besarnya menyentuh pipi Elara dengan lembut, mengusapnya pe
Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara."Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar."El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya
Elara berjalan menyusuri trotoar. Rambut blonde bergelombangnya dikuncir asal-asalan. Ia memakai hoodie hitam polos, berharap tak ada yang mengenalinya. Harapan itu hancur dalam hitungan detik.Tiga cowok berbadan besar dari geng rival The Sovereigns — kelompok “Black Vipers” — tiba-tiba muncul dari gang kecil, langsung mengepungnya.“Lo temen sebangku Kael Draven, kan?” tanya yang paling tinggi, suaranya penuh ancaman.Elara mundur selangkah, punggungnya menempel tembok. “Aku bukan siapa-siapa. Minggir!”Cowok itu tertawa sinis. “Kayaknya incaran baru Kael."Sebelum Elara sempat bergerak, tangan salah satu dari mereka sudah mencengkeram kerah hoodie-nya.“Lepaskan!”Benturan keras terdengar. Tiba-tiba tubuh cowok itu terpental ke belakang.Kael muncul dari arah belakang, napasnya memburu, mata hitamnya membara seperti api neraka. Tanpa bicara, ia langsung menyerang. Tinju, tendangan, suara tulang beradu. Dua cowok lainnya ikut mengeroyoknya sekaligus.Elara berteriak, “Kael! Stop!”N
"Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.Elara menghentikan langkahnya. “Apa lagi?”Kael berjalan mendekat dengan langkah santai. “Aku antar pulang.”"Aku naik bus saja.”Kael menyeringai tipis. “Kamu baru sehari di sini dan sudah bikin seluruh sekolah heboh. Naik bus hari ini berarti besok gosipnya akan jauh lebih parah. Naiklah!"Theo di belakang menyeringai. “Boss jarang nawarin orang. Kamu spesial, new girl.”Elara tahu ini jebakan, tetapi menolak di depan umum tanpa alasan masuk akal sama dengan bunuh diri. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku tas ranselnya. Ia pura-pura memencet nomor kontak teman lama dari Oakhaven yang sebenarnya sudah lama tidak dihubungi.“Halo? Rina? Iya, ini Elara,” katanya cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya dibuat santai. “Aku sudah di depan gerbang. Kamu jemput di mana? Oh, oke, aku tunggu di halte depan, ya. Sampai ketemu!”Ia mematikan panggilan sebelum “Rina” sempat menjawab apa-apa, lal







