Home / Romansa / DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta / BAB 1 GARA-GARA MIMPI SIALAN

Share

DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta
DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta
Author: Libra Syafarika

BAB 1 GARA-GARA MIMPI SIALAN

last update Last Updated: 2025-09-02 09:36:11

"Ini naskah skripsi saya, Pak. Semuanya sudah direvisi," ucapku dengan suara bergetar yang sulit disembunyikan.

Aku berdiri di dekat Pak Jefri sambil menundukkan kepala. Jemariku saling meremas di belakang punggung. Keringat dingin merayap di sekujur tubuh, meski ruangan dingin dari embusan AC itu terasa menusuk.

Aku merasakan suasana yang mencekam di kantor Pak Jefri siang itu. Wajar saja. Ini sudah kali ke lima aku menulis revisi yang berujung penolakan. Setiap kali skripsi itu kembali, selalu ada coretan —menandakan kegagalanku yang tak ada habisnya.

Rasanya bukan lagi revisi, melainkan sebuah siksaan tanpa akhir. Tak salah jika aku memanggilnya 'dosen killer'. Aku merasa dia punya dendam pribadi padaku, seolah ia selalu mencari celah untuk mempersulit skripsiku.

Benar saja, hari ini pun sama. Aku melirik Pak Jefri yang hanya membalik-balik kertas itu tanpa membacanya. Wajahku cemberut, dalam batinku bergumam, 'Sialan nih dosen! Dia bahkan nggak ngehargai kerja kerasku.'

Secepat kilat, ia mencoret beberapa halaman. Aku spontan mendongak, mataku membelalak lebar diikuti dengan mulutku yang menganga .

"Pak... jangan dong, Pak. Saya sudah susah payah merevisi ini. Masak dicoret lagi sih, Pak..." Aku berseru, berusaha merebut dokumen tugas akhir itu.

Namun, ia menjauhkan tangannya dengan cepat—membuatku tak bisa menjangkaunya.

"Skripsi apa yang kamu buat ini?!" Nadanya bukan lagi sekadar marah, melainkan sebuah ledakan. Suaranya menggelegar di ruang kantor yang sunyi, membuatku berjengit.

"Semuanya salah!" Ia terus mencoret tiap halaman di udara, seolah ingin merobeknya.

Aku merasa kesal dan terus melompat-lompat, berusaha menggapai skripsi itu. Namun, tanpa sengaja kakiku tertekuk, hingga tubuhku limbung dan terjatuh dalam dekapannya.

Mata kami bertemu, dan mematung selama beberapa detik. Mendadak getaran aneh muncul di dadaku. Tubuhku terasa menghangat, seolah ada api yang menyala.

Tak berselang... pak Jefri melumat bibirku tanpa aba-aba, dan tanpa sadar aku pun membalasnya.

Tanpa sedikitpun rasa sungkan, aku menjulurkan lidahku, mengundang Pak Jefri untuk menelusuri lebih dalam.

Semakin lama, ciumannya semakin ganas. Ia mulai menelusuri leherku, meninggalkan jejak kemerahan di sana.

"Aahh..." desahan samar lolos dari bibirku.

Selama ini, tak ada pria yang menyentuhku. Namun hari ini, seorang dosen killer yang kubenci justru memulai semuanya. Ia meruntuhkan segala pertahananku yang selama ini anti sentuhan fisik.

Tangan Pak Jefri semakin berani. Ia tak puas hanya dengan bagian atas, dan mulai menjelajahi bagian dadaku. Perlahan... ia menarik tali tanktop-ku sambil terus mencumbu dengan penuh hasrat.

Pucuk balon-ku yang sudah tegang mencuat ke permukaan, saat ia melorotkan tanktop beserta bra yang menempel.

Dengan penuh gairah, ia mengisap ujung berwarna merah muda itu, lalu menari liar menggunakan ujung lidahnya.

"Mmhhh... Pak..."

Mulutku tak bisa diam, apa lagi saat jemari panjangnya mulai menjelajahi lahan bunga matahariku yang basah.

Aku bisa mendengar embusan napas Pak Jefri yang memburu. Tak kusangka, dosen yang kuanggap buas dalam merevisi skripsi ternyata lebih buas dari bayanganku.

Ia mengangkat tubuhku yang kecil, lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya. Rok mini yang kupakai memudahkannya menjangkau area paling sensitifku.

Perlahan... pak Jefri menurunkan celana dalamku, lalu membuka lebar pintu goa yang menutupinya. Dengan cepat ia menarik tuas kursi putar yang didudukinya —hingga merendah, membuat lidahnya dengan mudah menjangkau lipatan terdalamku.

"Aahhh... Pak..."

Aku mendesah kenikmatan sambil meremas rambut Pak Jefri. Bokongku terus bergerak, mencari sensasi terdalam dalam permainan lidahnya.

Hingga tanpa terasa, genggaman tanganku pada rambutnya tergelincir. Tubuhku tiba-tiba melayang, bukan karena kenikmatan—melainkan jatuh dari ketinggian.

Bruak!

Aku tersentak karena tubuhku tiba-tiba terguling dari kasur, lalu mendarat di lantai yang dingin. Napasku terengah, mataku menyapu ke segala arah sambil bergumam, "Di mana ini?"

Keningku berkerut saat melihat kertas skripsi berserakan di mana-mana. Laptopku masih menyala, dan buku-buku tercecer di segala tempat. Melihat kekacauan yang terjadi aku baru sadar—ini apartemen kontrakanku, bukan kantor Pak Jefri.

"Sialan! Ternyata aku hanya mimpi."

Beberapa jam lalu, aku sibuk menyelesaikan revisi sambil mengumpat. Saking kesalnya dengan Pak Jefri, aku sampai ketiduran dan bermimpi aneh di siang bolong.

Aku meraba selangkanganku yang terasa basah. Dan... Benar saja. Cairan bening seperti lem masih terperangkap dalam celana dalamku.

"Begok! Bisa-bisanya aku mimpi basah sama dosen killer itu," rutukku pada diri sendiri.

Cling!

Suara notifikasi ponsel yang tergeletak di kasur tedengar. Aku mengabaikannya dan masih bersandar lemas di sisi ranjang.

Dadaku terasa sesak karena mimpi barusan. Selain jijik, aku merasa kesal dan tak terima. Aku yang selama ini tak pernah tersentuh pria, justru disentuh pertama kali oleh orang yang aku benci—meski itu hanya dalam mimpi.

Tak pernah sedikitpun aku membayangkan disentuh olehnya, bahkan melihat wajahnya saja membuatku naik darah. Heran saja, kok bisa ia menjadi dosen idaman para mahasiswi. Padahal wajahnya sangat kaku dan minim emosi. Sikapnya dingin mengalahkan kutub Utara.

Meskipun, ya... Dia memang ganteng, sih.

Ddrrzzztttt!

Suara dering ponselku disertai dengan getaran memecah keheningan.

"Siapa sih?"

Dengan gerakan lemas, tanganku meraba-raba kasur, berusaha meraih ponsel itu dari lantai.

"Pak Jefri?!"

Mataku seketika membelalak melihat namanya terpampang jelas di layar. Aku segera menekan tombol hijau, lalu bergegas menjawab.

"Halo, Pak..."

Mendadak aku berubah total. Berbicara dengan selembut mungkin, seolah tak pernah ada rasa kesal sedikitpun.

"Kalau kamu tidak mau menyelesaikan skripsi bilang saja! Saya tidak mau capek-capek menunggu kamu di kampus!" Suara Pak Jefri terdengar seperti sedang menahan amarah.

"A-apa? Bapak nunggu saya?!" Mataku melotot karena kaget. Tubuhku membeku, seolah paru-paruku berhenti bernapas.

"Kamu tidak baca pesan? Saya sudah mengirim pesan beberapa kali, Erika!"

Seketika, jantungku seperti mau melompat dari tempatnya. Jemariku bergerak cepat, buru-buru mengecek layar ponsel.

Dan... Benar saja. Pak Jefri mengirimku pesan sejak pukul dua belas siang, memintaku datang untuk bimbingan skripsi pukul tiga sore.

Dan sekarang?

Aku melirik jam weker di rak belajar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit, menempelkan kembali ponsel itu di telinga sambil melangkah kebingungan.

"Iya, Pak. Saya akan segera datang!" jawabku dengan suara serak, lalu mematikan ponsel.

Aku panik, berlari ke sana kemari mencari celana panjang dan kemeja.

"Ke mana, sih? Padahal tadi kan di sini."

Seolah menghilang ditelan bumi. Khas sekali, barang yang paling dibutuhkan selalu lenyap saat genting. Padahal aku yakin betul celana itu tadi pagi tergeletak di kasur.

Kontrakan apartemenku ini tidak besar. Hanya ada satu kasur, rak yang jadi satu sama meja belajar, satu sofa panjang dan lemari berkabinet. Harusnya celana itu tidak lari kemana-mana.

Aku berlari ke segala tempat, membuka semua kabinet lemari. Kosong. Tak ada celana yang tersisa. Aku terduduk lemas di lantai. Berteriak sambil menjambak rambutku sendiri.

"Aarrrgghh.... Kenapa bajuku kotor semua?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 182 SANG PLAYBOY BERAKSI

    Aku spontan mengempaskan tangannya kasar. "Jangan ge-er kamu!" teriakku dengan mata melotot galak.Steafen justru tersenyum nakal, seolah sengaja menikmati reaksiku yang meledak-ledak. "Makanya... diamlah di sini. Kalau keadaanmu makin parah, yang ada aku semakin repot mengurusmu."Aku menghela napas berat, lalu menjatuhkan diri kembali ke kasur tanpa berkomentar lagi. Rasa lelah dan sakit di perut membuatku kehilangan selera untuk berdebat lebih panjang.Tak lama kemudian, Steafen kembali masuk ke ruangan sambil mendorong sebuah kursi roda. "Ayo... aku bantu kamu duduk," ucapnya lembut seraya merentangkan tangan hendak merangkul bahuku."Tidak usah!" tolakku refleks. Gerakan tangannya seketika terhenti, ia tampak tercengang melihat penolakanku yang begitu keras."A-aku bisa sendiri," ucapku gugup sambil membuang muka. Dalam hati aku bergumam gelisah, 'Aku tidak mau terus-menerus bersentuhan fisik dengannya. Bisa-bisa...' Aku mengetuk kepalaku sendiri agar tersadar. 'Ahh... apa yang

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 181 RAYUAN SANG PENAKLUK WANITA

    Aku terperanjat dan langsung mendorong dadanya sekuat tenaga. "Suami gadungan!" teriakku dengan mata melotot. "Cepat sana tebus obatnya! Aku sudah mulai kesakitan!""Kamu memerintah atau minta tolong?" Steafen mengangkat ujung alisnya, tampak tersulut emosi karena sikapku yang ketus.Aku spontan menyunggingkan senyum masam, mencoba menahan rasa kesal yang meluap di dada. "Aku minta tolong, Tuan..." sahutku dengan nada manis yang dipaksakan hingga terdengar janggal.Steafen menghela napas berat sambil menyilangkan tangan di dada, menatapku skeptis. "Itu sama sekali tidak terdengar seperti orang minta tolong.""Lantas kamu mau aku bagaimana?!" teriakku dengan gigi mengerat dan mata membelalak lebar.Ia tiba-tiba kembali mencondongkan wajahnya padaku secara mendadak. Gerakannya begitu cepat hingga mataku seketika membulat—aku mematung, menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter."Memohonlah dengan tulus, Nona... Bukankah hanya aku yang bisa menolongmu di London?" bisiknya d

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 180 SUAMI GADUNGAN

    Aku memaksakan diri untuk bangkit, meski rasa nyeri di area bekas operasi terasa bagai sayatan sembilu yang tajam."Apa yang kamu lakukan?!" teriakku seraya merebut ponsel itu dengan gerakan kasar dan langsung mengakhiri panggilan."Hei, Nona... dia harus tahu keadaanmu di sini," ucap Steafen sembari mengangkat kedua alisnya, tampak tidak merasa bersalah sedikit pun."Jangan ikut campur urusanku! Kamu itu bukan siapa-siapa!" teriakku dengan napas tersengal, menahan perih di perut sekaligus amarah di dada.Sedetik kemudian, ponsel di tanganku kembali bergetar. Nama Mas Jefri berkedip di layar. Tanpa ragu, aku langsung mematikan daya ponsel itu.Steafen menyunggingkan senyum miring. Kedua tangannya bertumpu di terali ranjang, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Kamu mengabaikannya lagi? Apa kalian sedang bertengkar hebat?"Aku segera menyembunyikan ponsel di balik selimut sambil menatapnya sinis. "Itu masalah pribadiku, Tuan. Aku akan membayar semua jasamu nanti. Sekarang...

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 179 KEKACAUAN DI RUMAH SAKIT

    "Apa kamu gila?!" teriak pria itu dengan mata melotot, hampir tidak percaya dengan permintaanku.Aku menggeleng pelan sembari menahan rasa sakit yang kian dahsyat mencabik perutku. "Tolong... aku akan berikan apa pun yang kamu minta," bisikku dengan suara yang semakin samar, nyaris hilang tertelan hiruk pikuk suara gaduh di ruang UGD."Argh! Baru kali ini aku dihadapkan dengan perempuan gila sepertimu!" teriaknya kesal. Meski mengomel, ia segera menyambar pulpen dan menandatangani dokumen itu dengan gerakan cepat dan kasar."Cepat tangani dia! Menyusahkan saja!" keluhnya sembari menyodorkan kembali dokumen itu pada suster yang menunggu."Atas nama siapa?" tanya suster itu, menunjuk kolom kosong pada surat tersebut. "Anda tidak menulis nama pasien di sini."Pria itu melirikku tajam, napasnya memburu. "Hei! Cepat katakan siapa namamu?!" teriaknya tidak sabar seolah dikejar waktu."Erika..." bisikku lemah."Kamu dengar, kan, Suster? Silakan ditulis," ucapnya ketus.Suster itu mencatat n

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 178 HATI YANG MEMBEKU

    Mataku membulat sempurna. Di sana, berdiri seorang wanita yang wajahnya pernah kulihat di foto rahasia dalam kamar Mas Jefri dan terselip di dompetnya. Dia adalah Clara, wanita yang pernah mengisi hidup Mas Jefri jauh sebelum ia mengenalku. Wajahnya benar-benar mirip denganku, hanya saja ia berambut pirang dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan elegan.Namun, kenapa dia ada di kantor Mas Jefri mengenakan pakaian kerja? Dan apa yang baru saja kudengar? Wanita itu memanggil suamiku 'Sayang'?Tubuhku terhuyung mundur karena syok yang teramat sangat. Aku menatap Mas Jefri dengan kelopak mata yang berkedip cepat dan bibir yang bergetar hebat. "Apa maksudnya ini, Mas?! Kamu mengkhianati saya?!" teriakku dengan dada kembang kempis menahan sesak."Erika... semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Mas Jefri cepat sambil meremas kedua bahuku, mencoba menenangkanku."Pembohong!" Aku mengempaskan tangannya kasar dengan mata melotot tajam. "Itu sebabnya kamu selalu menunda kembali ke

  • DOSEN KILLER: Skripsi Berbuah Cinta   BAB 177 KEJUTAN MEMBAWA LUKA

    Aku sibuk menatap layar ponsel saat keluar dari gedung Gourmet Indonesia, hingga tanpa sadar aku menabrak dada bidang seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapanku."Ah!" teriakku terperanjat. Aku mendongak dan mengerjap. "Mas Raka?""Ngapain kamu jalan terburu-buru sambil fokus ke HP?" protesnya dengan kening berkerut.Aku tertawa garing, mataku bergerak gelisah ke segala arah untuk mencari alasan. "Aku... ada urusan mendadak," ucapku spontan sambil menggigit bibir, berharap Mas Raka tidak menginterogasiku lebih jauh."Ada apa?" tanyanya lagi, matanya menyipit penuh selidik.Aku menggaruk kepala yang tidak gatal sembari mengalihkan pandangan. Dalam hati aku bergumam, 'Aduh... kenapa masih tanya, sih?'"Erika... apa ada masalah?" ulangnya sambil meneliti ekspresi wajahku.Apa yang harus kukatakan? Jangan sampai dia tahu aku mau menyusul Mas Jefri ke London. Mereka tidak saling suka, Mas Raka bisa melakukan segala cara untuk mencegahku pergi."Iya, Mas..." jawabku akhirnya. Aku mencoba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status