INICIAR SESIÓN"Aku masih menjaga kamu dalam pikiranku AUSTRALIA." Haidar bangun dari tempat tidur. Mengusap wajah dan memandangi dinding kamarnya. Di sana ada brosur pendaftaran magister salah satu universitas di Australia. Sekolah yang menjadi impiannya saat ini. Namun semua itu tidaklah mudah untuk di wujudkan, bertahun-tahun ia dan ibunya berpindah-pindah rumah demi menutupi jati diri mereka. Tinggal di rumah yang reot serta makan dari hasil belas kasihan orang. Semua pekerjaan dilakukan ibunya agar dia bisa sekolah seperti anak-anak Aceh pada umumnya. "Kau anak seorang pejuang. Kakekmu juga seorang pejuang. Jangan ada air mata untuk setiap masalah yang kau hadapi." Kalimat itu yang diulang-ulang ibunya setiap kali Haidar menangis karena ejekan teman sekolah. Terpaan ibunya tiap hari membuat keteguhan hati Haidar menjadi sekuat batu. Sama seperti namanya, Ibnu Haidar. Nama ini dalam bahasa Arab artinya, si Anak Batu.
Ver másPrefacio.
—¡Estoy embarazada!
El silencio sepulcral que le siguió a aquel eufórico anuncio de la mujer, solo fue roto por el estruendo del cristal rompiéndose al caer al piso e hizo que Hope Morgan diera un pequeño salto del susto y una ligera exclamación saliera de sus labios.
—Cariño, ¿estás bien? —preguntó ella acercándose a su esposo.
Blake Cameron miró a Hope, su bella y tan amada esposa, pero era como si la viera por primera vez.
¡Qué ciego había sido! ¡Qué idiota y confiado había sido con ella!
—Blake…
—¿Qué has dicho, Hope? —preguntó alejándose del toque femenino que solo minutos antes deseaba y añoraba sentir sobre su piel.
—Dije que estoy embarazada, ¡Estamos esperando un bebé! —exclamó con una enorme sonrisa de oreja a oreja.
Hope Morgan no había sido más feliz en su vida que ahora, luego de tres años de feliz matrimonio, por fin habían concebido su primer hijo.
—Dime…, —dijo el hombre sintiendo cómo la rabia bullía en su interior—. Dime con quién me has engañado, ¿¡Quién ha sido el hombre con quien has compartido tu cama!? —gritó furioso.
Hope se encogió, como si Blake le hubiese dado un golpe.
—No sé de lo que hablas, Blake…
—¡No te hagas la santa! —explotó tomándola del brazo con fuerza—. Dime, ¿quién es el padre de tu hijo? —preguntó con los dientes apretados.
—Estás loco, Blake. ¿Cómo puedes preguntarme esto? ¡Eres el único hombre en mi vida! —gritó la joven.
—Soy el único idiota que creyó que eras diferente al resto de las mujeres. ¡Fui el imbécil que pensó que tú eras una mujer íntegra! —gritó lanzando a la joven sobre el sillón.
Hope lo miró con miedo, por primera vez en tres años, sintió el verdadero terror. No comprendía por qué Blake le hablaba de esa manera, pero dudar de la paternidad de su hijo no tenía sentido.
—No sé lo que ocurre contigo, Blake, pero eres el padre de mi hijo, ¡Era virgen cuando me entregué a ti y desde entonces he sido únicamente tuya! —gritó con lágrimas en los ojos.
—Eres una mentirosa, ¡una farsante, Hope! —la acusó.
—Blake…, no puedes tratarme así, ¡jamás te he dado un solo jodido motivo para que desconfíes de mí!
—Porque no había evidencia de tu infidelidad, pero ahora…, ahora crece dentro de ti. ¡Llevas en tu seno el hijo de otro hombre!
—¡Estás loco!
—Sí, estoy loco de dolor y de rabia, Hope… ¡Jamás voy a perdonarte esta traición! —gritó.
La muchacha se levantó y miró al hombre que creyó era el amor de su vida, el hombre con quien pensó que formaría una familia, con quien vería a sus hijos crecer y luego a sus nietos.
¡Gran error!
—Soy yo la que nunca va a perdonarte por esto que estás haciendo conmigo y nuestro hijo.
—No es nuestro hijo, es tu hijo, ¡el bastardo que quieres endosarme!
El sonido de una bofetada irrumpió en la habitación, la mano de Hope dolía, pero nada se comparaba al dolor que sentía en su corazón, nada iba a compararse jamás con el daño que Blake Cameron le estaba haciendo hoy, un dolor que no iba a olvidar.
—Espero que nunca te arrepientas de lo que acabas de hacer, Blake, pero si ese día llega, espero que te revuelques en tu miseria y no seas feliz jamás…
—Eres tú quien falló en esta historia de amor, Hope Morgan.
—Eres tú quien me acusa de ser infiel…
—¡Porque soy yo quien no puede tener hijos! ¡Me hice la vasectomía antes de nuestra boda!...
Hope lo miró, estaba sorprendida por la confesión de su marido, ¿Qué podía decir o hacer? Hope no era una mujer que rogara y menos cuando era evidente que su esposo le había mentido desde un principio.
—Entonces, no hay nada más que decirnos, Blake...
—Nada, más que firmar el divorcio —aseguró.
Hope tragó el nudo formado en su garganta, miró una última vez a su esposo, el que hasta hace pocos minutos creyó era un buen tipo y se marchó.
Entonces Hope no tenía idea de lo que la llegada de su bebé desencadenaría no solo en su matrimonio, sino también en su familia, con sus padres.
—Lo siento Hope, pero no puedo solapar una traición.
—No puedes hablar en serio, papá, ¡Jamás le he sido infiel a Blake! ¡Tienes que creer en mí, nunca haría algo para avergonzarte! —gritó desesperada.
Hope ni siquiera tuvo la oportunidad de darle la noticia a sus padres sobre su bebé, porque Blake ya se había encargado de dar su versión de los hechos.
—¡Blake no puede tener hijos, Hope, no sigas con esta mentira! —gritó Daniel Morgan a su hija.
—¿Qué esperas que haga? —preguntó recomponiéndose.
—No tienes muchas opciones, Hope, deshazte del bebé o lárgate de mi casa.
—¡No puedes hacerle esto, Daniel, Hope es nuestra hija! —gritó en medio del llanto Hilary. La mujer se negaba a creer que su hija fuera capaz de engañar a Blake amándolo como lo amaba.
—No seré el hazmerreír de la ciudad, Hilary.
—Y no lo serás, papá, porque esta misma noche me iré de la ciudad y no volverás a verme jamás…
Aku menginginkan sebuah keluarga yang normal. Sementara yang kumiliki hanyalah seorang ayah bajingan dan ibu yang bekerja sebagai pengasuh di rumah keluarga kaya, juga seorang kakak perempuan yang berusaha mati-matian untuk bisa pergi dari rumah kami yang terkutuk. Nggak ada seorang pun yang memperhatikanku.Satu kali aku pernah mencari ibuku ke tempat kerjanya –di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi. Dari luar aku melihat ibuku bermain dengan tiga orang anak yang usianya lebih besar dariku di teras rumah. Mereka tertawa bahagia. Lalu aku pulang dengan sedih dan bertanya pada Ruby, “Apa Mama nggak sayang sama kita sampai dia nggak mau jagain kita dan malah jagain anak orang lain?”Usiaku sembilan tahun dan Ruby, enam belas tahun. Aku rasa Ruby tahu apa yang harus dikatakannya padaku agar aku nggak bersedih. Mungkin dia bisa menjawab dengan yakin bahwa Mama hanya bekerja a
“Bell?”Suara Nial kedengaran panik. Aku bergegas meninggalkan dapur dan menemukan dia baru keluar dari kamar dengan terburu-buru.“Ya?” sahutku.Dia agak terkejut. Dan entah mengapa menghembuskan nafas panjajng.“Kenapa?” tanyaku, heran.“Aku kira kamu kabur lagi,” jawabnya, sambil mengusap wajahnya dan rasa lelah itu masih kelihatan di sana.Logikanya, nggak mungkin aku kabur setelah semua yang terjadi di antara kami beberapa hari ini dan dia menjadikanku gadis paling bahagia sedunia dalam sekejap mata. Sekaligus menjadi matrealistis.“Kamu mimpi?”Dia nggak menjawab. Hanya bergerak menuju kursi meja makan dan duduk di sana sambil mengge
Nial sudah berangkat pagi-pagi sekali hingga aku bahkan nggak sempat bertemu dengannya. Seperti biasa, sarapan sudah ada di meja –waffle madu. Sepertinya dia tahu kalau dari semua menu sarapan sehatnya yang rata-rata menyisipkan sayur, waffle madu pilihan yang nggak bisa kutolak.Setelah sarapan aku kembali ke depan TV, memutar Fox Movies lagi. Film Transcendence sudah main sekitar sepuluh menit –aku juga sudah nonton film ini dengan Ruby. Jadi ingat Johnny Depp aktor favoritnya. Ruby selalu beranggapan hampir semua filmnya bagus. What’s Eating Gilbert Grape tahun 1993 adalah yang terbaik dari semuanya dan dia menontonnya berulang-ulang.Saat itu hobi menontonku sudah mulai berkurang karena ketegangan antara aku dan Ruby soal Alex. Aku mulai jarang menghabiskan waktu bersamanya karena Alex sering berkunjung. Ketika Ruby menonton film itu entah untuk yang ke berapa kalinya, A
Hari Kamis pagi, nggak biasanya aku dengar dia menelpon dengan seseorang di dapur dan mengenakan setelan jas lengkap warna hitam. Di meja makan sudah ada roti isi daging yang kelihatan lezat. Aku menguping tapi sama sekali nggak mengerti apa topik yang sedang dia bicarakan. Dan begitu melihatku, dia langsung menyudahi teleponnya.“Aku mau pergi,” katanya dengan cepat. Dia nggak akan duduk bersamaku di meja makan.Aku nggak menjawabnya. Itu artinya aku akan sendirian –dia pernah bilang kalau dia bukan pengangguran. Ya memang, selama di sini aku juga nggak merasa kalau dia ada sampai aku bosan dan harus mencuri kesempatan untuk kabur sejenak cuma buat mengobrol dengan Valde.“Pokoknya jangan bukain pintu untuk orang asing sampai aku pulang,” ia berpesan. “Dan jangan keluar sendirian.”
Sefti semakin sering mengirim pesan singkat usai pertemuan di Lapangan Tugu. Namun Haidar tetap mencoba untuk berpikir positif. Ia menduga jika si gadis Jawa itu sedang mencari teman baru selama di Aceh.Sefti mengirim pesan di pagi hari, siang hingga saat malam tiba. Sedangkan Haidar menc
Haidar keringatan. Beberapa butir peluh turun dari rambutnya membasahi wajah. Padahal suasana masih pagi.Matahari juga tak sedang menyengat anak adam seperti biasanya.Haidar keringatan karena ia dan Sefti duduk saling berhadapan. Mereka hanya dipisahkan dengan meja kecil setinggi
LAPANGAN Tugu Darussalam ramai di pagi hari. Sejumlah sepeda motor lalu lalang hampir tiap detik. Haidar berhenti pas di pintu masuk tugu. Di sinilah ia janji dengan Sefti untuk bertemu dan kembali tukaran sepeda motor.Mereka janji bertemu pukul 09.00 WIB. Tapi ia tiba di lokasi pukul 08.
ANGIN meniup sepoi-sepoi. Bantaran surgai Lamnyong mulai ramai dipenuhi para muda-mudi. Keramaian terjadi tiap sore-nya. Termasuk hari ini. Melihat matahari terbenam. Mayoritas adalah mahasiswa dari tiga kampus berlokasi di Darussalam, Kota Banda Aceh. Ada Univeristas A, UIN B serta Universitas C












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.