Share

Bab 20

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-05-04 23:13:03

Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar makanan.

Dosen di ujung meja membuka map di tangannya, lalu mengangkat kepala. Tatapannya bergantian ke masing-masing dari mereka.

“Saya ingin dengar kronologi kejadiannya.”

Belum sempat Emma bicara, O
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 102

    Tak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!" Mata Larissa Handoyo langsung berkaca-kaca saat melihat putranya berdiri di depan gerbang yang belum terbuka sepenuhnya. "Nak ..." Beliau nyaris berlari saking senangnya. Lalu mendadak berhenti seperti adegan slow motion di film-film.Tatapannya beralih ke para satpam yang masih bergerombol di dekat pos keamanan. Ekspresi hangat itu langsung berubah. "Bapak-bapak ini bagaimana sih?" Para satpam spontan berdiri tegak. "Maaf, Bu. Kami tadi terlalu senang." "Senang sampai lupa buka gerbang?" “Kami minta maaf, Bu." "Anak saya sudah berdiri di depan gerbang dari tadi." "Maaf, Bu." "Kalau dia berubah pikiran lalu pergi lagi bagaimana?" Mendengar itu, wajah para satpam langsung pucat.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 101

    Sudah hampir satu bulan lamanya Bima menghabiskan hari-harinya di vila milik keluarganya yang terletak jauh dari keramaian kota. Tempat itu nyaman, tenang, dan memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihannya. Apa pun yang ia perlukan selalu tersedia. Makanan datang tepat waktu, obat-obatan tidak pernah terlambat diberikan, dan dokter rutin memantau perkembangannya.Namun, semua kemudahan itu tidak serta-merta membuatnya merasa bahagia.Justru sebaliknya. Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan terasing yang menggerogoti dirinya. Setiap hari rasa bersalah terus menghantuinya. Rasa bersalah karena menghilang begitu saja dari kehidupan orang-orang yang peduli padanya dan membiarkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat bertanya-tanya mengenai keadaannya.Awalnya Bima menganggap menyendiri adalah keputusan terbaik. Ia ingin fokus sembuh tanpa gangguan apa pun. Namun, setelah berminggu-minggu berlalu, kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini b

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 100

    "Emma." "Hm?" "Kita perlu bicara." "Aku tahu." "Bagus." "Aku tahu." "Bagus." Emma menoleh ke luar jendela. Pohon-pohon melintas seperti bayangan. Cepat. Kabur. Sama seperti masa depannya sekarang ini. "Aku pikir …" Emma menarik napas. Lalu memberanikan diri menatap Raka. "Kita harus benar-benar jaga jarak." Mobil langsung hening. Arsen bahkan otomatis mengecilkan volume musik. "Lo serius?" Suara Raka terdengar pelan dan berbahaya. "Iya, Raka. Kita nggak punya pilihan lain." "Of course kita punya banyak pilihan." "Ya, benar, untukmu selalu ada banyak pilihan, tapi tidak untukku." "Karena Mama gue?" "Bukan cuma itu." "Lalu?" Emma menunduk. "Karena aku lelah dengan semua ini." Raka tertawa pendek, dan terdengar pahit. "Bilang saja lo lelah karena hadapin gue?" "Bukan, tapi aku lelah dan capek lihat semua orang bermasalah gara-gara aku." "Itu bukan salah lo." "Tapi tetap terjadi." "Emma ..." "Kamu dengar Mama kamu tadi kan?" "Terserah apa mau Mama, gue nggak

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 99

    Emma terdiam. Pertanyaan itu datang tiba-tiba dan terlalu tajam. Seolah seseorang baru saja membongkar pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat."Siapa nama ibu kandungmu, Emma?"Jantung Emma berdetak semakin cepat.Ia melirik Raka. Lalu Arsen. Seakan kedua pria itu punya kunci jawabannya."Aku …"Emma menelan ludah. Tatapannya turun sesaat. Lalu kembali terangkat."Setahuku nama ibu kandungku Ningsih Sulastri."Mata Ibu Renata langsung menyipit."Ningsih Sulastri?"Emma mengangguk tak yakin. Setidaknya itu adalah nama yang selalu Ayah ucapkan. Namun, setelah Ayah membuka masa lalunya, tentunya dia tahu kalau nama itu hanya karangan Ayahnya saja."Benar?"tanya Ibu Renata."Iya.""Kamu yakin?""Ayah selalu bilang begitu.""Selalu bilang?"Emma mulai merasa seperti sedang diinterogasi."Iya.""Kamu pernah bertemu perempuan itu?."Aku nggak ingat karena. Mama meninggal saat aku masih kecill.""Foto?""Nggak ada.""Alamat?""Beliau tinggal bersama aku dan Ayah saat masih hidup.""K

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 98

    Tatapan Ibu Renata bergeser ke Emma.Hanya sepersekian detik. Namun, cukup membuat Emma merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki."Kamu sudah paham kenapa dipanggil ke sini."Emma menatap Ibu Renata tanpa berkedip. ‘Pas aku masuk ke sini, kok dia nggak ada?’ pikirnya, lalu melirik pintu samping dan sadar, saat dia sedang bicara dengan rektor, ternyata Ibu Renata sedang duduk di ruangan sebelah.Raka melangkah maju."Mama, please …"Ibu Renata tersenyum kecil."Mama bahkan belum bicara apa-apa.""Karena aku tahu Mama bakal …"Sunyi.Kata-kata Raka menggantung begitu saja sehingga ketegangan merambah pelan seperti api yang menyusuri sumbu bom.Arsen melirik Emma.Lalu kembali menatap ibu dan anak yang sedang saling berhadapan.Sial.Ini jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan. Ibunda Raka, adalah salah satu pemilik saham terbesar di sekolah ini. Bukan itu saja, dia juga merupakan pendiri kampus ini. Hanya satu kalimat perintah darinya, maka kampus i

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 97

    Begitu tiba di kantor rektor, pintu terbuka otomatis. Mahasiswa yang mengantarkan mereka tadi memberi isyarat. “Emma, kamu masuk dulu.” Emma mengerjap. “Hah? Aku? Masuk sendiri?” Raka langsung menoleh. “Kenapa dia harus masuk sendiri?” “Ini permintaan rektor.” Arsen langsung mengernyit. “Gue ikut. Ngapain coba Emma masuk sendiri ke sana?” “Tolong, Kak Arsen. Tunggu di luar.” Raka melangkah maju. “Gue juga ikut masuk.” Mahasiswa itu langsung mengangkat tangan panik. “Maaf, Kak. Hanya Emma yang diminta masuk menemui rektor.” Sunyi yang mencekam menghinggapi mereka, dan kali ini lebih panjang. Emma menatap Raka sekilas, dia melihat ada keraguan kecil di wajah cowok itu. Bukan karena takut, tapi karena tidak bisa mengontrol situasi. Emma menarik napas. “Aku masuk. Kalian tunggu di sini saja.” Raka langsung memegang tangan Emma. “Lo ama gue masuk bareng. Kalau rektor protes, gue tinggal pecat.” Emma menatap Raka tajam. “Aku tidak tahu kuasa apa y

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 37

    "Stop di depan saja, Pak," pinta Emma begitu mendekati lokasi sekitar rumah sakit tempat Ayahnya dirawat."Tapi saya disuruh Tuan Raka untuk mengantarkan Nona Emma sampai tujuan.""Nggak apa-apa, Pak. Rumah saya tidak jauh dari sini."Sopir itu terlihat bimbang sebentar, tapi akhirnya mengangguk so

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 36

    “Nona Emma, Tuan Raka menunggu di ruang kerja.”Emma yang baru selesai ngajar dan hendak minum sisa teh dicangkirnya langsung menoleh.“Hah?”“Kata Tuan Raka akan evaluasi sebentar.”Emma langsung melirik curiga ke arah pintu.“Kenapa kayak HRD manggil karyawan ya?""Mana Kak Raka?" tanya Lilis."D

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 35

    Emma baru saja melangkah masuk ketika suara heboh langsung menyambut dari lantai dua.“KAK EMMA DATANG?!”Suara langkah kaki berisik terdengar menuruni tangga.Lilis muncul dengan kaus oversized bergambar kartun dan rambut setengah berantakan, lalu berhenti tepat di depan Emma dengan mata berbinar

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 34

    Pertemuan di aula berjalan kurang lebih 30 menit karena Kai belum selesai dengan presentasinya. Sedangkan Raka yang memang hanya menjadikan pertemuan itu sebagai alasan untuk memanggil Kai dan Emma, bicara sebentar lalu menyerahkan acara selanjutnya pada panitia yang bertugas. Kai pun menampilka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status