Share

Bab 8

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 21:57:13

Pandangan Emma kini fokus pada pada layar laptop Kai. Di sana terpampang sebuah tampilan coding aplikasi. Backend transaksi.

Emma mengernyit. Kai masih sibuk mengetik. Dia tidak menyadari bahwa mata Emma sedang tertuju pada layar laptopnya.

Emma menggigit bibir. Jangan ikut campur, perintahnya pada diri sendiri.

'Tapi, itu salah. Ya ampun, kenapa dia melakukan hal itu?' jerit Emma dalam hati.

Dia menahan diri. Satu detik. Sepuluh detik. Gagal.

“Yang itu salah.”

Kai berhenti mengetik.

“Hm?”

Emm
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 146

    Prosesi pemakaman Ayah Bagas berlangsung khidmat di bawah langit pagi yang cukup cerah.Deretan kendaraan hitam milik klan Gunawan berbaris rapi di area pemakaman pribadi. Emma berdiri paling depan, mengenakan gaun hitam polos dengan kalung bintang melingkar indah di lehernya. Ibu Rosalinda memeluk bahu Emma, sambil sesekali melap air mata gadis itu dengan dengan penuh kasih sayang. Tanah dingin dan lembab perlahan menutupi peti kayu jati tempat Ayah Bagas beristirahat selamanya. Air mata Emma menetes tanpa suara, membasahi buket bunga mawar putih di genggamannya. "Selamat jalan, Ayah," bisik Emma pelan, menaruh mawar putih itu tepat di atas gundukan tanah yang masih basah. "Terima kasih sudah menjagaku selama belasan tahun ini. Aku janji akan jaga diri baik-baik, Ayah." "Beliau orang yang sangat mulia dan baik hati, Nak," ucap Rosalinda lembut seraya mengusap bahu Emma. "Papa dan Mama sudah menyiapkan panti asuhan atas nama Pak Bagas untuk meneruskan kebaikannya." "Terima kasih

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 145

    Kai terlihat salah tingkah, memyadari kebodohannya sendiri seraya mengusap tengkuknya. "Semua karena Mama. Beberapa hari lalu, Mama marah besar sama aku." "Iyalah! Bagaimana Mama nggak marah-marah coba?!" potong Rosalinda sambil menatap Kai tajam. "Mama udah capek-capek undang Emma masak-masak di rumah, tapi kamu malah bikin dia sakit hati sampai dia lari dan menangis seperti itu! Mama tahu ada yang nggak beres dari caramu menatap Emma." "Aku kan kebingungan waktu itu, Ma," sela Kai membela diri. "Aku jujur ke Mama kalau selama ini aku sengaja mengawasi dan mematai-matai kamu. Awalnya cuma penasaran dan iseng karena ngerasa ada kemiripan, tapi makin lama dipelajari, semua petunjuk malah mengarah kalau Emma ini adikku yang hilang." Rosalinda menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Emma erat-erat. "Saat Kai mengaku, Mama nggak bisa menahannya lagi, Nak," ucap Rosalinda lembut. "Sebenarnya Mama sudah tahu lebih dulu. Mama sengaja mengambil sampel rambutmu di rumah sak

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 144

    Rumah duka mendadak kembali lengang begitu para pengawal menggiring paksa Ibu Renata, Raka, dan Arsen keluar. Pintu kayu jati ditutup rapat, mengunci seluruh riuh keributan dunia luar dan menyisakan sunyi yang menyayat di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu. Emma melangkah perlahan menuju peti jenazah. Dengan jari gemetar, dia mengusap ukiran kayu tempat Ayahnya berbaring. Tidak ada lagi sisa kemarahan di matanya akibat kata-kata hinaan dari Ibu Renata. Kini, yang tersisa hanyalah duka seorang anak yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. "Kak ..." panggil Emma pelan tanpa menoleh. "Mama ... terima kasih. Tapi bolehkah aku sendirian sebentar dengan Ayah? Aku cuma mau bicara sama beliau sebelum beliau dimakamkan." Rosalinda merengkuh bahu Emma, lalu mengangguk lembut. "Mama dan Kai di dekat pintu ya, Sayang. Ambil waktumu. Kalau ada apa-apa, panggil Mama atau Kakakmu." "Iya, Ma. Makasih." Emma duduk di samping peti sang ayah sambil membelai lembut tangannya pria yang telah m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 143

    Renata membeku di tempat. Kata-kata itu diucapkan tanpa intonasi tinggi, tapi begitu menusuk hingga suaranya terkunci di kerongkongan. Rasa malu dan cemas menghantam dadanya bertubi-tubi. Dengan napas tersengal, dia menoleh kasar pada putranya. "Raka! Ayo pergi! Jangan sudi berdiri di dekat cewek gila ini!" bentak Renata sambil menyentak tangannya lepas dari pegangan pengawal. Renata menarik paksa lengan Raka. Namun, Raka menepis cengkraman ibunya dengan sekali sentakan keras. "Raka?!" jerit Renata tak percaya. "Maaf, Ma. Kali ini aku akan nentuin hidupku sendiri.""Apa? Kamu udah berani melawan Mama demi gadis sombong ini?" Raka kembali menatap Emma tanpa memedulikan teriakkan dan kemarahan mamanya sama sekali. Matanya merah, air mata penyesalan menetes melewati luka memar di pipinya yang masih membiru. Di hadapan tiga orang pengawal, Kai, dan Rosalinda, Raka menjatuhkan kedua lututnya ke lantai dingin. Dia berlutut tepat di depan kaki Emma. "Emma, gue mohon," bisik Raka deng

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 142

    Renata melangkah maju satu jengkal, menunjuk Emma yang menatapnya datar tanpa ekspresi. "Heh! Kamu pasti sudah menghipnotis mereka semua dengan kepolosan palsumu itu, kan?!" seru Renata sengit. Emma mengatupkan mulutnya menahan diri agar tidak meledak mendengar tuduhan Renata yang membabi-buta. Genggaman tangannya pada tangan Kai semakin kuat sehingga uratnya menonjol.Tidak mendapat jawaban dari Emma, Renata berbalik dan menatap Rosalinda sambil menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin cewek kumuh yang hidup dari sisa kasihan orang ini darah daging dari keluarga besar kamu, Rosalinda?! Kamu cuma dimanipulasi sama drama picisan dia dan ayahnya yang miskin itu!" Rosalinda menyunggingkan senyum tipis. Langkah kakinya begitu tenang saat mendekati Renata, tapi aura yang dibawanya sanggup mengunci gerakan siapa pun di dalam rumah duka. "Jaga mulutmu, Renata," sahut Rosalinda dingin. "Pria yang kamu hina itu punya nama. Namanya Pak Bagas. Dan pria itu jauh lebih terhormat dibanding kamu

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 141

    "Kapan rencana Ayahmu akan disemayamkan, Nak?" tanya Rosalinda sambil merangkul bahu Emma. Mata gadis itu sembap, tetapi air matanya sudah berhenti mengalir. "Aku belum tahu, Ma," jawab Emma pelan. Kai yang melihat adiknya tanpa semangat, segera mendekatinya dan menggenggam erat jemari Emma. "Lo nggak sendiri, gue ama Mama ada buat lo." Baru saja Emma mau menjawab, di luar gedung terdengar suara dorongan dan teriakan pecah. "Lepasin gue! Gue cuma mau ketemu Emma! Emma! Ini gue, Raka!" Raka memberontak liar. Kemejanya kusut, sudut bibirnya yang robek masih berdarah. Empat pengawal bertubuh tegap menahan dadanya, menjauhkannya dari pintu jati rumah duka. Emma menoleh pelan. Teriakan Raka yang terdengar putus asa menembus keheningan ruangan. Diamenghela napas panjang, lalu berbisik pada Kakaknya, "Izinkan dia masuk, Kai." Kai menatap adiknya sejenak. "Lo yakin mau kasih dia masuk?" "Iya, nggak apa-apa." Kai berjalan mondar-mandir sebentar, dia tidak rela kalau adik tersayangnya

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 49

    “Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 44

    “HEI! MUNDUR LO SEMUA!”Suara rendah itu muncul dari ujung koridor.Semua kepala langsung menoleh.Kai muncul seperti dengan langkah lebar hampir setengah berlari. Jaket hitamnya terbuka. Ekspresinya penuh amarah. Matanya yang biasanya tenang dan penuh perhitungan, kini dingin menakutkan.Alicia me

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 40

    “Kak Raka, kami tunggu jawabannya. Kakak masih suka sama mantan Kakak?”Wajah-wajah tegang menghiasi ruang kelas. Cewek-cewek berharap mendapat jawaban yang masih memberi mereka setitik harapan untuk mendekati ketua The Crown.Raka menatap seisi kelas dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan“Kadan

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 39

    “Terima kasih, Emma. Puisi kamu benar-benar buat kelas jadi heboh dan hidup."“Sama-sama, Pak. Mata kuliah Bapak keren banget. Bahkan orang yang nggak peka aja bisa pura-pura ngerti perasaan orang lain.”Kelas kembali dibuat terpingkil-pingkil oleh perkataan Emma."Tenang, tenang. Sekarang giliran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status