Share

Bab 93

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-06-14 03:16:08

Sore itu juga, Raka benar-benar menyeret Emma menemui pemilik kontrakan. Mereka mampir ke ATM sebentar untuk mengambil uang cash.

"Gue bakal kasih pelajaran pemilik rumah kontrakan," geram Raka sambil terus menyetir.

"Jangan aneh-aneh. Ntar malah aku benaran diusir," ucap Emma mengingatkan.

"Oh, coba saja kalau dia berani."

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan bagus untuk ukuran penduduk yang tinggal di sana. Raka menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 94

    Malam itu Emma tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, isi surat itu kembali muncul. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Seperti pisau yang menggores pelan. Akhirnya ia mengambil keputusan yang bahkan membuat dadanya terasa nyeri. "Aku harus menjaga jarak." Namun, apakah dia sanggup melakukan hal itu? Emma menggeleng pelan sambil menggenggam selimut lebih erat. "Aku harus bisa walaupun itu menyakitkan buat kami berdua." Emma memperbaiki letak bantalnya, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. "Maaf, Raka," ucapnya sendu sebelum memejamkan mata melepas rasa penat yang ada. Dia pun jatuh tertidur dengan perasaan yang kacau balau. *** Keesokan harinya, Emma memaksa diri untuk ke kampus. Hasratnya untuk kuliah, menguap entah ke mana. Dengan sisa-sisa semangat yang ada, Emma menggendong tasnya, berharap mentari pagi memberinya harapan baru. Kampus sudah ramai saat dia tiba di halaman kampus. Mahasiswa berlalu-lalang memenuhi koridor yang dipenuhi tawa bersahutan

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 93

    Sore itu juga, Raka benar-benar menyeret Emma menemui pemilik kontrakan. Mereka mampir ke ATM sebentar untuk mengambil uang cash. "Gue bakal kasih pelajaran pemilik rumah kontrakan," geram Raka sambil terus menyetir. "Jangan aneh-aneh. Ntar malah aku benaran diusir," ucap Emma mengingatkan. "Oh, coba saja kalau dia berani." Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan bagus untuk ukuran penduduk yang tinggal di sana. Raka menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan memasuki halaman rumah tersebut. Pria paruh baya yang datang mengancam Emma tadi malam, wajahnya langsung berubah pucat saat melihat siapa yang datang. Percakapan berlangsung singkat, penuh ancaman. "Ingat! Sekali lagi Bapak mengancam Emma, maka Bapak yang akan saya gusur dari sini." Ancaman terakhir Raka, membuat pemilik rumah bungkam dengan sempurna. Tangannya gemetar saat menerima uang kontrakan Emma yang dibayar lunas saat itu juga. Emma mengerjap, semua terjadi begitu cepat, bahkan seb

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 92

    Raka mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah menekan dadanya cukup keras hingga membuatnya sulit menatap Emma beberapa saat.Pesona dan gairah tersembnyi Emma, membuatnya harus berusaha keras untuk mengendalikan denyut nadi yang masih liar. Tubuh Emma pun masih bergetar lembut dalam pelukannya. Ia mencium kening gadis itu lama sekali, seolah ingin menyimpan momen ini selamanya. "Maaf." Suara itu terdengar lebih pelan dari biasanya. Tangannya lalu menangkup wajah Emma dengan lembut, ibu jarinya mengusap pipi yang masih merona. “Gue terlalu jauh. Gue nggak seharusnya bikin lo merasa tertekan. Maaf, Emma.” Emma yang sedang merapikan kausnya hanya mengangguk kecil. Mereka sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Ruangan sempit itu mendadak terasa canggung. "Makasih udah ingatin tadi." Emma menggenggam pergelangan tangan Raka, matanya yang masih berkabut menatap pria itu dengan lembut."Bukan cuma salah kamu. Aku juga yang memancing. Aku … aku terbawa suasana. Kita berdua

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 91

    Raka menenggelamkan dirinya ke dalam candu yang bernama Emma. Setiap gerakan tangan Raka, dan setiap erangan yang dipaksakan keluar dari tenggorokan Emma, adalah bukti bahwa di dalam rumah ini, mereka sedang melepaskan segala topeng. "Raka …," desah Emma geli saat jari pria itu mulai menggoda bagian sensitifnya. "Gue pengen lo, Emma," erang Raka. Suaranya semakin tak terkontrol. Dia tidak peduli pada status sosial, atau pandangan orang lain. Yang dia tahu, darahnya mendidih untuk gadis ini, dan dia tidak akan membiarkan satu inci pun dari tubuh Emma terlepas dari pengawasannya. "Sekarang," bisik Raka lagi di tengah ciuman yang memabukkan, "llo milik gue sepenuhnya." "Atas dasar apa?" erang Emma dalam sentuhan Raka. "Karena gue cinta lo, Emma. Hanya lo." Tubuh Emma didera kenikmatan saat Raka mengucapkan kata-kata itu. Apalagi jemari Raka yang bergerak lihai di bawah kaos oblongnya. "Emma …" "Hmm ..." "Catat baik-baik!" "Apa itu?" "Jangan pernah berani-berani berpikir unt

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 90

    Udara di dalam gubuk itu terasa makin menyesakkan, bukan lagi karena bau apak kayu yang lapuk, melainkan karena atmosfer yang mendadak berubah menjadi panas dan elektrik. Raka menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar di balik kemeja mahalnya, tapi gagal. Saat dia mengangkat tubuh Emma ke atas meja kayu yang reot, meja itu mengeluarkan derit protes yang nyaring. Raka tak peduli. Dia memutus ciuman mereka sesaat, menatap lekat mata Emma yang kini berkabut oleh gairah, sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. "Lo tahu, kan, apa risikonya kalau gue harus jemput lo sampai ke lubang semut kayak gini?" bisik Raka serak. Tangannya yang bebas menelusuri rahang Emma, lalu turun ke tengkuknya dengan cengkeraman yang posesif. "Gue nggak suka menunggu, dan gue jauh lebih benci kalau ada bagian dari diri lo yang mencoba sembunyi dari gue. You’re playing with fire, Emma." Emma mengerjap, dia ingin lepas dari Raka, tapi sentuhan pria itu membuatny

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 89

    Arsen sudah duduk manis di kantin. Setelah melewatkan kelas demi kelas dengan kesabaran setipis tisu toilet.Di jam mata kuliah terakhir, dia sengaja keluar duluan dari kelas agar bisa mengambil spot terbaik di kantin. Dua porsi makanan—ayam bakar madu kesukaan Emma dan steak kesukaannya sendiri—sudah terhidang rapi, masih mengepulkan uap tipis.Arsen melirik jam Tag Heuer di pergelangan tangannya. "Mungkin sebentar lagi," gumamnya, mencoba mengusir kecemasan.Lima menit berlalu. Kursi di hadapannya masih kosong. Arsen mulai menggerakkan kakinya dengan gusar di bawah meja.Ayam bakar dan steak di depannya yang tadi terlihat begitu menggoda, kini tampak membosankan."Kamu ke mana sih, Emma?" bisiknya, menatap layar ponsel yang masih gelap.Beberapa mahasiswa yang lewat berbisik-bisik, menatap Arsen heran. Pasalnya, pangeran kampus playboy cap buaya darat yang biasanya rakus itu kini hanya memandangi makanannya dengan tatapan kosong."Nggak usah lihat-lihat! Mau mata lo gue colok?" be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status