Share

Bab 16

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-05-02 21:18:56

Mata kuliah pertama hari ini adalah Hermeneutika - seni mengulik makna di balik sesuatu. Bukan sekedar baca teks. Emma cukup antusias, mengingat dosen yang membawa materi ini terkenal sangat kritis dan juga suka memancing para mahasiswa untuk menggali lebih jauh nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya.

Di layar proyeksi, sebuah kalimat terpampang dengan font unik. “Pride and Prejudice: Dari Prasangka ke Cinta.”

Emma duduk tegak di kursinya, jemarinya menyentuh ringan buku catatan yang pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 103

    Rosalinda memeras handuk kecil di baskom berisi air hangat. Uap tipis naik ke udara. Dengan gerakan hati-hati, dia mengusap lengan suaminya yang tampak lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Sebenarnya perawat bisa melakukan hal itu, tetapi dia memilih untuk melayani suaminya.Pak Ridwan membuka mata perlahan."Airnya hangat?" suaranya serak.Rosalinda tersenyum kecil."Hangat. Nyaman, kan?"Pak Ridwan mengangguk lemah. Meski beberapa selang infus masih menempel di punggung tangan dan pergelangannya, kondisinya jelas membaik. Masker oksigen yang beberapa hari terakhir menutupi wajahnya kini sudah tidak ada lagi. Napasnya masih berat, tetapi tidak lagi tersengal.Di sudut ruangan, Kai sedang fokus menatap layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Terdengar bunyi jemarinya yang beradu dengan tombol keyboard.Suasana kamar inap terasa tenang. Sampai suara dering ponsel memecah keheningan.Kriiing …Kai melirik ke arah meja kecil di samping tempat tidur."Ma, telepon."R

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 102

    Tak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!" Mata Larissa Handoyo langsung berkaca-kaca saat melihat putranya berdiri di depan gerbang yang belum terbuka sepenuhnya. "Nak ..." Beliau nyaris berlari saking senangnya. Lalu mendadak berhenti seperti adegan slow motion di film-film.Tatapannya beralih ke para satpam yang masih bergerombol di dekat pos keamanan. Ekspresi hangat itu langsung berubah. "Bapak-bapak ini bagaimana sih?" Para satpam spontan berdiri tegak. "Maaf, Bu. Kami tadi terlalu senang." "Senang sampai lupa buka gerbang?" “Kami minta maaf, Bu." "Anak saya sudah berdiri di depan gerbang dari tadi." "Maaf, Bu." "Kalau dia berubah pikiran lalu pergi lagi bagaimana?" Mendengar itu, wajah para satpam langsung pucat.

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 101

    Sudah hampir satu bulan lamanya Bima menghabiskan hari-harinya di vila milik keluarganya yang terletak jauh dari keramaian kota. Tempat itu nyaman, tenang, dan memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihannya. Apa pun yang ia perlukan selalu tersedia. Makanan datang tepat waktu, obat-obatan tidak pernah terlambat diberikan, dan dokter rutin memantau perkembangannya.Namun, semua kemudahan itu tidak serta-merta membuatnya merasa bahagia.Justru sebaliknya. Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan terasing yang menggerogoti dirinya. Setiap hari rasa bersalah terus menghantuinya. Rasa bersalah karena menghilang begitu saja dari kehidupan orang-orang yang peduli padanya dan membiarkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat bertanya-tanya mengenai keadaannya.Awalnya Bima menganggap menyendiri adalah keputusan terbaik. Ia ingin fokus sembuh tanpa gangguan apa pun. Namun, setelah berminggu-minggu berlalu, kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini b

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 100

    "Emma." "Hm?" "Kita perlu bicara." "Aku tahu." "Bagus." "Aku tahu." "Bagus." Emma menoleh ke luar jendela. Pohon-pohon melintas seperti bayangan. Cepat. Kabur. Sama seperti masa depannya sekarang ini. "Aku pikir …" Emma menarik napas. Lalu memberanikan diri menatap Raka. "Kita harus benar-benar jaga jarak." Mobil langsung hening. Arsen bahkan otomatis mengecilkan volume musik. "Lo serius?" Suara Raka terdengar pelan dan berbahaya. "Iya, Raka. Kita nggak punya pilihan lain." "Of course kita punya banyak pilihan." "Ya, benar, untukmu selalu ada banyak pilihan, tapi tidak untukku." "Karena Mama gue?" "Bukan cuma itu." "Lalu?" Emma menunduk. "Karena aku lelah dengan semua ini." Raka tertawa pendek, dan terdengar pahit. "Bilang saja lo lelah karena hadapin gue?" "Bukan, tapi aku lelah dan capek lihat semua orang bermasalah gara-gara aku." "Itu bukan salah lo." "Tapi tetap terjadi." "Emma ..." "Kamu dengar Mama kamu tadi kan?" "Terserah apa mau Mama, gue nggak

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 99

    Emma terdiam. Pertanyaan itu datang tiba-tiba dan terlalu tajam. Seolah seseorang baru saja membongkar pintu yang selama ini ia jaga rapat-rapat."Siapa nama ibu kandungmu, Emma?"Jantung Emma berdetak semakin cepat.Ia melirik Raka. Lalu Arsen. Seakan kedua pria itu punya kunci jawabannya."Aku …"Emma menelan ludah. Tatapannya turun sesaat. Lalu kembali terangkat."Setahuku nama ibu kandungku Ningsih Sulastri."Mata Ibu Renata langsung menyipit."Ningsih Sulastri?"Emma mengangguk tak yakin. Setidaknya itu adalah nama yang selalu Ayah ucapkan. Namun, setelah Ayah membuka masa lalunya, tentunya dia tahu kalau nama itu hanya karangan Ayahnya saja."Benar?"tanya Ibu Renata."Iya.""Kamu yakin?""Ayah selalu bilang begitu.""Selalu bilang?"Emma mulai merasa seperti sedang diinterogasi."Iya.""Kamu pernah bertemu perempuan itu?."Aku nggak ingat karena. Mama meninggal saat aku masih kecill.""Foto?""Nggak ada.""Alamat?""Beliau tinggal bersama aku dan Ayah saat masih hidup.""K

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 98

    Tatapan Ibu Renata bergeser ke Emma.Hanya sepersekian detik. Namun, cukup membuat Emma merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki."Kamu sudah paham kenapa dipanggil ke sini."Emma menatap Ibu Renata tanpa berkedip. ‘Pas aku masuk ke sini, kok dia nggak ada?’ pikirnya, lalu melirik pintu samping dan sadar, saat dia sedang bicara dengan rektor, ternyata Ibu Renata sedang duduk di ruangan sebelah.Raka melangkah maju."Mama, please …"Ibu Renata tersenyum kecil."Mama bahkan belum bicara apa-apa.""Karena aku tahu Mama bakal …"Sunyi.Kata-kata Raka menggantung begitu saja sehingga ketegangan merambah pelan seperti api yang menyusuri sumbu bom.Arsen melirik Emma.Lalu kembali menatap ibu dan anak yang sedang saling berhadapan.Sial.Ini jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan. Ibunda Raka, adalah salah satu pemilik saham terbesar di sekolah ini. Bukan itu saja, dia juga merupakan pendiri kampus ini. Hanya satu kalimat perintah darinya, maka kampus i

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 7

    Bab 7Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?Kai. Salah satu angg

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 6

    Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 5

    Udara pagi masih segar ketika Emma mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalan menuju kampus. Tas ransel tergantung di punggungnya, bergerak naik turun mengikuti irama kayuhan kakinya. Rambutnya yang terikat sederhana ikut bergoyang tertiup angin pagi. Gerbang kampus menjulang tinggi di depannya, sam

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 4

    Malam ini, Emma tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun. Ayahnya sudah berkali-kali berkata padanya. Tidak masalah dia tidak bisa masuk universitas itu. Jalan masih panjang. Emma masih bisa mengejar mimpi yang lain.Emma juga merasa lega karena ayahnya tidak kecewa. Tapi bukan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status