MasukWilliam kemudian menunduk, menatap Sasha dengan mata yang seolah memohon sekaligus mengancam. “Katakan padanya, Sasha. Katakan bahwa kau bahagia di sini. Katakan bahwa kau tidak ingin pergi ke mana-mana.”Sasha mematung. Ia menatap Raka dan berharap peluangnya untuk bebas lalu ia menatap William. Di mata William, ia melihat kegelapan yang sama dengan malam tadi, namun kali ini bercampur dengan keputusasaan yang nyata. Jika ia berkata ia ingin pergi sekarang, William mungkin akan menghancurkan segalanya termasuk Raka, termasuk dirinya sendiri, dan mungkin... masa depan Arlan.Lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang pahit adalah: William telah membangun jaring yang begitu kuat sehingga meskipun pintunya terbuka lebar, Sasha tidak tahu ke mana ia harus lari tanpa menyebabkan kehancuran bagi orang-orang di sekitarnya.“Saya...” suara Sasha bergetar.William mencengkeram pinggang Sasha sedikit lebih keras, sebuah peringatan bisu.“Saya di sini atas kemauan saya sendiri, Raka,” ucap SashaDu
William sudah menunggunya di ujung tangga. Pria itu kembali mengenakan setelan jas tiga lapis yang sempurna. Tak ada jejak kerentanan dari malam sebelumnya. Wajahnya kembali dingin, otoriter, dan tak tersentuh.“Kau tepat waktu,” ujar William singkat. Ia mengulurkan tangannya, sebuah isyarat yang tidak memberikan pilihan bagi Sasha selain menyambutnya.Sasha meletakkan tangannya di atas telapak tangan William. Pria itu langsung menggenggamnya erat, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya satu inci saja, Sasha akan menguap menjadi asap.“Mari kita berangkat. Mobil sudah menunggu,” lanjut William.“Arlan?”“Dia sudah berangkat sejak tadi.”“Kok nggak nunggu?” tanya Sasha sedikit kesal tidak bertemu Arlan pagi ini.“Nanti kamu juga ketemu, ayo! Sudah siang!”Sasha mendengus, sebenarnya dia tak suka diperlakukan seperti ini. Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Sasha menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang menjulang tinggi, menya
melonggar, namun ia tidak menjauh. Matanya yang tajam menelusuri wajah Sasha yang kini basah oleh air mata, mencari celah kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang teramat dalam.William bangkit berdiri sepenuhnya. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang menelan sosok Sasha. Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sasha mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang."Kau pikir aku melakukan ini karena benci?" William berbisik, kali ini suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Jika aku membencimu, Sasha, kau tidak akan berada di kamar ini. Kau akan berada di tempat yang jauh lebih gelap."Ia mengulurkan tangan, menghapus air mata di pipi Sasha dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut, namun matanya tetap dingin."Kebaikanmu... caramu merawat nenekmu, caramu melahirkan Arlan sendirian... itulah yang membuatku tidak bisa melepaskanmu. Kau adalah satu-satunya hal murni yang pernah meny
William langsung menoleh pada Arlan, wajahnya berubah seketika menjadi sosok ayah yang hangat. "Arlan, sayang, selesaikan makanmu di kamar bersama Bi Mirah ya? Papa dan Mama ada urusan orang dewasa yang harus dibicarakan sebentar." Arlan memandang Sasha ragu. Sasha hanya bisa mengangguk lemah, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Setelah Mirah membawa Arlan pergi, suasana di ruang makan langsung berubah menjadi dingin dan mencekam. William bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Sasha. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung Sasha. "Dunia luar itu berbahaya, Sasha. Kamu sudah merasakannya sendiri sebulan lalu, bukan? Saat kamu mencoba kabur dan hampir mencelakai dirimu sendiri... dan Arlan," bisik William tepat di telinga Sasha. "Di sekitar kita adalah tempat di mana orang bisa menghilang. Dan aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi. Tidak akan pernah." Sasha memejamkan mata rapa
“Papa, mama ke mana?” tanya Arlan.William tersenyum, lalu mengusap kepala sang anak.“Nanti nyusul. Arlan makan dulu.”“Tapi aku mau sama mama, mama sibuk terus,” protes Arlan yang semakin hari semakin dekat dengan William.William mengusap wajahnya pelan, memberi kode pada Mirah untuk melihat keadaan Sasha di kamar. Akhir akhir ini dia memang lebih suka mendiamkan Sasha. Bukan karena dia sangat membenci Sasha, tapi dia tahu Sasha sedang dia disiplinkan jadwalnya. Mirah mengangguk patuh, segera melangkah menaiki tangga kayu ek yang megah itu dengan langkah tanpa suara. Sementara itu, William kembali memusatkan perhatiannya pada Arlan. Ia menarik kursi di sebelah putranya, membantu memotongkan daging steak yang masih mengepul."Mama sedang belajar untuk menjadi lebih baik, Arlan. Sama seperti Arlan yang belajar membaca, Mama juga sedang belajar untuk selalu ada di samping kita tanpa harus merasa sedih lagi," ujar William dengan nada yang begitu tenang, begitu meyakinkan.Arlan menata
William tidak menjawab. Ia justru menarik Sasha masuk ke dalam dekapannya, sebuah pelukan yang terasa seperti belenggu. "Aku tidak menyembunyikannya, Sasha. Aku hanya menjauhkannya agar kamu tidak punya distraksi untuk melarikan diri dariku lagi. Kamu hanya butuh aku. Hanya aku."Sasha merasa mual. Pria di depannya ini benar-benar gila. Dua sisi yang ia lihat pagi tadi bukanlah sebuah perbedaan karakter, melainkan sebuah strategi manipulasi yang sangat rapi. William menggunakan kasih sayangnya pada Arlan sebagai umpan, dan menggunakan keselamatannya serta orang-orang yang ia cintai sebagai ancaman.Sore itu, Sasha hanya bisa mengurung diri di kamar setelah makan siang yang terasa seperti menelan duri. Ia menatap ke luar jendela, melihat William yang sedang bermain bola dengan Arlan di taman bawah. Dari kejauhan, William terlihat seperti malaikat pelindung bagi anak itu. Namun Sasha tahu, di balik tawa renyah itu, ada iblis yang siap mencabik-cabik siapapun yang mencoba merusak kesemp
Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal ter
"Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh
“Karena banyak orang jahat di luar sana yang bisa mencelakaimu, Nak.”"Itukah alasan kenapa kita harus pindah lagi dan lagi, kan Ma?"“Iya, makanya nurut sama mama ya? Mama sayang sama kamu, khawatir kalau kamu kenapa napa.”“Seharusnya kita punya papa, Ma. Biar kita aman dan gak khawatir lagi kan?
"Om, kenapa sepatunya mengkilap sekali? Seperti cermin," celetuk suara kecil yang datang dari arah bawah.William menghentikan langkahnya seketika. Di koridor marmer lantai dua Grand Ballroom yang biasanya steril dari interupsi, suara itu terdengar seperti anomali. William, seorang pria yang dikena







