Share

Bab 10

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2025-12-31 10:09:02

Raka?

Lelaki itu berdiri beberapa meter darinya, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sama.

“Urusan administrasi sudah beres?” tanya Raka.

“Iya.”

“Cepat juga.” Ia tertawa kecil, lalu menatap Sasha lebih lama. “Dari mana dananya?”

“Pinjam,” jawab Sasha singkat. Dia yang akhirnya tertahan lebih lama di lorong itu.

"Sha, itu uang pinjam dari mana? Dan puluhan juta itu bukan uang kecil."

Sasha mundur selangkah, punggungnya menabrak meja administrasi. "Aku sudah bilang... aku dapat pinjaman, Rak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 174

    "Mama? Apa yang terjadi? Kenapa apartemenku disegel?!" Clarissa berteriak histeris, mencoba menerobos petugas yang masih berjaga."Clarissa, berhenti!" Linda menarik lengan putrinya dengan kasar. "Kita harus pergi. Sekarang.""Pergi? Ini rumahku! Papa yang membelikannya untukku! Ini hadiah dari Pak William untukku.”“Justru Dia yang melakukannya. William sudah mengambilnya kembali,” lirih Linda.“Apa? Dia tidak mungkin melakukan ini!" Clarissa meronta, namun saat ia melihat tatapan kosong dan hancur di mata ibunya, keberaniannya surut."Semua ini karena Ayahmu... ayahmu sudah menghancurkan segalanya," bisik Linda dengan suara yang gemetar. "Apa maksud mama?”“Entahlah, mama juga tak mengerti. Tapi, asisten Willliam bilang jika ia menculik Arlan. Dia mencoba meledakkan gudang dengan William di dalamnya. Dan sekarang, William mencabut semua yang pernah dia berikan pada kita. Kita tidak punya apa-apa lagi, Clarissa.”"Tidak, ini tidak mungkin. Kita miskin lagi, Mama,” pekik Clarissa. C

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 173

    William tidak menoleh lagi. Pintu ambulans tertutup, memisahkan kehangatan pelukan Arlan dari dinginnya amarah yang masih berdesir di nadinya. Di dalam ruang medis yang sempit itu, Arlan akhirnya tertidur karena syok dan kelelahan, sementara petugas medis sibuk mengobati luka bakar di telapak tangan William."Tuan, luka Anda cukup dalam," bisik Hendri itu ragu-ragu."Balut saja. Jangan banyak bicara," potong William tanpa mengalihkan pandangan dari wajah putranya.Beberapa jam kemudian, , suasana mencekam masih terasa meski bahaya telah lewat. Sasha berdiri di ambang pintu kamar Arlan, wajahnya sembap. Ia menatap William yang duduk di kursi kayu, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota.“Arlan. Bagaimana kondisinya?”“Dia di rumah sakit bersama Hendri. Kita ke sana sekarang.” Tanpa bertanya lagi, Sasha langsung mengikuti ke mana William membawanya. Begitu sampai di rumah sakit, William baru merasakan perih di tangannya."Dia sudah bangun?" tanya William tanpa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 172

    Mobil sport William tidak lagi meluncur, ia terbang rendah. Jarum speedometer menyentuh angka 180 km/jam, meliuk di antara truk-truk kontainer menuju kawasan pelabuhan mati. Di sampingnya, pistol yang ia simpan di laci tersembunyi sudah berada di pinggang. "Tuan! Bram masuk ke area pengolahan limbah. Dia memasang barikade! Polisi tertahan karena dia mengancam akan meledakkan tangki gas jika ada yang mendekat!" suara Hendri di telepon terdengar panik oleh deru angin. William tidak mengerem. Ia justru menginjak gas lebih dalam saat melihat gerbang seng gudang di depannya. BRAKKK! Mobil itu menghantam gerbang hingga terpental, menciptakan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. William keluar dari mobil sebelum debu sempat turun. Di depannya, di atas platform besi setinggi lima meter, Bram berdiri dengan wajah gila. Arlan diikat di kursi, tepat di bawah pipa uap panas yang meraung. Di tangan Bram, sebuah pemantik api menyala di dekat selang gas yang bocor. "Satu langkah la

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 171

    Dari kejauhan William menonton drama diseretnya Clarissa. Tepat di sisinya, Sasha diminta melihat dengan seksama bagaimana hukum berjalan untuk orang licik seperti Clarissa dan keluarganya.“Kamu kasihan?” tanya William lagi.Sasha hanya menatap tanpa kedip, jemari diletakkan di bawah dagu. Dia tampak melihatnya dengan serius.William mengusap pipi Sasha, membuat Sasha kaget dan langsung menurunkan tangannya. “Tadinya aku ingin menghukumya dengan sesuatu yang lebih pantas, tapi sepertinya tidak perlu. Ada kamu di sini yang harus siap menggantikan hukumannya,” ujar William yang langsung menarik Sasha dalam pangkuan.“A-pa yang kamu lakukan?” tanya Sasha terkejut.“Kamu bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana cara dosenmu ini menghukum muridnya yang licik kan?”William menarik tangan Sasha agar menyentuh dadanya yang bidang. Napas Sasha mendadak memburu, dia tahu maksud William kali ini.“Kita di kantor, Pakl. Apa tidak bisa kita melakukan hanya jika di rumah saja?”Bukannya menjawab

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 170

    "Pagi semua …”“Pagi, Mbak Clarissa,” balas karyawan yang menatap Clarissa dengan heran pagi ini datang ke kantor.Matahari baru saja melewati puncaknya saat Clarissa melangkah masuk ke lobi utama kantor William dengan dagu terangkat tinggi. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan kacamata hitam yang menutupi tatapan liciknya.Namun, suasana di lobi terasa berbeda. Para staf yang biasanya menunduk hormat kini saling berbisik, melemparkan pandangan yang sulit diartikan antara kasihan dan cemoohan.Clarissa mengabaikan mereka. Ia menyapa yang masih mau disapa dan melangkah menuju lift eksekutif, namun saat ia menempelkan kartu aksesnya, mesin itu mengeluarkan bunyi merah yang nyaring. Gagal."Sial, kenapa gini ? Apa benda ini rusak," gerutunya. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama."Permisi, Ibu Clarissa."Clarissa berbalik dengan cepat, siap menyemprot siapapun yang berani mengganggunya. Di hadapannya berdiri Hendri, asisten tangan kanan William, didampingi oleh dua petugas keamanan bertu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 169

    "Hendri, masuk ke ruanganku. Sekarang," perintah William singkat.Hanya dalam hitungan detik, Hendri sudah berdiri di ambang pintu. Ia sempat melirik sekilas ke arah Sasha yang tampak sedikit berantakan, lalu dengan cepat menundukkan kepala, menjaga profesionalitasnya."Ya, Pak William?"William menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Hendri dengan binar yang dingin.“Ada kabar terbaru tentang benalu itu?”“Sejauh ini, mereka belum ada pergerakan serius.”"Baiklah, tapi aku tidak akan diam saja. Aku tidak ingin melihat ada duri dalam daging lagi di perusahaan ini. Clarissa. Urus surat pemecatannya hari ini juga. Aku ingin dia keluar dari gedung ini sebelum jam kantor berakhir," ujar William tanpa basa-basi.Sasha kaget dan sedikit terkejut. “Apa perlu dinotice lebih dulu?”"Tidak usah,” potong William tajam. "Putuskan semua aksesnya ke sistem perusahaan. Aku tidak peduli. Keberadaannya di sini hanya akan menjadi polusi. Dan satu lagi..."William menjeda kalimatnya,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 155

    "Kemiskinan bukan alasan untuk merampas seorang anak dari ibunya!” suara Sasha bergetar, tertahan di antara isak tangis yang mulai pecah. Ia berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti jeli di hadapan tatapan tajam William yang menghunjam.William tersenyum menang, sebuah suara penuh amarah yang me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 154

    Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari diri

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 153

    Sasha mengikuti langkah lebar William keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Lorong gedung fakultas yang sepi di sore hari itu terasa begitu panjang. Setiap langkah kaki William yang terburu-buru seolah-olah sedang mengejar waktu yang hilang selama lima tahun, sekaligus melarikan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 152

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. H

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status