LOGINSasha mengangguk mantap. Meski ia adalah wanita berprinsip yang terbiasa berpikir kritis, ia mengerti bahwa di balik dinding benteng pertahanan William, terdapat ketakutan yang dalam, bukan takut akan kekalahan di meja bisnis, melainkan takut kehilangan hal-hal yang paling berarti baginya.“Aku mengerti, Will,” jawab Sasha lembut, jemarinya mengusap punggung tangan suaminya. “Aku akan menjadi pendengar dan pengamat yang baik. Aku tidak akan mengeluarkan satu patah kata pun kecuali kamu yang memintanya.”William menatap Sasha dalam-dalam. Kepercayaan yang diberikan istrinya adalah bahan bakar sekaligus beban yang berat baginya. Ia tahu, dengan membawa Sasha dan Arlan ke kediaman utama, ia sedang membiarkan mereka masuk ke dalam zona bahaya yang dipenuhi oleh penglihatan tajam Aditama. Namun, ia juga sadar bahwa membiarkan Sasha tetap di luar jangkauan hanya akan membuat istrinya itu menjadi sasaran empuk yang tak terlindungi. Bersama William, setidaknya ia bisa memantau setiap ancaman
William mengembuskan napas berat. "Aditama mengundang kita makan malam besok di rumah utama."Sasha tertegun sejenak. "Rumah utama? Tempat ibumu dulu...?""Ya," potong William cepat. "Dia menggunakan nama ibuku untuk memancingku. Dan... dia membawa Kirana pulang dari Australia."Sasha memiringkan kepalanya, mencoba mencerna nama baru yang baru saja didengarnya. "Kirana?”"Benar. Adikku satu-satunya. Dia pulang tanpa memberi tahu aku, dan sekarang dia ada di bawah pengaruh Aditama," suara William terdengar parau. "Aku tidak ingin membawamu dan Arlan ke sana, Sasha. Tempat itu terlalu kotor dan penuh dengan kepalsuan. Tapi jika aku pergi sendiri, Aditama pasti akan menggunakan Kirana untuk menekanku agar membawa kalian di lain waktu."Sasha menatap William dengan tatapan yang sangat matang. Ia bisa melihat dilema yang luar biasa besar di mata suaminya. Di satu sisi, William ingin melindungi surga kecil mereka, namun di sisi lain, ada adik kandungnya yang juga harus diselamatkan dari ce
"Kenapa kamu berpikir papa akan mencelakaimu, Nak? Papa hanya ngin berkenalan dengan anak dan istrimu. Sungguh1’Setelah membuat perhitungan cukup matang pada Aditama, William berulang kali menolak panggiln bahkan menemuinya. Bahkan William sangat protektif melindungi Sasha dari Aditama yang ingin bertemu dan memperkenalkan diri sebagai ayah mertua.William hanya menoleh pada pesan yang tiba tiba mucul di layar ponselnya. Notifikasi pesan itu muncul namun sama sekali tak ingin dia balas.“William…”William menengok, seseorang mengagetkan dia yang tadinya sedang menunggu kedatanagn Sasha dari kampusnya. Sengaja memang dia yang menejmput siang ini karena dia ingin mengajak Sasha pergi jalan jalan dengan Arlan. “Maaf, saya ke sini untuk memberikan ini pada istri Anda. Namun, saya dicegah oleh dua penjaga istri Anda.”Willam mengernyit,” kamu siapa?”“Saya Damar, asisten Pak Aditama. Beliau mengundang Den William makan malam bersama. Berharap sekali Den Willam mau datang di acara penting
Sasha memejamkan matanya sejenak, menikmati kehangatan sentuhan William yang selalu berhasil menyalurkan rasa aman langsung ke dadanya. Sebagai mahasiswi akuntansi yang kritis, ia tahu bahwa pertahanan fisik yang dibangun William membutuhkan biaya dan energi yang luar biasa besar. Namun, ia juga paham bahwa ini adalah cara suaminya mencintai—sebuah proteksi mutlak yang lahir dari trauma masa lalu yang mendalam."Aku percaya padamu, Will," bisik Sasha, membuka matanya dan menatap lurus ke dalam manik mata hitam William yang kelam namun penuh komitmen. "Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan karena terus-menerus mengkhawatirkan kami. Kami akan menjaga diri baik-baik di sini."William tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan posesif, seolah ingin mencetak janjinya langsung pada bibir ranum Sasha. Setelah tautan mereka terlepas, ia mengecup kening istrinya dengan lembut sebelum akhirnya berbalik untuk memimpin rombongan penjemp
Malam itu, setelah Arlan tertidur pulas di kamarnya, atmosfer di dalam rumah mewah di pinggiran kota itu tidak sepenuhnya rileks. William berdiri di ruang kerja pribadinya, menatap layar monitor yang menampilkan visual dari enam belas kamera pengawas yang mengitari perimeter luar kediamannya. Jari-jarinya bergerak lincah di atas papan ketik, memperbarui protokol enkripsi pada sistem keamanan digital rumahnya.Kehadiran dua pria bersafari di kampus Sasha sore tadi adalah peringatan keras. Aditama tidak sekadar menggertak; pria tua itu sedang memetakan rutinitas keluarganya, mencari celah sekecil apa pun untuk menyusup masuk dan menegakkan dominasinya."Hendri," panggil William saat sambungan telepon internalnya terhubung. Suaranya rendah, nyaris tidak bergetar, namun sarat akan otoritas yang mematikan."Ya, Tuan William," sahut Hendri di seberang sana, suaranya terdengar siap dan siaga penuh."Mulai besok pagi, ganti seluruh tim pengawal statis di gerbang depan dengan personel dari div
Di mana ya?” ledek William yang tak tega berbohong. “Sekarang, kita pergi menjemput Mama, mau?""Mau! Mau!" Arlan bersorak riang, menepuk-nepuk pundak William penuh semangat.Setelah mendudukkan Arlan dengan aman di car seat bagian belakang, mobil kembali melaju menuju target berikutnya, universitas tempat Sasha menimba ilmu. Jarak dari sekolah Arlan ke kampus Sasha tidak terlalu jauh, namun kemacetan sore hari membuat perjalanan terasa sedikit lebih lama. Sepanjang jalan, William terus mendengarkan celoteh tanpa henti dari Arlan, sesekali menyahut dengan senyuman tipis yang tulus. Kehadiran bocah ini adalah pengingat mutlak bagi William tentang apa yang sedang ia perjuangkan mati-matian dari keserakan silsilah Aditama.Sekitar pukul empat sore, sedan mewah William akhirnya memasuki area luar gerbang kampus Sasha. Dari balik kaca mobil yang gelap, William bisa melihat suasana koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berhamburan keluar dari kelas terakhir mereka.Tak butuh w
"Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah
"Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha
“Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben
Meskipun rasa mual terkadang masih menyentak perutnya, Sasha tetap memaksakan diri untuk memantau pesanan keripik di gawai miliknya. Strategi Sasha untuk memproteksi diri kini bukan hanya sekadar bersembunyi, melainkan membangun ekosistem kehidupan yang mandiri di dalam bangunan tua tersebut."Nduk







