공유

Bab 10

작가: Azzura Rei
last update 게시일: 2025-12-31 10:09:02

Raka?

Lelaki itu berdiri beberapa meter darinya, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sama.

“Urusan administrasi sudah beres?” tanya Raka.

“Iya.”

“Cepat juga.” Ia tertawa kecil, lalu menatap Sasha lebih lama. “Dari mana dananya?”

“Pinjam,” jawab Sasha singkat. Dia yang akhirnya tertahan lebih lama di lorong itu.

"Sha, itu uang pinjam dari mana? Dan puluhan juta itu bukan uang kecil."

Sasha mundur selangkah, punggungnya menabrak meja administrasi. "Aku sudah bilang... aku dapat pinjaman, Rak
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 173

    William tidak menoleh lagi. Pintu ambulans tertutup, memisahkan kehangatan pelukan Arlan dari dinginnya amarah yang masih berdesir di nadinya. Di dalam ruang medis yang sempit itu, Arlan akhirnya tertidur karena syok dan kelelahan, sementara petugas medis sibuk mengobati luka bakar di telapak tangan William."Tuan, luka Anda cukup dalam," bisik Hendri itu ragu-ragu."Balut saja. Jangan banyak bicara," potong William tanpa mengalihkan pandangan dari wajah putranya.Beberapa jam kemudian, , suasana mencekam masih terasa meski bahaya telah lewat. Sasha berdiri di ambang pintu kamar Arlan, wajahnya sembap. Ia menatap William yang duduk di kursi kayu, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota.“Arlan. Bagaimana kondisinya?”“Dia di rumah sakit bersama Hendri. Kita ke sana sekarang.” Tanpa bertanya lagi, Sasha langsung mengikuti ke mana William membawanya. Begitu sampai di rumah sakit, William baru merasakan perih di tangannya."Dia sudah bangun?" tanya William tanpa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 172

    Mobil sport William tidak lagi meluncur, ia terbang rendah. Jarum speedometer menyentuh angka 180 km/jam, meliuk di antara truk-truk kontainer menuju kawasan pelabuhan mati. Di sampingnya, pistol yang ia simpan di laci tersembunyi sudah berada di pinggang. "Tuan! Bram masuk ke area pengolahan limbah. Dia memasang barikade! Polisi tertahan karena dia mengancam akan meledakkan tangki gas jika ada yang mendekat!" suara Hendri di telepon terdengar panik oleh deru angin. William tidak mengerem. Ia justru menginjak gas lebih dalam saat melihat gerbang seng gudang di depannya. BRAKKK! Mobil itu menghantam gerbang hingga terpental, menciptakan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. William keluar dari mobil sebelum debu sempat turun. Di depannya, di atas platform besi setinggi lima meter, Bram berdiri dengan wajah gila. Arlan diikat di kursi, tepat di bawah pipa uap panas yang meraung. Di tangan Bram, sebuah pemantik api menyala di dekat selang gas yang bocor. "Satu langkah la

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 171

    Dari kejauhan William menonton drama diseretnya Clarissa. Tepat di sisinya, Sasha diminta melihat dengan seksama bagaimana hukum berjalan untuk orang licik seperti Clarissa dan keluarganya.“Kamu kasihan?” tanya William lagi.Sasha hanya menatap tanpa kedip, jemari diletakkan di bawah dagu. Dia tampak melihatnya dengan serius.William mengusap pipi Sasha, membuat Sasha kaget dan langsung menurunkan tangannya. “Tadinya aku ingin menghukumya dengan sesuatu yang lebih pantas, tapi sepertinya tidak perlu. Ada kamu di sini yang harus siap menggantikan hukumannya,” ujar William yang langsung menarik Sasha dalam pangkuan.“A-pa yang kamu lakukan?” tanya Sasha terkejut.“Kamu bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana cara dosenmu ini menghukum muridnya yang licik kan?”William menarik tangan Sasha agar menyentuh dadanya yang bidang. Napas Sasha mendadak memburu, dia tahu maksud William kali ini.“Kita di kantor, Pakl. Apa tidak bisa kita melakukan hanya jika di rumah saja?”Bukannya menjawab

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 170

    "Pagi semua …”“Pagi, Mbak Clarissa,” balas karyawan yang menatap Clarissa dengan heran pagi ini datang ke kantor.Matahari baru saja melewati puncaknya saat Clarissa melangkah masuk ke lobi utama kantor William dengan dagu terangkat tinggi. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan kacamata hitam yang menutupi tatapan liciknya.Namun, suasana di lobi terasa berbeda. Para staf yang biasanya menunduk hormat kini saling berbisik, melemparkan pandangan yang sulit diartikan antara kasihan dan cemoohan.Clarissa mengabaikan mereka. Ia menyapa yang masih mau disapa dan melangkah menuju lift eksekutif, namun saat ia menempelkan kartu aksesnya, mesin itu mengeluarkan bunyi merah yang nyaring. Gagal."Sial, kenapa gini ? Apa benda ini rusak," gerutunya. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama."Permisi, Ibu Clarissa."Clarissa berbalik dengan cepat, siap menyemprot siapapun yang berani mengganggunya. Di hadapannya berdiri Hendri, asisten tangan kanan William, didampingi oleh dua petugas keamanan bertu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 169

    "Hendri, masuk ke ruanganku. Sekarang," perintah William singkat.Hanya dalam hitungan detik, Hendri sudah berdiri di ambang pintu. Ia sempat melirik sekilas ke arah Sasha yang tampak sedikit berantakan, lalu dengan cepat menundukkan kepala, menjaga profesionalitasnya."Ya, Pak William?"William menyandarkan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah Hendri dengan binar yang dingin.“Ada kabar terbaru tentang benalu itu?”“Sejauh ini, mereka belum ada pergerakan serius.”"Baiklah, tapi aku tidak akan diam saja. Aku tidak ingin melihat ada duri dalam daging lagi di perusahaan ini. Clarissa. Urus surat pemecatannya hari ini juga. Aku ingin dia keluar dari gedung ini sebelum jam kantor berakhir," ujar William tanpa basa-basi.Sasha kaget dan sedikit terkejut. “Apa perlu dinotice lebih dulu?”"Tidak usah,” potong William tajam. "Putuskan semua aksesnya ke sistem perusahaan. Aku tidak peduli. Keberadaannya di sini hanya akan menjadi polusi. Dan satu lagi..."William menjeda kalimatnya,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 168

    "Tolonglah, Pak! Tolong izinkan saya ketemu anak saya. Saya yakin, dia memaafkan saya dan bisa membantu saya membujuk William.”Bram tidak pulang ke rumah beberapa hari ini, dia memilih terus membujuk Hendri agar mau memaafkannya. Ditambah, keberadaan Lastri yang sudah pindah dari kampung membuat Bram tak ada pilihan lagi. Kembali mengemis iba pada William.“Sudah saya katakan, Pak William gak akan mengubah keputusan yang dia ambil. Apalagi pada seorang penipu seperti mu!”Hendri memilih pergi dari sana. Bram bukanlah orang penting yang harus dia temui. William mengatakan padanya jika Bram datang maka jangan pernah memberinya maaf karena saat ini, Bram tengah dihukum atas semua kebohongan nya. Hendri menemui William di jam makan siang. Dia mengetuk pintu perlahan dan William pun memintanya masuk. Di sana, ruangan tampak senyap. Tak ada Sasha seperti yang seharusnya dilihat Hendri.“Kenapa?” tanya William tanpa menoleh.“Dia ke sini lagi. Meminta maaf dan memohon izin bertemu Sasha. A

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 159

    Sasha memekik, matanya terbelalak. Rasa penuh dan sesak itu seketika mengambil alih seluruh kesadarannya. Sudah terlalu lama. William berhenti sejenak, membiarkan tubuh Sasha beradaptasi dengan ukurannya."Kau masih sesempit dulu," geram William, urat-urat di lehernya menegang.Ia mulai bergerak, a

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 158

    Sasha terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Dorongannya pada dada bidang William hanya membuat pria itu bergeming, layaknya sebuah karang yang dihantam ombak kecil. Ruang kerja yang dingin itu seketika terasa menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersed

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 157

    “Papa? Apa dia_”“Ya, dia membohongiku dengan Kematianmu. Dan kamu tahu? Ayahmu tengah membual dan memanfaatkan semuanya demi bisa bahagia bersama anak dan istrinya. Benar benar kebohongan yang luar biasa.Sasha menggelengkan kepala, air mata kini deras mengalir membasahi pipinya yang tirus. Sunggu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 156

    "Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tent

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status