LOGINDi mana ya?” ledek William yang tak tega berbohong. “Sekarang, kita pergi menjemput Mama, mau?""Mau! Mau!" Arlan bersorak riang, menepuk-nepuk pundak William penuh semangat.Setelah mendudukkan Arlan dengan aman di car seat bagian belakang, mobil kembali melaju menuju target berikutnya, universitas tempat Sasha menimba ilmu. Jarak dari sekolah Arlan ke kampus Sasha tidak terlalu jauh, namun kemacetan sore hari membuat perjalanan terasa sedikit lebih lama. Sepanjang jalan, William terus mendengarkan celoteh tanpa henti dari Arlan, sesekali menyahut dengan senyuman tipis yang tulus. Kehadiran bocah ini adalah pengingat mutlak bagi William tentang apa yang sedang ia perjuangkan mati-matian dari keserakan silsilah Aditama.Sekitar pukul empat sore, sedan mewah William akhirnya memasuki area luar gerbang kampus Sasha. Dari balik kaca mobil yang gelap, William bisa melihat suasana koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berhamburan keluar dari kelas terakhir mereka.Tak butuh w
Ada yang perlu saya siapkan untuk mengantisipasi pergerakan Tuan Aditama, Tuan?" tanya Hendri, langsung mengalihkan fokusnya ke insting profesional. Ia menolak membiarkan rasa ingin tahunya tentang dinamika keluarga Wijaya melampaui batas kerjanya.William memutar kursi kebesarannya, menghadap jendela kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala di bawah langit malam. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja dengan ritme konstan yang lambat."Awasi saja pergerakan informannya yang ada di internal korporasi pusat," jawab William datar. "Aditama itu tipe orang yang suka mengulur waktu untuk menguji mental lawannya. Dia tidak akan langsung mendatangi Sasha lagi dalam waktu dekat setelah apa yang terjadi di kafe siang tadi. Tapi dia pasti akan mencoba menekan bisnis kita dari hulu."William menjeda kalimatnya, kilatan tajam kembali mendominasi manik mata gelapnya. "Dia berpikir bisa mengendalikan aku dengan cara yang sama seperti
"Tuan William memaafkan Anda? Mengizinkan Clarissa bebas bersyarat? Anda benar-benar berpikir seorang William Wijaya memiliki kemurahan hati seperti itu?" Hendri terkekeh tipis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Raka mendadak meremang. "Tuan William tidak pernah memaafkan Anda, Raka. Dia sengaja menarik kembali semua tuntutan awalnya minggu lalu agar Anda merasa aman. Dia memberi Anda umpan berupa kebebasan palsu."Raka tertegun. Jantungnya berdegup kencang, rasa dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke kepala. "Umpan...?""Benar," sahut sang pengacara di samping Hendri, membalik halaman dokumen ke arah Raka. "Saat Tuan William membiarkan Anda bebas berkeliaran, Anda langsung memanfaatkan momen itu untuk memindahkan sisa aset gelap Anda dari rekening luar negeri dan menghubungi kembali jaringan lama Anda untuk mencoba menyabotase saham minoritas kami, bukan? Anda pikir pergerakan Anda rapi?"Hendri menumpu dagunya dengan kedua tangan, menatap Raka dengan pandangan mengasihani.
Dentum musik berdentum keras, menggetarkan lantai marmer sebuah klub malam eksklusif di kawasan SCBD Jakarta. Lampu strobo berwarna ungu dan merah neon berputar liar, memotong kabut tipis dari mesin asap yang memenuhi ruangan VVIP di lantai dua.Di tengah sofa beludru merah yang melingkar, Raka duduk dengan angkuh. Kancing kemeja sutranya terbuka dua teratas, memperlihatkan kalung emas yang berkilau. Di lengan kanannya, seorang wanita berpakaian minim menggelayut manja, sementara tangan kirinya memegang gelas kristal berisi wiski mahal yang sesekali digoyangkannya hingga es batu di dalamnya berdenting.Raka tersenyum puas. Pekan ini berjalan luar biasa sempurna baginya. Setelah drama panjang kehancuran bisnisnya kemarin, ia merasa angin segar kembali berembus ke arahnya. William tiba-tiba bersikap melunak atau setidaknya, begitu yang ada di dalam kepala culas Raka. Kasus pemerasan dan sabotase kecil yang sempat ia lakukan tempo hari menguap begitu saja tanpa tuntutan hukum yang berar
Ciuman yang tiba-tiba itu menghentikan seluruh untaian kalimat pahit yang hendak meluncur dari bibir William. Sasha sengaja tidak memberikan ruang bagi suaminya untuk terus mengorek luka lama atau mengasihani diri sendiri. Baginya, William yang berdiri di depannya sekarang bukanlah pria lemah yang kesepian, melainkan pelindung, belahan jiwa, dan ayah terbaik untuk putra mereka.William tertegun selama beberapa detik, sepasang matanya yang kelam melebar pelan sebelum akhirnya perlahan terpejam, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehangatan yang ditawarkan Sasha. Sentuhan bibir Sasha yang lembut namun penuh penekanan itu bagaikan penawar racun yang paling ampuh, seketika memadamkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat bergejolak di dalam dada bidangnya.Kedua tangan William yang semula menggantung bebas di sisi kursi kerja, kini bergerak naik secara refleks. Telapak tangan besarnya yang hangat merayap naik menangkup pinggang ramping Sasha, menarik tubuh wanita itu agar semakin merapat tanpa
Mobil sedan mewah itu melaju membelah jalanan dengan kecepatan konstan, dikawal ketat oleh barisan SUV hitam yang menjaga jarak aman di sekeliling mereka. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan sempat kembali merayap, namun kali ini atmosfernya tidak lagi sedingin es. Ketegangan yang tadinya mencekik perlahan-lahan mencair, digantikan oleh rasa saling percaya yang kian mengikat di antara keduanya.Sasha menyandarkan kepalanya di bahu bidang William, sementara jemari tangan mereka saling bertautan erat di atas kursi. Ia bisa merasakan bagaimana perlahan-lahan ritme napas William mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat pria itu mendobrak masuk ke dalam kafe tadi."Will," panggil Sasha lirih, memecah kesunyian."Hm?" William menoleh sedikit, mengecup puncak kepala Sasha yang bersandar di bahunya tanpa melepaskan tautan jemari mereka."Soal ibu kandungmu... kalau kamu belum siap bercerita, tidak apa-apa," ucap Sasha lembut. Ia mendongak, menatap profil samping suaminya dengan
Langkah Sasha keluar dari kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Sinar matahari sore di kota kabupaten itu tidak lagi terasa menyengat, melainkan hangat dan menjanjikan.Sesampainya di rumah kontrakan, aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambutnya. Bu
Bu Lastri menatap Sasha lamat-lamat. Ada ketegasan di mata wanita muda itu yang mengingatkannya pada Nenek Wati keras kepala namun penuh kasih. Perlahan, keraguan di wajah Bu Lastri memudar, berganti dengan anggukan mantap."Baiklah, Nduk. Ibu ikut. Harta Ibu cuma kebun kecil ini, tapi ketenangan j
"Oalah... jadi begini kelakuanmu kalau aku lengah, Mas?!" teriak Siti. Suaranya melengking, memecah kesunyian sore dan memancing perhatian beberapa warga yang sedang duduk-duduk di pos ronda tak jauh dari sana.Rianto terlonjak kaget, langsung melepaskan tangan Sasha. Bukannya merasa bersalah pada
“Namanya juga manusia, Bu. Lupa ya wajar.”“Duh, sehat-sehat ya. Tapi kok..." Mak Ipah mengecilkan suaranya, matanya melirik ke arah jalan raya yang sepi. “Ayah anak ini ke mana? Apa yang kemarin nganter Neng Sasha.”“Bukan, ayahnya udh meninggal, Bu.”“Innalilahi, kasihan amat jadi yatim sejak di







