Share

bab 135

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2026-03-18 18:45:43

"Kita sudah sampai, Nduk? Ini di mana?" tanya Bu Lastri bingung.

"Kita di tempat yang jauh, Bu. Tempat di mana tidak ada yang tahu siapa kita," jawab Sasha datar.

Ia mengeluarkan dompetnya. Di dalamnya ada kartu identitas baru: Sasha Kirana Putri. Nama yang mirip, namun dengan latar belakang yang sepenuhnya bersih dari catatan kriminal ayahnya. Ia juga melihat saldo di ponselnya. Uang 500 juta pemberian Clara, wanita yang sempat mencoba menyuapnya untuk menjauhi Adrian, kini menjadi modal satu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 302

    Air mata kebahagiaan yang sejak tadi tertahan di sudut mata Sasha akhirnya luruh juga. Ia mengusap air mata itu dengan cepat, lalu mengangguk kuat. "Dan aku, Sasha, wanita paling beruntung karena memiliki pria sehebat kamu sebagai pelindungku dan Arlan."William merebahkan tubuhnya di atas kasur, menarik Sasha ikut serta ke dalam dekapannya. Mereka berbaring miring, saling berhadapan di bawah selimut tebal yang hangat. Tangan William merengkuh pinggang Sasha, memastikan tubuh istrinya benar-benar melekat di dadanya, sementara satu kakinya melingkari kaki Sasha, mengunci posisi mereka dalam sebuah pelukan yang tak tergoyahkan.Sasha menyembunyikan wajahnya di ceruk leher William, menikmati detak nadi suaminya yang berdenyut konstan di kulitnya. Jari-jemari mungilnya menggambar pola abstrak tanpa arah di atas dada bidang William yang terbalut kaus hitam, sebuah gerakan natural yang biasa ia lakukan sebelum terlelap."Besok pagi... apa yang harus kukatakan pada Kirana tentang pesan vend

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   301

    William mengambil alih sisir kayu itu dari jemari Sasha dengan gerakan yang teramat konstan dan hati-hati. Keheningan kamar tidur mereka malam itu terasa begitu intim, hanya diiringi oleh deru halus pendingin ruangan dan gesekan lembut gerigi sisir yang membelah rambut hitam panjang Sasha yang sewangi aroma teh melati.Sasha membiarkan tubuhnya sedikit rileks, menyandarkan punggungnya pada dada bidang William. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari kaus dalam hitam yang dikenakan suaminya, serta debar jantung William yang kini berdetak dalam ritme yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu saat berada di restoran privat."Kamu masih memikirkan pembicaraan dengan Papa tadi?" tanya Sasha pelan, matanya menatap pantulan diri mereka di cermin besar lemari jati di hadapan mereka.William tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu tarikan sisir terakhir dari puncak kepala Sasha hingga ke ujung rambut, lalu meletakkan benda kayu itu di atas nakas. Kedua lengan ke

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 300

    William menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia menatap ayahnya, menilai kesungguhan di balik kalimat tersebut. "Bagus. Aku menghargai profesionalisme Papa kali ini. Hari Senin depan aku akan mulai melakukan kunjungan lapangan pertama ke lokasi proyek.""Aku tidak meragukan kapasitas analisismu, Nak," ujar Aditama, menggunakan kata 'Nak' dengan nada yang sangat hati-hati, seolah takut kata itu akan memicu penolakan kembali dari putranya. Namun, William memilih untuk membiarkannya lewat begitu saja tanpa protes.Jamuan malam itu akhirnya selesai saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Hujan gerimis di luar telah mereda, menyisakan hawa sejuk yang menyegarkan udara malam. Ketika mereka semua berdiri di selasar luar restoran untuk berpamitan, Kirana langsung memeluk Sasha dengan erat."Mbak Sasha, sampai ketemu minggu depan, ya! Kita harus meluangkan waktu berdua untuk fitting kebaya putihnya. Aku mau lihat Mbak Sasha jadi pengantin paling cantik di pelataran hijau nanti," bi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 299

    Setelah badai ketegangan itu mereda, atmosfer di dalam ruangan privat tersebut perlahan-lahan kembali menemukan ritme yang lebih manusiawi. Desi, yang sejak tadi duduk mendampingi Aditama, menarik napas dalam-dalam.Meskipun kalimat pembuka tentang prosesi siraman dan kehadiran adik-adik tirinya Nadia dan Nadin sempat memicu penolakan keras dari William, wanita itu memilih untuk tidak memperkeruh suasana. Sebagai seorang istri yang paham betul posisi rumitnya di tengah pusaran trauma masa lalu William, Desi menunjukkan kedewasaan dengan memberikan anggukan kecil penuh pengertian ke arah Sasha. Wanita itu jelas sudah Aditama Briefing agar tidak berbuat yang aneh aneh ketika bertemu William. "Jika itu bisa membuat hari bahagia kalian berjalan dengan tenang, Tante tidak keberatan, Liam," ujar Desi dengan suara yang tenang, memposisikan dirinya dengan bijak tanpa nada tersinggung. "Yang terpenting bagi kami adalah melihat kalian bahagia."William tidak membalas kalimat Desi. Ia hanya mer

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 298 Desi Kirana

    Kirana menoleh ke arah William, mendapati tatapan beku dari sang kakak. Alih-alih merasa terintimidasi atau sakit hati seperti kebanyakan orang yang menghadapi kedisipilan William, gadis yang sempat mengenyam pendidikan di Australia itu justru melebarkan senyumannya. Ia sangat memahami karakter kakaknya yang terluka oleh masa lalu. Baginya, sikap dingin William jauh lebih baik daripada kemarahan yang meledak-ledak. Setidaknya, William bersedia duduk di satu meja dengannya malam ini, dan sejak kepulangannya dari Ausy, Kirana memang mendambakan hubungan persaudaraan yang nyata."Mas Liam masih hobi pasang muka dosen penguji, ya," canda Kirana tanpa beban sambil mengambil tempat duduk di seberang William, tepat di samping Aditama yang kini sudah duduk dengan tenang. "Tapi enggak apa-apa, aku tahu Mas Liam sebenarnya senang aku datang, kan?"William tidak menyahut gurauan adiknya. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Aditama dan istri baru ayahnya bergantian sebelum akhirnya membuka s

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 297

    "Draf kontrak akhir untuk posisi konsultan akan dikirimkan ke email pribadimu besok pagi, William. Semua klausul tentang independensi risetmu sudah disesuaikan," ujar Aditama, suaranya kini terdengar lebih datar, namun tidak lagi sedingin sebelumnya. "Dan mengenai... pesta di pelataran hijau itu, beri tahu aku tanggal pastinya. Aku akan datang sebagai seorang kakek yang ingin melihat cucunya memakai beskap."William hanya mengangguk pelan, memberikan sebuah penghormatan yang proporsional. Tidak terlalu tunduk, namun cukup sopan untuk mencairkan sisa-sisa gunung es di antara mereka. "Terima kasih. Aku akan mengirimkan detailnya setelah berdiskusi dengan Sasha."Aditama berbalik dan berjalan keluar dari Kedai Teh Akasia. Deting lonceng di atas pintu kaca kedai menandai kepergian sang patriark. Begitu bayangan ayahnya menghilang di balik keramaian jalanan Kota Lama, William menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mengembuskan napas panjang yang selama ini tertahan di rongga dadanya. Rasa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 231

    William memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar untuk meredakan gejolak di dadanya yang masih naik-turun. Ia menatap Sasha dengan pandangan menusuk yang seolah mengatakan hal yang justru membuat Sasha semakin asyik menikmati pemandangan langka tersebut

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 230

    Sentuhan jari William di rahangnya terasa seperti aliran listrik yang langsung melumpuhkan sisa-sisa argumen di kepala Sasha. Keberanian yang sempat ciut saat melewati lobi kantor tadi mendadak berganti menjadi debaran adrenalin yang pekat. Tatapan William yang menggelap, tanpa jarak, dan menuntut

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 229

    Sasha menahan napas sejenak, merasakan embusan napas William yang hangat menerpa kulit pelipisnya hingga mengirimkan gelenyar halus ke seluruh tubuh. Pertanyaan retoris yang berbisik begitu dekat itu membuat pertahanannya semakin terkikis.Ia melirik ke arah kaca spion depan dengan panik. Meskipun

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 224

    Sasha merasakan kenyamanan yang luar biasa berada di ruangan ini. Di sini, di dalam paviliun medis yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, ia merasa seolah menemukan kembali rumah yang sesungguhnya. Tidak ada teror dari Bram, tidak ada tatapan menghakimi dari masyarakat, dan tidak ada ketegang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status