FAZER LOGIN"Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh namun hampa.Sasha mencoba melakukan pekerjaannya seperti biasa. Daily updated karyanya, lalu membantu Bu Lastri membuat keripik. “Arlan tadi bilang nggak kalau orang tua harus datang ke sekolah, Sha?”Sasha bingung, “tidak. Memangnya ada acara apa?”“Loh, ada dapat penerimaan siswa baru katanya. Kan TK Arlan diundang juga buat ngisi pementasan.”“Dia ikut pementasan?”“Mungkin. Coba kamu datangi sekolahnya. Khawatir Arlan memang butuh kedatangan orang tuanya di sana.”Sasha tertegun sejenak, tangannya yang masih memegang plastik kemasan keripik mendadak kaku. Perasaan bersalah yang sejak kemarin ia tekan kini kembali menyeruak, kali ini lebih tajam. Arlan yang biasanya cerewet tentang s
“Karena banyak orang jahat di luar sana yang bisa mencelakaimu, Nak.”"Itukah alasan kenapa kita harus pindah lagi dan lagi, kan Ma?"“Iya, makanya nurut sama mama ya? Mama sayang sama kamu, khawatir kalau kamu kenapa napa.”“Seharusnya kita punya papa, Ma. Biar kita aman dan gak khawatir lagi kan?”Suara Arlan yang tenang membuat Sasha mengerutkan dahi dan segera berbalik menghadap putranya. Tangannya yang tengah menyusun buku-buku di rak langsung berhenti, ekspresi wajahnya berubah dari tenang menjadi sedikit kasar."Darimana kamu dapat pikiran seperti itu?" ucap Sasha dengan nada tajam, mengambil secangkir air putih dan menyodorkannya pada Arlan dengan gerakan yang kurang hati-hati. "Jangan sekali-kali membicarakan hal seperti itu lagi."Arlan mundur sedikit, matanya menunjukkan rasa takut yang jelas. Ia meneguk air dengan cepat, mata memandang ibunya dari bawah kelopak matanya. "Kenapa mama selalu marah kalau aku nanya tentang ayah?”“Bukan begitu , Nak.”“Lalu kenapa? Dan tadi ma
Petugas itu kembali menatap layar monitor dengan dahi berkerut, jemarinya menari di atas papan ketik selama beberapa saat. Keheningan di lobi Grand Ballroom yang mulai sepi itu terasa menekan, hanya interupsi suara detak jam dinding besar di sudut ruangan yang seolah mengejek kegelisahan William."Sasha... Sasha..." gumam petugas itu pelan. "Maaf, Profesor. Tidak ada nama 'Sasha' dalam daftar peserta, baik untuk seminar utama maupun sesi bedah buku di area sastra. Saya sudah mengecek hingga daftar cadangan."William terdiam. Rahangnya mengeras. Logikanya berlawanan dan yakin bahwa pencarian ini adalah sebuah kegilaan. Ia adalah seorang pria sains, seorang akademisi yang mendasarkan hidupnya pada bukti empiris. Bukti empiris menyatakan Sasha telah tiada lima tahun lalu. Namun, getaran di dadanya saat menatap mata Arlan tadi bukanlah sebuah variabel yang bisa ia abaikan dalam persamaan logikanya."Coba cek daftar pengunjung toko buku sastra lama yang bekerja sama dengan acara ini," peri
"Om, kenapa sepatunya mengkilap sekali? Seperti cermin," celetuk suara kecil yang datang dari arah bawah.William menghentikan langkahnya seketika. Di koridor marmer lantai dua Grand Ballroom yang biasanya steril dari interupsi, suara itu terdengar seperti anomali. William, seorang pria yang dikenal dengan kedisiplinan besi dan aura otoritas yang mampu membekukan ruang kelas di universitas ternama, perlahan menundukkan kepala.Di hadapannya, bersandar pada pilar besar berukir, berdiri seorang anak laki-laki kecil. Anak itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang rapi dan celana bahan berwarna krem. Rambutnya hitam legam, sedikit berantakan di bagian depan, membingkai wajah yang memiliki garis rahang yang jika diperhatikan dengan saksama sangat tegas untuk ukuran anak berusia lima tahun.William tidak langsung menjawab. Ia menatap anak itu dengan tatapan analitisnya yang khas. "Sepatu yang bersih mencerminkan pikiran yang tertata, Nak," jawab William dengan suara bariton yang berat d
Keheningan malam itu seketika berubah menjadi simfoni kehidupan yang baru. Bu Lastri, yang sejak tadi tak henti merapalkan doa di ambang pintu, mendekat dengan langkah gemetar. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan di depannya: Sasha, yang biasanya nampak tangguh dan waspada, kini terlihat begitu rapuh sekaligus bercahaya saat mendekap bayi mungil itu.Namun, penyebutan nama belakang itu membuat gerakan tangan Bu Lastri yang hendak mengusap kening Sasha terhenti sejenak."Aditama, Nduk?" bisik Bu Lastri pelan, nyaris tak terdengar oleh Bidan Siti yang sedang sibuk membereskan peralatan medis.Sasha menatap lekat mata bayi yang masih terpejam itu. Ia tahu risiko yang ia ambil dengan menyematkan nama tersebut. Itu adalah bentuk pengakuan sekaligus kutukan. Ia tidak ingin Arlan kehilangan identitas aslinya, namun ia juga bersumpah bahwa nama itu tidak akan pernah menjadi rantai yang menyeret putranya kembali ke sangkar emas yang beracun."Biar dia ingat dari mana dia berasal, Bu. Tapi
Meskipun rasa mual terkadang masih menyentak perutnya, Sasha tetap memaksakan diri untuk memantau pesanan keripik di gawai miliknya. Strategi Sasha untuk memproteksi diri kini bukan hanya sekadar bersembunyi, melainkan membangun ekosistem kehidupan yang mandiri di dalam bangunan tua tersebut."Nduk, ini bumbunya sudah pas belum? Ibu takut terlalu pedas buat pelanggan online-mu itu," tanya Bu Lastri sambil menyodorkan seiris keripik singkong yang masih hangat.Sasha mencicipinya sedikit lalu mengangguk kecil. "Pas, Bu. Nanti aku foto dulu biar tampilannya menarik di aplikasi. Pokoknya Ibu terima beres urusan pemasaran, yang penting stoknya aman," jawab Sasha sambil tersenyum tipis.Bu Lastri menghela napas, menatap punggung Sasha yang kini terlihat lebih tangguh meski terbungkus kaos longgar."Ibu senang lihat kamu semangat begini. Tapi, apa kamu gak capek?”“Gak, Bu. Santai aja, nenek Wati sudah mengajarkan aku kuat sejak kecil.”Lastri tersenyum mendengarnya. Dia senang melihat Sash







