分享

bab 254

作者: Azzura Rei
last update publish date: 2026-05-30 23:50:30

Sore harinya, peran Sasha kembali berubah total menjadi seorang ibu. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan yang nyaman, ia menghabiskan waktu di ruang bermain bersama Arlan.

Bocah kecil itu sedang aktif-aktifnya belajar membaca dan menggambar. Sasha dengan sabar duduk di atas karpet bulu, menuntun jari-jari kecil Arlan untuk menggoreskan warna di atas kertas gambar.

"Mama, lihat! Arlan gambar Papa, Mama, sama Arlan!" seru bocah itu dengan bangga, menunjukkan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 279

    Kirana tampak tersentuh, matanya kembali berkaca-kaca mendapat kelonggaran yang tidak pernah ia duga sebelumnya dari sang ayah. "Papa... makasih."William yang menyaksikan itu hanya bisa menahan tawa sinis di dalam hati. Sungguh pikir William tak sampai jika hanya ingin membuat Kirana terharu. Aditama sengaja melonggarkan cengkeramannya pada Kirana malam ini hanya untuk membangun reputasi baru sebagai 'Papa yang pengertian' di hadapan mereka, sekaligus membuat posisi William yang tetap menjaga jarak terlihat semakin tidak rasional.William melirik jam tangan kronograf di pergelangan tangannya. Jarum panjang baru saja menyentuh angka dua belas, menandakan tepat satu jam telah berlalu sejak mereka berpindah ke ruang tengah. Jam sembilan malam."Waktu kita sudah habis," ujar William tegas sambil berdiri dari posisinya.Ia dengan cekatan namun lembut mengangkat tubuh Arlan yang sudah terlelap ke dalam dekapannya. Kepala balita itu terkulai nyaman di pundak William. Sasha pun ikut bangki

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 278

    Bisikan Sasha mendarat lembut di telinga William, membawa riak batin baru di tengah kepalanya yang hampir mendidih. William menoleh sedikit, menatap sepasang mata istrinya. Ia tahu Sasha tidak sedang tunduk pada manipulasi Aditama; Sasha hanya sedang menggunakan logika dinginnya. Menghadapi singa tua yang sedang berakting menjadi korban dengan cara menyerang balik secara frontal hanya akan membuat mereka terlihat sebagai monster di mata Kirana.William memejamkan mata sesaat, mengatur napasnya yang sempat memburu. Bahunya yang semula tegang perlahan melonggar.“Kamu gak tahu siapa dia.”“Setidaknya dia orang yang sudah tua. Kita bisa menganggap beliau orang lain jika kamu keberatan.”"Satu jam," ucap William akhirnya, suaranya datar tanpa emosi, namun cukup keras untuk memutus isak tangis Kirana.Aditama yang mendengar itu diam-diam menarik sudut bibirnya tipissangat tipis hingga nyaris tak terlihat!.Sebelum kembali memasang topeng wajahnya yang layu dan penuh syukur. "Terima kasih,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 277

    “Tunggu!” ujar Aditama.Suara itu tidak lagi menggelegar penuh kuasa seperti sebelumnya. Nada bicaranya mendadak merosot turun, bergetar hebat, seolah-olah seluruh wibawa yang menyokong tubuh ringkihnya runtuh dalam satu kedipan mata.William menghentikan langkahnya tepat dua jengkal dari ambang pintu ruang makan, namun ia tidak membalikkan badan. Bahunya menegang, mengantisipasi trik murahan macam apa lagi yang akan dimainkan oleh sang patriark.Di belakang mereka, terdengar suara gesekan kursi yang kasar. Aditama melangkah memutari meja makan dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit terseret, kehilangan ritme tegas yang ia pamerkan beberapa menit lalu. Wajah otoriternya lenyap, digantikan oleh gurat keputusasaan yang begitu meyakinkan."William... Sasha..." Aditama menyebut nama mereka dengan napas yang memburu pendek, seolah pasokan oksigen di paru-parunya mendadak menipis. Pria tua itu memegang pinggiran meja untuk menopang tubuhnya, menatap lurus ke arah Kirana yang mulai teris

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 278

    Aditama meletakkan pisau dan garpunya di atas piring porselen dengan dentingan halus yang terdengar begitu nyaring di ruang makan yang sunyi. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain, lalu melayangkan pandangan lurus ke arah Arlan yang sedang berusaha memotong dagingnya dengan canggung."Anak yang tampan," ujar Aditama, nadanya terdengar seperti seorang kakek yang bangga, namun sorot matanya sedingin es. "Dia mewarisi struktur rahangmu, William. Dan sepertinya... dia juga mewarisi ketenanganmu. Sayang sekali jika potensi sebesar itu harus tumbuh di luar lingkaran utama Aditama."Tangan William yang memegang garpu menegang. Ia bisa merasakan pergerakan kecil di sampingnya. Sasha, meski tetap diam sesuai janji, kini duduk lebih tegak dengan jemari yang meremas gaunnya sendiri."Dia tumbuh di tempat yang tepat," sahut William, suaranya sangat rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan. "Jauh dari racun keluarga ini."Aditama tertawa hambar. "Racun? Atau perlindungan? Kamu terlalu n

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 275

    Sasha mengangguk mantap. Meski ia adalah wanita berprinsip yang terbiasa berpikir kritis, ia mengerti bahwa di balik dinding benteng pertahanan William, terdapat ketakutan yang dalam, bukan takut akan kekalahan di meja bisnis, melainkan takut kehilangan hal-hal yang paling berarti baginya.“Aku mengerti, Will,” jawab Sasha lembut, jemarinya mengusap punggung tangan suaminya. “Aku akan menjadi pendengar dan pengamat yang baik. Aku tidak akan mengeluarkan satu patah kata pun kecuali kamu yang memintanya.”William menatap Sasha dalam-dalam. Kepercayaan yang diberikan istrinya adalah bahan bakar sekaligus beban yang berat baginya. Ia tahu, dengan membawa Sasha dan Arlan ke kediaman utama, ia sedang membiarkan mereka masuk ke dalam zona bahaya yang dipenuhi oleh penglihatan tajam Aditama. Namun, ia juga sadar bahwa membiarkan Sasha tetap di luar jangkauan hanya akan membuat istrinya itu menjadi sasaran empuk yang tak terlindungi. Bersama William, setidaknya ia bisa memantau setiap ancaman

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 276

    William mengembuskan napas berat. "Aditama mengundang kita makan malam besok di rumah utama."Sasha tertegun sejenak. "Rumah utama? Tempat ibumu dulu...?""Ya," potong William cepat. "Dia menggunakan nama ibuku untuk memancingku. Dan... dia membawa Kirana pulang dari Australia."Sasha memiringkan kepalanya, mencoba mencerna nama baru yang baru saja didengarnya. "Kirana?”"Benar. Adikku satu-satunya. Dia pulang tanpa memberi tahu aku, dan sekarang dia ada di bawah pengaruh Aditama," suara William terdengar parau. "Aku tidak ingin membawamu dan Arlan ke sana, Sasha. Tempat itu terlalu kotor dan penuh dengan kepalsuan. Tapi jika aku pergi sendiri, Aditama pasti akan menggunakan Kirana untuk menekanku agar membawa kalian di lain waktu."Sasha menatap William dengan tatapan yang sangat matang. Ia bisa melihat dilema yang luar biasa besar di mata suaminya. Di satu sisi, William ingin melindungi surga kecil mereka, namun di sisi lain, ada adik kandungnya yang juga harus diselamatkan dari ce

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 61

    Sasha menatap dasi sutra hitam di tangan William. Kain halus itu terasa dingin dan berat, seperti simbol dari semua tuntutan yang diletakkan William padanya. William berdiri tegak di samping mobil, matanya menantang, menunggunya di kursi penumpang."Ini bukan negosiasi, Sasha," kata William tegas,

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 60

    "Aku punya rekaman Bapak memelintir tangan saya, William!" balas Raka, mencoba membalas dendam. "Saya akan tunjukkan rekaman itu ke dekan!""Silakan," tantang William santai. Ia memutar sebuah video di ponsel Raka yang sebelumnya ia sadap. Video itu bukan rekaman William memelintir tangan Raka. Itu

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 57

    "Tidak ada gunanya," William memutar kemudi kembali ke jalurnya, kembali ke jalan kompleks rumahnya. "Aku sudah mengirim pesan pada orangku, menyuruh mereka menangani pemuda iseng itu."William memarkir mobilnya dengan anggun di garasi bawah tanah. Ia mematikan mesin. Keheningan kembali menyelimuti

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 57

    Sasha mendesah panjang, kelelahan yang menyenangkan menyelimuti dirinya. Pertengkaran itu berakhir dengan kemenangan gairah, menegaskan ikatan mereka yang semakin rumit dan kuat.Setelah beberapa saat, William menarik diri seperlunya. Ia menatap Sasha, membetulkan kembali pakaiannya dengan gerakan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status