Se connecterKekasih?!
Nasya terperangah mendengar itu. Hubungan mereka tak sedekat itu untuk disebut sebagai sepasang kekasih. Jangankan kekasih, bahkan membicarakan urusan pribadi saja mereka tidak pernah. Mereka profesional, hanya bicara urusan pekerjaan. Ia tahu jika Axel sedang berdebat dengan kakaknya, tapi bukan berarti ia harus ditarik ke dalam lingkaran perdebatan itu. Ia tak mau terlibat dengan atasan yang terkenal tegas dan galak itu. Apalagi sebagai pasangan. “Kakak tidak percaya dia itu kekasihmu.” Suara remeh kakak Axel terdengar lagi, tapi Nasya tetap tidak berani untuk membuka matanya. Sampai— “Kakak ingin bukti?” Tubuh Nasya membeku, cengkeraman Nasya di leher Axel menguat, dan bola matanya terbuka cepat, melebar sempurna, ketika Nasya merasakan bibir Axel menempel bibirnya! “AXEL, KAMU GILA?!” Suara Bu Aletha terdengar jauh lebih kencang daripada sebelumnya bahkan rasanya bisa menembus layar laptop Axel, namun yang Nasya rasakan justru dengungan. Atasannya ini memang gila! Yang lebih gila lagi, Nasya tidak bisa bergerak karena ciuman mendadak ini. Jantungnya berdegup keras dan dadanya tiba-tiba sesak. Tatapan Nasya kosong melihat Axel menjauhi wajahnya. Nasya bisa merasakan sentuhan ibu jari Axel di ujung bibirnya dan tatapan teduh Axel yang tidak pernah Nasya lihat sebelumnya! Lalu, Axel mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. “Aku mencintai Nasya. Jadi, bilang pada Papa dan Mama untuk berhenti menjodohkanku.” “Jadi, namamu Nasya?” Nasya tahu pertanyaan itu untuknya, tapi setelah banyak hal yang terjadi begitu cepat, saat ini, pikiran Nasya mendadak berhenti. “Sayang, Kakak bertanya padamu.” “Apa?” Nasya baru tersadar ketika sentuhan Axel di sisi wajahnya lagi. Dengan cepat Nasya menguasai dirinya kembali, dan memutar tubuhnya ke arah layar. “Oh, halo, Kak. Iya, namaku Nasya. Salam kenal, Kak.” “Bagaimana bisa kamu ada di ruang kerja Axel di jam ini?” “Dia sekretarisku,” jawab Axel cepat. Perhatian Bu Aletha kembali tertuju pada Axel. “Kamu memacari karyawanmu sendiri, Axel?!” Entah sudah berapa kali Nasya mendengar lengkingan suara Bu Aletha di ruangan ini. Nasya jadi pening. “Kak, berhenti berteriak. Tenggorokan Kakak tidak sakit? Telingaku yang sakit dengarnya.” Axel menyentuh telinganya dengan jari, isyarat agar kakaknya diam. “Sejak kapan? Kenapa Kakak tidak pernah tahu kamu pacaran?” Ampun. Mimpi apa semalam sampai ia bisa berada di situasi perdebatan antara adik-kakak ini? Tapi, sekarang Nasya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan berbuat, bergerak pun Nasya tidak bisa. Tubuhnya terhalang antara meja kerja dan tubuh Axel di belakangnya. “Sudah lama. Selama ini kami backstreet.” Wah, rasanya Nasya ingin tertawa. Bisa-bisanya atasannya itu menciptakan skenarionya sendiri. Oh, Nasya lupa. Tadi saja Axel berani berbuat gila, apalagi cuma bilang bahwa mereka sudah lama pacaran. “Nasya,” panggil Bu Aletha, kini suaranya melembut. “Katakan sebenarnya padaku. Benar, kamu pacar Axel atau kamu hanya ditarik paksa untuk pura-pura menjadi pacarnya?” Wow! Bu Aletha benar-benar peka terhadap situasi, sama seperti atasannya yang gila ini. “Sayang, jawab saja. Katakan pada Kakak yang sejujurnya.” Nasya memutar kepalanya dan tersenyum kikuk pada Axel. Sejujurnya apa yang dimaksud atasannya ini? Sejujurnya ‘kan mereka memang bukan sepasang kekasih. “Sejujurnya…” Nasya mengalihkan pandangannya lagi pada layar laptop, menatap wajah Bu Aletha sambil meyakinkan dirinya sendiri. “kami memang sudah lama menjalin hubungan, Kak.” Hening untuk beberapa waktu. “Aku mengira kalian hanya berpura-pura,” dengus kakak Axel. “Buat apa berpura-pura, Kak. Kakak mau bukti apa lagi?” sungut Axel. “Kalau begitu, akhir pekan ini, ketika Papa dan Mama pulang bawa Nasya ke rumah dan kenalkan secara resmi pada kami. Kamu mengerti, Axel?” Sebelum Axel menjawab, kakak Axel beralih pada Nasya. “Nasya, nanti kamu ke rumah, ya.” Nada bicaranya berubah lembut. Nasya mengangguk pasrah. “Iya, Kak.” Begitu panggilan daring itu selesai, Nasya langsung berdiri dan melangkah mundur dari kursi Axel. “Saya permisi, Pak.” Buru-buru Nasya membungkukkan tubuhnya untuk pamit dan melangkah menjauh. Namun, baru dua langkah, suara Axel membuat langkah Nasya berhenti. “Mau ke mana?” Nasya membalikkan tubuhnya tapi tidak berani menatap Axel. Mana berani Nasya menatap pria itu apalagi setelah Axel tadi… Argh! Rasanya Nasya mau marah. Sebagai wanita, Nasya jelas ingin marah. Bisa-bisanya pria itu menciumnya dalam situasi aneh seperti tadi?! Tapi, sebagai karyawan, bagaimana Nasya bisa marah? Yang ada dia bisa dipecat. “Saya minta maaf, Pak. Tadi saya hanya ingin mengantarkan dokumen, tidak sengaja mendengar percakapan pribadi Bapak.” Untuk beberapa saat hanya keheningan yang didapat Nasya. Nasya masih menuduk jadi ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan atasannya itu. “Kamu punya pacar?” Sekarang Nasya baru mengangkat kepalanya. “Gimana, Pak?” “Saya tanya, kamu punya pacar?” Nasya menganggukan kepalanya pelan. “Pu–punya, Pak.” “Oh, kamu ada waktu ya ternyata buat pacaran.” Seperti ada angin kencang menerpa wajah Nasya, Nasya hanya bisa terdiam menatap atasannya itu. Memangnya salah kalau dia punya pacar? Itu kan kehidupan pribadinya, lagipula selama ini juga tidak menganggu kinerjanya. Tapi, sebelum Nasya menjawab, Axel lebih dulu membuka mulut. “Putuskan.” “APA, PAK?!”Saat membuka mata, Axel melihat bulu putih yang bergerak ke kanan dan kiri. Itulah yang sedari tadi menggelitik hidungnya. “Aaaahhhhh ….” Axel langsung berteriak. Teriakan itu membuat Moly yang berada di dadanya langsung turun karena ketakutan dengan suara Axel. Nasya yang berada di sebelahnya pun ikut terbangun mendengar itu. “Ada apa, Pak?” tanyanya. “Kucingmu … kucingmu. Dia di dadaku.” Axel menunjuk kucing yang tampak tenang dengan wajah polos tanpa bersalah sama sekali. Nasya langsung meraih kucing tersebut, dan menggendongnya. Ia tersenyum melihat Axel yang ketakutan. “Mungkin dia merasa nyaman dengan Pak Axel.” Alasan itu tidak bisa diterima oleh Axel. Ia masih bergidik ngeri membayangkan kucing itu di dadanya. “Bawa keluar.” Axel memberikan isyarat pada Nasya. Karena tidak mau membuat masalah dengan Axel, akhirnya Nasya buru-buru membawa kucing tersebut keluar dari kamar.Ia membiarkan kucing tersebut di ruang keluarga agar ia bisa berlarian, sedangkan ia ke kamarnya
“Memangnya Pak Axel tidak mau?” Nasya menatap lekat wajah Axel. “Mengurus diri sendiri saja aku kesulitan, bagaimana bisa aku mengurus dia.” Axel menunjuk kucing yang wajahnya tampak memelas itu. Wajah Nasya yang semringah seketika berubah. Ia tampak sedih mendengar jawaban Axel tersebut. “Padahal saya berharap dia bisa jadi teman Pak Axel saat saya tidak ada.” Raut wajah Nasya yang tampak sedih itu membuat Axel tidak tega. Apalagi niat Nasya demi kebaikannya. “Baiklah, aku akan merawatnya.” Wajah Nasya langsung semringah ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan Axel. Berharap usahanya ini dapat membuahkan hasil. “Sebelum saya pergi, saya akan merawatnya. Jadi Pak Axel tidak perlu khawatir.” “Iya.” Wajah Axel terlihat malas. Nasya memeluk kucing putih cantik itu. “Kira-kira kita beri nama siapa, Pak?” Ia duduk di sofa sambil terus membelai lembut bulu halus kucing itu. Melihat Nasya yang duduk, Axel juga ikut duduk. Ia melihat bagaimana Nasya membelai lembut kucing ter
Axel diam saja. Ia tampak bingung sendiri. “Pak Axel tidak akan minum obat lagi ‘kan?” Axel menatap Nasya lekat. Hal itu sejujurnya yang ditakutkan, karena lepas dari hal itu tidak mudah. “Tenanglah, aku tidak akan melakukannya.” Axel tersenyum. Nasya menatap Axel. Sejujurnya ia tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Axel, tapi mau bagaimanapun ia memang tidak bisa tinggal di sini lebih lama.“Lalu, bagaimana nanti Pak Axel akan tidur?” tanyanya. Axel mengedikkan bahu. Ia tampak tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. “Nanti kita pikirkan.” Ia menepuk bahu Nasya. “Sudah, aku bersiap dulu ke kantor.” Axel segera berlalu ke kamarnya. Nasya menatap punggung Axel yang perlahan menghilang ke kamar. Ia hanya bisa berharap atasannya itu bisa kuat melawan trauma yang ada. Di kantor, Nasya terus memikirkan bagaimana Axel akan mengatasi sulit tidur yang dirasakan. Pastinya tidak akan mudah, dan mengingat kemarin Axel minum obat, ia takut itu akan terulang lagi. “Apa kira-k
Tubuh Nasya membeku ketika melihat siapa yang berada di depan kamar. Tidak terbayangkan pagi-pagi seperti ini bertemu dan lebih parahnya Nasya baru saja keluar dari kamar. “Kamu ada di sini?” Pertanyaan itu membuat Nasya langsung gemetar. Tangannya seketika dingin karena begitu ketakutan. “Iya, Kak.” Nasya mengangguk.Aletha menatap wajah Nasya. Jantung Nasya berdebar begitu kencangnya. Ia takut sekali dengan kehadiran Aletha. Ia tahu jika Aletha bisa masuk ke apartemen Axel, tapi tidak menyangka jika akan sepagi ini, dan ini lebih pagi dibanding waktu itu. Aletha sedikit mengintip ke kamar untuk melihat sesuatu di dalam sana. “Kamu tinggal di sini?” tanyanya saat menemukan yang ia cari. “Iya, Kak.” Suara Nasya terdengar lirih. Wajah terkejut Aletha langsung terlihat jelas. Tepat saat itu, pintu kamar Axel terbuka. Pria itu keluar dari kamarnya dengan santai dan tenang. Tanpa menyadari apa yang ada di hadapannya. Saat mendapati kakaknya di depannya, wajahnya tampak terkejut
Axel menatap Nasya bingung. Lagi-lagi ia diajak bersembunyi. “Tunggu, Pak.” Nasya menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan memberikan isyarat pada Axel untuk diam lebih dulu. Terpaksa Axel menunggu lebih dulu. Ia ikut melihat ke arah Nasya lihat. Di sana ada beberapa pria. Salah satu wajah pria itu ia ingat. “Mereka karyawan Davis bukan?” tanyanya. “Iya, Pak.” Melihat itu Axel pun mengembuskan napasnya. Ia berjalan keluar dari persembunyian dan meninggalkan Nasya. “Pak.” Nasya langsung berjalan di belakang Axel. Mengekor dan berusaha mencegah Axel. Sayangnya, Nasya tidak dapat mencegah Axel. Pria itu berjalan ke pintu masuk dan tanpa sengaja juga berpapasan dengan karyawannya. “Pak Axel.” Karyawan yang melihat Axel langsung menyapa. “Iya.” Axel menganggukkan kepalanya, kemudian mengayunkan langkah dari restoran dengan percaya dirinya. Nasya benar-benar bingung dan takut. Ia takut jika teman-temannya tahu hubungannya dengan Axel. Teman Nasya hanya terse
Nasya terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan temannya itu. Ia pikir, temannya itu akan curiga dengan hubungannya dengan Axel, tetapi ternyata tidak sama sekali. Temannya justru berpikir jika akan mengganggu hubungan Axel dengan kekasihnya. Wajah panik Nasya seketika sirna. Berganti dengan wajah tenang dan dihiasi senyum tipis. “Tenang saja,” ucapnya. “Aku tahu itu. Aku tidak akan mengganggu hubungan Pak Axel.” “Syukurlah. Aku hanya takut saja kamu terbawa perasaan dengan perhatian Pak Axel.” Nasya melebarkan senyumnya. “Tenanglah, aku tidak akan terbawa perasaan.” Setelah pembicaraan bersama dengan temannya itu, Nasya segera kembali ke ruang kerjanya. Sesaat ia duduk, senyumnya begitu lebar menghiasi wajahnya. Ia masih tidak menyangka jika temannya akan berpikir seperti itu. Namun, pikiran temannya itu sangat menguntungkan baginya. Paling tidak, hubungannya dengan Axel tidak akan diketahui. Seharian Nasya bekerja. Setelah Axel keluar dari ruangannya







