LOGINNasya membelalak. Ucapan Axel itu terdengar begitu enteng dan tak berperasaan sama sekali. Padahal ia sedang meminta seseorang untuk mengakhiri sebuah hubungan.
“Dari tadi kamu suka, ya, bikin saya bicara dua kali.” “Maaf, Pak, tapi … tidak bisa, Pak.” Nasya tercekat ketika melihat ekspresi wajah Axel yang berubah datar dan dingin. Mungkin atasannya ini kaget karena Nasya bisa menolak perintah Axel. Jangankan Axel, ia sendiri pun kaget bisa menolak perintah pria itu. Tapi, bagaimana tidak? Ini kehidupan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Lagipula yang menyeret Nasya masuk ke hubungan pribadi Axel juga pria itu sendiri. Sekarang, mengapa atasannya mengatur kehidupannya? Hening di antara mereka tapi Nasya bisa melihat Axel menghela napas kecil. “Maaf.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut atasannya. Nasya kembali mengerjap. Wah, ada apa dengan atasannya hari ini? “Apa, Pak?” Axel kembali menghela napas dan memutar tubuhnya ke arah meja kerja, mengusap keningnya. “Kamu memang suka buat saya bicara dua kali.” Lalu, Axel tiba-tiba berdiri, melangkah melewati Nasya menuju sofa di sisi ruang kerjanya. “Ada yang ingin saya bicarakan denganmu. Duduk di sana.” Nasya mengekori Axel lalu duduk di salah satu sofa di sisi sofa tunggal yang diduduki Axel. “Saya minta maaf menyeret kamu ke dalam masalah saya,” ucap Axel setelah kembali hening beberapa waktu. “Dan juga soal yang tadi.” Telinga Nesya tiba-tiba panas, bukan hanya karena permintaan maaf yang diucapkan Axel–karena baru kali ini Nasya mendengar atasannya bisa meminta maaf–tapi juga karena kata ‘tadi’ yang diucapkan Axel. “Iya, Pak. Bapak tahu ‘kan tadi itu termasuk tindakan tidak menyenangkan. Saya bisa saja mela—” “Iya, saya tahu.” Nasya benar-benar dibuat terperengah saat ini. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya, jika atasannya yang gila, galak dan tegas ini bisa merendah seperti ini. “Begini, Nasya, saya sebenarnya tidak mau melibatkan kamu. Tapi, karena saya sangat terdesak dan kamu muncul jadi saya terpaksa.” Nasya menatap Axel, tapi tidak tahu harus menjawab apa. “Tapi, kita tidak bisa mengembalikan yang sudah terjadi, jadi kita harus lanjutkan sandiwara ini.” Nasya kembali mengerjapkan mata. Baru tadi ia merasa ternyata Axel punya sisi manusiawi, tapi ternyata itu semua hanya ilusi. “Bapak minta saya jadi pacar Bapak?” Axel mengangguk. “Jadi, kalau kamu memang punya pacar, putuskan pacar kamu.” “Tapi, kenapa saya harus sampai putus dengan pacar saya? Ini semua ‘kan cuma pura-pura, Pak?” “Kamu mau punya dua pacar?” “Hah!?” Nasya kembali terperangah. Siapa yang mau punya dua pacar? Satu saja sudah membuat pusing karena tidak bisa membagi waktu pacaran dengan kuliah, apalagi dua. Namun, helaan napas kembali terdengar dari mulut Axel. “Putuskan pacar kamu. Saya tidak mau ribet.” Ujungnya Axel juga yang mengambil keputusan. Sebenarnya saat ini hubungan Nasya dengan pacarnya memang sedang tidak baik-baik saja. Ia baru tahu jika diam-diam pacarnya menjalin hubungan dengan teman dekatnya. Tadi pagi, saat ada berkas yang tertinggal di rumah, ia memutuskan untuk pulang lagi. Namun, yang tidak duga ternyata ia melihat pacarnya menjemput temannya. Mereka tampak begitu mesra karena sampai bergandengan tangan. Kebetulan rumah temannya itu memang tidak jauh dari rumah Nasya. Dan jika pun harus putus, Nasya tidak masalah. Namun, alasan ia putus jelas bukan karena permintaan Axel. Memang karena pacarnya yang berkhianat. “Saya akan memberikanmu kompensasi, jika kamu merasa ini tidak menguntungkan untukmu.” “Jelas ini tidak menguntungkan, Pak!” Nasya langsung menutup mulutnya ketika sadar tadi ia membalas ucapan Axel. Namun, Axel justru tampak tidak tersinggung. Pria itu hanya tertawa kecil melihat tingkah Nasya. “Kasihan yang jadi pacar kamu. Harus kuat dengar kamu teriak.” Nasya mendelik, tapi Nasya juga tidak merasa marah atas ucapan Axel. “Iya. Jadi, Bapak tetap mau jadi pacar saya?” “Mau,” ucap Axel mantap. Terlalu mantap ucapan dan tatapan Axel padanya sampai rasanya Nasya lupa bernapas. Tapi, seperti Axel tidak menyadari perubahan di raut wajah Nasya, Axel kembali berucap dengan santai. “Saya akan membiayai kuliah kamu sampai selesai termasuk beasiswa yang kamu dapat dari perusahaan, sebagai kompensasi permintaan saya.” Nasya tertegun. Ia menatap lurus pada Axel, tak percaya jika atasannya itu akan memberikan kompensasi sebesar itu. Selama ini Nasya mendapatkan beasiswa kuliah dari perusahaan. Sebelumnya, Nasya hanyalah lulusan sekolah menengah atas saja. Berawal dari anak magang, sampai jadi staf perusahaan. Peluang naik jadi sekertaris diambilnya karena sekretaris yang lama berhenti bekerja. Beruntung Axel menerima Nasya. Untuk meningkatkan skill, perusahaan memberikan beasiswa kuliah pada Nasya. Sekarang ia baru semester awal. Ia baru mulai. Jika ia berhenti begitu saja maka ia kehilangan peluang besar. “Jika kamu menerima permintaanku, maka kita akan menjalani hubungan pura-pura sebagai kekasih, bagaimana?”Saat membuka mata, Axel melihat bulu putih yang bergerak ke kanan dan kiri. Itulah yang sedari tadi menggelitik hidungnya. “Aaaahhhhh ….” Axel langsung berteriak. Teriakan itu membuat Moly yang berada di dadanya langsung turun karena ketakutan dengan suara Axel. Nasya yang berada di sebelahnya pun ikut terbangun mendengar itu. “Ada apa, Pak?” tanyanya. “Kucingmu … kucingmu. Dia di dadaku.” Axel menunjuk kucing yang tampak tenang dengan wajah polos tanpa bersalah sama sekali. Nasya langsung meraih kucing tersebut, dan menggendongnya. Ia tersenyum melihat Axel yang ketakutan. “Mungkin dia merasa nyaman dengan Pak Axel.” Alasan itu tidak bisa diterima oleh Axel. Ia masih bergidik ngeri membayangkan kucing itu di dadanya. “Bawa keluar.” Axel memberikan isyarat pada Nasya. Karena tidak mau membuat masalah dengan Axel, akhirnya Nasya buru-buru membawa kucing tersebut keluar dari kamar.Ia membiarkan kucing tersebut di ruang keluarga agar ia bisa berlarian, sedangkan ia ke kamarnya
“Memangnya Pak Axel tidak mau?” Nasya menatap lekat wajah Axel. “Mengurus diri sendiri saja aku kesulitan, bagaimana bisa aku mengurus dia.” Axel menunjuk kucing yang wajahnya tampak memelas itu. Wajah Nasya yang semringah seketika berubah. Ia tampak sedih mendengar jawaban Axel tersebut. “Padahal saya berharap dia bisa jadi teman Pak Axel saat saya tidak ada.” Raut wajah Nasya yang tampak sedih itu membuat Axel tidak tega. Apalagi niat Nasya demi kebaikannya. “Baiklah, aku akan merawatnya.” Wajah Nasya langsung semringah ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan Axel. Berharap usahanya ini dapat membuahkan hasil. “Sebelum saya pergi, saya akan merawatnya. Jadi Pak Axel tidak perlu khawatir.” “Iya.” Wajah Axel terlihat malas. Nasya memeluk kucing putih cantik itu. “Kira-kira kita beri nama siapa, Pak?” Ia duduk di sofa sambil terus membelai lembut bulu halus kucing itu. Melihat Nasya yang duduk, Axel juga ikut duduk. Ia melihat bagaimana Nasya membelai lembut kucing ter
Axel diam saja. Ia tampak bingung sendiri. “Pak Axel tidak akan minum obat lagi ‘kan?” Axel menatap Nasya lekat. Hal itu sejujurnya yang ditakutkan, karena lepas dari hal itu tidak mudah. “Tenanglah, aku tidak akan melakukannya.” Axel tersenyum. Nasya menatap Axel. Sejujurnya ia tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Axel, tapi mau bagaimanapun ia memang tidak bisa tinggal di sini lebih lama.“Lalu, bagaimana nanti Pak Axel akan tidur?” tanyanya. Axel mengedikkan bahu. Ia tampak tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. “Nanti kita pikirkan.” Ia menepuk bahu Nasya. “Sudah, aku bersiap dulu ke kantor.” Axel segera berlalu ke kamarnya. Nasya menatap punggung Axel yang perlahan menghilang ke kamar. Ia hanya bisa berharap atasannya itu bisa kuat melawan trauma yang ada. Di kantor, Nasya terus memikirkan bagaimana Axel akan mengatasi sulit tidur yang dirasakan. Pastinya tidak akan mudah, dan mengingat kemarin Axel minum obat, ia takut itu akan terulang lagi. “Apa kira-k
Tubuh Nasya membeku ketika melihat siapa yang berada di depan kamar. Tidak terbayangkan pagi-pagi seperti ini bertemu dan lebih parahnya Nasya baru saja keluar dari kamar. “Kamu ada di sini?” Pertanyaan itu membuat Nasya langsung gemetar. Tangannya seketika dingin karena begitu ketakutan. “Iya, Kak.” Nasya mengangguk.Aletha menatap wajah Nasya. Jantung Nasya berdebar begitu kencangnya. Ia takut sekali dengan kehadiran Aletha. Ia tahu jika Aletha bisa masuk ke apartemen Axel, tapi tidak menyangka jika akan sepagi ini, dan ini lebih pagi dibanding waktu itu. Aletha sedikit mengintip ke kamar untuk melihat sesuatu di dalam sana. “Kamu tinggal di sini?” tanyanya saat menemukan yang ia cari. “Iya, Kak.” Suara Nasya terdengar lirih. Wajah terkejut Aletha langsung terlihat jelas. Tepat saat itu, pintu kamar Axel terbuka. Pria itu keluar dari kamarnya dengan santai dan tenang. Tanpa menyadari apa yang ada di hadapannya. Saat mendapati kakaknya di depannya, wajahnya tampak terkejut
Axel menatap Nasya bingung. Lagi-lagi ia diajak bersembunyi. “Tunggu, Pak.” Nasya menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan memberikan isyarat pada Axel untuk diam lebih dulu. Terpaksa Axel menunggu lebih dulu. Ia ikut melihat ke arah Nasya lihat. Di sana ada beberapa pria. Salah satu wajah pria itu ia ingat. “Mereka karyawan Davis bukan?” tanyanya. “Iya, Pak.” Melihat itu Axel pun mengembuskan napasnya. Ia berjalan keluar dari persembunyian dan meninggalkan Nasya. “Pak.” Nasya langsung berjalan di belakang Axel. Mengekor dan berusaha mencegah Axel. Sayangnya, Nasya tidak dapat mencegah Axel. Pria itu berjalan ke pintu masuk dan tanpa sengaja juga berpapasan dengan karyawannya. “Pak Axel.” Karyawan yang melihat Axel langsung menyapa. “Iya.” Axel menganggukkan kepalanya, kemudian mengayunkan langkah dari restoran dengan percaya dirinya. Nasya benar-benar bingung dan takut. Ia takut jika teman-temannya tahu hubungannya dengan Axel. Teman Nasya hanya terse
Nasya terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan temannya itu. Ia pikir, temannya itu akan curiga dengan hubungannya dengan Axel, tetapi ternyata tidak sama sekali. Temannya justru berpikir jika akan mengganggu hubungan Axel dengan kekasihnya. Wajah panik Nasya seketika sirna. Berganti dengan wajah tenang dan dihiasi senyum tipis. “Tenang saja,” ucapnya. “Aku tahu itu. Aku tidak akan mengganggu hubungan Pak Axel.” “Syukurlah. Aku hanya takut saja kamu terbawa perasaan dengan perhatian Pak Axel.” Nasya melebarkan senyumnya. “Tenanglah, aku tidak akan terbawa perasaan.” Setelah pembicaraan bersama dengan temannya itu, Nasya segera kembali ke ruang kerjanya. Sesaat ia duduk, senyumnya begitu lebar menghiasi wajahnya. Ia masih tidak menyangka jika temannya akan berpikir seperti itu. Namun, pikiran temannya itu sangat menguntungkan baginya. Paling tidak, hubungannya dengan Axel tidak akan diketahui. Seharian Nasya bekerja. Setelah Axel keluar dari ruangannya







