Share

Bab 3

Penulis: Myafa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 16:18:18

Nasya membelalak. Ucapan Axel itu terdengar begitu enteng dan tak berperasaan sama sekali. Padahal ia sedang meminta seseorang untuk mengakhiri sebuah hubungan.

“Dari tadi kamu suka, ya, bikin saya bicara dua kali.”

“Maaf, Pak, tapi … tidak bisa, Pak.”

Nasya tercekat ketika melihat ekspresi wajah Axel yang berubah datar dan dingin. Mungkin atasannya ini kaget karena Nasya bisa menolak perintah Axel. Jangankan Axel, ia sendiri pun kaget bisa menolak perintah pria itu.

Tapi, bagaimana tidak? Ini kehidupan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Lagipula yang menyeret Nasya masuk ke hubungan pribadi Axel juga pria itu sendiri.

Sekarang, mengapa atasannya mengatur kehidupannya?

Hening di antara mereka tapi Nasya bisa melihat Axel menghela napas kecil.

“Maaf.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut atasannya.

Nasya kembali mengerjap. Wah, ada apa dengan atasannya hari ini?

“Apa, Pak?”

Axel kembali menghela napas dan memutar tubuhnya ke arah meja kerja, mengusap keningnya. “Kamu memang suka buat saya bicara dua kali.” Lalu, Axel tiba-tiba berdiri, melangkah melewati Nasya menuju sofa di sisi ruang kerjanya. “Ada yang ingin saya bicarakan denganmu. Duduk di sana.”

Nasya mengekori Axel lalu duduk di salah satu sofa di sisi sofa tunggal yang diduduki Axel.

“Saya minta maaf menyeret kamu ke dalam masalah saya,” ucap Axel setelah kembali hening beberapa waktu. “Dan juga soal yang tadi.”

Telinga Nesya tiba-tiba panas, bukan hanya karena permintaan maaf yang diucapkan Axel–karena baru kali ini Nasya mendengar atasannya bisa meminta maaf–tapi juga karena kata ‘tadi’ yang diucapkan Axel.

“Iya, Pak. Bapak tahu ‘kan tadi itu termasuk tindakan tidak menyenangkan. Saya bisa saja mela—”

“Iya, saya tahu.”

Nasya benar-benar dibuat terperengah saat ini. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya, jika atasannya yang gila, galak dan tegas ini bisa merendah seperti ini.

“Begini, Nasya, saya sebenarnya tidak mau melibatkan kamu. Tapi, karena saya sangat terdesak dan kamu muncul jadi saya terpaksa.”

Nasya menatap Axel, tapi tidak tahu harus menjawab apa.

“Tapi, kita tidak bisa mengembalikan yang sudah terjadi, jadi kita harus lanjutkan sandiwara ini.”

Nasya kembali mengerjapkan mata. Baru tadi ia merasa ternyata Axel punya sisi manusiawi, tapi ternyata itu semua hanya ilusi. “Bapak minta saya jadi pacar Bapak?”

Axel mengangguk. “Jadi, kalau kamu memang punya pacar, putuskan pacar kamu.”

“Tapi, kenapa saya harus sampai putus dengan pacar saya? Ini semua ‘kan cuma pura-pura, Pak?”

“Kamu mau punya dua pacar?”

“Hah!?” Nasya kembali terperangah.

Siapa yang mau punya dua pacar? Satu saja sudah membuat pusing karena tidak bisa membagi waktu pacaran dengan kuliah, apalagi dua.

Namun, helaan napas kembali terdengar dari mulut Axel. “Putuskan pacar kamu. Saya tidak mau ribet.”

Ujungnya Axel juga yang mengambil keputusan.

Sebenarnya saat ini hubungan Nasya dengan pacarnya memang sedang tidak baik-baik saja. Ia baru tahu jika diam-diam pacarnya menjalin hubungan dengan teman dekatnya.

Tadi pagi, saat ada berkas yang tertinggal di rumah, ia memutuskan untuk pulang lagi. Namun, yang tidak duga ternyata ia melihat pacarnya menjemput temannya. Mereka tampak begitu mesra karena sampai bergandengan tangan. Kebetulan rumah temannya itu memang tidak jauh dari rumah Nasya.

Dan jika pun harus putus, Nasya tidak masalah. Namun, alasan ia putus jelas bukan karena permintaan Axel. Memang karena pacarnya yang berkhianat.

“Saya akan memberikanmu kompensasi, jika kamu merasa ini tidak menguntungkan untukmu.”

“Jelas ini tidak menguntungkan, Pak!” Nasya langsung menutup mulutnya ketika sadar tadi ia membalas ucapan Axel.

Namun, Axel justru tampak tidak tersinggung. Pria itu hanya tertawa kecil melihat tingkah Nasya. “Kasihan yang jadi pacar kamu. Harus kuat dengar kamu teriak.”

Nasya mendelik, tapi Nasya juga tidak merasa marah atas ucapan Axel. “Iya. Jadi, Bapak tetap mau jadi pacar saya?”

“Mau,” ucap Axel mantap.

Terlalu mantap ucapan dan tatapan Axel padanya sampai rasanya Nasya lupa bernapas.

Tapi, seperti Axel tidak menyadari perubahan di raut wajah Nasya, Axel kembali berucap dengan santai. “Saya akan membiayai kuliah kamu sampai selesai termasuk beasiswa yang kamu dapat dari perusahaan, sebagai kompensasi permintaan saya.”

Nasya tertegun. Ia menatap lurus pada Axel, tak percaya jika atasannya itu akan memberikan kompensasi sebesar itu.

Selama ini Nasya mendapatkan beasiswa kuliah dari perusahaan. Sebelumnya, Nasya hanyalah lulusan sekolah menengah atas saja. Berawal dari anak magang, sampai jadi staf perusahaan.

Peluang naik jadi sekertaris diambilnya karena sekretaris yang lama berhenti bekerja. Beruntung Axel menerima Nasya. Untuk meningkatkan skill, perusahaan memberikan beasiswa kuliah pada Nasya.

Sekarang ia baru semester empat. Sudah setengah jalan. Jika ia berhenti begitu saja maka ia kehilangan peluang besar.

“Jika kamu menerima permintaanku, maka kita akan menjalani hubungan pura-pura sebagai kekasih, bagaimana?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Ayo Nasya terima ga tuh
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Emang gila ini Axel ..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 6

    “Sedang memikirkan apa kamu?” Axel seolah dapat melihat perubahan wajah Nasya yang panik setelah tahu akan ke apartemen bersamanya. Walaupun sedikit ragu-ragu, tapi akhirnya Nasya memberanikan diri bertanya. “Kita mau apa di apartemen, Pak?” “Ada banyak yang harus kita bahas.” Suara Axel terdengar enteng. “Kenapa harus di apartemen?” Nasya sampai memiringkan tubuhnya untuk dapat menatap lurus ke arah Axel. “Agar lebih leluasa.” Nasya hanya bisa menelan salivanya. Ia memikirkan leluasa seperti apa yang dimaksud oleh Axel dan harus dilakukan di apartemen. Kemarin saja ada kakaknya, Axel berani menciumnya. Bagaimana nanti jika di apartemen hanya ada mereka berdua? Bisa-bisa akan ada hal yang tak tertuga terjadi. Ingin rasanya Nasya menolak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu. Bukankah Axel sudah bilang untuk mengikuti semua perintahnya selama jadi pacar pura-pura Axel. Dengan jantung berdebar-debar, Nasya duduk manis di mobil yang mengantarkannya ke apartemen Axel

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 5

    “Kamu sudah memutuskan pacarmu ‘kan?” Axel menoleh ke belakang di mana Nasya berada. “Sudah, Pak. Tadi pagi saya sudah memutuskan hubungan dengannya.” Nasya menjawab sambil mengintip dari balik tubuh Axel. Ia memilih bersembunyi agar mantan kekasihnya itu tidak melihat dirinya. Axel tampak menimbang sesuatu, kemudian bersuara kembali, “Kalau begitu, ayo.” Ia mengayunkan langkahnya dengan percaya diri menuju ke lobi. Kini tubuh Nasya terlihat jelas saat tubuh Axel perlahan menjauh. Nasya menekuk bibirnya kesal. Axel memang tidak pengertian sekali. Padahal ia sedang menghindar dari mantan kekasihnya itu. Sekarang, mau tidak mau, Nasya harus menghadapi mantan kekasihnya itu. Dengan ragu-ragu, Nasya terus mengikuti dari belakang dengan membawa tas dan berkas milik Axel, layaknya sekretaris pada umumnya. Sedangkan, Axel berjalan dengan tenang menuju ke lobi. Seperti biasa ia tampak berwibawa dan gagah. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan langkahnya terlihat tenang. Kehadiran

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 4

    Tawaran untuk mendapatkan beasiswa memanglah menggiurkan, apalagi dijamin sampai lulus. Ke depan paling tidak, Nasya tidak akan pusing dengan biaya kuliahnya. Hidup akan terasa lebih ringan, jika biaya kuliah aman. Namun, menjadi kekasih pura-pura Axel masih belum bisa diterima akal sehatnya, jadi ia masih belum menjawab permintaan atasannya itu. Selama perjalanan pulang, Nasya memikirkan tawaran Axel, sampai tanpa terasa langkah Nasya sampai juga di rumah. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Tampak wanita paruh baya di balik pintu. Ia adalah Bu Lisa—ibu tiri Nasya. Seolah hidup ringan yang sedang dibayangkan Nasya, sirna begitu saja melihat ibu tirinya itu. Selama ini Nasya tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri, dan adik tirinya. Ibu kandung Nasya meninggal saat Nasya umur delapan tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai satu anak laki-laki. Nasya pikir kedatangan ibu baru akan mengisi kekosongan karena sang ibu meninggal, tapi nyatanya tid

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 3

    Nasya membelalak. Ucapan Axel itu terdengar begitu enteng dan tak berperasaan sama sekali. Padahal ia sedang meminta seseorang untuk mengakhiri sebuah hubungan. “Dari tadi kamu suka, ya, bikin saya bicara dua kali.” “Maaf, Pak, tapi … tidak bisa, Pak.” Nasya tercekat ketika melihat ekspresi wajah Axel yang berubah datar dan dingin. Mungkin atasannya ini kaget karena Nasya bisa menolak perintah Axel. Jangankan Axel, ia sendiri pun kaget bisa menolak perintah pria itu. Tapi, bagaimana tidak? Ini kehidupan pribadinya, tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan. Lagipula yang menyeret Nasya masuk ke hubungan pribadi Axel juga pria itu sendiri. Sekarang, mengapa atasannya mengatur kehidupannya? Hening di antara mereka tapi Nasya bisa melihat Axel menghela napas kecil. “Maaf.” Tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut atasannya. Nasya kembali mengerjap. Wah, ada apa dengan atasannya hari ini? “Apa, Pak?” Axel kembali menghela napas dan memutar tubuhnya ke arah meja kerja, mengu

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 2

    Kekasih?! Nasya terperangah mendengar itu. Hubungan mereka tak sedekat itu untuk disebut sebagai sepasang kekasih. Jangankan kekasih, bahkan membicarakan urusan pribadi saja mereka tidak pernah. Mereka profesional, hanya bicara urusan pekerjaan. Ia tahu jika Axel sedang berdebat dengan kakaknya, tapi bukan berarti ia harus ditarik ke dalam lingkaran perdebatan itu. Ia tak mau terlibat dengan atasan yang terkenal tegas dan galak itu. Apalagi sebagai pasangan. “Kakak tidak percaya dia itu kekasihmu.” Suara remeh kakak Axel terdengar lagi, tapi Nasya tetap tidak berani untuk membuka matanya. Sampai— “Kakak ingin bukti?” Tubuh Nasya membeku, cengkeraman Nasya di leher Axel menguat, dan bola matanya terbuka cepat, melebar sempurna, ketika Nasya merasakan bibir Axel menempel bibirnya! “AXEL, KAMU GILA?!” Suara Bu Aletha terdengar jauh lebih kencang daripada sebelumnya bahkan rasanya bisa menembus layar laptop Axel, namun yang Nasya rasakan justru dengungan. Atasannya ini memang g

  • Dalam Dekapan Atasanku   Bab 1

    “Aku mau membatalkan perjodohan ini.” Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya. Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu. Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti. “Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?” Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu. Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu. ‘Aku masuk atau tidak?’ Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali. “Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja. “Dengar, Mama dan Papa a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status