Masuk
“Aku mau membatalkan perjodohan ini.”
Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya. Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu. Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti. “Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?” Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu. Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu. ‘Aku masuk atau tidak?’ Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali. “Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja. “Dengar, Mama dan Papa akan marah jika mendengar semua ini. Terlebih kamu tidak punya alasan tepat menolak perjodohannya ini.” Suara wanita yang Nasya ketahui jika itu adalah Bu Aletha—kakak Axel terdengar begitu kencang. Membuat Nasya sedikit ketakutan. “Dari tadi aku sudah bilang bukan? Aku tidak menyukainya, Kak.” Nada suara Axel terdengar kesal. Nada suaranya pun juga sudah meninggi, mengimbangi lawan bicaranya. Mendengar Axel berteriak memang bukan hal baru bagi Nasya. Itu sudah seperti makanan sehari-hari. Apalagi jika sedang rapat suaranya bisa menggelegar satu ruangan. Di situasi seperti ini, mengantarkan dokumen ke ruangan Axel bukanlah pilihan tepat. Mengingat Axel sedang berdebat dengan kakaknya. Akhirnya, Nasya memutuskan untuk mengurungkan niat mengantarkan dokumen. Ia mundur dan menarik pintu untuk menutupnya. Sayangnya, tepat saat itu, ia yang melihat ke arah Axel, tak sengaja saling berpandangan. Axel menatap ke arah pintu dan melihatnya di sana. ‘Aduh! Aku ketahuan.’ Jantungnya berdegup kencang. Ia takut jika sampai Axel marah karena baru saja ia mendengarkan obrolan pribadi pria itu. “Sayang, sedang apa kamu di sana?” Nasya tercenung, mengerjapkan bola matanya beberapa kali dan memutar kepalanya, memastikan bahwa mungkin ada orang lain dan Axel sedang berbicara pada orang itu. “Sayang, kenapa diam saja?” Suara Axel terdengar lagi. “Sayang? Siapa ‘sayang’ yang kamu maksud, Axel?!” Suara Bu Aletha juga terdengar lagi, lebih kencang daripada sebelumnya. Nasya menelan salivanya. Namun, tidak ada orang lain selain dirinya di ruangan ini. “Saya, Pak?” Tetapi pertanyaannya tidak dijawab Axel, alih-alih atasannya itu kembali berkata, “Masuk, Sayang. Tepat sekali, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Axel menatap Nasya, bibirnya tersenyum tapi tatapan matanya menyeramkan, seakan ada laser jika Nasya tidak menuruti perintah Axel. Tak ada pilihan lain. Nasya harus masuk. Dengan langkah berat, Nasya masuk ke ruangan CEO. Udara dingin di ruangan CEO membuatnya semakin gemetar. Sepanjang langkahnya menuju ke meja kerja Axel, pandangan Nasya terus tertunduk. Ia tak berani menatap atasannya itu. Namun, ekor mata Nasya menangkap jika Axel sedang memerhatikannya. Ia memandangi Nasya dari kepala hingga ke ujung kaki. “Pak, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mendengarkan obrolan pribadi Anda.” Nasya menatap Axel dengan wajah polosnya. Ia berharap jika Axel akan memaafkannya dan melepaskannya. “Tidak masalah jika kamu dengar.” Mata Nasya berkedip beberapa kali untuk menyadarkan dirinya dengan apa yang baru saja didengarnya. ‘Jika tidak masalah mendengar, kenapa aku ditarik?’ Pertanyaan itu berputar di kepala Nasya. Ia bingung dengan situasi yang dihadapinya sekarang. “Axel, kamu dengar aku? Kenapa kamu justru pergi?” Suara Bu Aletha kembali terdengar. Jantung Nasya semakin berdegup ketika matanya menangkap sepasang sepatu pantofel mengilap di depan kakinya. Dan belum sempat Nasya mencerna yang terjadi, tangannya sudah ditarik Axel. Terlalu cepat, hingga Nasya terduduk di atas pangkuan Axel di kursi kebesarannya. Refleks Nasya melingkarkan lengannya di leher Axel dan menutup mata. “Aku di sini, Kak.” “AXEL, APA YANG KAMU LAKUKAN?! SIAPA WANITA ITU?!” Mendengar teriakan dari Bu Aletha, Nasya berjengkit kaget, dan semakin membuat Nasya memejamkan matanya. Kini, tubuhnya ikut berdesir hebat ketika Nasya merasakan sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya, dan satu tangan besar lainnya membelai sisi wajah Nasya. “Axel, jelaskan padaku. Sekarang!” “Apa lagi yang perlu dijelaskan, Kak?” Axel menjawab dengan santai. “Sudah jelas aku tidak bisa melanjutkan perjodohan karena aku sudah memiliki kekasih.”Saat membuka mata, Axel melihat bulu putih yang bergerak ke kanan dan kiri. Itulah yang sedari tadi menggelitik hidungnya. “Aaaahhhhh ….” Axel langsung berteriak. Teriakan itu membuat Moly yang berada di dadanya langsung turun karena ketakutan dengan suara Axel. Nasya yang berada di sebelahnya pun ikut terbangun mendengar itu. “Ada apa, Pak?” tanyanya. “Kucingmu … kucingmu. Dia di dadaku.” Axel menunjuk kucing yang tampak tenang dengan wajah polos tanpa bersalah sama sekali. Nasya langsung meraih kucing tersebut, dan menggendongnya. Ia tersenyum melihat Axel yang ketakutan. “Mungkin dia merasa nyaman dengan Pak Axel.” Alasan itu tidak bisa diterima oleh Axel. Ia masih bergidik ngeri membayangkan kucing itu di dadanya. “Bawa keluar.” Axel memberikan isyarat pada Nasya. Karena tidak mau membuat masalah dengan Axel, akhirnya Nasya buru-buru membawa kucing tersebut keluar dari kamar.Ia membiarkan kucing tersebut di ruang keluarga agar ia bisa berlarian, sedangkan ia ke kamarnya
“Memangnya Pak Axel tidak mau?” Nasya menatap lekat wajah Axel. “Mengurus diri sendiri saja aku kesulitan, bagaimana bisa aku mengurus dia.” Axel menunjuk kucing yang wajahnya tampak memelas itu. Wajah Nasya yang semringah seketika berubah. Ia tampak sedih mendengar jawaban Axel tersebut. “Padahal saya berharap dia bisa jadi teman Pak Axel saat saya tidak ada.” Raut wajah Nasya yang tampak sedih itu membuat Axel tidak tega. Apalagi niat Nasya demi kebaikannya. “Baiklah, aku akan merawatnya.” Wajah Nasya langsung semringah ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan Axel. Berharap usahanya ini dapat membuahkan hasil. “Sebelum saya pergi, saya akan merawatnya. Jadi Pak Axel tidak perlu khawatir.” “Iya.” Wajah Axel terlihat malas. Nasya memeluk kucing putih cantik itu. “Kira-kira kita beri nama siapa, Pak?” Ia duduk di sofa sambil terus membelai lembut bulu halus kucing itu. Melihat Nasya yang duduk, Axel juga ikut duduk. Ia melihat bagaimana Nasya membelai lembut kucing ter
Axel diam saja. Ia tampak bingung sendiri. “Pak Axel tidak akan minum obat lagi ‘kan?” Axel menatap Nasya lekat. Hal itu sejujurnya yang ditakutkan, karena lepas dari hal itu tidak mudah. “Tenanglah, aku tidak akan melakukannya.” Axel tersenyum. Nasya menatap Axel. Sejujurnya ia tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Axel, tapi mau bagaimanapun ia memang tidak bisa tinggal di sini lebih lama.“Lalu, bagaimana nanti Pak Axel akan tidur?” tanyanya. Axel mengedikkan bahu. Ia tampak tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. “Nanti kita pikirkan.” Ia menepuk bahu Nasya. “Sudah, aku bersiap dulu ke kantor.” Axel segera berlalu ke kamarnya. Nasya menatap punggung Axel yang perlahan menghilang ke kamar. Ia hanya bisa berharap atasannya itu bisa kuat melawan trauma yang ada. Di kantor, Nasya terus memikirkan bagaimana Axel akan mengatasi sulit tidur yang dirasakan. Pastinya tidak akan mudah, dan mengingat kemarin Axel minum obat, ia takut itu akan terulang lagi. “Apa kira-k
Tubuh Nasya membeku ketika melihat siapa yang berada di depan kamar. Tidak terbayangkan pagi-pagi seperti ini bertemu dan lebih parahnya Nasya baru saja keluar dari kamar. “Kamu ada di sini?” Pertanyaan itu membuat Nasya langsung gemetar. Tangannya seketika dingin karena begitu ketakutan. “Iya, Kak.” Nasya mengangguk.Aletha menatap wajah Nasya. Jantung Nasya berdebar begitu kencangnya. Ia takut sekali dengan kehadiran Aletha. Ia tahu jika Aletha bisa masuk ke apartemen Axel, tapi tidak menyangka jika akan sepagi ini, dan ini lebih pagi dibanding waktu itu. Aletha sedikit mengintip ke kamar untuk melihat sesuatu di dalam sana. “Kamu tinggal di sini?” tanyanya saat menemukan yang ia cari. “Iya, Kak.” Suara Nasya terdengar lirih. Wajah terkejut Aletha langsung terlihat jelas. Tepat saat itu, pintu kamar Axel terbuka. Pria itu keluar dari kamarnya dengan santai dan tenang. Tanpa menyadari apa yang ada di hadapannya. Saat mendapati kakaknya di depannya, wajahnya tampak terkejut
Axel menatap Nasya bingung. Lagi-lagi ia diajak bersembunyi. “Tunggu, Pak.” Nasya menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan memberikan isyarat pada Axel untuk diam lebih dulu. Terpaksa Axel menunggu lebih dulu. Ia ikut melihat ke arah Nasya lihat. Di sana ada beberapa pria. Salah satu wajah pria itu ia ingat. “Mereka karyawan Davis bukan?” tanyanya. “Iya, Pak.” Melihat itu Axel pun mengembuskan napasnya. Ia berjalan keluar dari persembunyian dan meninggalkan Nasya. “Pak.” Nasya langsung berjalan di belakang Axel. Mengekor dan berusaha mencegah Axel. Sayangnya, Nasya tidak dapat mencegah Axel. Pria itu berjalan ke pintu masuk dan tanpa sengaja juga berpapasan dengan karyawannya. “Pak Axel.” Karyawan yang melihat Axel langsung menyapa. “Iya.” Axel menganggukkan kepalanya, kemudian mengayunkan langkah dari restoran dengan percaya dirinya. Nasya benar-benar bingung dan takut. Ia takut jika teman-temannya tahu hubungannya dengan Axel. Teman Nasya hanya terse
Nasya terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan temannya itu. Ia pikir, temannya itu akan curiga dengan hubungannya dengan Axel, tetapi ternyata tidak sama sekali. Temannya justru berpikir jika akan mengganggu hubungan Axel dengan kekasihnya. Wajah panik Nasya seketika sirna. Berganti dengan wajah tenang dan dihiasi senyum tipis. “Tenang saja,” ucapnya. “Aku tahu itu. Aku tidak akan mengganggu hubungan Pak Axel.” “Syukurlah. Aku hanya takut saja kamu terbawa perasaan dengan perhatian Pak Axel.” Nasya melebarkan senyumnya. “Tenanglah, aku tidak akan terbawa perasaan.” Setelah pembicaraan bersama dengan temannya itu, Nasya segera kembali ke ruang kerjanya. Sesaat ia duduk, senyumnya begitu lebar menghiasi wajahnya. Ia masih tidak menyangka jika temannya akan berpikir seperti itu. Namun, pikiran temannya itu sangat menguntungkan baginya. Paling tidak, hubungannya dengan Axel tidak akan diketahui. Seharian Nasya bekerja. Setelah Axel keluar dari ruangannya







