LOGINTawaran untuk mendapatkan beasiswa memanglah menggiurkan, apalagi dijamin sampai lulus. Ke depan paling tidak, Nasya tidak akan pusing dengan biaya kuliahnya. Hidup akan terasa lebih ringan, jika biaya kuliah aman.
Namun, menjadi kekasih pura-pura Axel masih belum bisa diterima akal sehatnya, jadi ia masih belum menjawab permintaan atasannya itu. Selama perjalanan pulang, Nasya memikirkan tawaran Axel, sampai tanpa terasa langkah Nasya sampai juga di rumah. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Tampak wanita paruh baya di balik pintu. Ia adalah Bu Lisa—ibu tiri Nasya. Seolah hidup ringan yang sedang dibayangkan Nasya, sirna begitu saja melihat ibu tirinya itu. Selama ini Nasya tinggal bersama dengan ayah, ibu tiri, dan adik tirinya. Ibu kandung Nasya meninggal saat Nasya umur delapan tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai satu anak laki-laki. Nasya pikir kedatangan ibu baru akan mengisi kekosongan karena sang ibu meninggal, tapi nyatanya tidak. Bu Lisa tidak menyayanginya. Ia justru memperlakukannya layaknya pembantu di rumah. Sang ayah yang terpengaruh istrinya, justru ikut mendukung. Jika Nasya mengeluh, sang ayah akan selalu bilang, memang kodrat wanita melakukan pekerjaan rumah. Sejak saat itulah Nasya tidak pernah lagi mengeluh. Di rumah, Nasya juga diperlakukan berbeda dengan adik laki-lakinya. Ibu tirinya memberitahu ayahnya jika anak laki-laki lebih berharga dari anak perempuan. Kelak mereka akan tinggal dengan anak laki-laki, sedangkan anak perempuan akan dibawa suaminya. Sejak itulah ayahnya yang dulu sangat menyayangi Nasya, berubah total. Tak hanya dibedakan saat di rumah, beban di rumah pun semua dikerjakan oleh Nasya. Semua kebutuhan rumah Nasya yang harus dipenuhi. Kata ibu tirinya, sebelum menikah Nasya harus membalas budi atas semua kebaikan orang tuanya. Ironi memang ketika merawat anak menjadi sebuah ajang transaksi. “Kamu sudah pulang?” Bu Lisa tampak semringah. Senyum sambutan itu membuat Nasya memicingkan matanya. Ia yakin jika senyum itu mengandung arti lain. “Iya, aku baru pulang,” jawab Nasya malas. “Bagus kalau kamu pulang, cepat isi token listrik.” Bu Lisa mendorong Nasya keluar lagi. Tubuh Nasya sempat terhuyung. Beruntung ia bisa segera menyeimbangkan lagi. Kemudian Ia menatap ibu tirinya itu bingung. “Bukannya dua hari lalu aku baru isi?” “Iya, sekarang habis lagi.” “Habis?” Suara Nasya sedikit meninggi. “Kenapa cepat sekali?” “Kamu nggak lihat ada AC yang selalu menyala.” Pandangan Nasya langsung tertuju pada kamar adik tirinya itu. Selama ini adik tirinya itu tidur enak di kamar dingin, sedangkan ia di kamar panas. Kamar itu juga dulu miliknya. Sebelum sang ayah memberikan pada adik tirinya yang sudah mulai remaja. Karena di rumah hanya ada dua kamar, maka akhirnya Nasya diminta tidur di kamar belakang. Kamar itu dulunya kamar pembantu, tapi beralih fungsi menjadi gudang. Kini beralih fungsi lagi sebagai kamar Nasya. Saat sudah mulai bekerja, sebenarnya Nasya berniat pergi. Namun, tiba-tiba saja ibu tirinya mengajukan pinjaman atas namanya ke rentenir tanpa persetujuan. Ibu tirinya menggunakan foto copy kartu identitas Nasya yang ada di rumah. Uang pinjaman itu digunakan untuk membeli motor adik tirinya serta untuk biaya masuk kuliah adiknya. Akhirnya Nasya harus bergelut membayar hutang rentenir yang bunganya cukup mencekik. “Suruh isi saja Arya isi sendiri. Dia yang nikmatin AC ‘kan.” Tanpa menunggu jawaban Nasya menerobos masuk. Melewati ibu tirinya yang ada di depan pintu. Selama ini Nasya selalu memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan rumah. Ia juga harus mencicil hutang. Beban-beban itu ditanggungnya dan cukup memberatkan. Jika ada kebutuhan di luar budget, maka ia akan kesulitan. “Kamu itu. Bagaimana bisa Arya isi? Dia masih kuliah, belum punya uang seperti kamu.” Bu Lia tampak kesal menatap Nasya. Nasya hanya bisa mengembuskan napasnya. “Aku juga butuh uang buat kuliahku, Bu. Jadi harusnya Arya bisa berhemat untuk nggak pakai AC terus menerus.” “Kuliah-kuliah,” jawab Bu Lisa. “Kamu itu harusnya nggak perlu kuliah. Jadi gaji kamu itu bisa utuh.” Bu Lisa dari awal memang tidak pernah setuju jika Nasya kuliah. Karena tahu uang gaji Nasya akan habis jika kuliah. Tidak mau berdebat, Nasya memilih meninggalkan ibu tirinya itu. “Dasar anak tidak tahu diri. Ada orang tua bicara, dia malah pergi.” Nasya terus mengayunkan langkahnya ke kamarnya yang terletak di belakang dapur. Tepatnya di samping tempat jemur pakaian. Walaupun kamar itu kecil, tapi baginya itu cukup nyaman. Paling tidak ia punya tempat berteduh. Ia tak punya tabungan sama sekali. Setiap gajian selalu habis untuk kebutuhan dan bayar hutang. Tak ada anggaran untuk menyewa tempat. Karena itu, ia memilih bertahan, dibanding harus kelimpungan tidak bisa membayar uang sewa tempat. Semalaman, Nasya memikirkan tawaran Axel. Pagi ini, ia sudah mendapatkan jawaban apa yang akan diberikan pada Axel. Saat mengantarkan dokumen ke ruangan Axel, ia menggunakan kesempatan itu untuk memberikan jawaban. “Pak Axel, untuk tawaran Anda ….” Nasya menggantung ucapannya. Axel yang sedang menandatangani berkas pun langsung mengalihkan pandangannya. Ia menatap Nasya lekat sambil menunggu jawaban Nasya. “Saya setuju.” Suara Nasya terdengar begitu lirih. Semalam, Nasya sudah memikirkan dengan baik keputusan ini. Ia merasa tawaran Axel tidak begitu buruk, setidaknya dengan demikian, ia akan jauh lebih berhemat untuk biaya kuliahnya, dan uangnya bisa ia tabung. Meskipun harus menjalani sandiwara sebagai kekasih Axel. Hanya sandiwara, itu tidak akan berat. Lagipula, pagi tadi pun Nasya sudah mengirim pesan pada pacarnya jika ia ingin mengakhiri hubungan mereka. Sudut bibir Axel membentuk lengkungan senyum. “Bagus kalau kamu mau. Sekarang duduklah. Aku akan berikan kontrak perjanjian kita.” Kontrak? Nasya tidak berpikir jika Axel akan sampai membuat kontrak untuk hubungan pura-pura ini. Tapi, karena terlanjur sudah sejauh ini juga dan harus tahu kontrak seperti apa yang diberikan Axel, ia segera duduk di kursi depan meja kerja Axel. Axel mengambil satu map di laci meja kerjanya. Kemudian meletakkannya tepat di depan Nasya. Melihat map yang berisi kontrak, membuat Nasya yakin jika Axel benar-benar mempersiapkan semuanya. “Kita akan pacaran selama dua tahun. Aku akan membiayai semua kebutuhan kuliahmu sampai kamu lulus. Setelah kontrak berakhir, aku akan memberikan uang kompensasi untukmu.” Axel menatap Nasya tepat di manik mata Nasya. Ditatap seperti itu, Nasya jadi kikuk, tapi kemudian ia mengangguk, lantas membuka map yang berisi kontrak itu. Walaupun sudah dijelaskan, ia tetap harus membacanya. Di dalam kontrak tertulis jika Nasya harus mengikuti semua aturan yang dibuat Axel. Selalu siap kapan saja saat dibutuhkan dan tidak boleh menolak. Nasya menatap Axel. “Apa hubungan ini bisa dirahasiakan di kantor, Pak?” “Kenapa?” Nasya tahu persis jika ia akan jadi bahan gosip jika ketahuan pacaran dengan Axel. Ia pasti akan digosipkan menggoda Axel, dan ia tidak mau. “Meskipun di perusahaan ini tidak ada larangan memiliki hubungan asmara sesama karyawan, tapi saya hanya ingin di kantor, kita bisa tetap profesional, Pak.” Axel tampak diam, seolah sedang mempetimbangkan sesuatu, tetapi kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah.” “Emmm ….” Nasya sedikit ragu ketika hendak bertanya. “Apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Axel seolah membaca raut wajah Nasya yang tampak ragu. “Apa pacaran pura-pura ini tetap ada kontak fisik?” Suara Nasya terdengar lirih. “Tentu saja ada.” “Hah!” Nasya langsung terkejut. Axel yang mendengar suara kencang Nasya mengernyit, kedua alisnya terangkat tinggi. “Kenapa harus ada kontak fisik, Pak?” Wajah Nasya tampak begitu panik. “Bagaimana orang percaya kalau kamu pacarku? Kita harus gandengan tangan, harus mesra.” Axel tampak santai menjelaskan. “Lagipula, kamu lupa apa yang terjadi kemarin?” Mengungkit kejadian kemarin, wajah Nasya langsung terasa panas. Mungkin wajahnya sudah berubah merah seperti tomat. “Pak, bisa tidak jangan membicarakan itu lagi?” bisik Nasya. Ia tidak tahu mengapa harus berbisik padahal di ruangan ini hanya ada mereka berdua. Namun, seolah Axel tidak merasa terusik, pria itu hanya tertawa kecil. Tawa pria itu membuat Nasya tertegun. “Saya minta maaf,” kata Axel setelah tawanya reda. “tapi kedepannya kita mungkin akan melakukan hal itu lagi.” “APA?!” Seolah bisa merasakan keterkejutan Nasya, Axel menambahkan, “Tapi, saya akan berusaha untuk tidak melakukannya. Cuma tetap, tandatangani itu.” Ha! Atasannya ini memang tidak bisa ditebak. Tadi seolah mengerti, setelahnya tetap memerintah. Kalau begitu buat apa kontrak ini kalau hanya salah satu pihak yang diuntungkan?! Tapi, itu semua hanya ada di pikiran Nasya, karena Nasya tetap setuju dan menandatangani kontrak hubungan pura-pura bersama Axel. Mana mungkin ia bisa melawan atasannya yang gila ini. Akhirnya Nasya tetap memberikan kontrak yang sudah ia tandatangani pada Axel. “Sekarang kita sudah resmi berpacaran.” Axel menerima map yang diberikan oleh Nasya. Nasya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berharap keputusan ini tidak salah. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sampai akhirnya di jam makan siang, mereka bersiap untuk bertemu dengan rekan bisnis Axel. Nasya turun ke lobi bersama dengan Axel. Mereka tetap profesional di depan para karyawan, meskipun sekarang mereka adalah pasangan kekasih kalau menurut kontrak. Akan tetapi, tepat saat mereka baru saja melangkah keluar lift, tiba-tiba saja Nasya menghentikan langkahnya. “Kenapa?” tanya Axel yang menyadari itu. “Mantan pacar saya, Pak.” Nasya menatap ke arah pintu lobi. Namun, belum sempat mantan kekasihnya itu bisa melihat Nasya, tubuhnya sudah tertutup tubuh tinggi tegap Axel di hadapannya.Saat membuka mata, Axel melihat bulu putih yang bergerak ke kanan dan kiri. Itulah yang sedari tadi menggelitik hidungnya. “Aaaahhhhh ….” Axel langsung berteriak. Teriakan itu membuat Moly yang berada di dadanya langsung turun karena ketakutan dengan suara Axel. Nasya yang berada di sebelahnya pun ikut terbangun mendengar itu. “Ada apa, Pak?” tanyanya. “Kucingmu … kucingmu. Dia di dadaku.” Axel menunjuk kucing yang tampak tenang dengan wajah polos tanpa bersalah sama sekali. Nasya langsung meraih kucing tersebut, dan menggendongnya. Ia tersenyum melihat Axel yang ketakutan. “Mungkin dia merasa nyaman dengan Pak Axel.” Alasan itu tidak bisa diterima oleh Axel. Ia masih bergidik ngeri membayangkan kucing itu di dadanya. “Bawa keluar.” Axel memberikan isyarat pada Nasya. Karena tidak mau membuat masalah dengan Axel, akhirnya Nasya buru-buru membawa kucing tersebut keluar dari kamar.Ia membiarkan kucing tersebut di ruang keluarga agar ia bisa berlarian, sedangkan ia ke kamarnya
“Memangnya Pak Axel tidak mau?” Nasya menatap lekat wajah Axel. “Mengurus diri sendiri saja aku kesulitan, bagaimana bisa aku mengurus dia.” Axel menunjuk kucing yang wajahnya tampak memelas itu. Wajah Nasya yang semringah seketika berubah. Ia tampak sedih mendengar jawaban Axel tersebut. “Padahal saya berharap dia bisa jadi teman Pak Axel saat saya tidak ada.” Raut wajah Nasya yang tampak sedih itu membuat Axel tidak tega. Apalagi niat Nasya demi kebaikannya. “Baiklah, aku akan merawatnya.” Wajah Nasya langsung semringah ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan Axel. Berharap usahanya ini dapat membuahkan hasil. “Sebelum saya pergi, saya akan merawatnya. Jadi Pak Axel tidak perlu khawatir.” “Iya.” Wajah Axel terlihat malas. Nasya memeluk kucing putih cantik itu. “Kira-kira kita beri nama siapa, Pak?” Ia duduk di sofa sambil terus membelai lembut bulu halus kucing itu. Melihat Nasya yang duduk, Axel juga ikut duduk. Ia melihat bagaimana Nasya membelai lembut kucing ter
Axel diam saja. Ia tampak bingung sendiri. “Pak Axel tidak akan minum obat lagi ‘kan?” Axel menatap Nasya lekat. Hal itu sejujurnya yang ditakutkan, karena lepas dari hal itu tidak mudah. “Tenanglah, aku tidak akan melakukannya.” Axel tersenyum. Nasya menatap Axel. Sejujurnya ia tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Axel, tapi mau bagaimanapun ia memang tidak bisa tinggal di sini lebih lama.“Lalu, bagaimana nanti Pak Axel akan tidur?” tanyanya. Axel mengedikkan bahu. Ia tampak tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti. “Nanti kita pikirkan.” Ia menepuk bahu Nasya. “Sudah, aku bersiap dulu ke kantor.” Axel segera berlalu ke kamarnya. Nasya menatap punggung Axel yang perlahan menghilang ke kamar. Ia hanya bisa berharap atasannya itu bisa kuat melawan trauma yang ada. Di kantor, Nasya terus memikirkan bagaimana Axel akan mengatasi sulit tidur yang dirasakan. Pastinya tidak akan mudah, dan mengingat kemarin Axel minum obat, ia takut itu akan terulang lagi. “Apa kira-k
Tubuh Nasya membeku ketika melihat siapa yang berada di depan kamar. Tidak terbayangkan pagi-pagi seperti ini bertemu dan lebih parahnya Nasya baru saja keluar dari kamar. “Kamu ada di sini?” Pertanyaan itu membuat Nasya langsung gemetar. Tangannya seketika dingin karena begitu ketakutan. “Iya, Kak.” Nasya mengangguk.Aletha menatap wajah Nasya. Jantung Nasya berdebar begitu kencangnya. Ia takut sekali dengan kehadiran Aletha. Ia tahu jika Aletha bisa masuk ke apartemen Axel, tapi tidak menyangka jika akan sepagi ini, dan ini lebih pagi dibanding waktu itu. Aletha sedikit mengintip ke kamar untuk melihat sesuatu di dalam sana. “Kamu tinggal di sini?” tanyanya saat menemukan yang ia cari. “Iya, Kak.” Suara Nasya terdengar lirih. Wajah terkejut Aletha langsung terlihat jelas. Tepat saat itu, pintu kamar Axel terbuka. Pria itu keluar dari kamarnya dengan santai dan tenang. Tanpa menyadari apa yang ada di hadapannya. Saat mendapati kakaknya di depannya, wajahnya tampak terkejut
Axel menatap Nasya bingung. Lagi-lagi ia diajak bersembunyi. “Tunggu, Pak.” Nasya menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan memberikan isyarat pada Axel untuk diam lebih dulu. Terpaksa Axel menunggu lebih dulu. Ia ikut melihat ke arah Nasya lihat. Di sana ada beberapa pria. Salah satu wajah pria itu ia ingat. “Mereka karyawan Davis bukan?” tanyanya. “Iya, Pak.” Melihat itu Axel pun mengembuskan napasnya. Ia berjalan keluar dari persembunyian dan meninggalkan Nasya. “Pak.” Nasya langsung berjalan di belakang Axel. Mengekor dan berusaha mencegah Axel. Sayangnya, Nasya tidak dapat mencegah Axel. Pria itu berjalan ke pintu masuk dan tanpa sengaja juga berpapasan dengan karyawannya. “Pak Axel.” Karyawan yang melihat Axel langsung menyapa. “Iya.” Axel menganggukkan kepalanya, kemudian mengayunkan langkah dari restoran dengan percaya dirinya. Nasya benar-benar bingung dan takut. Ia takut jika teman-temannya tahu hubungannya dengan Axel. Teman Nasya hanya terse
Nasya terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan temannya itu. Ia pikir, temannya itu akan curiga dengan hubungannya dengan Axel, tetapi ternyata tidak sama sekali. Temannya justru berpikir jika akan mengganggu hubungan Axel dengan kekasihnya. Wajah panik Nasya seketika sirna. Berganti dengan wajah tenang dan dihiasi senyum tipis. “Tenang saja,” ucapnya. “Aku tahu itu. Aku tidak akan mengganggu hubungan Pak Axel.” “Syukurlah. Aku hanya takut saja kamu terbawa perasaan dengan perhatian Pak Axel.” Nasya melebarkan senyumnya. “Tenanglah, aku tidak akan terbawa perasaan.” Setelah pembicaraan bersama dengan temannya itu, Nasya segera kembali ke ruang kerjanya. Sesaat ia duduk, senyumnya begitu lebar menghiasi wajahnya. Ia masih tidak menyangka jika temannya akan berpikir seperti itu. Namun, pikiran temannya itu sangat menguntungkan baginya. Paling tidak, hubungannya dengan Axel tidak akan diketahui. Seharian Nasya bekerja. Setelah Axel keluar dari ruangannya







