Share

Bab 5

Author: ShaLee
last update publish date: 2026-10-01 17:33:22

Plak!!

"Anak sialan, bisakah kau tidak membuat masalah, hah?" bentak Alaric. "Kau baru masuk sekolah dan kau sudah mematahkan tangan anak orang? Kau mau mempermalukan keluarga Hawthorne hah?"

Elara yang sedang berlutut di hadapan Alaric memutar matanya malas, "Sialan itu pantas menerimanya."

"Kau masih berani menjawab, hah? Akan ku bunuh kau sialan." Alaric mengambil sebatang kayu dan bersiap untuk menerjang Elara yang masih santai berlutut.

"Ayah, hentikan!!" teriakan halus menghentikan pergerakan Alaric.

Liora berlari mendekati Elara dan membantu Elara untuk berdiri, "Kakak, apa ada yang sakit?"

Elara menggeleng sebagai jawabannya, Liora menatap marah ke arah Alaric dan Isolde.

"Sampai kapan kalian akan menyiksa kakakku? Dari awal kalian bertemu kakak tidak sekalipun kalian menunjukkan kasih sayang kepadanya, emangnya apa salah kakakku?" tangis Liora pecah.

Alaric mendengus kesal, "Untuk apa aku menyayangi anak yang tidak tahu tata krama seperti dia? Yang dia tahu hanya membuat keluarga Hawthorne malu. Seharusnya aku tidak mengambilnya dari kandang babi itu, biar saja dia membusuk di sana."

"Benar, sudah seminggu dia di keluarga ini. Dan sudah beberapa kali dia hampir membunuh orang, dia bahkan tidak lebih dari monster yang menjijikkan." Isolde menambahkan.

"Sampai hati kalian berkata seperti itu, Elara ini anak kalian!! Bahkan kalian tidak menanyakan alasan mengapa dia bisa menyerang orang-orang itu— kakakku tidak akan menyerang mereka kalau mereka tidak menghinanya duluan. Kakak, ayo kita pergi dari sini." Liora menarik lengan Elara.

Di kamar Liora, Liora mengobati memar dari tamparan Alaric tadi. Elara menatap wajah adiknya lamat-lamat dan tangannya terulur mengelus wajah cantik adiknya.

"Kamu tidak takut denganku?" tanya Elara menatap wajah Liora.

Liora bangkit, ia meletakkan obat yang baru saja ia gunakan ke atas meja riasnya. "Sedikitpun tidak kakak, aku tidak pernah takut padamu karena aku tahu kamu tidak akan melukaiku. Kakak, selama aku ada di sini aku akan melindungi kamu."

Liora merentangkan tangannya, Elara bangkit dan berjalan cepat ingin menyambut pelukan adiknya. Tapi saat ia akan memeluk, Liora menghilang.

"Kakak," panggil Liora dari belakang. Elara menoleh.

Di sana, Liora yang mengenakan gaun putih dengan tubuh penuh lebam, wajah yang hancur karena pukulan berdiri menatap Elara sendu.

"Kakak, rasanya sakit. Tubuhku hancur kakak, mereka— mereka tidak menyayangiku. Kakak, maafkan aku."

Ucapan itu terus terngiang di telinganya, membuat pandangannya berputar hebat. "Liora, jangan tinggalkan aku, tidak Liora. Lioraaaa!!"

Elara terduduk di atas ranjang, napasnya terengah seperti habis berlari puluhan kilometer. Air matanya turun dengan derasnya, rasa sakit di hatinya semakin terasa menikam.

"Hiks, maafkan kakak. Maafkan kakak yang tidak ada di sisimu saat kamu menderita Liora." Tangisnya semakin sendu, membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasa sayatan perih yang Elara rasakan.

"Elara!" panggil Felix terkejut mendengar suara tangisan Elara.

Felix tanpa ragu membawa Elara ke dalam pelukannya, Felix mengelus lembut puncak kepala Elara berharap itu bisa membuatnya lebih tenang.

"Menangislah, Elara. Lepaskan rasa sakitmu, aku di sini menemani kamu." ucap Felix lembut.

30 menit berlalu, Elara sudah lebih tenang dari beberapa waktu lalu. Felix dengan telaten mengelap wajah Elara menggunakan handuk basah agar Elara merasa lebih segar.

"Liora merasa kesakitan, Felix. Dia menangis, tubuhnya hancur." gumam Elara.

Felix hanya diam, ia mendengarkan semua cerita Elara. Sungguh, ia sangat sakit melihat Elara seperti ini. Dulu, saat mereka masih bersekolah, Felix sangat jarang melihat Elara menangis. Tapi setelah kepergian Liora, Elara seolah kehilangan arah.

"Sudah lebih tenang? Kamu mau sarapan apa? Aku akan memasakkannya untuk kamu." tawar Felix.

"Aku tidak lapar," tolak Elara.

"Tapi aku lapar, ayo kita sarapan bersama Elara." ujar Felix memasang wajah melasnya.

"Kalau kamu lapar, makanlah sendiri sana. Jangan menggangguku, dan cepatlah keluar dari kamarku," kesal Elara.

"Eum— tapi ini kamarku." ujar Felix dengan cengiran bodohnya. "Tapiiii, walaupun kamu menolak. Aku akan memaksamu, dari kemarin aku tidak melihatmu makan apa pun. Kalau kamu sakit gimana? Terus yang hajar sampah-sampah itu nanti siapa? Aku mana bisa menghajar mereka."

Elara menatap malas ke arah Felix, "Heran, badan aja yang besar tapi berkelahi saja tidak becus."

Felix terkekeh mendengar cemoohan Elara, "Ya, karena ada kamu kenapa harus aku hahah. Udah ayo kita sarapan, aku sudah duga kamu akan menolak— jadi aku sudah memesan sup jagung dan menyeduh English Breakfast Tea kesukaan kamu."

"Lalu, kenapa kamu bertanya kalau sudah mempersiapkannya?" tanya Elara yang turun dari ranjang, tapi perhatiannya terhenti saat melihat pakaian yang ia kenakan.

"Sebentar, bukannya semalam aku memakai gaun? Terus kenapa sekarang sudah memakai piyama?" Elara menatap horror ke arah Felix.

Melihat tatapan itu membuat Felix bergidik ngeri, "H-hei jangan menatapku begitu. Bukan aku yang membersihkan tubuhmu, aku meminta tetanggaku untuk membersihkan tubuhmu."

"Kau serius?" tanya Elara memastikan.

"Sumpah, aku tidak menyentuh tubuhmu seincipun tadi malam— ya hanya mengangkat tubuhmu ke kamar, terus mengobati luka di tanganmu sih." Felix menunduk.

Elara hanya menghela napas, "Sudah, ayo sarapan."

Felix menatap punggung Elara dengan berbinar lalu berlari kecil menyamakan langkah dengan Elara. Sesampainya di meja makan, Elara langsung duduk di kursi. Dan Felix dengan telaten menyajikan Sup jagung dan menuangkan teh untuk Elara.

"Selamat makan cantik." ucap Felix.

"Najis, tapi sepertinya kamu cocok deh untuk menjadi pelayanku Felix. Apa kamu berminat?" tawar Elara.

"Hah? Pelayan? Lelaki tampan sepertiku ini lebih cocok untuk menjadi suamimu tentu saja. Bukan malah jadi pelayan." sungut Felix.

Elara yang tadinya menyesap santai teh tiba-tiba tersedak saat mendengar ucapan narsis Felix. "Hei, hati-hati minumnya." ujar Felix khawatir.

"Hahahahaha, suami apaan? Lihat gayamu itu, kau lebih cocok menjadi istriku." ujar Elara bergurau.

"Ah, apaan sih." Felix ikut tertawa mendengar candaan Elara.

Dalam hatinya sangat senang melihat Elara yang sudah lebih santai dan menyambut candaannya.

Tok

Tok

Tok

"Halooo semuaaa, selamat pagii." sapa seseorang nyelonong masuk.

Elara menatap malas orang yang tersenyum itu, "Satu lagi orang gila datang."

"Hey, jangan begitu dong Elara. Jangan lupakan, kita tidak ada yang waras di sini hahaha." ujar Vincent santai.

Elara mengenal Vincent saat ia masih berkuliah di San Francisco, dan siapa sangka ternyata Felix bersahabat dengan Vincent playboy itu. Dunia ini benar-benar sempit pikirnya.

Pagi itu dihabiskan dengan suasana rumah yang ramai, Felix dan Vincent yang sibuk menggoda Elara sampai membuat Elara menendang kursi mereka karena kesal sampai membuat mereka tersungkur. Senda gurau membuat Elara sedikit lebih tenang. Sampai bunyi ketukan di pintu kembali terdengar.

Tok

Tok

Tok

Felix langsung berdiri dan membukakan pintu, "Iya? Mau mencari siapa?" tanya Felix ramah.

"Permisi, Tuan. Saya mencari Nona Elara." ucap pria itu.

"Oh, begitu. Ayo masuk, dia ada di dalam." Mereka masuk dan menuju ruang makan, "Elara ada yang mencari kamu."

Elara yang mendengar itu langsung menoleh, ia terkejut melihat orang di depannya. "Sam? Kamu kenapa ke sini?"

Sam membungkuk, "Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Nona."

Felix dan Vincent menatap Elara, dan Elara tahu betul apa yang ada di pikiran mereka. Mereka pasti bertanya-tanya siapa lelaki yang membungkuk padanya ini.

"Dia Sam, dia yang merawatku saat di Amerika. Sam, ayo bicara di luar." ajak Elara.

Setelah berada di luar, Sam memberikan beberapa berkas pada Elara yang membuat darah Elara kembali mendidih. "Saya mendapatkan bukti ini saat saya berada di apartemen nona Liora. Dan saya juga memiliki rekaman dari CCTV di sana Nona."

Semua bukti itu membuat hati Elara semakin tercabik, "i-ini tidak mungkin, kenapa adikku diperlakukan seperti ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Autumnafterspring
sukaaaa bgt sama karakter Elara!!! ............
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 5

    Plak!!"Anak sialan, bisakah kau tidak membuat masalah, hah?" bentak Alaric. "Kau baru masuk sekolah dan kau sudah mematahkan tangan anak orang? Kau mau mempermalukan keluarga Hawthorne hah?"Elara yang sedang berlutut di hadapan Alaric memutar matanya malas, "Sialan itu pantas menerimanya.""Kau masih berani menjawab, hah? Akan ku bunuh kau sialan." Alaric mengambil sebatang kayu dan bersiap untuk menerjang Elara yang masih santai berlutut."Ayah, hentikan!!" teriakan halus menghentikan pergerakan Alaric.Liora berlari mendekati Elara dan membantu Elara untuk berdiri, "Kakak, apa ada yang sakit?"Elara menggeleng sebagai jawabannya, Liora menatap marah ke arah Alaric dan Isolde. "Sampai kapan kalian akan menyiksa kakakku? Dari awal kalian bertemu kakak tidak sekalipun kalian menunjukkan kasih sayang kepadanya, emangnya apa salah kakakku?" tangis Liora pecah.Alaric mendengus kesal, "Untuk apa aku menyayangi anak yang tidak tahu tata krama seperti dia? Yang dia tahu hanya membuat kel

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 4

    "Tante jahat, jangan menghina ibu Serena."Elara menatap anak lelaki gempal yang tengah merentangkan tangannya di depan Serena. Hal itu sontak membuat Elara tertawa lebih besar."Hahahaha, waaahhh ini kejutan yang sangat manis. Kau memanggilnya apa tadi bocah kecil?" tanya Elara."Apa Tante tuli? Aku memanggilnya Ibu. Dia Ibuku dan aku tidak terima kau menghinanya." teriak anak itu dengan lantang."Kalau jalang ini ibumu, lalu siapa yang barusan di kubur itu hm?""Yang di kubur itu bukan ibuku, dialah jalang yang sebenarnya. Dia hanya orang gila penyakitan yang selalu menyusahkan ayahku. Tidak seperti ibu Serena yang selalu menyayangi kami," jelasnya.Mendengar perkataan anak itu membuat kemarahan Elara semakin bergejolak, Elara menatap ke arah Alaric dan Isolde berharap mereka bereaksi mendengar ucapan Jeffrey mengenai Liora orang yang melahirkan bocah kurang ajar itu.Tapi alih-alih mereka memarahi Jeffrey mengenai ucapannya itu, mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka se

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 3

    Suara musik klasik mengalun indah di sebuah ballroom yang kini dijadikan tempat pesta kaum atas. Pesta topeng yang digelar tiap bulan untuk menambah relasi untuk para pengusaha di seluruh dunia."Sam sialan, seharusnya sekarang aku sedang menghajar para sampah itu. Bukan di sini melihat wajah palsu orang-orang ini." gumam Elara.Saat ia masih berada di makam adiknya, Sam menelepon untuk memberi tahu bahwa pesta kali ini akan diselenggarakan di London. Kebetulan yang sangat memuakkan menurut Elara.Jujur saja, dia tidak suka berada di tempat seperti ini. Hanya saja, ayah angkatnya Damian Cavendish memaksanya untuk hadir. Damian beralasan dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak."Aku yakin tua bangka itu ingin menjualku pada pewaris Blacwood itu, kalau iya akan ku robek jantungnya. Sialan," Elara kembali bergumam kesal menggenggam erat gelas winenya."Selamat malam, Nona Cavendish." Sapa seseorang."Selamat malam, ah anda tuan Robert bukan?" balas Elara dengan senyuman meremehka

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 2

    "Kau baru saja datang, Elara. Mengapa kau membuat keributan?" Suara berat itu menggema di ruang duka itu.Elara menoleh ke arah suara itu. Di sana sudah berdiri orang tuanya, tunangannya, adik iparnya, dan satu wanita yang memakai baju yang cukup nyentrik untuk sebuah suasana duka. Elara terkekeh pelan."Felix, lihatlah keluarga harmonis itu. Bukankah mereka terlihat sangat manis?" Elara menatap Felix yang masih berlutut.Felix menatap Elara. Tatapan hancur itu— sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Felix berdiri, menatap Elara dan sedikit menggeleng seolah ia mengatakan untuk tidak mengeluarkannya sekarang.Tapi, sebuah perkataan tajam keluar dari seseorang yang membuat emosi Elara terpancing. "Kakak, saat ini adikmu akan dikebumikan. Aku mohon kamu jangan menggila di sini." ucap wanita yang memakai dress merah di samping adik iparnya.Elara menatap tajam wanita itu, "Siapa yang kau panggil kakak, Jalang?"Elara mendekat ke arah wanita itu, dan tatapannya langsung menga

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 1

    "Kakak, maafkan aku.""Liora, Tidaaakk!!" Elara tersentak dari tidurnya, ia langsung duduk mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya kasar, "Sialan, mimpi ini lagi. Ada apa sebenarnya ini."tok..tok..tok.."Masuk..." titah Elara."Nona, ada berita yang harus saya sampaikan." ucap lelaki yang baru saja masuk ke ruangannya itu."Katakan...""Tapi sebelum itu saya ingin anda untuk bersabar—"Belum sempat Sam melanjutkan ucapannya, Elara memotong dengan perasaan kesal. "Kamu jangan terlalu banyak basa basi, Sam. Atau pisau ini akan langsung menancap di dadamu."Sam menunduk, "Maafkan saya, Nona. Saya menerima kabar bahwa adik anda sudah meninggal dunia, Nona."Bagai di sambar petir. Elara terdiam di atas ranjangnya. Adiknya, adik yang ia sayangi meninggal?"Itu tidak mungkin, pasti itu berita bohong kan, Sam?""Kabar itu sudah dipastikan kebenarannya, Nona. Saya menerima kabar— adik anda meninggal karena bunuh diri." Elara terdiam. Tidak mungkin adiknya mengakhiri hidupnya sendiri. Dia ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status