LOGIN"Kau baru saja datang, Elara. Mengapa kau membuat keributan?" Suara berat itu menggema di ruang duka itu.
Elara menoleh ke arah suara itu. Di sana sudah berdiri orang tuanya, tunangannya, adik iparnya, dan satu wanita yang memakai baju yang cukup nyentrik untuk sebuah suasana duka. Elara terkekeh pelan. "Felix, lihatlah keluarga harmonis itu. Bukankah mereka terlihat sangat manis?" Elara menatap Felix yang masih berlutut. Felix menatap Elara. Tatapan hancur itu— sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Felix berdiri, menatap Elara dan sedikit menggeleng seolah ia mengatakan untuk tidak mengeluarkannya sekarang. Tapi, sebuah perkataan tajam keluar dari seseorang yang membuat emosi Elara terpancing. "Kakak, saat ini adikmu akan dikebumikan. Aku mohon kamu jangan menggila di sini." ucap wanita yang memakai dress merah di samping adik iparnya. Elara menatap tajam wanita itu, "Siapa yang kau panggil kakak, Jalang?" Elara mendekat ke arah wanita itu, dan tatapannya langsung mengarah ke leher wanita yang berdiri di hadapannya. Di sana, terpampang apik kalung kupu-kupu dengan hiasan Moussaieff Red Diamond langka yang pernah ia berikan pada adiknya sebagai hadiah kelulusannya. "Mengapa kalung ini ada padamu?" tanya Elara. Pertanyaan itu sukses membuat wanita itu bergerak gugup, "Aku yang memberinya pada Serena." ucap Arlo adik iparnya. "Lalu, apa hakmu memberi kalung adikku pada wanita jalang ini?" tanya Elara lagi. "Elara jaga ucapanmu!" bentak Alaric ayah Elara. "Hahaha, jangan kalian pikir aku tidak tahu perbuatan brengsek kalian, Sialan. Bisa-bisanya kalian mengizinkan pembunuh anak kalian hadir ke sini hah?" ucap Elara yang sukses membuat mereka semua di sana terdiam. Para pelayat di sana mulai berbisik mempertanyakan kebenaran yang Elara ucapkan tadi. "Apa maksudmu, Kakak? A-aku tidak membunuh Liora. Dia bunuh diri, Kakak. Ayah, Ibu kalian percaya aku, kan?" tanya Serena pada Alaric dan Isolde mengharap belaan. Tapi, belum sempat mereka menjawab suara tamparan keras terdengar. Elara menampar Serena sampai tersungkur ke lantai marmer itu. "Elara!" teriak Arlo yang langsung membantu Serena. "Siapa yang kau panggil kakak hah? Aku tidak sudi menjadi kakak seorang pelacur sepertimu." Elara kembali mendekat pada Serena, dan tangannya bergerak cepat menarik kalung Liora dari leher Serena yang menyebabkan leher Serena tergores dan mengeluarkan darah. "Arlo, sakit." adu Serena pada Arlo. "Elara, kau jangan keterlaluan sialan." bentak Arlo pada Elara. "Cukuupp!!" teriak Alaric. "Ini adalah hari pemakaman Liora. Bisakah kalian jangan bertengkar di sini, hah?" lanjut Alaric. Semuanya terdiam, kecuali Elara. Saat ia akan kembali membuka suara Felix menepuk pundak Elara untuk menenangkannya. "Sudahlah Elara, sebaiknya kita selesaikan dulu pemakaman Liora." bisik Felix. Elara hanya diam dan kembali ke samping peti Liora. Setelah ia perhatikan baik-baik, terlihat beberapa lebam yang tidak wajar pada tubuh Liora. Elara mengepalkan tangannya kuat menahan gejolak kemarahan di hatinya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dan jenazah Liora sudah dikebumikan. Kini Elara tengah duduk terdiam menatap pusara adiknya. Segala bayangan terputar di kepalanya bagai cuplikan film lama. Ia teringat saat di mana untuk pertama kalinya bertemu Liora. Flashback "Anak sialan, berani sekali kau mencuri makananku!" teriak seorang lelaki tua pada seorang remaja di depannya. "Aku hanya lapar, lalu apa salahnya aku meminta sedikit makananmu?" jawab Elara yang saat itu berumur 16 tahun. "Berani kau menjawabku hah? Seharusnya kau bersyukur aku sudah memberimu tempat tinggal sialan!" amarah lelaki itu. "Tinggal bersama babi-babi ini? Oh— pak tua. sungguh aku sangat berterima kasih. Bukankah seharusnya kau yang sangat cocok tinggal di sini? karena kau sangat mirip dengan babi-babi kesayanganmu itu." sarkas Elara. "Dasar bocah keparat." pria itu dengan cepat mengambil kayu besar dan dengan ringannya ia melayangkan pukulan pada tubuh kurus Elara. Elara hanya meringkuk melindungi kepalanya dari pukulan lelaki tua itu. Inilah yang ia hadapi setiap harinya sedari umur 3 tahun. Ia di culik oleh pria ini, siksaan dan kekerasan tanpa henti ia terima— tapi untuk kali ini ia tidak lagi hanya berdiam diri. Ia mengambil pisau yang telah ia sembunyikan di balik baju lusuhnya dan mendorong kuat pria yang memukulinya hingga tersungkur ke belakang. Elara langsung naik ke atas perut besar lelaki itu, "Saatnya kau tidur untuk selamanya, Sialan." setelah mengatakan itu, Elara langsung menancapkan pisau pada dada lelaki tua itu. Ia terus menikam orang tua di bawahnya sambil tertawa keras, "Hahahahaha, bagaimana rasanya sialan? Nikmat bukan? Hahahah..." Tiba-tiba teriakan seorang wanita membuat Elara menghentikan aksinya. Ia melihat ke arah suara itu— di sana ada tiga orang berdiri menatap ngeri ke arahnya. "Siapa kalian?" tanya Elara. "Kami orang tua kandungmu." ucap Alaric pada Elara. "T-tapi suamiku, apa benar dia anak kita? lihatlah tampilannya itu. Sangat lusuh dan bau, dan dia sedang membunuh orang." ucap Isolde ketakutan. "Akupun sempat ragu, sayang. Tapi lihatlah tanda lahir di tangannya itu." Isolde melihat ke arah punggung tangan Elara, di sana terdapat tanda lahir berbentuk mawar. "Tapi apa kata orang nanti kalau kita memiliki anak yang tidak lebih seperti binatang buas seperti ini suamiku?" ucapan Isolde sukses membuat kemarahan Elara kembali memuncak dan bersiap akan menikam mereka. Sampai suara lembut menghentikan langkahnya, "Ayah, Ibu. Kenapa kalian berkata tidak baik seperti itu? Mau bagaimanapun dia itu keluarga kita." Elara menatap gadis itu, sangat cantik dan manis. Dan dia tersenyum pada Elara— dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Di dalam benaknya pasti gadis itu sama saja dengan kedua orang tua di depan itu. Tapi ia melihat gadis itu mendekatinya dengan senyuman yang tidak luntur. "Liora, jangan ke sana. Dia berbahaya." ucap Isolde. Bagai angin lalu, Liora tetap mendekati Elara yang makin menggenggam kuat pisau di tangannya. Setelah di depan Elara tanpa aba-aba Liora langsung memeluk Elara tanpa peduli tubuh Elara yang di penuhi darah. "Kakak, aku adikmu. Namaku Liora Amelie Vane." Flashback Off Dan di saat itulah, Elara sangat menyayangi adiknya Liora. Karena Liora adalah orang pertama yang memeluknya penuh kasih setelah sekian lama. Bahkan setelah mengetahui bahwa Elara mengidap C-PTSD. Liora seolah tidak terganggu dengan itu dan terus meyakinkan Elara untuk percaya padanya. "Elara," panggil Felix. "Sebaiknya kita pulang sekarang, langit sudah semakin gelap." Di sana hanya tersisa Elara dan Felix, "Kamu pulanglah lebih dulu Felix, aku masih ingin di sini." "Tidak masalah, aku akan menemani kamu di sini." tolak Felix duduk di samping Elara. Elara terdiam sejenak lalu menatap ke arah Felix. Tangannya terulur mengelus pipi Felix yang ia tampar beberapa waktu lalu. Hal itu sukses membuat Felix terdiam, merasakan kehangatan di hatinya. "Apakah sakit? Maaf aku sudah menamparmu tadi, Felix." ucap Elara tulus. Felix menggenggam tangan Elara lalu menggeleng, "Aku memang pantas menerima tamparan itu, Elara. Karena keteledoranku— Liora terlepas dari pengawasanku. Maafkan aku." Elara menarik tangannya dan kembali menatap pusara Liora, "Ini bukan kesalahanmu, Felix. Aku tahu kamu sangat mencintai adikku. Para bajingan itu akanku pastikan menerima hukuman yang setimpal." Felix hanya diam, dia hanya menatap sendu kearah Elara sambil menggenggam tangannya kuat seolah menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Tiba-tiba dering ponsel yang berbunyi bersamaan memecah kesunyian. Felix langsung menjauh dari Elara dan Elara mengangkat panggilan yang berasal dari Sam. "Nona, Tuan Damian meminta saya menyampaikan berita penting pada Nona—"Plak!!"Anak sialan, bisakah kau tidak membuat masalah, hah?" bentak Alaric. "Kau baru masuk sekolah dan kau sudah mematahkan tangan anak orang? Kau mau mempermalukan keluarga Hawthorne hah?"Elara yang sedang berlutut di hadapan Alaric memutar matanya malas, "Sialan itu pantas menerimanya.""Kau masih berani menjawab, hah? Akan ku bunuh kau sialan." Alaric mengambil sebatang kayu dan bersiap untuk menerjang Elara yang masih santai berlutut."Ayah, hentikan!!" teriakan halus menghentikan pergerakan Alaric.Liora berlari mendekati Elara dan membantu Elara untuk berdiri, "Kakak, apa ada yang sakit?"Elara menggeleng sebagai jawabannya, Liora menatap marah ke arah Alaric dan Isolde. "Sampai kapan kalian akan menyiksa kakakku? Dari awal kalian bertemu kakak tidak sekalipun kalian menunjukkan kasih sayang kepadanya, emangnya apa salah kakakku?" tangis Liora pecah.Alaric mendengus kesal, "Untuk apa aku menyayangi anak yang tidak tahu tata krama seperti dia? Yang dia tahu hanya membuat kel
"Tante jahat, jangan menghina ibu Serena."Elara menatap anak lelaki gempal yang tengah merentangkan tangannya di depan Serena. Hal itu sontak membuat Elara tertawa lebih besar."Hahahaha, waaahhh ini kejutan yang sangat manis. Kau memanggilnya apa tadi bocah kecil?" tanya Elara."Apa Tante tuli? Aku memanggilnya Ibu. Dia Ibuku dan aku tidak terima kau menghinanya." teriak anak itu dengan lantang."Kalau jalang ini ibumu, lalu siapa yang barusan di kubur itu hm?""Yang di kubur itu bukan ibuku, dialah jalang yang sebenarnya. Dia hanya orang gila penyakitan yang selalu menyusahkan ayahku. Tidak seperti ibu Serena yang selalu menyayangi kami," jelasnya.Mendengar perkataan anak itu membuat kemarahan Elara semakin bergejolak, Elara menatap ke arah Alaric dan Isolde berharap mereka bereaksi mendengar ucapan Jeffrey mengenai Liora orang yang melahirkan bocah kurang ajar itu.Tapi alih-alih mereka memarahi Jeffrey mengenai ucapannya itu, mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka se
Suara musik klasik mengalun indah di sebuah ballroom yang kini dijadikan tempat pesta kaum atas. Pesta topeng yang digelar tiap bulan untuk menambah relasi untuk para pengusaha di seluruh dunia."Sam sialan, seharusnya sekarang aku sedang menghajar para sampah itu. Bukan di sini melihat wajah palsu orang-orang ini." gumam Elara.Saat ia masih berada di makam adiknya, Sam menelepon untuk memberi tahu bahwa pesta kali ini akan diselenggarakan di London. Kebetulan yang sangat memuakkan menurut Elara.Jujur saja, dia tidak suka berada di tempat seperti ini. Hanya saja, ayah angkatnya Damian Cavendish memaksanya untuk hadir. Damian beralasan dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak."Aku yakin tua bangka itu ingin menjualku pada pewaris Blacwood itu, kalau iya akan ku robek jantungnya. Sialan," Elara kembali bergumam kesal menggenggam erat gelas winenya."Selamat malam, Nona Cavendish." Sapa seseorang."Selamat malam, ah anda tuan Robert bukan?" balas Elara dengan senyuman meremehka
"Kau baru saja datang, Elara. Mengapa kau membuat keributan?" Suara berat itu menggema di ruang duka itu.Elara menoleh ke arah suara itu. Di sana sudah berdiri orang tuanya, tunangannya, adik iparnya, dan satu wanita yang memakai baju yang cukup nyentrik untuk sebuah suasana duka. Elara terkekeh pelan."Felix, lihatlah keluarga harmonis itu. Bukankah mereka terlihat sangat manis?" Elara menatap Felix yang masih berlutut.Felix menatap Elara. Tatapan hancur itu— sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Felix berdiri, menatap Elara dan sedikit menggeleng seolah ia mengatakan untuk tidak mengeluarkannya sekarang.Tapi, sebuah perkataan tajam keluar dari seseorang yang membuat emosi Elara terpancing. "Kakak, saat ini adikmu akan dikebumikan. Aku mohon kamu jangan menggila di sini." ucap wanita yang memakai dress merah di samping adik iparnya.Elara menatap tajam wanita itu, "Siapa yang kau panggil kakak, Jalang?"Elara mendekat ke arah wanita itu, dan tatapannya langsung menga
"Kakak, maafkan aku.""Liora, Tidaaakk!!" Elara tersentak dari tidurnya, ia langsung duduk mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya kasar, "Sialan, mimpi ini lagi. Ada apa sebenarnya ini."tok..tok..tok.."Masuk..." titah Elara."Nona, ada berita yang harus saya sampaikan." ucap lelaki yang baru saja masuk ke ruangannya itu."Katakan...""Tapi sebelum itu saya ingin anda untuk bersabar—"Belum sempat Sam melanjutkan ucapannya, Elara memotong dengan perasaan kesal. "Kamu jangan terlalu banyak basa basi, Sam. Atau pisau ini akan langsung menancap di dadamu."Sam menunduk, "Maafkan saya, Nona. Saya menerima kabar bahwa adik anda sudah meninggal dunia, Nona."Bagai di sambar petir. Elara terdiam di atas ranjangnya. Adiknya, adik yang ia sayangi meninggal?"Itu tidak mungkin, pasti itu berita bohong kan, Sam?""Kabar itu sudah dipastikan kebenarannya, Nona. Saya menerima kabar— adik anda meninggal karena bunuh diri." Elara terdiam. Tidak mungkin adiknya mengakhiri hidupnya sendiri. Dia ta







