LOGIN"Tante jahat, jangan menghina ibu Serena."
Elara menatap anak lelaki gempal yang tengah merentangkan tangannya di depan Serena. Hal itu sontak membuat Elara tertawa lebih besar. "Hahahaha, waaahhh ini kejutan yang sangat manis. Kau memanggilnya apa tadi bocah kecil?" tanya Elara. "Apa Tante tuli? Aku memanggilnya Ibu. Dia Ibuku dan aku tidak terima kau menghinanya." teriak anak itu dengan lantang. "Kalau jalang ini ibumu, lalu siapa yang barusan di kubur itu hm?" "Yang di kubur itu bukan ibuku, dialah jalang yang sebenarnya. Dia hanya orang gila penyakitan yang selalu menyusahkan ayahku. Tidak seperti ibu Serena yang selalu menyayangi kami," jelasnya. Mendengar perkataan anak itu membuat kemarahan Elara semakin bergejolak, Elara menatap ke arah Alaric dan Isolde berharap mereka bereaksi mendengar ucapan Jeffrey mengenai Liora orang yang melahirkan bocah kurang ajar itu. Tapi alih-alih mereka memarahi Jeffrey mengenai ucapannya itu, mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka seolah tidak mendengar apa pun. Tapi berbeda dengan wanita ular di depannya. "Jeffrey, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Ibu tahu kamu menyayangi ibu, tapi ibu Liora tetap ibu kandung kamu." ucapnya menangis manja agar mendapat simpati. Sebelum Jeffrey bereaksi, sebuah tendangan kuat sudah mendarat pada perut Serena yang membuatnya tersungkur ke lantai. "Elara, apa yang kau lakukan sialan?" teriak Arlo mendekat kearah Serena. Tapi sekali lagi, belum sempat Arlo mendekat. Elara langsung menyambar rambut panjang Serena dan menyeretnya keluar rumah dan melemparkan tubuh Serena di halaman berbatu. Elara mengingat video rekaman CCTV yang di berikan Sam saat ia menuju rumah tadi, di tambah dengan ucapan kurang ajar anak kesayangan adiknya itu membuat hati Elara semakin perih. Tanpa kata, ia terus menghajar wanita di depannya itu. Memukul, menendang hingga tubuh Serena dipenuhi luka dan lebam sampai tidak sadarkan diri. "Elara cukup sialan!" Teriak Arlo menarik lengan Elara. Elara tersenyum sinis menatap lelaki di hadapannya, "Bukankah seperti ini yang kau lakukan pada adikku sebelum ia mati sialan?" ucap Elara berbisik yang hanya bisa di dengar olehnya dan Arlo saja. Tanpa banyak kata Elara melayangkan pukulan telak ke wajah Arlo, ia terus menghajar Arlo yang mencoba melawan. "Aku tidak lemah seperti adikku, Sialan. Bukankah sudahku peringati di saat kau akan menikahi adikku? Sehelai rambut saja kau sakiti dia, akan ku hancurkan kau. Tapi apa? Bukan hanya sehelai rambut, Tapi kau juga merenggut nyawanya dariku!" Elara semakin brutal memukuli Arlo hingga tak sadarkan diri, sedangkan Alaric dan Isolde hanya bisa berdiri terdiam di depan pintu menyaksikan menantu dan anak angkat mereka dihantam habis-habisan. Mereka tidak berani menghentikan Elara, karena mereka tahu. Selangkah saja mereka membantu Arlo dan Serena, maka mereka akan terkena amukan Elara juga. Sedangkan Jeffrey memeluk Isolde ketakutan. "Jeffrey, kesini nak." panggil Elara yang tangannya sudah memar dan penuh darah yang entah punya siapa. Jeffrey menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada Isolde, "E-Elara sudah lah, Jeffrey masih kecil dia tidak tahu apa-apa." ucap Isolde. "Kesini kau sialan!! Jangan sampai aku mengulang kembali ucapanku, atau akan kulepas tanganmu dari tubuhmu bocah sialan." "Elara cukup! Atau aku akan menelepon polisi untuk memenjarakanmu." ancam Alaric. Tatapan dingin penuh luka itu menatap Alaric tajam, seringai tajam kembali terbit dari bibir Elara. "Silahkan, laporkan aku. Sedikitpun aku tidak takut, tua bangka." Alaric terdiam, bukan sekali ia sudah mencoba melaporkan Elara pada polisi hari ini. Tapi entah kenapa, polisi sedikitpun tidak terlihat untuk menangkap anaknya itu. Elara begerak cepat dan menarik tangan Jeffrey, ia hempaskan tubuh gempal anak itu yang membuat anak itu meringis kesakitan. "Sakit?" Tanya Elara mendekati Jeffrey. "Iblis jahat! Ke neraka saja kau bersama adik sialanmu itu." teriak Jeffrey. "Jeffrey jangan." teriak Isolde. Tapi dengan gerakan cepat Elara kembali menarik kerah baju anak itu, ia menampar kuat wajah Jeffrey tanpa ampun sampai sudut bibir Jeffrey mengeluarkan darah. "Coba kau katakan lagi ucapanmu tadi bocah." Jeffrey menggeleng, "T-tidak, ampun. Maafkan aku tante. Ampun, hiks," ucap anak itu menangis. "Kenapa kau menangis hm? Bukankah sebelumnya kau sangat sombong seperti ayahmu dan jalang yang sedang terkapar itu? Kau pikir aku akan memafkan perkataan setanmu itu seperti adikku? Tapi sayangnya aku tidak sama dengan adikku yang lembut itu, aku tidak akan memberi ampun pada anak kurang ajar sepertimu." Elara kembali menghempaskan Jeffrey. "T-tidak, tante maafkan aku. Ampun tante, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan seperti itu lagi. Ampun tante ampun." ucap Jeffrey yang sudah bersimpuh ketakutan menggosok tangannya. Elara tidak mendengarkan, dan hendak melayangkan satu tendangan pada anak itu. Sampai, "Elara!!" Elara menoleh ke arah suara itu, Felix. Ia berlari mendekati Elara, "Elara, cukup, sudah— tanganmu sudah sangat hancur." ucap Felix meraih tangan Elara. Elara menatap tangannya, dan gaun putih miliknya. Di sana terlihat bercak darah yang membuat Elara tertawa, semakin besar ketawanya air matanya semakin deras membasahi pipi pucatnya. "Felix, kau lihat? Aku menghajar mereka hahahah, pasti Liora sangat puas melihat mereka terkapar tidak berdaya seperti ini hahaha." Felix membawa Elara ke pelukannya. Mendekap erat Elara berharap wanita di dekapannya ini akan tenang. Elara melepas pelukan Felix, "Dan kamu tahu apa yang lucu, Felix? Tua bangka itu berkali-kali melaporkanku pada polisi tapi polisi tidak menggubris hahahahah. Mereka bodohkan, Felix? Iya kan?" Felix mengangguk, "Iya, mereka sangat bodoh Elara. Sekarang, ayo kita pulang. Jangan berlama-lama di tempat tidak berguna ini." Elara mengangguk, "Ayo, hahahha." Felix membawa Elara menuju mobilnya. Sebenarnya Felix sudah berada di sana saat Elara melempar Serena keluar. Dia hanya mengamati Elara dari kejauhan. Tontonan yang menarik menurutnya. Setelah mereka berada di mobil. Elara langsung tertidur. Felix menatap Elara. "Bukankah ini gaun yang digunakan wanita gila di hotel tadi?" gumam Felix. Lalu ia menggelengkan kepalanya, "Mungkin kebetulan saja." Sesampainya di rumah sederhana milik Felix, Felix langsung menggendong bridal style Elara yang tengah terlelap. Sedari dulu, setelah Elara mengeluarkan kekesalannya ia pasti akan langsung kolaps dan tertidur karena kelelahan. "Siapkan pakaian bersih dan suruh beberapa maid untuk ke rumahku, untuk membersihkan tubuh Elara." titah Felix yang menelepon kepala maid. "Baik tuan." Setelah membersihkan tubuh Elara, para maid langsung undur diri dan Felix kembali masuk ke kamarnya sambil membawa kotak P3K. Dengan telaten ia mengobati tangan elara yang sudah sangat lebam karena memukuli Arlo dan Serena. Felix menatap lembut kearah Elara, mengelus pelan pipi wanita itu dengan lembut seolah takut menyakiti wanita didepannya. "Elara, aku tahu kamu sangat kuat. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu menanggung ini semua sendirian. Izinkan aku untuk membantumu, jadikanlah aku untuk menjadi sandaranmu Elara." ucap Felix lirih lalu membiarkan Elara tertidur di kamarnya. Elara yang sedari tadi sudah terbangun membuka matanya, "siapa sebenarnya kamu, Felix? Apa sebenarnya yang terlewat dariku? Kenapa begitu banyak teka teki yang tersembunyi selama ini?" gumam Elara menghela napas lelah.Plak!!"Anak sialan, bisakah kau tidak membuat masalah, hah?" bentak Alaric. "Kau baru masuk sekolah dan kau sudah mematahkan tangan anak orang? Kau mau mempermalukan keluarga Hawthorne hah?"Elara yang sedang berlutut di hadapan Alaric memutar matanya malas, "Sialan itu pantas menerimanya.""Kau masih berani menjawab, hah? Akan ku bunuh kau sialan." Alaric mengambil sebatang kayu dan bersiap untuk menerjang Elara yang masih santai berlutut."Ayah, hentikan!!" teriakan halus menghentikan pergerakan Alaric.Liora berlari mendekati Elara dan membantu Elara untuk berdiri, "Kakak, apa ada yang sakit?"Elara menggeleng sebagai jawabannya, Liora menatap marah ke arah Alaric dan Isolde. "Sampai kapan kalian akan menyiksa kakakku? Dari awal kalian bertemu kakak tidak sekalipun kalian menunjukkan kasih sayang kepadanya, emangnya apa salah kakakku?" tangis Liora pecah.Alaric mendengus kesal, "Untuk apa aku menyayangi anak yang tidak tahu tata krama seperti dia? Yang dia tahu hanya membuat kel
"Tante jahat, jangan menghina ibu Serena."Elara menatap anak lelaki gempal yang tengah merentangkan tangannya di depan Serena. Hal itu sontak membuat Elara tertawa lebih besar."Hahahaha, waaahhh ini kejutan yang sangat manis. Kau memanggilnya apa tadi bocah kecil?" tanya Elara."Apa Tante tuli? Aku memanggilnya Ibu. Dia Ibuku dan aku tidak terima kau menghinanya." teriak anak itu dengan lantang."Kalau jalang ini ibumu, lalu siapa yang barusan di kubur itu hm?""Yang di kubur itu bukan ibuku, dialah jalang yang sebenarnya. Dia hanya orang gila penyakitan yang selalu menyusahkan ayahku. Tidak seperti ibu Serena yang selalu menyayangi kami," jelasnya.Mendengar perkataan anak itu membuat kemarahan Elara semakin bergejolak, Elara menatap ke arah Alaric dan Isolde berharap mereka bereaksi mendengar ucapan Jeffrey mengenai Liora orang yang melahirkan bocah kurang ajar itu.Tapi alih-alih mereka memarahi Jeffrey mengenai ucapannya itu, mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka se
Suara musik klasik mengalun indah di sebuah ballroom yang kini dijadikan tempat pesta kaum atas. Pesta topeng yang digelar tiap bulan untuk menambah relasi untuk para pengusaha di seluruh dunia."Sam sialan, seharusnya sekarang aku sedang menghajar para sampah itu. Bukan di sini melihat wajah palsu orang-orang ini." gumam Elara.Saat ia masih berada di makam adiknya, Sam menelepon untuk memberi tahu bahwa pesta kali ini akan diselenggarakan di London. Kebetulan yang sangat memuakkan menurut Elara.Jujur saja, dia tidak suka berada di tempat seperti ini. Hanya saja, ayah angkatnya Damian Cavendish memaksanya untuk hadir. Damian beralasan dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak."Aku yakin tua bangka itu ingin menjualku pada pewaris Blacwood itu, kalau iya akan ku robek jantungnya. Sialan," Elara kembali bergumam kesal menggenggam erat gelas winenya."Selamat malam, Nona Cavendish." Sapa seseorang."Selamat malam, ah anda tuan Robert bukan?" balas Elara dengan senyuman meremehka
"Kau baru saja datang, Elara. Mengapa kau membuat keributan?" Suara berat itu menggema di ruang duka itu.Elara menoleh ke arah suara itu. Di sana sudah berdiri orang tuanya, tunangannya, adik iparnya, dan satu wanita yang memakai baju yang cukup nyentrik untuk sebuah suasana duka. Elara terkekeh pelan."Felix, lihatlah keluarga harmonis itu. Bukankah mereka terlihat sangat manis?" Elara menatap Felix yang masih berlutut.Felix menatap Elara. Tatapan hancur itu— sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Felix berdiri, menatap Elara dan sedikit menggeleng seolah ia mengatakan untuk tidak mengeluarkannya sekarang.Tapi, sebuah perkataan tajam keluar dari seseorang yang membuat emosi Elara terpancing. "Kakak, saat ini adikmu akan dikebumikan. Aku mohon kamu jangan menggila di sini." ucap wanita yang memakai dress merah di samping adik iparnya.Elara menatap tajam wanita itu, "Siapa yang kau panggil kakak, Jalang?"Elara mendekat ke arah wanita itu, dan tatapannya langsung menga
"Kakak, maafkan aku.""Liora, Tidaaakk!!" Elara tersentak dari tidurnya, ia langsung duduk mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya kasar, "Sialan, mimpi ini lagi. Ada apa sebenarnya ini."tok..tok..tok.."Masuk..." titah Elara."Nona, ada berita yang harus saya sampaikan." ucap lelaki yang baru saja masuk ke ruangannya itu."Katakan...""Tapi sebelum itu saya ingin anda untuk bersabar—"Belum sempat Sam melanjutkan ucapannya, Elara memotong dengan perasaan kesal. "Kamu jangan terlalu banyak basa basi, Sam. Atau pisau ini akan langsung menancap di dadamu."Sam menunduk, "Maafkan saya, Nona. Saya menerima kabar bahwa adik anda sudah meninggal dunia, Nona."Bagai di sambar petir. Elara terdiam di atas ranjangnya. Adiknya, adik yang ia sayangi meninggal?"Itu tidak mungkin, pasti itu berita bohong kan, Sam?""Kabar itu sudah dipastikan kebenarannya, Nona. Saya menerima kabar— adik anda meninggal karena bunuh diri." Elara terdiam. Tidak mungkin adiknya mengakhiri hidupnya sendiri. Dia ta







