LOGINSuara musik klasik mengalun indah di sebuah ballroom yang kini dijadikan tempat pesta kaum atas. Pesta topeng yang digelar tiap bulan untuk menambah relasi untuk para pengusaha di seluruh dunia.
"Sam sialan, seharusnya sekarang aku sedang menghajar para sampah itu. Bukan di sini melihat wajah palsu orang-orang ini." gumam Elara. Saat ia masih berada di makam adiknya, Sam menelepon untuk memberi tahu bahwa pesta kali ini akan diselenggarakan di London. Kebetulan yang sangat memuakkan menurut Elara. Jujur saja, dia tidak suka berada di tempat seperti ini. Hanya saja, ayah angkatnya Damian Cavendish memaksanya untuk hadir. Damian beralasan dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak. "Aku yakin tua bangka itu ingin menjualku pada pewaris Blacwood itu, kalau iya akan ku robek jantungnya. Sialan," Elara kembali bergumam kesal menggenggam erat gelas winenya. "Selamat malam, Nona Cavendish." Sapa seseorang. "Selamat malam, ah anda tuan Robert bukan?" balas Elara dengan senyuman meremehkan di balik topeng full wajahnya. "Benar, Nona. Saya mendengar perusahaan Cavendish semakin berjaya saat anda sudah mengambil alih kursi kepemimpinan." "Haha, bukankah Cavendish Corporation tidak pernah padam tuan Robert? Aku hanya mengasah sedikit agar perusahaan kami semakin cemerlang— bukan seperti perusahaan-perusahaan yang hancur setelah berusaha melengserkan kami." jawab Elara dengan nada angkuhnya. Ucapan Elara berhasil membuat pria bernama Robert itu terdiam, dia tahu bahwa pria di depannya ini adalah dalang utama di balik kerusuhan beberapa waktu lalu di perusahaan Cavendish. "Ah— kalau begitu, selamat menikmati pestanya Nona," setelah mengatakan itu Robert langsung meninggalkan Elara yang masih santai dengan segelas wine di tangannya. Selama ini, tidak ada yang mengetahui wajah Elara selain mereka yang setia padanya. Elara hanya akan menghadiri pesta yang tidak terlalu mengekspos wajahnya. Ya— ini lah ciri khasnya. Dan ini akan menjadi keuntungan terbesar untuk kedepannya nanti. Suara gaduh terdengar, dari balik pintu masuk terlihat sesosok pria tinggi yang masuk dengan angkuhnya. "Lihat, itu tuan Blackwood." bisik orang di sana. "Ternyata dia segagah itu, setelah bertahun-tahun dia mengambil alih kursi kepemimpinan baru kali ini dia tampil di publik." ucap seseorang di sebelah Elara. Elara hanya memandang datar ke arah pria tersebut— entah lah dari postur tubuhnya, dia seperti mengenali pria itu. Tapi tidak mungkin, orang yang ada di bayangannya tidak mungkin menjadi pemimpin perusahaan terbaik nomor 1 di London. Elara melangkah keluar menuju balkon, ia berencana menjauh dari acara dan menenangkan hatinya yang masih sangat bergemuruh. Namun, rencananya hanya tinggal rencana. Di sana berdiri seorang lelaki yang tengah memandang jauh ke depan. "Siapa kamu?" tanya Elara yang memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kamu pelayan di sini, kenapa kamu tidak bekerja?" "Ah, saya hanya ingin beristirahat sejenak Nona. Saya akan bekerja sekarang." ucap pria tersebut. "Sebentar," ucap Elara menghentikan pelayan tersebut. Pelayan itu berhenti dan menunduk di depan Elara, "kamu ingin uang?" "Hah?" pria itu langsung mengangkat wajahnya. "Ikut denganku, dan kamu akan mendapatkan uang yang melebihi gajimu sebagai pelayan." ujar Elara menarik lengan pelayan itu. Elara membawa lelaki itu ke kamar yang disediakan di hotel itu, dan dia mendorong pria itu hingga terbaring di atas ranjang. "Kamu sehatkan? Tidak ada riwayat penyakit apa pun?" tanya Elara. "Saya sehat, Nona— tapi nona mau apa?" "Layani aku," "Hah? N-nona tunggu, saya tidak bisa. Saya memiliki orang yang saya cintai nona." tolak pelayan itu. "Persetan dengan cintamu itu, aku hanya memintamu melayaniku. Bukan menikahiku." Dengan gerakan kasar Elara menarik kedua tangan pelayan itu dan mengikatnya. "N-nona." Elara tidak menggubris pelayan itu, ia melepaskan celana dalamnya dan naik ke tubuh pria itu. Dengan tergesa, Elara mengeluarkan penis yang masih tertidur itu. Tanpa persiapan apapun, Elara langsung memasukkan penis pelayan itu ke dalam vaginanya. "Nona, kamu bahkan tidak memakai pengaman." jerit pelayan itu khawatir. "Shhh, sialan kau berisik sekali! Aku tidak akan hamil brengsek, aku sudah mengangkat rahimku. Jadi tutup mulutmu." kesal Elara. Elara mulai menggerakkan pinggulnya, karena tanpa persiapan darah segar keluar dari vaginanya. Dan sedikitpun tidak ada kenikmatan yang ia rasakan, tanpa peduli dengan rasa sakit itu Elara tetap menggerakkan pinggulnya. Dan terasa penis pria itu sudah bereaksi, "Kau menolak, tapi penismu tidak bisa berbohong." Pelayan itu hanya diam, pikirannya sedari tadi bertanya-tanya mengapa ia merasa mengenali wanita yang tengah bergerak brutal di atasnya ini. Makiannya, suaranya. Sangat mirip dengan wanita yang ia cintai. Semakin lama, Elara semakin bergerak cepat. Dan akhirnya mereka sampai pada puncaknya. Elara mencengkeram kemeja pelayan itu dan yang membuat pelayan itu tertegun, Elara menangis. Tetesan demi tetesan keluar dari celah topeng yang menutupi wajah Elara. "N-nona anda tidak apa-apa?" tanya pelayan itu. Elara langsung turun dari atas tubuh pria itu, dan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu telah terlepas dari ikatannya bahkan dari saat penyatuan mereka tadi. Ia menatap lekat pintu kamar mandi itu. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa tangisanmu membuatku merasa sesak?" gumam pelayan itu. Tak lama Elara keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya mengambil lembaran dolar dan meletakkannya di atas nakas. "Ini bayaranmu, jangan pernah mengingat malam ini. Dan urusan kita telah selesai." ucap Elara meninggalkan kamar itu. Saat pria itu ingin mengejar Elara, ia terhenti karena ponselnya berdering. "Ada apa, Vin?" "Yo, bro. Sampai kapan aku harus menggantikanmu di pesta ini? Aku sangat lelah dengan orang-orang yang menganggapku itu kamu." kesal Vincent di seberang sana. "Bertahanlah, Vin. Kapan lagi kau menjadi pusat perhatian sebagai pemimpin Blackwood? Hahaha." "Demi tuhan— lebih baik aku berada di kamarku dan mengundang wanita-wanita cantik untuk melayaniku daripada menggantikanmu Felix." protes Vin. Felix Aidan Blackwood, itulah nama lengkapnya. Pemimpin dari Blackwood Group sekaligus sahabat terdekat Elara. Tapi, mereka masing-masing bahkan tidak mengetahui identitas mereka yang sebenarnya. "Sudah lah, aku mau pulang dulu. Selamat menikmati pestanya Vincent sayangku." Felix langsung mematikan sambungan sebelum terkena omelan Vincent. Elara sudah kembali ke kediaman keluarga Hawthorne, saat ia masuk ia melihat pemandangan yang membuatnya muak. Di sana ada kedua orang tuanya dan para sampah-sampah lainnya tengah tertawa bahagia bercanda gurau. Mengetahui Elara yang sudah kembali, mereka terdiam dan menatap kesal ke arah Elara. Kecuali satu orang. "Ah, kakak. Kakak sudah pulang?" ucap Serena yang akan mendekati Elara. "Mendekat selangkah saja, akan ku patahkan kakimu itu, Jalang." ancam Elara. "Elara!Dia memiliki nama, namanya Serena kenapa kau terus menyebutnya jalang hah?" kesal Alaric. Elara memutar malas matanya, "Lalu? Apa urusannya denganku? Bukankah dia memang seorang jalang yang mengambil suami dan membunuh adikku? Lalu sebutan apa yang bagus untuknya selain jalang?" "Jaga ucapanmu itu, Elara. Aku dan Serena hanya teman kecil, apa salahnya kalau dia ada bersamaku?" dalih Arlo. "Teman masa kecil? Ah— teman masa kecil itu ternyata bisa seranjang dengan teman lelakinya yang sudah menikah ternyata." sindir Elara. "Cukup omong kosongmu itu, Elara. Kau jangan terus memfitnah putriku seperti itu." ujar Isolde yang memeluk serena yang sudah menangis. "Wooowww, putri? Sejak kapan dia menjadi anakmu?" "Kami sudah mengangkatnya menjadi putri kami, dan tidak ada bantahan." ucap Alaric. "Hahahaha, ya ya, aku tidak akan mempermasalahkan itu. Karena sampah memang pantas bergabung di satu tempat sampah, hahahaha." gelak Elara. "Tante jangan menghina ibu Serena."Plak!!"Anak sialan, bisakah kau tidak membuat masalah, hah?" bentak Alaric. "Kau baru masuk sekolah dan kau sudah mematahkan tangan anak orang? Kau mau mempermalukan keluarga Hawthorne hah?"Elara yang sedang berlutut di hadapan Alaric memutar matanya malas, "Sialan itu pantas menerimanya.""Kau masih berani menjawab, hah? Akan ku bunuh kau sialan." Alaric mengambil sebatang kayu dan bersiap untuk menerjang Elara yang masih santai berlutut."Ayah, hentikan!!" teriakan halus menghentikan pergerakan Alaric.Liora berlari mendekati Elara dan membantu Elara untuk berdiri, "Kakak, apa ada yang sakit?"Elara menggeleng sebagai jawabannya, Liora menatap marah ke arah Alaric dan Isolde. "Sampai kapan kalian akan menyiksa kakakku? Dari awal kalian bertemu kakak tidak sekalipun kalian menunjukkan kasih sayang kepadanya, emangnya apa salah kakakku?" tangis Liora pecah.Alaric mendengus kesal, "Untuk apa aku menyayangi anak yang tidak tahu tata krama seperti dia? Yang dia tahu hanya membuat kel
"Tante jahat, jangan menghina ibu Serena."Elara menatap anak lelaki gempal yang tengah merentangkan tangannya di depan Serena. Hal itu sontak membuat Elara tertawa lebih besar."Hahahaha, waaahhh ini kejutan yang sangat manis. Kau memanggilnya apa tadi bocah kecil?" tanya Elara."Apa Tante tuli? Aku memanggilnya Ibu. Dia Ibuku dan aku tidak terima kau menghinanya." teriak anak itu dengan lantang."Kalau jalang ini ibumu, lalu siapa yang barusan di kubur itu hm?""Yang di kubur itu bukan ibuku, dialah jalang yang sebenarnya. Dia hanya orang gila penyakitan yang selalu menyusahkan ayahku. Tidak seperti ibu Serena yang selalu menyayangi kami," jelasnya.Mendengar perkataan anak itu membuat kemarahan Elara semakin bergejolak, Elara menatap ke arah Alaric dan Isolde berharap mereka bereaksi mendengar ucapan Jeffrey mengenai Liora orang yang melahirkan bocah kurang ajar itu.Tapi alih-alih mereka memarahi Jeffrey mengenai ucapannya itu, mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka se
Suara musik klasik mengalun indah di sebuah ballroom yang kini dijadikan tempat pesta kaum atas. Pesta topeng yang digelar tiap bulan untuk menambah relasi untuk para pengusaha di seluruh dunia."Sam sialan, seharusnya sekarang aku sedang menghajar para sampah itu. Bukan di sini melihat wajah palsu orang-orang ini." gumam Elara.Saat ia masih berada di makam adiknya, Sam menelepon untuk memberi tahu bahwa pesta kali ini akan diselenggarakan di London. Kebetulan yang sangat memuakkan menurut Elara.Jujur saja, dia tidak suka berada di tempat seperti ini. Hanya saja, ayah angkatnya Damian Cavendish memaksanya untuk hadir. Damian beralasan dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak."Aku yakin tua bangka itu ingin menjualku pada pewaris Blacwood itu, kalau iya akan ku robek jantungnya. Sialan," Elara kembali bergumam kesal menggenggam erat gelas winenya."Selamat malam, Nona Cavendish." Sapa seseorang."Selamat malam, ah anda tuan Robert bukan?" balas Elara dengan senyuman meremehka
"Kau baru saja datang, Elara. Mengapa kau membuat keributan?" Suara berat itu menggema di ruang duka itu.Elara menoleh ke arah suara itu. Di sana sudah berdiri orang tuanya, tunangannya, adik iparnya, dan satu wanita yang memakai baju yang cukup nyentrik untuk sebuah suasana duka. Elara terkekeh pelan."Felix, lihatlah keluarga harmonis itu. Bukankah mereka terlihat sangat manis?" Elara menatap Felix yang masih berlutut.Felix menatap Elara. Tatapan hancur itu— sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Felix berdiri, menatap Elara dan sedikit menggeleng seolah ia mengatakan untuk tidak mengeluarkannya sekarang.Tapi, sebuah perkataan tajam keluar dari seseorang yang membuat emosi Elara terpancing. "Kakak, saat ini adikmu akan dikebumikan. Aku mohon kamu jangan menggila di sini." ucap wanita yang memakai dress merah di samping adik iparnya.Elara menatap tajam wanita itu, "Siapa yang kau panggil kakak, Jalang?"Elara mendekat ke arah wanita itu, dan tatapannya langsung menga
"Kakak, maafkan aku.""Liora, Tidaaakk!!" Elara tersentak dari tidurnya, ia langsung duduk mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya kasar, "Sialan, mimpi ini lagi. Ada apa sebenarnya ini."tok..tok..tok.."Masuk..." titah Elara."Nona, ada berita yang harus saya sampaikan." ucap lelaki yang baru saja masuk ke ruangannya itu."Katakan...""Tapi sebelum itu saya ingin anda untuk bersabar—"Belum sempat Sam melanjutkan ucapannya, Elara memotong dengan perasaan kesal. "Kamu jangan terlalu banyak basa basi, Sam. Atau pisau ini akan langsung menancap di dadamu."Sam menunduk, "Maafkan saya, Nona. Saya menerima kabar bahwa adik anda sudah meninggal dunia, Nona."Bagai di sambar petir. Elara terdiam di atas ranjangnya. Adiknya, adik yang ia sayangi meninggal?"Itu tidak mungkin, pasti itu berita bohong kan, Sam?""Kabar itu sudah dipastikan kebenarannya, Nona. Saya menerima kabar— adik anda meninggal karena bunuh diri." Elara terdiam. Tidak mungkin adiknya mengakhiri hidupnya sendiri. Dia ta







