Share

Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO
Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO
Author: ShaLee

Bab 1

Author: ShaLee
last update publish date: 2026-10-01 17:28:16

"Kakak, maafkan aku."

"Liora, Tidaaakk!!"

Elara tersentak dari tidurnya, ia langsung duduk mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya kasar, "Sialan, mimpi ini lagi. Ada apa sebenarnya ini."

tok..tok..tok..

"Masuk..." titah Elara.

"Nona, ada berita yang harus saya sampaikan." ucap lelaki yang baru saja masuk ke ruangannya itu.

"Katakan..."

"Tapi sebelum itu saya ingin anda untuk bersabar—"

Belum sempat Sam melanjutkan ucapannya, Elara memotong dengan perasaan kesal. "Kamu jangan terlalu banyak basa basi, Sam. Atau pisau ini akan langsung menancap di dadamu."

Sam menunduk, "Maafkan saya, Nona. Saya menerima kabar bahwa adik anda sudah meninggal dunia, Nona."

Bagai di sambar petir. Elara terdiam di atas ranjangnya. Adiknya, adik yang ia sayangi meninggal?

"Itu tidak mungkin, pasti itu berita bohong kan, Sam?"

"Kabar itu sudah dipastikan kebenarannya, Nona. Saya menerima kabar— adik anda meninggal karena bunuh diri."

Elara terdiam. Tidak mungkin adiknya mengakhiri hidupnya sendiri. Dia tahu, sangat tahu begitu banyak impian yang ingin adiknya itu capai.

"Lalu... di mana jasadnya sekarang?" tanya Elara.

"Jasad Nona Liora berada di kediaman keluarga Hawthorne, Nona. Dan adik anda akan dikebumikan besok sore." jelas Sam.

Elara menatap jam, pukul satu dini hari. "Siapkan pesawat, aku ingin pagi ini aku sudah sampai di London."

"Baik, Nona. Sebelum itu, menurut kabar dari mata-mata yang ada di sana. Ada beberapa kejanggalan dalam kasus kematian Nona Liora." Sam memberikan sebuah map pada Elara.

Elara menerima map itu, "Aku tahu, dan aku sangat paham. Siapkan saja pesawatnya sekarang juga."

Sam mengangguk dan pergi meninggalkan Elara. "Ternyata ini maksud mimpi itu, kenapa kamu meninggalkan aku Liora?" ujar Elara sendu.

Dengan gerakan kasar, Elara menghapus air matanya. "Tidak, ini bukan saatnya untuk aku bersedih. Akanku pastikan siapapun yang terlibat dalam pembunuhan adikku akan menerima hukuman yang lebih pedih."

Elara Ivy Hawthorne. Ah— entahlah apakah dia masih harus memakai marga keluarga yang sudah membuangnya. Setelah sekian lama ia tidak pernah berniat untuk kembali ke kota London, dengan kabar kematian adiknya ia harus kembali ke tempat itu. Ia ingin tahu, siapa saja yang terlibat dalam kematian adiknya.

Ia bertekad, ia akan menghancurkan semua orang yang membuat adik tercintanya menderita hingga akhir hayatnya.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Elara kini sudah sampai ke kota kelahirannya— London. Ia berjalan sambil menyeret kopernya meninggalkan bandara. Sesampainya ia di pintu keluar. Ia langsung disambut dengan senyuman lelaki tampan yang sedang berdiri bersandar pada mobilnya.

"Selamat datang kembali, Nona." sambut lelaki itu merentangkan tangannya.

"Tidak perlu terlalu dramatis, Alisteir." Elara menatap datar lelaki di hadapannya.

"Ah— masih sangat dingin seperti dulu. Baiklah, kita langsung ke kediaman keluarga Hawthorne, Elara?" tanya Alisteir.

Elara hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Alisteir yang langsung menyusul duduk di samping Elara.

"Sudah 10 tahun, Elara. Dan kamu kembali saat adikmu sudah tiada." ucap Alisteir.

Elara diam sejenak, "Dan selama 10 tahun aku berjuang agar bisa membebaskan adikku dari jerat iblis itu, Alisteir. Tapi takdir sungguh mempermainkanku bukan?" tanya Elara.

Tanpa aba-aba, Alisteir menarik Elara ke dalam pelukannya. "Menangislah, hanya ada kita di sini. Kamu tidak harus selalu kuat, Elara."

Elara melepas pelukan Alisteir, "Ini bukan saatnya untuk aku menangis, Alisteir."

Alisteir hanya mengangguk menerima penolakan dari tunangannya itu. Cukup lama keheningan terasa di dalam mobil. Sampai sebuah dering hp memecah keheningan itu. Elara lihat hpnya. Di sana tertera nama Sam dan ia langsung menerima panggilan itu.

"Ada apa, Sam?"

"Nona, saya memiliki satu berita yang sangat tidak terduga. Orang yang sedang bersama anda— dia salah satu pelaku utama dalam kematian Nona Liora." ucap Sam dengan suara bergetar.

Elara terdiam sejenak. "Baiklah, aku tutup dulu."

Kembali, Elara kembali terdiam setelah menerima panggilan dari Sam. Ia mati-matian menahan agar tidak menyerang Alisteir saat ini juga.

Dua jam berlalu. Dan kini Elara sudah berada di depan rumah besar keluarga Hawthorne. Ia menatap rumah itu, dan melihat ke sekelilingnya sudah banyak karangan bunga dan orang-orang datang untuk mengantar kepergian adiknya.

Alisteir turun lebih dahulu dan membukakan pintu untuk Elara. Ia mengulurkan tangannya berniat untuk menggandeng tangan Elara, tapi dengan gerakan cepat, Elara menepis tangan Alisteir dan berjalan meninggalkan Alisteir yang berdiri mematung menatap punggung Elara.

"Kenapa lagi dengan wanita tidak waras itu?" gumamnya.

Elara memasuki rumah megah itu. Di depan sana, sebuah peti putih dengan bunga dan foto adiknya terlihat. Elara berjalan angkuh mengabaikan tatapan orang-orang yang tidak mengenali siapa dia. Dan bisikan-bisikan yang datang dari orang-orang yang percaya tentang keburukannya.

Sesampainya di depan peti itu, Elara melihat wajah pucat adiknya yang sudah tidak mungkin lagi untuk dia jumpai kedepannya. Air mata mengalir di pipinya yang pucat, ingatannya berjalan di saat pertama kali ia bertemu dengan adiknya.

"Adikku, Lioraku, Sayangku." panggilnya menangis terisak di samping peti sang adik.

"Kenapa harus begini, Sayang? Kenapa kamu pergi meninggalkanku?" isaknya.

Elara sangat larut dalam dukanya. Seorang pria yang telah memperhatikannya sedari tadi di sudut ruangan perlahan berjalan mendekati Elara.

"Elara," panggilnya.

Elara mengangkat wajahnya, ia berdiri dan menatap pria yang kini berada di hadapannya.

Plaakkk..

Sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu. Orang-orang yang hadir terkejut dan membisu melihat kejadian itu.

"Astaga, berani sekali wanita itu menampar Tuan Felix. Apa dia tidak tahu siapa yang ia tampar itu?" gumam seorang tamu di sana.

Begitu banyak bisikan-bisikan yang penuh cacian karena kejadian itu pada Elara. Tapi mereka kembali dibuat terdiam saat pria yang bernama Felix itu berlutut penuh penyesalan di hadapan wanita yang baru saja menamparnya itu.

"Maafkan aku, Elara. Maafkan aku.."

Elara terduduk di hadapan Felix, "Sialan kau, Felix. Aku percayakan adikku padamu tapi kenapa sekarang ia terbujur kaku di sini? Kenapa?" teriak Elara.

Felix tetap menunduk dengan isakan yang semakin sendu. Mulutnya seolah terkunci tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menerima semua cacian dan pukulan yang Elara layangkan untuknya.

"Kau bilang, kau sangat mencintai adikku. Tapi kenapa kau membiarkan adikku di sakiti, Felix?" Elara menenggelamkan wajahnya ke bahu Felix yang langsung di rengkuh ke dalam pelukannya.

"Sungguh aku minta maaf padamu, Elara. Maafkan aku karena membiarkan Liora sendirian saat ia sedang berjuang untuk melawan penyakitnya— seharusnya aku tidak meninggalkan dia. Maafkan aku, maaf."

Elara melepas pelukan Felix. Ia menatap Felix penuh tanda tanya, "Penyakit? Penyakit apa yang kau maksud, Felix?"

Belum sempat Felix mengatakan jawaban yang ingin Elara dengar. Sebuah suara berat lelaki tua menghampiri pendengaran mereka, dan suara itu— suara yang paling Elara benci.

"Kau baru saja sampai, Elara. Mengapa kau membuat keributan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 5

    Plak!!"Anak sialan, bisakah kau tidak membuat masalah, hah?" bentak Alaric. "Kau baru masuk sekolah dan kau sudah mematahkan tangan anak orang? Kau mau mempermalukan keluarga Hawthorne hah?"Elara yang sedang berlutut di hadapan Alaric memutar matanya malas, "Sialan itu pantas menerimanya.""Kau masih berani menjawab, hah? Akan ku bunuh kau sialan." Alaric mengambil sebatang kayu dan bersiap untuk menerjang Elara yang masih santai berlutut."Ayah, hentikan!!" teriakan halus menghentikan pergerakan Alaric.Liora berlari mendekati Elara dan membantu Elara untuk berdiri, "Kakak, apa ada yang sakit?"Elara menggeleng sebagai jawabannya, Liora menatap marah ke arah Alaric dan Isolde. "Sampai kapan kalian akan menyiksa kakakku? Dari awal kalian bertemu kakak tidak sekalipun kalian menunjukkan kasih sayang kepadanya, emangnya apa salah kakakku?" tangis Liora pecah.Alaric mendengus kesal, "Untuk apa aku menyayangi anak yang tidak tahu tata krama seperti dia? Yang dia tahu hanya membuat kel

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 4

    "Tante jahat, jangan menghina ibu Serena."Elara menatap anak lelaki gempal yang tengah merentangkan tangannya di depan Serena. Hal itu sontak membuat Elara tertawa lebih besar."Hahahaha, waaahhh ini kejutan yang sangat manis. Kau memanggilnya apa tadi bocah kecil?" tanya Elara."Apa Tante tuli? Aku memanggilnya Ibu. Dia Ibuku dan aku tidak terima kau menghinanya." teriak anak itu dengan lantang."Kalau jalang ini ibumu, lalu siapa yang barusan di kubur itu hm?""Yang di kubur itu bukan ibuku, dialah jalang yang sebenarnya. Dia hanya orang gila penyakitan yang selalu menyusahkan ayahku. Tidak seperti ibu Serena yang selalu menyayangi kami," jelasnya.Mendengar perkataan anak itu membuat kemarahan Elara semakin bergejolak, Elara menatap ke arah Alaric dan Isolde berharap mereka bereaksi mendengar ucapan Jeffrey mengenai Liora orang yang melahirkan bocah kurang ajar itu.Tapi alih-alih mereka memarahi Jeffrey mengenai ucapannya itu, mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka se

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 3

    Suara musik klasik mengalun indah di sebuah ballroom yang kini dijadikan tempat pesta kaum atas. Pesta topeng yang digelar tiap bulan untuk menambah relasi untuk para pengusaha di seluruh dunia."Sam sialan, seharusnya sekarang aku sedang menghajar para sampah itu. Bukan di sini melihat wajah palsu orang-orang ini." gumam Elara.Saat ia masih berada di makam adiknya, Sam menelepon untuk memberi tahu bahwa pesta kali ini akan diselenggarakan di London. Kebetulan yang sangat memuakkan menurut Elara.Jujur saja, dia tidak suka berada di tempat seperti ini. Hanya saja, ayah angkatnya Damian Cavendish memaksanya untuk hadir. Damian beralasan dia tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak."Aku yakin tua bangka itu ingin menjualku pada pewaris Blacwood itu, kalau iya akan ku robek jantungnya. Sialan," Elara kembali bergumam kesal menggenggam erat gelas winenya."Selamat malam, Nona Cavendish." Sapa seseorang."Selamat malam, ah anda tuan Robert bukan?" balas Elara dengan senyuman meremehka

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 2

    "Kau baru saja datang, Elara. Mengapa kau membuat keributan?" Suara berat itu menggema di ruang duka itu.Elara menoleh ke arah suara itu. Di sana sudah berdiri orang tuanya, tunangannya, adik iparnya, dan satu wanita yang memakai baju yang cukup nyentrik untuk sebuah suasana duka. Elara terkekeh pelan."Felix, lihatlah keluarga harmonis itu. Bukankah mereka terlihat sangat manis?" Elara menatap Felix yang masih berlutut.Felix menatap Elara. Tatapan hancur itu— sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Felix berdiri, menatap Elara dan sedikit menggeleng seolah ia mengatakan untuk tidak mengeluarkannya sekarang.Tapi, sebuah perkataan tajam keluar dari seseorang yang membuat emosi Elara terpancing. "Kakak, saat ini adikmu akan dikebumikan. Aku mohon kamu jangan menggila di sini." ucap wanita yang memakai dress merah di samping adik iparnya.Elara menatap tajam wanita itu, "Siapa yang kau panggil kakak, Jalang?"Elara mendekat ke arah wanita itu, dan tatapannya langsung menga

  • Dalam Dekapan Musuh: Sangkar Berdarah Sang CEO   Bab 1

    "Kakak, maafkan aku.""Liora, Tidaaakk!!" Elara tersentak dari tidurnya, ia langsung duduk mengatur nafasnya dan mengusap wajahnya kasar, "Sialan, mimpi ini lagi. Ada apa sebenarnya ini."tok..tok..tok.."Masuk..." titah Elara."Nona, ada berita yang harus saya sampaikan." ucap lelaki yang baru saja masuk ke ruangannya itu."Katakan...""Tapi sebelum itu saya ingin anda untuk bersabar—"Belum sempat Sam melanjutkan ucapannya, Elara memotong dengan perasaan kesal. "Kamu jangan terlalu banyak basa basi, Sam. Atau pisau ini akan langsung menancap di dadamu."Sam menunduk, "Maafkan saya, Nona. Saya menerima kabar bahwa adik anda sudah meninggal dunia, Nona."Bagai di sambar petir. Elara terdiam di atas ranjangnya. Adiknya, adik yang ia sayangi meninggal?"Itu tidak mungkin, pasti itu berita bohong kan, Sam?""Kabar itu sudah dipastikan kebenarannya, Nona. Saya menerima kabar— adik anda meninggal karena bunuh diri." Elara terdiam. Tidak mungkin adiknya mengakhiri hidupnya sendiri. Dia ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status