Partager

Bab 2: Tugas Pertama

last update Date de publication: 2026-03-26 17:16:48

“Kemari,” panggil Arthur lagi.

Pria itu kini duduk di tepi meja mahoninya yang besar. Satu kakinya yang panjang berpijak di lantai, sementara yang lain menggantung santai, memberikan kesan dominan yang tak terbantahkan.

Kemeja putihnya yang terbuka di bagian kerah memperlihatkan pangkal leher yang kokoh dan berurat, menunjukkan kekuatan fisik yang tersembunyi di balik pakaian bangsawannya.

Helena melangkah maju dengan ragu. Setiap ketukan sepatunya di atas karpet tebal terasa seperti detak jantungnya yang berpacu. Ia berhenti tepat ketika jarak mereka hanya tersisa dua langkah.

Dari posisi ini, Helena harus mendongak untuk menatap wajah sang Duke. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Arthur mengetat, menciptakan garis keras yang menunjukkan pengendalian diri yang sedang diuji habis-habisan.

“Apa ini kali pertamamu bekerja?” tanya Arthur memulai interviu pada gadis berusia dua puluh satu tahun itu.

Matanya menyipit, tengah memindai Helena seolah sedang memeriksa dokumen negara yang sangat rahasia.

“Saya … pernah bekerja di kedai perbatasan sebagai penghibur di sana, Tuan,” ucap Helena dengan nada yang goyah.

Dia lalu meremas jemarinya di balik kain gaunnya, merasa cemas jika pekerjaan lamanya sebagai penjaja makanan dan minuman di kedai yang tak memiliki batasan moral itu akan membuatnya diusir seketika.

“Artinya, kau sudah terbiasa menghadapi pria-pria kasar yang mabuk dan haus, bukan?” tanyanya memancing, seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan keberanian Helena.

“Tidak, Tuan. Saya hanya menyajikan minuman dan bernyanyi. Saya tidak pernah menyerahkan diri saya pada mereka,” jawab Helena cepat, lalu menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.

“Begitukah?”

Arthur tiba-tiba berdiri. Gerakannya yang mendadak membuat Helena refleks mundur selangkah hingga punggungnya membentur rak buku tinggi di belakangnya.

Kayu ek yang dingin menyentuh kulit punggungnya, namun panas yang terpancar dari tubuh Arthur jauh lebih mengintimidasi.

“Lalu kenapa kau memakai gaun yang seolah-olah berteriak minta dilepaskan ini? Kau tahu persis apa yang dilakukan pria saat melihat lekuk tubuh yang sengaja ditonjolkan seperti ini, Helena.”

Arthur mengulurkan kedua tangannya, lalu menumpukannya pada rak buku di sisi kepala Helena, dan mengurung gadis itu dalam dekapan tak kasat mata.

Helena bisa merasakan napas hangat Arthur menerpa keningnya, membawa aroma tembakau mahal dan maskulinitas yang pekat.

Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang liar. Ia yakin Arthur bisa mendengar detak itu di tengah kesunyian ruangan yang menyesakkan.

Ketegangan di antara mereka terasa begitu pekat, hampir bisa dirasakan secara fisik seperti sengatan listrik yang menjalar di udara.

“S-saya tidak punya pilihan, Tuan Duke,” bisik Helena parau. Suaranya nyaris hilang. “Ini pakaian terbaik yang saya miliki. Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menggoda.”

“Bekerja?” Arthur memiringkan kepalanya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Helena hingga helai rambut gadis itu bergerak tertiup napasnya.

“Istriku, Selene, dia mengirimmu karena dia pikir aku adalah mesin yang tidak punya gairah. Dia pikir dengan memberiku pelayan yang cantik, aku akan berhenti mengganggunya dengan tuntutanku sebagai suami.”

Helena memejamkan mata erat-rapat. Ia merasa terjebak dalam pusaran konflik rumah tangga bangsawan yang tidak seharusnya ia masuki.

Namun, ketika jemari kasar Arthur menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya agar mereka saling berhadapan, Helena tak punya pilihan selain membuka mata.

“Apakah Anda membenci Duchess Selene?” tanya Helena dengan keberanian yang muncul entah dari mana.

“Aku tidak membencinya. Aku hanya sedang lapar,” desis Arthur. Matanya lalu jatuh ke bibir merah muda Helena yang sedikit terbuka, dan membasah karena kegugupan itu.

“Dan kau, dengan segala kepolosan palsumu ini, adalah hidangan yang sangat menggoda untuk dilewatkan.”

Tangan Arthur turun ke leher Helena. Ibu jarinya mengusap lembut nadi yang berdenyut cepat di sana, seolah sedang menghitung detak kehidupan gadis itu. Helena merinding hebat.

Sentuhan itu tidak kasar, namun penuh dengan otoritas kepemilikan yang absolut. Secara logika, Helena tahu ia harus mendorong pria ini dan lari keluar pintu untuk menyelamatkan kehormatannya.

Namun, ada sesuatu dalam tatapan kesepian Arthur yang justru menariknya lebih dalam.

Di balik arogansi dan kekuasaan itu, Helena melihat seorang pria yang memiliki segalanya namun sebenarnya tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi kehangatan.

“Tugas pertamamu,” ucap Arthur, suaranya kini terdengar lebih memerintah namun serak oleh hasrat. “Buka kancing kemejaku. Aku ingin mandi, dan tanganku terlalu lelah untuk mengurus hal-hal kecil.”

Helena tertegun, lalu matanya membelalak tak percaya. “Tu-Tuan, saya—”

“Lakukan, Helena. Atau kau ingin aku membuktikan kata-kataku tentang mengusirmu sekarang juga?” ancam Arthur dan tidak memberikan ruang bagi Helena untuk bernegosiasi.

Tak punya pilihan selain menuruti perintah sang penguasa, Helena mengangkat jemarinya dengan tangan yang gemetar hebat.

Ia menyentuh kancing pertama kemeja sutra putih milik Arthur. Kulit jemarinya yang dingin bersentuhan dengan dada hangat Arthur yang keras dan berotot di balik kain tipis itu.

Sensasi panas menjalar dari ujung jari Helena, merambat naik ke lengannya dan meledak di seluruh tubuhnya. Setiap kali satu kancing terlepas, kulit kecokelatan Arthur yang ditumbuhi rambut-rambut halus tipis semakin terekspos ke udara dingin ruangan.

Napas Helena semakin pendek, paru-parunya seolah kehabisan oksigen setiap kali ia melihat lebih banyak bagian tubuh pria itu.

Arthur tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya memperhatikan wajah Helena yang kini semerah mawar dengan konsentrasi penuh. Pria itu tampak menikmati ketakutan sekaligus ketertarikan yang terpancar dari manik mata gadis di depannya.

“Kau sangat lambat,” gumam Arthur, kemudian meraih tangan Helena, dan membimbing jemari kecil gadis itu untuk merasakan detak jantungnya sendiri yang kini berdegup sama kencangnya dengan jantung Helena.

Tanpa peringatan, Arthur menarik pinggang Helena dan merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah tersisa. Helena tersentak saat merasakan kekuatan otot paha Arthur yang menekan miliknya di balik gaun tipis itu.

Sensasi itu begitu asing, namun meledakkan semacam kembang api yang membutakan di dalam kepalanya. Helena merasa pening; kakinya terasa lemas seolah seluruh tulang-tulangnya telah mencair.

Pandangan mereka terkunci. Ruangan itu seakan menghilang, menyisakan mereka berdua dalam kungkungan gairah yang berbahaya. Helena bisa merasakan setiap embusan napas Arthur yang memburu di bibirnya.

“Siapkan air mandiku,” perintah Arthur tiba-tiba, lalu melepaskan Helena dengan sentakan kecil yang membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Arthur kemudian berbalik, dan menyisakan Helena yang masih terengah-engah berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang berantakan.

“Dan jangan coba-coba melarikan diri dari kamar ini sebelum aku mengizinkanmu keluar. Kau mengerti?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
wieanton
alon alon ntar kejadian yg lbh dr sekedar bantuin buka baju gosokin badan duke lho
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 209: Akhir Cerita Kita

    Fajar berikutnya menyingsing dengan warna keemasan yang paling megah di atas langit wilayah barat. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar kamar tidur utama, menyiram ranjang sutra tempat Helena bersandar dengan kehangatan yang murni.Di dalam dekapannya, sang bayi mungil telah terlelap dengan tenang setelah tangisan pertamanya yang memecah malam.Arthur duduk di tepi ranjang, mengenakan kemeja linen longgar tanpa lencana militer yang kaku. Tatapan mata kelabunya tidak lagi memancarkan kegilaan otoritas perang, melainkan kedamaian sejati yang begitu penuh. Tangannya yang besar bergerak perlahan, mengelus jemari mungil anaknya yang menggenggam erat ujung kain selimut."Kael Alexander Grosvenor," bisik Arthur rendah. "Itu adalah nama yang kuat untuk seorang penerus tanah barat. Kael, sang pejuang yang murni, dan Alexander, sang pelindung umat manusia."Helena menyunggingkan senyuman manisnya yang teramat tulus, mengecup puncak kepala bayinya yang mulai ditumbuhi rambut hitam hal

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 208: Kelahiran sang Buah Hati

    Malam pun jatuh dengan keheningan yang teramat mencekam di atas langit wilayah barat, bintang-bintang bertaburan dengan sangat indah tanpa terhalang awan sedikit pun.Tepat pada jam dua dini hari, sebuah erangan keras dan sarat akan rasa sakit yang nyata memecah kesunyian kamar tidur utama Kastil Grosvenor. Helena terbangun dengan sentakan hebat, cairan ketuban yang hangat seketika pecah membasahi permukaan ranjang sutra hitam mereka."Arthur... ahh! Sakit... ini waktunya! Bayinya... bayinya akan keluar!" jerit Helena dengan tangan yang mencengkeram erat lengan baju seragam Arthur hingga kainnya robek beberapa inci.Arthur seketika melompat dari tempat tidur dengan aksi taktis yang teramat cepat laksana kilat badai, deg-degan di dadanya bergemuruh hebat namun fokus kepemimpinannya tetap terjaga kokoh di tempatnya.Dia membuka pintu kamar dengan bantingan keras, berteriak lantang memecah keheningan koridor sepi untuk memanggil seluruh tim bidan dan pengawal yang telah bersiap selama be

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 207: Menghitung Hari Menuju Altar Kehidupan

    Bulan demi bulan berlalu dengan kesibukan domestik yang kian masif di dalam Kastil Grosvenor. Usia kandungan Helena kini telah menginjak angka sembilan bulan penuh, perutnya sudah tampak sangat besar dan bulat sempurna, menandakan waktu kelahiran sang pewaris takhta sudah berada di ambang pintu fajar.Seluruh aktivitas klinik kota bawah terpaksa dihentikan total oleh Arthur; dia memindahkan seluruh peralatan medis terbaik dan tiga bidan senior paling berpengalaman di kerajaan untuk tinggal menetap di paviliun sayap timur kastil.Bella memimpin barisan pelayan baru dengan kesibukan yang teramat luar biasa setiap harinya, menyiapkan kain-kain linen bersih, air hangat, dan pakaian bayi berbahan sutra lembut yang disulam khusus dengan lambang singa emas Grosvenor."Pastikan semua lampu minyak di koridor sayap barat tetap menyala sepanjang malam!" perintah Bella dengan berkacak pinggang di depan para pelayan di selasar tengah."Kita tidak boleh membiarkan ada satu pun jalur yang gelap jika

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 206: Kabar yang Mengejutkan

    Dua bulan telah berlalu sejak badai pemberontakan di perbatasan utara berhasil dipadamkan dengan tangan besi. Kastil Grosvenor kini dilingkupi oleh kedamaian industri yang stabil, namun pagi itu, sebuah riak domestik yang jauh lebih dahsyat mengguncang ketenangan sang Duke.Di dalam kamar tidur utama yang masih remang-remang, Helena terbangun dengan rasa mual yang teramat hebat menekan dadanya. Dia bergegas bangkit dari ranjang sutra, berlari kecil menuju wastafel porselen di sudut kamar untuk memuntahkan cairan bening dari perutnya yang mendadak bergolak.Arthur seketika terjaga dari tidurnya dengan aksi taktis yang sigap. Dia melompat dari tempat tidur, menghampiri istrinya dengan raut wajah penuh kepanikan, lalu menangkup bahu mungil Helena sembari memijat tengkuk lehernya yang sensitif dengan sisa-sisa kelembutan malam mereka."Helena, ada apa? Apakah kau keracunan obat dari klinik?" tanya Arthur, suaranya bariton rendah penuh kecemasan protektif saat menyeka sudut bibir istrinya

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 205: Konfrontasi di Garis Depan

    Fajar keesokan harinya menyingsing dengan warna merah darah di langit perbatasan utara.Arthur memimpin langsung pasukan kavalerinya menembus kabut tebal, mengabaikan draf saran dari Henry agar sang Duke tetap berada di balik tembok kastil yang aman demi keselamatan pengantin barunya.Di depan barikade jalur kereta api yang rusak, ratusan milisi pemberontak telah bersiap dengan senapan laras panjang dan obor api di tangan mereka.Seorang pemimpin pemberontak, mantan perwira militer faksi Vane bernama kapten Miller, melangkah maju menunggangi kudanya dengan aksi yang menantang di hadapan Arthur."Duke Arthur! Kebijakan barumu mengenai penyitaan aset bangsawan dan kontrol mutlak atas tambang adalah bentuk tirani yang tidak akan kami terima! Jika kau tidak memulihkan hak komoditas kami, jalur utara ini akan menjadi kuburan bagi pasukan Grosvenor!"Arthur menatap Miller dari atas kuda hitam besarnya dengan pandangan meremehkan, tidak ada sedikit pun gurat ketakutan atau keraguan di wajahn

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 204: Singa yang Mengambil Alih Kemudi

    Ketegangan di ruang dewan distrik mencapai puncaknya ketika Arthur mengambil alih draf kepemimpinan proyek secara sepihak, memotong seluruh jalur birokrasi aristokrat kuno yang lambat dan memuakkan.Dia lalu berdiri di depan papan dewan, mencoret nama-nama bangsawan faksi Vane yang tidak kompeten dengan goresan arang hitam yang kasar, lalu menggantinya dengan nama-nama insinyur muda yang dia pilih berdasarkan efisiensi kerja nyata di lapangan tambang."Mulai hari ini, manajemen operasional proyek kereta utara berada di bawah pengawasan langsung kantor Duke Grosvenor," tegas Arthur, dengan jemarinya mengetuk meja dengan ritme konstan yang intimidatif."Tidak ada lagi komisi untuk para Lord, tidak ada lagi potongan pajak ilegal untuk faksi wilayah. Setiap buruh tambang akan dibayar penuh langsung dari kas pusat."Mendengar kebijakan baru tersebut, beberapa Lord berbisik-bisik dengan raut wajah penuh penolakan, menganggap tindakan Arthur terlalu radikal dan mengancam hak istimewa kaum ba

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 6: Malam Penyerahan

    Badai di luar kastil Grosvenor tidak sebanding dengan kemelut yang menghantam dada Helena. Bayangan wajah ibunya yang pucat di ranjang rumah sakit, dikelilingi bau karbol dan suara mesin medis yang dingin, terus menghantuinya.Seratus koin emas. Harga yang mustahil digapai oleh seorang pelayan, nam

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 5: Tak ada Pilihan lain

    “T-Tuan Arthur ….”Tubuh Helena menggigil hebat. Meski uap panas masih mengepul di ruangan itu, ia merasa seolah disiram air es. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, menyatu dengan sisa uap yang menempel di wajahnya yang kini merah padam.“Kenapa kau berlagak terkejut?” sahut Arthur dengan nad

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 4: Tawaran Mendadak sang Duke

    Gagang pintu kuningan itu berputar dengan suara klik yang tajam. Selene kemudian melangkah masuk ke dalam ruang pemandian yang masih dipenuhi kepulan uap putih tebal.Sepatu hak tingginya berdenting ritmis di atas lantai marmer, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik Helena. Di balik lemari ha

  • Dalam Dekapan Panas Tuan Duke   Bab 3: Tidak akan Puas hanya dengan Diam

    “Jangan hanya berdiri di sana, Helena. Kemari.”Helena yang sedang berdiri kaku di sana lantas tersentak usai mendengar perintah sang Duke untuk mendekat.Pria itu sudah berada di dalam air, menyandarkan punggung kokohnya pada tepian bak. Bahunya yang lebar terpampang jelas, kecokelatan dan berkila

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status