공유

2

작가: Ellailaist
last update 게시일: 2026-04-01 21:18:07

Elara ingin menyanggah, tapi lidahnya terasa kelu. Ia hanya bisa berdiri gemetar, terjebak di dalam galerinya sendiri bersama Alpha paling berbahaya yang sedang terluka.

Joseph mendengus kasar. 

Elara berkedip beberapa kali ketika pria itu mendekat maju. Wangi maskulin dari tubuh pria itu mengepung Elara, membuatnya kewalahan. Hawa panas memancar dari kulit Joseph, membuat udara di sekitar mereka terasa panas. 

Joseph menumpukan satu tangannya di samping kepala Elara, mengunci gadis itu tepat di depannya.

"Jangan mengeluarkan suara sedikit pun," desis Joseph.

Suaranya sangat rendah, nyaris seperti bisikan. Berbanding terbalik sikapnya beberapa saat tadi. 

Elara hanya bisa mengangguk kecil dengan mata yang menyipit karena takut. Ia bisa melihat otot lengan Joseph yang menegang hebat di bawah jaket kulitnya yang digulung.

Tiba-tiba, suara deru mobil yang berat terdengar berhenti di ujung gang. Cahaya lampu sorot yang sangat terang menyapu jendela-jendela galeri tua. 

Elara membeku saat melihat bayangan beberapa orang bergerak di balik kaca pintu yang buram.

"Cari di sekitar sini! Dia tidak mungkin lari jauh dengan kondisi seperti itu!" teriakan seorang pria terdengar dari luar.

Elara memberanikan diri untuk mengintip ke arah jendela. Terlihat beberapa lelaki mengenakan seragam keamanan. Elara mengenalinya sebagai seragam dari tim keamanan klan Warcliff. Mereka adalah pasukan elit klan yang dilatih untuk memburu serigala liar. Suara derap sepatu bot yang berat menghantam aspal gang buntu itu berkali-kali.

Joseph menatap pintu dengan tajam. Matanya kembali berkilat kuning keemasan dalam kegelapan. Ia menarik Elara lebih dekat ke arah sudut ruangan yang gelap, menjauh dari jangkauan pandangan pintu.

Tangan besar Joseph membekap mulut Elara. Telapak tangannya terasa kasar dan panas di kulit wajah Elara. Elara bisa merasakan detak jantung Joseph yang berpacu liar melalui dadanya yang bersentuhan dengan bahu Elara.

"Periksa bangunan tua itu!" suara di luar terdengar memerintah.

Gagang pintu galeri bergerak-gerak kasar. Seseorang sedang mencoba membukanya. Elara memejamkan mata, menahan napas sampai dadanya terasa nyeri. 

Ia takut pintu itu akan dibuka dan ia akan ikut terseret dalam masalah klan yang nampaknya menakutkan ini.

"Pintunya rusak, tapi tidak ada tanda-tanda orang masuk ke dalam. Sepertinya ini bangunan kosong," seru salah satu anggota tim keamanan setelah beberapa saat.

"Cepat ke blok sebelah! Jangan biarkan dia sampai masuk ke wilayah penduduk!"

Suara langkah kaki itu perlahan menjauh. Deru mesin mobil kembali terdengar dan kemudian senyap. 

Galeri tua itu kembali dalam kesunyian yang mencekam. Hanya menyisakan suara napas Elara yang tersengal-sengal di bawah telapak tangan Joseph.

Joseph perlahan melepaskan bekapannya. Ia tidak langsung menjauh. Pria itu justru mematung, menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan. Elara melihat perubahan pada raut wajah Joseph yang tadinya penuh amarah.

Napas Joseph yang tadinya memburu mulai melambat secara drastis. Elara bisa merasakan ketegangan pada bahu pria itu perlahan mereda. Ada sesuatu yang aneh terjadi pada atmosfer di antara mereka berdua.

Elara merasa ada aliran energi yang menenangkan mengalir dari tubuhnya menuju Joseph. Pria itu memejamkan matanya sejenak, ia menarik napasnya dalam-dalam. Nampaknya menghirup aroma lavender dan cat minyak yang melekat pada pakaian Elara. Raut wajah Joseph seketika berubah menjadi lebih tenang, seolah semua rasa sakitnya hilang begitu saja.

"Apa ini?" bisik Joseph pada dirinya sendiri.

Ia membuka matanya kembali. 

Kali ini tatapannya tidak lagi membara. Joseph menatap tangannya sendiri yang tadi membekap Elara. Luka-luka gores di tangannya tampak berhenti berdarah dan menutup secara perlahan.

Elara masih diam membeku. Ia tidak mengerti mengapa Joseph menatapnya seakan ia adalah sebuah keajaiban yang mustahil. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Joseph tiba-tiba mendorong bahu Elara menjauh dengan kasar.

"Jangan berpikir kamu bisa melakukannya padaku," ucap Joseph tiba-tiba.

Wajahnya kembali mengeras. Rasa benci yang tadi sempat hilang kini muncul kembali dengan lebih pekat. Joseph kembali menatap tato bulan sabit di tangan Elara dengan penuh kebencian.

"Klanmu membunuh saudaraku. Aku tidak akan pernah lupa itu," geram Joseph.

Mendengar itu, Elara lantas kebingungan. ‘Membunuh saudaranya…? Apa maksud pria ini?’ gumam Elara dalam hatinya.

Joseph berbalik, membelakangi Elara dan kembali menatap lukisan serigala hitam di dinding. Elara ingin bicara, ia ingin mengatakan bahwa ia tidak mengerti apa maksud ucapan Joseph.

"T-t-tapi..." Elara berusaha mengeluarkan suara dengan susah payah. Namun lagi-lagi gagal.

"Aku tidak butuh penjelasan dari seorang Valen," potong Joseph dengan nada dingin yang menusuk.

Pria itu kemudian berjalan menjauh, menuju meja di sudut ruang. Ia meraih sebuah botol air mineral yang ada di sana dan meminumnya dengan rakus hingga tandas. 

Elara hanya bisa menatap punggung pria itu dengan rasa takut yang bercampur dengan kebingungan. Secara insting, Elara ingin mendekat karena melihat Joseph masih terlihat sedikit pincang saat berjalan. Namun, ia teringat siapa pria ini. 

Joseph adalah Alpha dari klan paling berbahaya, sedangkan Elara hanyalah seorang omega yang sedang mencoba bertahan hidup.

Tiba-tiba, Joseph berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah pintu galeri dengan cepat. Raut wajahnya berubah menjadi waspada. Joseph mengernyitkan dahinya dan kembali menatap Elara. 

"Sembunyilah," perintah Joseph singkat.

"A-apa … ?" Elara tidak mengerti.

"Masuk ke dalam toilet itu. Sekarang!" Joseph menunjuk ke arah sudut ruangan yang remang-remang.

Tanpa banyak tanya, Elara berlari kecil menuju toilet sempit di sudut galeri. Ia menutup pintunya dan mematikan lampu di dalam. Ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Brak!

Pintu galeri tiba-tiba didobrak dari luar dengan kekuatan yang sangat besar. Seorang pria tua dengan pakaian formal yang sangat rapi masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya, beberapa pria berseragam tim keamanan klan Warcliff mengikuti dengan senjata lengkap.

"Jadi, di sini kamu bersembunyi, Joseph?" suara pria tua itu terdengar tegas namun dingin.

Ellailaist

Jangan bikin Elara takut Joseph...hehe

| 10
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Jangan Kepo
ghvfdeswaf
goodnovel comment avatar
aurora.lee779
baru baca buku tentang werewolf, ternyata seru
goodnovel comment avatar
Lolita
seru nih kayaknya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   191.

    Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   190.

    Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   189.

    Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   188.

    Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   187.

    Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   186.

    "Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   97.

    Kamar itu benar-benar sunyi. Joseph tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Elara lebih lama dari sebelumnya."...jadi dugaanku benar," gumam Joseph akhirnya memecah keheningan. Elara mengangkat sedikit wajahnya, mencoba membaca ekspresi pria yang kini tampak sangat serius itu.Joseph melangkah

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   96.

    ‘Aku yang melakukan semua ini,’ gumamnya dalam hati. Itu bukan lagi sebuah pertanyaan, melainkan sebuah kesadaran pahit yang harus ia tanggung.Tangannya perlahan naik kembali ke leher. Masih ada sisa-sisa panas di sana. Energi itu masih hidup, masih bersembunyi di bawah kulitnya, menanti pemicu ber

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   95.

    Pintu sudah terkunci rapat. Jendela tertutup hingga tidak ada celah udara yang masuk. Ruangan itu kini benar-benar sunyi, sebuah kesunyian yang terasa menekan gendang telinga.Elara berdiri mematung di tengah kamar. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa ketegangan dari pertemuan dengan Isabella be

  • Dalam Obsesi Sang Alpha: Aku Bukan Luna yang Terbuang   86.

    "Dan aku benar-benar tidak suka dengan perasaan itu," lanjut Isabella dengan nada yang mulai menusuk.Robert mengangguk setuju. "Insting serigalamu jarang salah, Isabella. Kita tidak boleh mengabaikan hal sekecil apa pun."Magnus memukul meja pelan, mengubah suasana menjadi jauh lebih berat. "Baik.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status