MasukJantung Elara terasa berhenti berdetak sesaat. Ia teringat tim pengamanan Joseph yang datang bersama Gideon tadi.
Apakah mereka benar-benar menetahui Elara bersembunyi di toilet saat Gideon datang? Dadanya kembali sesak, pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan.
Bagaimana jika mereka tahu? Padahal Elara hanya ingin menjalani hidup yang tenang dan tidak ingin terlibat dengan klan Warcliff.
"Pihak klan Warcliff sedang membutuhkan tenaga pelayan tambahan untuk kastil mereka. Khususnya untuk merawat sayap kanan kastil," Victor menyeringai, sebuah senyuman yang terlihat sangat mengerikan di mata Elara.
"Tempat yang paling dihindari oleh siapa pun karena itu adalah area pribadi sang Alpha gila, Joseph Warcliff."
Elara mematung. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku sudah menjualmu, Elara. Besok pagi mereka akan datang menjemputmu. Kamu tidak akan menikah.” terlihat bibir Victor tersenyum licik.
“Di sana, kamu hanya pelayan. Setidaknya kamu bisa membayar semua biaya hidupmu selama ini." lanjut Victor tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Tapi... V-victor... g-ga... galeri..." Elara mencoba memprotes, namun suaranya tidak mampu keluar.
"Tidak ada tapi-tapi! Masuk ke kamarmu sekarang dan kemas barang-barangmu! Jangan berani mencoba melarikan diri lagi, atau aku akan memastikan galeri tua itu rata dengan tanah sebelum matahari terbit besok!" ancam Victor.
Tubuh Elara mendadak lemas. Ia tidak sanggup lagi menatap pamannya. Ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai.
Di dalam kamarnya yang kecil di lantai atas, Elara duduk di pinggir tempat tidur yang keras.
Ia mengeluarkan cincin perak itu dari saku dan menatapnya di bawah cahaya lampu tidur yang redup.
Besok, ia akan masuk ke jantung wilayah klan yang paling ia takuti. Elara tidak ingin memasuki wilayah klan itu.
Elara menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Bahunya bergetar karena tangisnya pecah malam itu.
Ia menatap cincin itu sekali lagi. Dengan jemari gemetar, ia memasukkan kembali cincin itu ke dalam sakunya dan mulai berkemas.
Elara menarik sebuah koper kulit tua dari bawah tempat tidurnya. Debu tebal beterbangan, membuatnya terbatuk kecil.
Koper ini milik ibunya, satu-satunya barang yang berhasil ia selamatkan saat Victor menggeledah rumah orang tuanya dulu.
Tangan Elara gemetar saat memasukkan beberapa potong pakaian sederhana dan peralatan lukis yang tersisa.
Namun, gerakannya terhenti saat ia merasakan sesuatu yang mengganjal di lapisan dalam koper tersebut.
Ia meraba kain pelapis yang sudah robek, lalu menarik sebuah amplop cokelat kusam yang tersembunyi di sana.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang sudah menguning di bagian pinggirnya.
Jantung Elara berdegup kencang.
Foto itu memperlihatkan ibunya yang sedang tersenyum, berdiri di depan sebuah gerbang besi raksasa dengan lambang serigala hitam. Itu adalah gerbang Kastil Warcliff.
Di belakang foto itu, ada tulisan tangan ibunya yang sangat halus: “Untuk Elara. Jika suatu saat kamu harus kembali ke tempat ini, carilah mawar perak di taman sayap kanan. Di sana, suaramu disimpan.”
Elara membeku. Kalimat itu terasa seperti teka-teki yang menusuk jantungnya. Ibunya pernah ke kastil itu? Dan apa maksudnya suaranya disimpan di sana?
Ia segera melipat foto itu dan menyembunyikannya di balik lapisan bajunya, tepat di samping cincin perak milik Joseph.
Rasa takut yang tadi mendominasi, kini perlahan bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar.
Mungkin, ia harus mencoba masuk ke dalam Kastil itu untuk menemukan suaranya sesuai dengan instruksi ibunya
***
Tok! Tok! Tok!
Suara gedoran keras di pintunya menghancurkan keheningan kamar.
"Cepat keluar, Gagap! Mobil dari klan Warcliff sudah ada di depan!" teriak Maya dari balik pintu.
Suaranya terdengar riang, seoakan keberhasilannya menyingkirkan Elara dari rumahnya adalah sebuah kemenangan besar.
Elara berdiri dengan lutut yang masih goyah. Ia memandang sekeliling kamarnya yang sempit untuk terakhir kali. Tidak ada yang berharga di sini selain kenangan pahit.
Ia mengangkat kopernya, berjalan keluar menuju lantai bawah.
Di ruang tamu, Victor sedang berdiri bersama dua pria berseragam hitam dengan lambang serigala di dada mereka. Elara tahu mereka adalah tim keamanan klan Warcliff.
"Bawa dia," perintah Victor pendek tanpa menoleh ke arah Elara.
Salah satu pria itu maju, mengambil koper Elara dengan kasar. Ia tidak bicara, hanya memberi isyarat agar Elara mengikutinya keluar.
Saat Elara melangkah melewati ambang pintu rumah, udara dingin fajar menyambutnya. Sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan gerbang.
Kaca belakangnya gelap, namun Elara bisa merasakan sepasang mata sedang mengamatinya dari dalam sana.
Pintu mobil terbuka. Elara masuk dengan kepala menunduk, tidak berani menatap siapa pun.
Namun, saat pintu tertutup dan mobil mulai melaju, sebuah aroma pinus dan bensin yang sangat ia kenali memenuhi kabin mobil.
Elara menoleh dengan perlahan.
Di sudut kursi yang gelap, Joseph Warcliff duduk dengan kaki menyilang. Ia tak lagi mengenakan jaket kulit, hanya kemeja hitam yang membuat auranya semakin menekan.
Joseph tidak menatapnya. Ia hanya menatap jalanan di luar melalui jendela.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Joseph dingin. Suaranya rendah, bergetar di dalam kabin mobil yang sunyi. "Kau hanya akan menjadi pelayan di kastil Warcliff."
Elara meremas jari-jarinya. Ia ingin bicara, namun tenggorokannya kembali terkunci. Ia hanya bisa menatap punggung tangannya, di mana tato bulan sabit itu seolah bersinar redup di bawah cahaya fajar yang baru terbit.
“Dan satu hal lagi. Jangan muncul di depanku kalau tidak kupanggil.”
Elara keluar dari rumah pamannya dan masuk ke kawasan Joseph. Apakah ini bisa jadi pertanda baik? Atau justru akan membawanya pada takdir yang lebih buruk?? Pliss Joseph baik-baik ya sama Elara. Jangan jahat..huhu Terimakasih yaa yang sudah baca, semoga lanjut bab berikutnya ^^
Evan bahkan butuh beberapa detik hanya untuk memproses arti dari kalimat yang baru saja disampaikan Albert. "Kau pasti sedang membawakan lelucon konyol untuk menguji fokus batinku, Albert," ucap Evan dengan rahang yang menegang. "Aku tidak berniat membuat lelucon tentang nama mendiang Luna Diana, Evan," balas Albert dengan sorot mata yang memancarkan kejujuran mutlak. "Kau benar-benar pernah menyimpan rasa cinta kepada sosok Luna Diana?" tanya Evan lagi, mencari kepastian dari ekspresi wajah lawan bicaranya. "Aku sudah menyimpan perasaan itu sejak kami berdua masih sangat muda di lingkungan klan Utara ini," aku Albert, membuka lembaran rahasianya. Evan menatap wajah tua Albert dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya. "Dan kau memilih untuk tidak pernah mengatakannya sampai dia wafat?" Albert mengulas senyuman tipis yang sangat teduh. "Sebab aku tahu tidak semua bentuk rasa cinta yang suci harus selalu berakhir dengan kepemilikan." Kalimat itu seketika membuat napas di
Elara menoleh sedikit dan menatap Joseph dengan penuh tanya. "Terima kasih untuk apa, Joseph?" Pria itu terdiam sejenak. Alih-alih menjawab, ia mengarahkan pandangannya ke lembah mawar perak yang terbentang di depan mereka. Joseph menatap hamparan mawar yang membentang luas, rumah kayu kecil mereka yang hangat, dan langit senja yang berwarna keemasan. Dulu, ia tidak pernah berani membayangkan kehidupan setenang ini. "Terima kasih karena memilih untuk tetap bersamaku setelah semua yang kita lalui," ujar Joseph. Ada getaran halus dalam suaranya yang membuat setiap kata terdengar begitu tulus. Mendengar kata-kata itu, kehangatan langsung memenuhi dada Elara. Ucapan sederhana tersebut terasa begitu berarti karena berasal dari pria yang paling ia cintai. "Joseph," bisik Elara dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan haru, ia merapatkan posisi kepalanya untuk bersandar pada permukaan dada bidang milik suaminya yang kokoh. "Ada masa ketika aku yakin hidupku hanya akan berputar di
Sentuhan tangan itu merasakan adanya sebuah tanda kehidupan kecil dari keturunan darah klan yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya. Seluruh pasang mata Elara seketika langsung berubah menjadi terasa menghangat meresap.Kadang di dalam keheningan sore, ia masih merasa sedikit sulit untuk mempercayai seluruh kenyataan manis yang sedang ia jalani saat ini. Setelah melewati seluruh rentetan peperangan klan yang berdarah dan intriknya. Setelah dipaksa merasakan seluruh bentuk kehilangan orang-orang yang dicintai, dan seluruh luka batin masa lalu yang sempat menyiksa jiwanya. Kini takdir abadi justru memilih untuk menghadiahkan sebuah kehidupan baru yang suci.Tanda mawar perak yang melingkar di kulit leher jenjang Elara tampak mulai memendar dengan lembut di bawah temaram cahaya senja. Tanda suci tersebut seperti sedang ikut bergerak bersama merasakan seluruh letupan kebahagiaan sejati yang saat ini sedang memenuhi ruang hati milik sang Luna baru. Elara memejamkan kedua matanya ses
Joseph menatap lekat ke dalam sepasang mata cokelat milik sahabatnya. "Apakah kau merasa sudah berhasil memimpin klan dengan caramu?""Ya, aku sudah berhasil melakukannya dengan sangat baik," jawab Evan dengan nada suara yang terdengar sangat sederhana namun sarat keyakinan.Untuk pertama kalinya sejak hari pertama ia memutuskan untuk menyerahkan takhta kekuasaan klan, Joseph tampak benar-benar merasa puas. Ia lega mendengarkan seluruh tingkat kepastian dari mulut Evan.Elara terus memperhatikan sosok sahabat terbaik mereka tersebut secara diam-diam dari arah sudut meja kayu dengan perasaan hangat. Dulu ia sempat menyimpan sebuah rasa kekhawatiran yang sangat besar.Ia sempat khawatir jika Evan akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Pria itu selalu menempatkan posisi dirinya sendiri di urutan paling terakhir.Namun sekarang, seluruh rasa kekhawatiran yang sempat mengganggu pikiran Elara perlahan-lahan mulai menghilang sep
Joseph menyipitkan sepasang mata emas gelapnya menatap interaksi akrab di depan matanya dengan pandangan menginterogasi. "Kenapa aku merasa kau terlihat jauh lebih bersemangat untuk menemui Elara daripada menyapa kami?"Albert membalas tatapan curiga dari mantan Alpha WarcliffWarcliff itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Karena hanya Elara saja yang bisa menghargai seluruh dedikasiku terhadap dunia herbal.""Itu bukan jawaban atas pertanyaanku, Albert." sahut Joseph ketus."Tapi itu adalah bentuk jawaban yang akan tetap kupakai sampai kapan pun untuk menghadapi protesmu," balas Albert tidak mau kalah.Elara kembali tertawa lepas mendengar jawaban polos dari Albert, meredakan seluruh ketegangan yang sempat tercipta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, halaman rumah mereka dipenuhi suara tawa.Menjelang waktu siang hari tiba, mereka berempat memutuskan untuk menikmati makan bersama di bawah naungan pohon besar. Pohon rindang itu tumbuh kokoh tidak jau
"Joseph, berhenti mengucapkan kalimat manis seperti itu di tempat terbuka," protes Elara dengan nada suara yang terdengar lemah karena ia sendiri tidak bisa menahan senyumnya.Joseph tertawa pelan mendengar protes kecil dari istrinya, ia menaikkan telapak tangan besarnya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Elara dengan seleruh kelembutan yang ia miliki.Di dalam sentuhan tangan Joseph kali ini, sudah tidak ada lagi bentuk luapan gairah liar yang menuntut hak kepemilikan seperti saat mereka masih dikejar oleh ancaman musuh.Tak ada lagi keadaan mendesak yang mengharuskan mereka segera berpindah tempat. Yang tersisa di dalam sentuhan tangan Joseph hanyalah sebuah rasa syukur.Sebuah rasa syukur yang amat besar dan mendalam yang bahkan terasa sangat sulit untuk diungkapkan dengan menggunakan rangkaian kata-kata manusia biasa oleh sang mantan Alpha.Mereka berdua merasa sangat bersyukur karena telah berhasil untuk melangkah bersama sampai sejauh ini, melewati seluruh rangkaian konspirasi
"Dan aku benar-benar tidak suka dengan perasaan itu," lanjut Isabella dengan nada yang mulai menusuk.Robert mengangguk setuju. "Insting serigalamu jarang salah, Isabella. Kita tidak boleh mengabaikan hal sekecil apa pun."Magnus memukul meja pelan, mengubah suasana menjadi jauh lebih berat. "Baik.
Joseph berdiri mematung di tengah aula utama yang remang. Sorot matanya tajam, mengunci sosok Evan yang baru saja muncul dari lorong belakang. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat berat dan menekan."Kau terlambat kembali ke aula tadi," ucap Joseph tanpa basa-basi. Suaranya rendah, namun
Gideon bangkit dari kursinya dengan wajah serius. "Sama. Energi ini identik dengan yang kita rasakan semalam."Joseph mengerutkan kening. "Apa maksud kalian?"Isabella menarik napas tajam dan menoleh ke arah Joseph. "Energi yang menggetarkan kastil ini semalam... ini bukan milikku."Hening membeku s
Joseph memperbaiki posisi duduknya. "Insting tanpa kendali hanya akan menjadi beban bagi pasukan. Mereka butuh disiplin, bukan ketakutan seperti itu."Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah koridor luar. Seorang pelayan pria membungkuk hormat di ambang pintu yang terbuka lebar.







