Share

Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku
Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku
Penulis: Kafkaika

1. Dua Tahun Menikah

Penulis: Kafkaika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 00:07:52

Suaminya baru saja pulang dari luar kota setelah menghadiri seminar.

Aura telah menyiapkan kejutan manis: berdandan seksi dan menarik, berharap ketika Arman melihatnya, perasaannya akan hangat, dan rindu mereka akan terobati.

Begitu pintu terbuka, Aura langsung melompat memeluknya dengan manja, lalu menciumi wajah lelaki itu.

Namun kenyataannya tak seperti yang dia bayangkan.

Alih-alih tersenyum bahagia, Arman justru tampak masam dan menatapnya dingin.

“Kau tidak lihat aku baru datang dan lelah? Bersikaplah sedikit dewasa,” gumamnya, memadamkan seketika kerinduan Aura yang menggebu.

“Oh, maaf, Mas…”

Itu saja yang bisa Aura katakan. Walau dalam hatinya, dia tahu Arman pun tak seharusnya bersikap sedingin itu.

Sudah dua tahun mereka menikah.

Dua tahun hidup dalam segala “pemberian” Arman. Tapi Aura tak pernah benar-benar merasa memiliki suaminya itu.

Arman memang memberi banyak hal: rumah untuk orangtuanya, modal usaha toko roti orang tuanya, biaya sekolah adiknya, bahkan kuliah untuk dirinya—meski sesungguhnya itu bukan keinginannya.

Semua itu terasa seperti hadiah yang tak bisa ditolak.

Arman terdengar logis, penuh kasih, penuh rencana. Tapi di balik itu, ia adalah pria yang tenggelam dalam dunia dan ambisinya, namun lupa akan cinta dalam rumah tangga.

Keluarganya kaya raya—pemilik salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Tapi Arman justru memilih menjadi dosen.

Malam itu, bahkan mereka belum intim kembali pasca kedatangannya. Namun teriakannya membuat tubuh Aura meremang. Wanita muda itu langsung berjingkat dari kamar dan keluar ingin mengetahui kenapa suaminya sampai memanggilnya sembari berteriak begitu.

“Kenapa, Mas?” tanya Aura setiba di ruang kerja suaminya.

“Kenapa katamu? Kau tidak lihat laptopku basah karena kecerobohanmu!” Arman melotot pada Aura sembari menunjuk gelas teh yang tumpah di mejanya.

“Sial, ada banyak file dokumen yang belum sempat kusimpan di sana… kenapa kau tidak berubah sih? Tolol dipiara!” lagi Arman memarahi Aura yang membeku tak tahu harus bagaimana.

“Mas Arman kan yang tadi minta dibuatin tehnya.” Aura mencoba sedikit membela diri. Walau dia tahu pada akhirnya itu tidak ada gunanya.

“Kau kan punya otak. Harusnya dipikir, di mana seharusnya kau letakkan sekiranya tidak akan membuat kekacauan. Dan lagi, kalau salah ya minta maaf. Bukannya ngeyel melulu kamu!”

“Iya, Mas. Maaf!” ucap Aura menahan rasa ketidakberdayaannya karena sikap Arman yang seperti itu padanya.

Tidak jarang dia merasa dirinya tak lebih sebagai pembantu di rumah ini. Ditolol-tololin dan dibentak-bentak sesuka hatinya.

Namun, selalunya, ketika Arman membutuhkannya lagi seperti saat ini, dia akan mendatangi Aura. Memeluknya, menatapnya dengan hangat dan mencium keningnya lama.

“Jangan marah, ya? Aku hanya sedang capek,” tukasnya memaksa Aura memahaminya.

Wanita itu hanya mengangguk dan menyembunyikan lukanya di balik kata, “Tidak, aku tidak marah.”

“Kau sudah mengerti bagaimana aku, kan? Kalau banyak pikiran dan lelah, emosiku tak terkendali. Makanya jangan bikin masalah apapun saat kondisi mentalku seperti itu.”

“Iya, Mas. Maaf.”

“Aku mencintaimu, Ra!” bisik Arman, lalu kecupan hangat di bibir sudah menghapus jejak pertengkaran mereka.

Arman melepas kancing baju Aura sebagai isyarat ingin berhubungan. Aura yang sudah merindukan suaminya itu memilih melupakan rasa kesalnya ditolol-tololkan tadi. Dia pun dengan senang hati melayani sang suami.

Namun sayang, panggilan dari posel Arman kembali menjeda kedekatan yang belum juga memanas itu. Arman menarik dirinya dan bangkit untuk meraih ponselnya. Membiarkan Aura melongo dengan merana.

Aura mencoba bersabar. Daripada nanti mereka bertengkar lagi. Mungkin Arman memang ada panggilan yang mendesak. Jadi ditunggunya hingga selesai.

Ketika melihatnya mengakhiri panggilan, Aura bangkit dan memeluk pria itu dari belakang. “Mas, ayo kita lanjutkan,” ujarnya mesra merayu sang suami agar kembali memanaskan rajang mereka.

“Ra, kau kembalilah tidur. Aku ada yang harus dikerjakan.” tukas Arman sembari melepas lengan Aura yang melingkari pinggangnya.

Aura tentu kecewa. Arman yang mengajak duluan, membujuknya tadi agar mau melayaninya,  sekarang ketika Aura sudah berhasrat, tiba-tiba ditinggal begitu saja…

Sekedar menyampaikan sedikit kecewa yang dipendamnya, Aura mencoba protes.

“Mas baru pulang setelah dua minggu sibuk seminar, lho. Kenapa masih sibuk lagi?”

Namun, pria itu malah menatap Aura dengan dingin dan menusuk. 

💗💗💗

Paginya, Arman datang lagi mendekap Aura dari belakang saat sang istri membersihkan dapur.

Dia kembali meminta maaf. Seolah dengan hal itu semuanya akan selesai. Dan yang bisa Aura lakukan hanya menahan napas dan mengiyakannya  begitu saja.

Kalau tidak, sepagi ini mereka akan berdebat dan Arman akan mengeluarkan semua teori ilmiahnya menceramahinya tentang bagaimana menjadi istri yang baik. 

“Kau marah karena  semalam?” tanyanya sambil mengendus leher jenjang Aura.

Aura hanya meliriknya. Dalam hati, ia membatin—mana mungkin dia berani marah?

“Tidak, Mas. Aku saja yang tidak tahu situasi. Mas Arman banyak urusan dan pasti lelah.” Begitu saja jawabnya. Biasanya Arman lebih terima kalau Aura yang mengaku salah.

Arman membalik tubuh Aura dan mengecup bibirnya lembut dan mesra.

Padahal hanya dengan itu, Aura luluh. Lupa pada kecewa yang semalam membekas.

Semudah itu membujuk Aura. Tapi Arman sering lupa, bahwa hal-hal kecil seperti ini pun penting.

“Aku ada berita lagi,” ujarnya, membelai pipi Aura.

“Apa itu, Mas?” tanya Aura, menatapnya penuh antusias.

“Aku diterima di program S3 Oxford. Pengajuanku dari sebelum kita menikah akhirnya dipanggil juga.”

Tatapan Arman berbinar—penuh ambisi, seperti biasa.

Sementara Aura hanya menelan ludah.  Lagi-lagi suaminya ini akan meninggalkannya. Sudah terbayang, malam-malamnya akan semakin dingin dan sepi.

.

.

.

<Next>

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Te Anastasia
aura kamu sabar banget huwa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   308.

    “Gimana sih, Mas Pras? Ini sudah lama lho sejak aku melahirkan, tapi Mas belum juga mengabari orang rumah?”Aura yang baru saja menyerahkan bayinya kepada perawat kini memandangi suaminya dengan sorot mata tajam. Tubuhnya masih lelah setelah proses persalinan, emosinya pun belum sepenuhnya stabil.“Ya habis aku panik tadi, Sayang.” Pras menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya terlihat kikuk, antara bersalah dan malu.“Panik masa seharian, Mas?” Aura mendengus pelan.“Iya, iya… ini aku hubungi orang rumah.”Pras merogoh saku celananya. Kosong. Ia menepuk saku kemeja. Tidak ada. Keningnya berkerut. Baru saat itu ia sadar—ponselnya tidak bersamanya sejak tadi.“Lho…” gumamnya pelan.Aura langsung menangkap perubahan ekspresi itu. “Kenapa lagi?”“Kayaknya… ponselku enggak ada.”“Mas!” Aura membelalak. “Jangan ceroboh begitu, dong. Mas itu orang penting, lho. Kalau ponsel hilang nanti bahaya.”“Amanlah. Mungkin ketinggalan di mobil. Habis ini aku ambil.” Pras mencoba terdengar tenang

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   307.

    Oma Eliyas sedang menerima panggilan dari Arman. Sore itu rumah terasa lengang. Di tangannya, ponsel bergetar ringan, sementara wajahnya tampak tegang ketika menceritakan sedikit tentang masalah yang terjadi pada Mikayla.Arman di seberang sana justru terdengar tenang.“Kau tidak terkejut, Man?” tanya Oma Eliyas, keningnya berkerut.“Mereka sudah ngaku pas ketemu selesai di pemakaman Veny, Oma,” jawab Arman santai.“Mereka ngaku ke kamu?” Nada suara Oma Eliyas meninggi, jelas belum selesai dengan keterkejutannya.“Iya. Awalnya aku cuma heran, bagaimana Devano sangat perhatian pada Mikayla. Dan sebaliknya, Mika juga manja sekali sama Devano. Kelihatan beda. Akhirnya mereka mengaku sudah pacaran.”Oma Eliyas menghela napas panjang. Dikira Mikayla dengan polos dan jujur sudah mengaku sampai sejauh mana hubungan mereka. Ternyata tidak sedetail itu.“Namanya juga anak-anak, Man. Oma saja masih dag-dig-dug membayangkan Mikayla sekecil itu sudah harus hamil dan akan melahirkan.”Arman malah

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   306.

    “Tenang, Pak. Bu Aura hanya kelelahan. Biarkan dia beristirahat dulu,” ujar Dokter Arini dengan suara lembut namun tegas.Pras mengembuskan napas panjang. Sejak tadi dadanya terasa sesak oleh ketakutan yang tak mau ia akui. Kini, mendengar penjelasan itu, pundaknya sedikit turun. Namun ia tetap tak beranjak dari sisi ranjang.Tangannya menggenggam tangan Aura erat-erat, seolah takut wanita itu menghilang jika ia lepaskan. Matanya sembab, kantuk menggantung di pelupuk, tetapi ia menolak tidur. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Aura saat membuka mata.…Di rumah, suasana tak kalah tegang.Oma Eliyas yang tadi sempat terpeleset karena tergesa-gesa hendak ke rumah sakit kini duduk dengan wajah kesal. Tari menahannya agar tak memaksakan diri berangkat.“Dulu aku tidak menemani Aura melahirkan. Sekarang kau mau menahanku di rumah seperti orang bodoh?” hardiknya, suaranya bergetar antara marah dan cemas.Tari menunduk hormat, tetapi tetap bersikeras. “Nyonya, biar saya urut dulu ka

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   305. Kepanikan Pras

    Disupiri Tata, Pras mengantar Aura ke rumah sakit. Sepanjang jalan Aura meringis kesakitan, sementara Pras panik bukan main. Ingatannya melayang pada saat Aura melahirkan Axel dulu—penuh ketegangan, penuh rasa takut yang nyaris melumpuhkan.Sampai-sampai dia lupa belum menghubungi dokter yang biasa memeriksa Aura. Ketika Aura bertanya, barulah Pras tersadar dan buru-buru mengambil ponselnya.“Mas? Belum hubungi Dokter Arini?” Meski sambil meringis, Aura masih punya tenaga untuk memarahi suaminya itu.“Iya, ini aku akan hubungi…” Pras menekan tombol panggil. Namun karena sudah terbiasa selalu menghubungi Rico lebih dulu, jemarinya refleks menekan nama asistennya itu.“Halo, Ric?” tukas Pras cepat.Mendengar suaminya malah menghubungi asistennya, Aura makin kesal. Entah karena emosi atau saking sakitnya, ia menjambak rambut pria itu.“Kenapa panggil Rico? Hubungi Dokter Arini, Pak Pras Eliyaaaassss…!”“Auw! Oke, Sayang. Rico nanti bisa menghubungi Dokter Arini, kok!” Pras menahan rasa s

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   304. Keputusan Pras(2)

    “Kami memilih pergi saja. Tidak masalah tidak diakui siapa-siapa di keluarga ini. Tapi kami sudah sepakat untuk mempertahankan bayi kami.”Suara Mikayla gemetar, tetapi keteguhannya tak goyah sedikit pun. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata, seolah memberi perlindungan pada kehidupan kecil di dalam sana.Devano berdiri di sampingnya, rahangnya mengeras. “Ini kesalahan kami, Mas. Dan bayi ini tidak salah. Tolong jangan minta Mikayla menggugurkannya.”Ruangan itu seketika dipenuhi ketegangan. Udara terasa berat, seperti menekan dada siapa pun yang berada di sana.“Pras, kenapa sekarang kau seegois itu?” suara Oma Eliyas meninggi. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar tak bisa menahan emosinya.“Kau meminta Mikayla melakukan Aborsi? Di amna hati nuranimu, Pras?” Kata aborsi itu seperti pisau di telinga Oma Eliyas.Oma Eliyas masih ingat betul masa mudanya—betapa sulitnya ia memiliki anak. Catatan medisnya dulu penuh dengan kalimat yang membuatnya nyaris pu

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   303. Keputusan Pras

    “Setelah itu aku langsung masuk ke kamar Devan. Melihat Devano sibuk dengan dirinya sendiri, aku yang memaksanya membantu. Lalu semuanya pun terjadi…”Suara Mikayla terdengar bergetar karena harus menahan rasa malu dan salah. Kepalanya menunduk dalam ke lantai tak berani menatap semua orang yang terdiam mendengar cerita bagaimana kedua anak muda itu sampai melampaui batasannya.Pras menghela sedangkan Aura meliriknya seolah melempar sebuah peringatan karena kebiasannya yang suka nyosor di sembarang tempat.Kalau dulu mereka tinggal di apartemen hanya berdua tanpa siapapun itu masih bisa dimaklumi. Tapi, saat ini mereka tinggal bersama keluarga besar yang lain. Tidak boleh sembarangan melakukan hal itu. Lihat saja sudah ada korban dari sikap sembarangannya ini. Aura jadi terbit sebalnya. Awas saja kalau suaminya itu masih merasa tak bersalah. “Aku juga minta maaf. Tapi aku dan Mika sudah membicarakan semuanya.” Devan ikutan menyahut. Membantu Mikayla yang sejak tadi berusaha sendir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status