เข้าสู่ระบบmaaf hari ini satu bab dulu ya kak, ikuti terus bab2 slnjutnya yg lbh seru, selamat membaca💖💖💖
“Huwwwaaaa…. Mam mam mama…!” Teriakan melengking Axel seketika memecah kabut gairah yang sedang menyelimuti kedua orang itu. Aura tersentak, jantungnya berpacu liar antara hasrat dan naluri keibuan. Dengan sisa napas yang tersengal, ia mendorong tubuh kekar Pras ke arah kamar mandi, sementara tangannya bergerak cepat merapikan pakaian yang nyaris tanggal. Ia membuka pintu dengan gugup, mendapati Axel berada dalam gendongan Neni dengan air mata yang membanjiri pipi gembulnya. “Ada apa, Sayang?” tanya Aura cemas. “Maaf, Bu. Adik menangis terus minta Ibu. Tangannya habis kejepit mainan,” lapor Neni dengan nada tidak enak hati. Aura segera mengambil alih putranya. Bayi itu merengek, menyodorkan telunjuk mungilnya yang memerah. “Uuuuuuuh…” “Oh, Sayang… mana yang sakit? Sini, biar Mama cium supaya sembuh ya?” Aura mengecup jari mungil itu dengan penuh kasih. Ajaib, tawa Axel kembali pecah, seolah ciuman ibunya adalah obat paling mujarab di dunia. Namun, ketenangan itu terusik oleh pin
Melihat Pras melangkah masuk dengan bahu yang merosot dan wajah mendung, Aura segera menyerahkan Axel ke pelukan pengasuhnya. Tanpa suara, ia membuntuti suaminya yang langsung melangkah menuju kamar, seolah pria itu membawa beban seluruh dunia di punggungnya.Aura tahu betul ke mana Pras pergi hari ini: menjenguk Mikayla di panti rehabilitasi perlindungan anak dan perempuan. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya hati Pras melihat putri yang dulu begitu ceria dan penuh ambisi, kini harus mendekam di tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.“Bagaimana tadi? Mika baik-baik saja?” tanya Aura lembut, melingkarkan lengannya di pinggang Pras dari belakang.Pras menghela napas panjang, lalu membalikkan tubuhnya agar bisa menenggelamkan diri dalam tatapan mata istrinya yang selalu menenangkan.“Tidak terlalu baik, Ra. Petugas di sana bilang dia lebih banyak melamun sepanjang hari. Sesekali mereka mendengarnya menangis di sudut kamar,” ucap Pras dengan suara yang serak karena duka.Hati
“Untuk apa kau ke sini?” suara Mikayla parau.Gadis itu duduk meringkuk di pojok ruangan, lututnya ditekuk, rambutnya kusut tak terurus. “Bukankah aku bukan putrimu?”Kedatangan Pras justru membuat dadanya semakin terbakar. Fakta bahwa pria yang selama ini ia panggil papa ternyata bukan ayah kandungnya menghantam lebih kejam daripada borgol di tangannya kemarin.“Pergi saja!” teriak Mikayla putus asa. “Berbahagialah dengan istri dan anakmu! Apa kau datang hanya untuk menertawakanku?”Pras berdiri terpaku sejenak. Dadanya sesak melihat gadis yang tumbuh dalam asuhannya kini hancur seperti ini.Ia melangkah perlahan ke sudut ruangan lain, menjaga jarak. Bukan karena tak ingin mendekat—melainkan karena ia tahu, Mikayla belum siap disentuh, bahkan oleh kehadirannya.“Sejak dulu aku sudah tahu kau bukan putriku, Mika,” ucap Pras tenang. “Tapi apa pernah aku memperlakukanmu bukan sebagai putriku?”Mikayla terdiam.Kalimat itu membungkamnya lebih keras dari bentakan. Ingatannya berloncatan—s
Axel sudah berada di samping Aura ketika ia membuka mata. Bayi lucu itu tersenyum lebar begitu melihat sang mama terjaga dan menatapnya dengan lembut, seolah takut Aura menghilang lagi jika ia lengah sedetik saja.“Ma-ma-ma-mam…” celoteh Axel dengan bibir mungilnya.Hati Aura langsung meleleh. Ia mendekatkan tubuh, merengkuh sang buah hati dengan penuh rindu.“Sayangnya mama…” Aura menciumi pipi gembul itu berulang kali. “Mama udah kangen sekali sama Axel. Sini, mama peluk lagi perut peyut endutnya.”Axel tertawa kegelian ketika perutnya digelitiki. Tawa polos itu memenuhi kamar. Pras yang baru masuk pun tersenyum dan langsung bergabung, tak mau ketinggalan momen hangat bersama anak dan istrinya.Melihat Aura sudah tampak baikan, Pras kembali menyinggung hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya—tentang kepastian kehamilan itu.Aura mengernyit. Ia heran Pras masih bertanya langsung padanya. Bukankah Pras bisa dengan mudah mengetahui semuanya lewat Riko? Namun mungkin memang ada hal ya
Ketika perjalanan menuju kantor polisi, tiba-tiba Mikayla tepar. Tubuhnya bergetar hebat, kejang-kejang, sementara mulutnya mengeluarkan busa. Suasana yang semula riuh mendadak berubah panik. Semua orang di sekitar terkejut, beberapa berteriak meminta bantuan.Polisi tanpa menunggu lama langsung membawa Mikayla ke rumah sakit terdekat. Di sanalah Pras dan Riko sudah menunggu kedatangan mereka.Pras tentu tahu apa yang terjadi. Orang suruhan Riko yang bertugas mengawasi Mikayla langsung melapor begitu kejadian itu berlangsung. Tidak ada satu detik pun yang terlewat dari pengawasannya.Namun ada satu hal yang terus mengusik kepala Pras—sesuatu yang tak kunjung bisa ia cerna.Kenapa Aura ikut-ikutan tertangkap dalam operasi bandar narkoba itu?Setelah menyelesaikan sedikit salah paham dengan pihak kepolisian, akhirnya Pras membawa Aura pulang.Sepanjang perjalanan, Pras terlihat sangat dingin. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun menoleh. Sementara itu Aura yan
Langkah Aura terasa begitu ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan. Senyum yang sempat hilang kini kembali merekah di wajahnya. Tata, yang sudah setia menunggu, langsung bangkit menyambut sang nyonya dengan tatapan bertanya-tanya.“Sudah selesai, Bu?” tanyanya hati-hati.“Sudah, Ta. Ayo…” ujar Aura tanpa menghentikan langkah, seolah ingin segera meninggalkan bau obat-obatan di klinik itu.Tata membuntuti di belakang. Meski rasa penasarannya membuncah, ia menahan diri untuk tidak bertanya. Ia sadar posisinya; mendesak majikan tentang masalah pribadi seperti kehamilan bisa dianggap sangat tidak sopan.“Kita langsung pulang, Bu?” tanya Tata lagi saat mereka sudah di parkiran.“Hmm, aku telepon Neni dulu ya. Kalau Axel tidak rewel, kita lanjut ke tujuan awal ke salon. Tapi kalau dia mencari-cariku, kita pulang saja,” ujar Aura sembari merogoh ponsel dari tas tangannya.Setelah mendapat laporan bahwa Axel sedang asyik bermain dan tenang, Aura pun mantap meminta Tata mengantarnya ke salon.







