Share

230. Kejadian di Mal

Penulis: Kafkaika
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 20:58:43

Siang itu Aura mengajak Axel berjalan-jalan ke mal, ditemani Tata dan Neni. Pras benar—sesekali dia memang harus keluar dan bersenang-senang.

Setelah puas berbelanja, bermain dengan Axel di kids zone, serta memborong berbagai makanan enak untuk dibawa pulang dan dibagikan pada orang rumah, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali.

“Sudah capek, Nen. Axel juga sudah melewati jam istirahat siangnya. Kita pulang saja, ya?” ujar Aura.

“Tapi Adik Axel senang sekali, Bu. Tadi dia tidak mau keluar dari arena mandi bola,” sahut Neni ikut senang.

Bisa jalan-jalan ke mal sudah jadi kebahagiaan tersendiri baginya, apalagi nyonyanya royal sekali. Dia dan Tata bahkan diperbolehkan membeli baju yang mereka sukai.

“Iya, lain kali lagi kita jalan-jalan,” balas Aura.

“Ke mal yang lain ya, Bu,” usul Neni antusias. “Biar bisa mal tour sekalian.”

“Biar bisa pamer status, Bu,” tambahnya polos.

Aura dan Tata hanya tertawa mendengarnya.

Saat hendak turun dari lantai lima menggunakan lift, Axel justru mencon
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   250.

    Riko terkejut bukan main ketika pintu ruang kerjanya diketuk dan sosok yang muncul justru sang nyonya besar. Refleks ia bangkit berdiri, tubuhnya menegang, lalu memberi hormat dengan canggung.“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Riko gugup.Aura menutup pintu di belakangnya, memastikan ruangan itu kini hanya berisi mereka berdua. Langkahnya mantap saat mendekati meja Riko.“Jangan terlalu formal begitu, Riko. Biasa saja,” ujarnya ringan, meski tatapannya menyimpan sesuatu yang tak sesederhana itu.Aura memandang Riko bukan hanya sebagai asisten kepercayaan suaminya. Pria itu adalah kekasih Vanesha—sahabatnya sendiri. Jika kelak Riko akan menjadi bagian dari lingkaran pertemanannya, Aura ingin pria itu bersikap lebih terbuka, bukan sekadar patuh tanpa suara.“Eng… maaf, tapi ada apa ya, Bu?” Riko masih tampak kaku, jelas tidak nyaman berada di posisi ini.Aura tak ingin bertele-tele. Ia langsung menodongkan inti yang sejak tadi mengganjal dadanya.“Aku ingin tahu satu hal, Riko. Kata

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   249.

    “Sayang?” suara Pras memanggil lembut, memecah keheningan kamar hotel yang sejuk itu.Aura tersentak. Karena sedang begitu serius memikirkan cara membalas postingan Veny, ia sampai hampir menjatuhkan ponselnya. Gerakan refleks itu membuat Pras yang baru saja bangkit dari ranjang menghampirinya dengan raut keheranan.“Ada apa? Kok sepertinya kaget sekali?” tanya Pras sembari mencoba mengintip ke arah ponsel Aura.Aura menggeleng cepat, jemarinya dengan lincah mengunci layar ponsel. Tak perlulah melibatkan pria ini dalam urusan "perang" antarwanita. Aura ingin menumbangkan Veny dengan tangannya sendiri.“Tidak ada apa-apa, Mas. Ayo kita pulang sekarang, nanti Axel mencari-cariku,” tukas Aura. Ia segera melangkah menuju lemari, mengambil pakaian yang tergantung di sana. Ia melepas bathrobe handuknya dengan gerakan terburu-buru, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, tatapan Pras masih menempel di punggungnya, penuh selidik.“Sayang, kenapa malah bengong begitu?” sentak Aura saat menya

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   248. Berita Gosip

    Pras langsung menoleh, matanya berbinar dengan senyum nakal yang melebar. “Kenapa tidak? Ini yang aku tunggu-tunggu, Sayang!” Ia tertawa senang, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan impiannya.“Semangat sekali, Pak?” Aura mencubit lengan Pras gemas.“Harus semangat, dong! Sejak tahu kau hamil, kita jarang 'heboh'.” ujarnya, lalu membelai pipi Aura dan menambahi, “Karena dokter bilang kondisimu sangat baik, jadi sekarang saatnya kita puas-puasin, ya?”Aura hanya mengangguk. Memberikan persetujuan. Dia juga kembali merindukan kegiatan membara mereka. Yang tadi pagi kurang heboh. Aura ingin lebih dari hal itu.Pras langsung memacu mobilnya menuju hotel langganannya. Ia bahkan sudah meminta Riko, asistennya, untuk mengurus check-in agar mereka bisa langsung masuk.“Mas? Kenapa minta Riko yang urus sih? Mas bisa sendiri, kan? Malu tahu!” gerutu Aura saat mereka memasuki kamar hotel yang mewah dengan sprei putih bersih.“Itu sudah tugas asisten, Ra,” jawab Pras santai se

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   247. Pagi Yang Hangat

    Pras sudah mengerahkan seluruh rayuannya malam itu. Ia membisikkan kata-kata manis, janji setia, hingga permintaan maaf yang tulus agar Aura tidak termakan oleh racun yang disebarkan Veny.Namun, ego wanita yang sedang terluka sulit ditembus. Aura tetap memilih tidur memunggungi Pras, membiarkan keheningan malam menjadi pembatas di antara mereka.Pras hanya bisa menghela napas panjang, mencoba bersabar. Ia tahu, Aura tidak pernah bisa marah terlalu lama. Besok pagi, badai ini pasti berlalu.Benar saja, saat fajar menyingsing, jam biologis dan ikatan batin tak bisa berbohong. Dalam remang fajar, tangan kekar Pras secara tidak sadar merengkuh pinggang ramping istrinya, menarik tubuh Aura agar merapat dalam kuasanya.Aura yang masih setengah mengantuk tak menolak. Kehangatan itu meluluhkan sisa-sisa kekesalan semalam. "Permainan" pagi itu berjalan seperti biasanya—penuh desah dan lenguhan kenikmatan yang membuktikan bahwa raga mereka selalu menemukan jalan untuk bersatu.Pada akhirnya, m

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   246. Berulah

    “Veny lagi sibuk di dunia seni peran. Aku pernah lihat kok di TV,” ujar Vanesha.Aura mungkin jarang mengikuti acara hiburan. Hidupnya lebih banyak diisi urusan rumah, anak, dan pekerjaan Pras. Berbeda dengan Vanesha, yang sempat patah hati dan menghabiskan hari-harinya dengan menonton televisi. Dari sanalah ia tahu kabar tentang Veny.Aura menoleh. “Seni peran?”“Iya,” angguk Vanesha. “Katanya dapat peran kecil di sinetron stripping. Awalnya cuma muncul sebentar, figuran. Tapi sekarang mulai sering. Kabarnya…” Vanesha berhenti sejenak, menurunkan suara, “…dia dekat sama sutradaranya.”“Dekat bagaimana?” Aura masih terdengar polos.“Ya masa kamu enggak paham, Ra?” Vanesha menatapnya heran.Aura mendengus kesal. “Kebiasaan lama memang. Pasti dapat sesuatu dengan menggoda pria.” Nada muaknya tak bisa disembunyikan.Vanesha tak membantah. Ia mulai memahami tabiat Veny. Kabar perselingkuhan wanita itu dulu pun masih sering jadi bahan gunjingan sampai sekarang. Hanya saja, Vanesha belum tah

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   245. Kedatangan Veny

    Mikayla tampak tak nyaman. Perdebatan terakhir mereka masih membekas dalam-dalam di relung hatinya. Kata-kata Veny—mamanya sendiri—terlalu kejam untuk dilupakan. Wanita itu mengutuknya, menyebutnya anak durhaka. Bahkan sempat mengatakan sesuatu yang membuat jiwa Mikayla remuk berkeping-keping: bahwa ia menyesal tidak membunuh janin di dalam rahimnya dulu.Lebih dari sekadar kemarahan, Mikayla akhirnya memahami satu hal yang paling menyakitkan. Selama ini, Veny hanya memperalatnya. Berpura-pura menjadi ibu yang peduli, padahal yang dipikirkan hanyalah bagaimana memanfaatkan putrinya demi kepentingan pribadi. Demi apa pun yang ingin ia capai.Buktinya jelas. Saat Mikayla terpuruk dan harus menjalani rehabilitasi, Veny bukannya memberi dukungan. Wanita itu justru kesal. Marah. Menganggap kehadiran Mikayla di panti rehabilitasi sebagai beban yang merepotkan hidupnya.“Mika?” sapa Veny, menatap putrinya yang hanya diam, tak menyambut. “Kau tak mau memeluk mamamu ini?”Mikayla melirik Pras

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status