LOGINCahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menimbulkan garis-garis keemasan di atas seprai putih. Chloe mengerjap pelan. Kepalanya tidak lagi berdenyut seperti kemarin, dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan, walau tulangnya masih terasa sedikit lemas untuk digerakkan.
Ia ingin meregangkan badan. Namun ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.
Chloe menunduk perlahan, lalu seluruh tubuhnya membeku.
Sebuah lengan kokoh melingkari pinggangnya dengan posesif.
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menimbulkan garis-garis keemasan di atas seprai putih. Chloe mengerjap pelan. Kepalanya tidak lagi berdenyut seperti kemarin, dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan, walau tulangnya masih terasa sedikit lemas untuk digerakkan.Ia ingin meregangkan badan. Namun ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.Chloe menunduk perlahan, lalu seluruh tubuhnya membeku.Sebuah lengan kokoh melingkari pinggangnya dengan posesif. Pipinya menempel di dada bidang yang naik turun secara teratur, dan di bawah telinganya terdengar detak jantung yang tenang dan mantap. Dengan gerakan sangat lambat, Chloe mendongak.Wajah tidur Adam berada tepat di atasnya.Alisnya yang biasanya selalu berkerut kini terlihat rileks. Bulu matanya panjang, rahangnya yang tegas tampak lebih lembut, dan bibirnya sedikit terbuka. Ia tampak seperti orang yang berbeda. Bukan Adam Hawk yang dingin dan menakutkan, melainkan seorang pria b
Beberapa saat kemudian, Dokter Hendry tiba dengan napas terengah dengan tas medis di satu tangan dan mantel yang belum sempat dikancingkan dengan benar. Bi Mary menyambutnya di pintu dan langsung menuntunnya menaiki tangga."Di mana pasiennya?" tanya Dokter Hendry sambil merapikan kacamatanya."Di sini. Cepat," jawab Adam dari sisi ranjang tanpa menoleh. Tangannya masih menggenggam jemari Chloe, dan ia tampak tidak berniat melepaskannya sedetik pun.Dokter paruh baya itu mendekat, lalu mulai bekerja dengan tenang. Ia memeriksa suhu tubuh Chloe, menempelkan stetoskop di dadanya, memeriksa tenggorokannya, dan mengamati kelopak matanya yang terasa panas. Adam berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terkepal, mengamati setiap gerakan seolah sedang menunggu vonis yang mendebarkan."Bagaimana?" tanyanya tak sabar."Tenang dulu, Tuan Hawk." Dokter Hendry melepas stetoskopnya dan menghela napas. "Tidak ada yang serius. Demamnya muncul karena tubuhnya kedinginan terlalu lama dan terguyur huj
Hening di ruang pertemuan itu begitu pekat hingga bunyi jam dinding terdengar jelas di telinga semua orang. Para direksi menunduk dalam-dalam, tak seorang pun berani bernapas terlalu keras. Hanya Sofia yang berdiri membeku di hadapan Adam, dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.Namun Sofia bukan wanita yang mudah goyah. Dalam sekejap, ia mengatur napas, menyusun ekspresi, dan membiarkan matanya berkaca-kaca."Adam, aku... aku tidak mengusirnya," ucap Sofia dengan suara bergetar. "Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Kau tahu aku tidak mungkin berbuat sekejam itu."Adam tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, menembus langsung ke dalam matanya."Tadi di pesta, Chloe bertengkar dengan seorang gadis bernama Amanda. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi mereka saling berteriak. Aku dan Atalia berusaha melerai, tetapi Chloe tiba-tiba lari keluar begitu saja." Sofia menyeka sudut matanya dengan ujung jari. "Aku sempat memanggilnya, Adam. Sungguh. Tapi dia
"Chloe."Suara itu rendah, dalam, dan bergetar menahan sesuatu yang berbahaya. Bukan lembut seperti dalam mimpi Chloe. Bukan pula suara Nenek Brenda yang selalu penuh kehangatan. Ini suara seorang pria yang sedang berusaha keras mengendalikan amarahnya.Chloe mengerjap. Wajah di hadapannya terlalu nyata untuk sebuah bayangan. Air hujan menetes dari ujung rambut Adam, membasahi bahu jas hitamnya, namun ia seolah tidak peduli sama sekali."Adam?" bisik Chloe dengan bibir yang gemetar. "Kenapa kau... bisa ada di sini?""Aku yang seharusnya bertanya." Adam berjongkok, sorot matanya menusuk tajam, tetapi tangannya yang menggenggam payung terlihat mengepal terlalu kuat. "Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di pinggir jalan, basah kuyup seperti ini? Di mana Atalia dan Sofia? Mengapa kau tak menelepon atau naik taxi pulang ke rumah?"Chloe membuka mulut hendak menjawab. Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Wajah Amanda, tamparan itu, tawa para tamu, dan tatapan dingin Atalia berkelebat
Itulah pertama kalinya Chloe bertemu dengan Nenek Brenda.Waktu itu usianya baru tujuh tahun. Ia tinggal di sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota, dan pagi itu salah seorang pengurus menyuruhnya pergi ke pusat kota seorang diri untuk membeli perlengkapan dapur. Tubuhnya masih terlalu mungil untuk menembus keramaian, tetapi tidak ada seorang pun yang peduli."Jangan mampir ke mana-mana, jangan menghilangkan uangnya, dan pulang sebelum sore," pesan pengurus panti itu tanpa menoleh. "Kalau terlambat, kau tidak dapat jatah makan malam."Chloe kecil hanya mengangguk dan berangkat dengan membawa keranjang rotan yang hampir sama besarnya dengan tubuhnya.Semua belanjaan berhasil ia dapatkan. Garam, minyak, dan sekantong tepung. Uang di genggamannya pun sudah habis sampai receh terakhir. Namun begitu ia hendak berjalan pulang, langit mendadak menggelap. Hujan turun tanpa aba-aba, deras dan dingin, mengguyur jalanan kota hingga orang-orang berlarian mencari
Chloe membeku. Suara itu terlalu familiar, terlalu sering menghantuinya sepanjang masa kecil hingga remajanya. Perlahan ia menoleh, dan jantungnya serasa jatuh ke dasar perut.Amanda Thorne berdiri tak jauh darinya dengan gaun merah mencolok dan tas bermerek yang menggantung di lengannya. Putri tunggal keluarga Thorne itu dikelilingi tiga wanita muda berpenampilan glamor yang menatap Chloe dengan sorot geli dan penasaran."Astaga, benar kan itu kau," ujar Amanda dengan senyum yang menyiratkan kemenangan. "Aku pikir mataku salah lihat. Anak pungut yang dulu mencuci piring di rumahku, tiba-tiba berdiri di butik semewah ini?""Amanda..." Suara Chloe tercekat."Siapa dia, Manda?" tanya salah satu temannya sambil menutup mulut dengan tangan, menahan tawa."Oh, dia saudara angkatku. Atau lebih tepatnya, mantan pelayan di rumah kami." Amanda mengelilingi Chloe perlahan seperti sedang menilai barang dagangan. "Hebat sekali. Baru beberapa hari pindah ke kediaman Hawk, penampilanmu sudah sepert







