Beranda / Romansa / Dalam Pelukan Sang Musuh / Bab 40. Hukuman di Meja Makan

Share

Bab 40. Hukuman di Meja Makan

Penulis: Sandra Dhee
last update Tanggal publikasi: 2026-10-29 11:41:00

Beberapa menit kemudian aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruang makan penthouse. Meja panjang itu sudah tertata rapi dengan piring porselen, serbet putih, dan teko kopi yang masih mengepul. Namun tidak seorang pun benar-benar berselera untuk makan disana.

Sofia duduk di kursi yang biasa ia tempati dengan setelan kerja berwarna krem. Rambut pirangnya sudah tersisir rapi, tetapi sorot matanya terlihat letih. Di sampingnya, Atalia menyesap tehnya sambil sesekali melirik jam, de

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 40. Hukuman di Meja Makan

    Beberapa menit kemudian aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruang makan penthouse. Meja panjang itu sudah tertata rapi dengan piring porselen, serbet putih, dan teko kopi yang masih mengepul. Namun tidak seorang pun benar-benar berselera untuk makan disana.Sofia duduk di kursi yang biasa ia tempati dengan setelan kerja berwarna krem. Rambut pirangnya sudah tersisir rapi, tetapi sorot matanya terlihat letih. Di sampingnya, Atalia menyesap tehnya sambil sesekali melirik jam, dengan wajah masam yang tak berusaha disembunyikan.Langkah kaki tegas terdengar dari arah pintu. Keduanya menoleh bersamaan.Adam memasuki ruang makan dengan setelan kerja berwarna abu gelap. Dasinya terpasang sempurna dan rambutnya tersisir rapi, seolah pria yang tadi tertawa santai di kamar Chloe adalah orang yang sama sekali berbeda. Wajahnya datar dan dingin, dan aura tidak bersahabat langsung mengisi ruangan."Adam! Kau mau sarapan juga?" sapa Atalia sambil memaksakan se

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 39. Pagi yang Mendebarkan

    Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menimbulkan garis-garis keemasan di atas seprai putih. Chloe mengerjap pelan. Kepalanya tidak lagi berdenyut seperti kemarin, dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan, walau tulangnya masih terasa sedikit lemas untuk digerakkan.Ia ingin meregangkan badan. Namun ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.Chloe menunduk perlahan, lalu seluruh tubuhnya membeku.Sebuah lengan kokoh melingkari pinggangnya dengan posesif. Pipinya menempel di dada bidang yang naik turun secara teratur, dan di bawah telinganya terdengar detak jantung yang tenang dan mantap. Dengan gerakan sangat lambat, Chloe mendongak.Wajah tidur Adam berada tepat di atasnya.Alisnya yang biasanya selalu berkerut kini terlihat rileks. Bulu matanya panjang, rahangnya yang tegas tampak lebih lembut, dan bibirnya sedikit terbuka. Ia tampak seperti orang yang berbeda. Bukan Adam Hawk yang dingin dan menakutkan, melainkan seorang pria b

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 38. Dekapan Hangat di Saat Demam

    Beberapa saat kemudian, Dokter Hendry tiba dengan napas terengah dengan tas medis di satu tangan dan mantel yang belum sempat dikancingkan dengan benar. Bi Mary menyambutnya di pintu dan langsung menuntunnya menaiki tangga."Di mana pasiennya?" tanya Dokter Hendry sambil merapikan kacamatanya."Di sini. Cepat," jawab Adam dari sisi ranjang tanpa menoleh. Tangannya masih menggenggam jemari Chloe, dan ia tampak tidak berniat melepaskannya sedetik pun.Dokter paruh baya itu mendekat, lalu mulai bekerja dengan tenang. Ia memeriksa suhu tubuh Chloe, menempelkan stetoskop di dadanya, memeriksa tenggorokannya, dan mengamati kelopak matanya yang terasa panas. Adam berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terkepal, mengamati setiap gerakan seolah sedang menunggu vonis yang mendebarkan."Bagaimana?" tanyanya tak sabar."Tenang dulu, Tuan Hawk." Dokter Hendry melepas stetoskopnya dan menghela napas. "Tidak ada yang serius. Demamnya muncul karena tubuhnya kedinginan terlalu lama dan terguyur huj

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 37. Air Mata Buaya

    Hening di ruang pertemuan itu begitu pekat hingga bunyi jam dinding terdengar jelas di telinga semua orang. Para direksi menunduk dalam-dalam, tak seorang pun berani bernapas terlalu keras. Hanya Sofia yang berdiri membeku di hadapan Adam, dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.Namun Sofia bukan wanita yang mudah goyah. Dalam sekejap, ia mengatur napas, menyusun ekspresi, dan membiarkan matanya berkaca-kaca."Adam, aku... aku tidak mengusirnya," ucap Sofia dengan suara bergetar. "Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Kau tahu aku tidak mungkin berbuat sekejam itu."Adam tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, menembus langsung ke dalam matanya."Tadi di pesta, Chloe bertengkar dengan seorang gadis bernama Amanda. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi mereka saling berteriak. Aku dan Atalia berusaha melerai, tetapi Chloe tiba-tiba lari keluar begitu saja." Sofia menyeka sudut matanya dengan ujung jari. "Aku sempat memanggilnya, Adam. Sungguh. Tapi dia

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 36. Penyelamat

    "Chloe."Suara itu rendah, dalam, dan bergetar menahan sesuatu yang berbahaya. Bukan lembut seperti dalam mimpi Chloe. Bukan pula suara Nenek Brenda yang selalu penuh kehangatan. Ini suara seorang pria yang sedang berusaha keras mengendalikan amarahnya.Chloe mengerjap. Wajah di hadapannya terlalu nyata untuk sebuah bayangan. Air hujan menetes dari ujung rambut Adam, membasahi bahu jas hitamnya, namun ia seolah tidak peduli sama sekali."Adam?" bisik Chloe dengan bibir yang gemetar. "Kenapa kau... bisa ada di sini?""Aku yang seharusnya bertanya." Adam berjongkok, sorot matanya menusuk tajam, tetapi tangannya yang menggenggam payung terlihat mengepal terlalu kuat. "Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di pinggir jalan, basah kuyup seperti ini? Di mana Atalia dan Sofia? Mengapa kau tak menelepon atau naik taxi pulang ke rumah?"Chloe membuka mulut hendak menjawab. Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Wajah Amanda, tamparan itu, tawa para tamu, dan tatapan dingin Atalia berkelebat

  • Dalam Pelukan Sang Musuh   Bab 35. Kenangan Nenek Brenda

    Itulah pertama kalinya Chloe bertemu dengan Nenek Brenda.Waktu itu usianya baru tujuh tahun. Ia tinggal di sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota, dan pagi itu salah seorang pengurus menyuruhnya pergi ke pusat kota seorang diri untuk membeli perlengkapan dapur. Tubuhnya masih terlalu mungil untuk menembus keramaian, tetapi tidak ada seorang pun yang peduli."Jangan mampir ke mana-mana, jangan menghilangkan uangnya, dan pulang sebelum sore," pesan pengurus panti itu tanpa menoleh. "Kalau terlambat, kau tidak dapat jatah makan malam."Chloe kecil hanya mengangguk dan berangkat dengan membawa keranjang rotan yang hampir sama besarnya dengan tubuhnya.Semua belanjaan berhasil ia dapatkan. Garam, minyak, dan sekantong tepung. Uang di genggamannya pun sudah habis sampai receh terakhir. Namun begitu ia hendak berjalan pulang, langit mendadak menggelap. Hujan turun tanpa aba-aba, deras dan dingin, mengguyur jalanan kota hingga orang-orang berlarian mencari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status