Share

Bab 5

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-29 19:33:21

Pukul sembilan malam, Elang tiba di rumah utama. Baru saja hendak masuk ke kamar, ia mendengar suara dehaman. Ternyata Raja masih duduk di singgasana ruang keluarga. Menatap lurus ke figura besar yang ada disana. Foto keluarga bahagia dimana masih ada mendiang istrinya.

"Papa belum tidur?" Tegur Elang.

"Darimana kamu?" Balas Raja menatap.

"Dari rumah sakit. Melihat teman."

Raja menghela nafas. "Istri keduamu mengandung anak perempuan."

Elang mengangguk.

"Sepertinya sulit bagi kita untuk mendapatkan penerus, Elang."

Elang berbalik setelah mendengar ucapan papanya. Ia mengambil duduk di sofa single dan memandang Raja.

"Apa yang harus aku lakukan, pa?"

Raja mengedikkan bahu.

"Istri pertamamu tidak akan pernah bisa memberikan keturunan lagi, lalu Alisa.. papa tidak yakin dia mau mengandung lagi setelah melahirkan anaknya. Istri keduamu itu sangat lemah."

"Lalu solusinya?"

"Papa akan mencarikanmu istri ketiga."

"Menikah lagi? Apa tidak ada jalan lain?"

"Lalu bagaimana?" Raja memandang tajam. "Mengadopsi anak maksudmu?" Raja berdecak lalu menggeleng. "Lebih baik kamu menikah lagi dengan wanita yang mampu membuatmu memiliki anak laki-laki, Elang. Papa akan mencarikanmu wanita."

"Jangan!" Sela Elang cepat. "Untuk istri ketiga ini, biar aku yang mencarinya sendiri."

"Tapi, Elang.."

"Dua kali papa memberikanku istri tapi semuanya tidak sesuai dengan harapan papa, kan? Nah, sekarang biarkan aku mencari istriku sendiri."

Elang berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya disana, ia membuka jas, kemeja dan jam tangannya.

Sambil menghela nafas panjang, ia menatap getir cermin besar yang ada disana. Membalik diri dan menyentuh bagian belakang lehernya. Ada sebuah tatoo yang bertuliskan inisial "JN".

"Wanita itu mirip sekali dengannya." Gumam Elang tak karuan.

Sementara di balik pintu yang lain, ada yang sakit hati setelah mendengar percakapan Elang dan ayahnya.

"Arrgghh.." Silvya mengepalkan tangan dengan erat.

Sampai kapan posisinya ini terus tidak aman? Padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi ratu di rumah ini. Tapi dua pria ini masih bersikeras ingin memiliki keturunan laki-laki.

"Aku nggak akan membiarkanmu menikah lagi, Elang!" Ucap Silvya kesal.

Esok paginya, Regita sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kakinya yang terkilir mulai sembuh. Begitu juga dengan luka di sekujur tubuhnya.

Dengan menggunakan jaket, Regita keluar dari kamar rawat. Wanita ini terperangah saat sadar dimana dia berada.

"Bukankah ini rumah sakit yang terkenal itu?"

Astaga. Regita sampai menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini bukan seperti rumah sakit melainkan hotel. Mewah sekali.

"Ehem. Selamat pagi, nona." Sapa seorang pria yang berhasil membuat Regita terkejut.

"Pa-pagi.."

"Perkenalkan saya Rico, asisten Tuan Elang."

"Asisten tuan Elang??"

"Pria yang mengunjungi anda kemarin."

"Oh.. jadi pria bermata tajam itu bernama Elang?"

Rico mengulum senyum.

"Saya dengar anda sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."

"Benar." Regita lantas gugup. "Tapi saya nggak punya uang yang besar untuk membayar rumah sakit ini."

Apalagi Regita di tempatkan di ruang VIP. Oh, membayangkan nominal uangnya saja Regita tak sanggup.

"Tenang saja. Anda tidak perlu membayar apapun. Sekarang ikuti saya."

Regita manut. Wanita ini mengikuti Rico sampai ke lantai dasar. Di depan lobi, ada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang menunggu.

"Silahkan masuk, nona."

"Ma-masuk??" Regita sampai menunjuk dirinya sendiri.

"Iya. Ada tuan yang menunggu."

Matilah! Regita yang ketakutan tak sadar menggigit bibirnya.

Pintu mobil bagian belakang di buka oleh Rico. Mau tak mau, Regita masuk ke kursi belakang dan terkejut saat ada pria yang menatapnya dengan mata bercahayanya.

"Tu-tuan.." Regita jadi panik.

Pintu mobil ditutup. Rico masuk ke kursi kemudi. Sedangkan, Regita jadi sesak nafas. Pria disebelahnya terus menerus memandanginya.

Mobil melaju dengan pelan menembus jalan raya. Sekarang jantung Regita berpacu bersamaan dengan kecepatan mobil ini. Wanita ini mengerjap kesadarannya. Kemana mereka akan membawa Regita? Atau mungkin Elang malah ingin membunuhnya? Oh, tidak.

"Kita mau kemana, tuan?" Tanya Regita akhirnya.

Elang tersenyum. "Kemana kamu pulang?"

"Aku... aku tidak punya rumah."

"Bukannya rumahmu ada di kolong jembatan?"

Regita terlonjak kaget.

"Ayahmu seorang pemabuk dan tukang judi. Ibumu sudah lama meninggal. Kamu juga bekerja serabutan di pasar." Elang mengangguk. "Aku sudah menyelidikimu."

Nafas yang ditarik oleh Regita semakin berat. Ia lalu menggigit bibir menahan rasa takutnya.

"Kamu ingin melanjutkan hidup, kan?" Tanya pria ini lagi.

"I-iya, tuan."

"Maka ikutlah denganku."

"Kemana?"

"Ke perusahaan Cakrawala. Bekerja lah disana."

Mata Regita langsung membulat. Nama perusahaan itu sepertinya ia pernah dengar dari televisi.

Oleh karena tak memprotes, Elang membawa wanita ini ke perusahaan Cakrawala. Disana dia bertamu dengan Jordi. Wakil Elang di perusahaan ini.

"Jordi. Berikan posisi yang cocok untuk wanita ini." Ujar Elang.

Mata Regita menyapu perusahaan ini dengan lekat. Sebuah perusahaan megah yang sangat luar biasa. Seluruh pegawainya memakai jas yang mahal dan rapi. Apalagi parfum yang mereka sangatlah wangi. Seketika Regita menciut, pekerjaan apa yang Elang ingin berikan padanya.

"Siapa namamu, nona?" Tanya Jorgi beralih pada Regita.

"Regita, tuan." Jawabnya sopan.

"Apa pendidikan terakhirmu?"

"Saya hanya tamatan SMA."

"Kalau begitu kita tempatkan saja dia di office girl, tuan."

Elang mengangguk. Tak mudah juga untuk mendapatkan posisi kantor mengingat latar pendidikan wanita ini.

"Baiklah, Regita. Sekarang kamu bisa bekerja disini. Tidak perlu risau untuk tempat tinggal. Saya menyediakan mess untuk seluruh pegawai."

"Anda baik sekali." Regita menatap dengan mata berkaca-kaca. "Padahal saya sudah merepotkan anda selama di rumah sakit kemarin."

"Bukan apa-apa. Ini salah kami yang menabrakmu. Sekarang jangan pulang lagi ke rumahmu. Kamu pasti tidak mau dijual lagi oleh ayahmu, kan?"

Regita mengangguk cepat. "Iya, tuan."

"Bagus!" Pandangan Elang beralih pada Jorgi. "Bawa Regita ke mess dan tunjukan kamarnya. Dia bekerja mulai besok pagi saja."

"Baik, tuan." Jorgi patuh dan meminta Regita untuk mengikutinya. Sementara Elang akan naik lantai atas ke ruang kerjanya bersama dengan Rico.

"Tuan!" Panggil Regita saat melihat Elang hampir berlalu.

Elang menoleh dengan dahi yang mengernyit.

"Terima kasih bantuannya. Terima kasih sekali!" Ucap Regita tersenyum manis.

Elang pun merasakan debaran yang berbeda di jantungnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 11

    "Bagaimana, Diana?"Diana datang ke kamar yang ditempati oleh Silvya. Malam sudah menunjukkan pukul 11. Wanita ini bertindak sebagai burung pembawa kabar."Tuan dan asistennya pergi ke restoran nusantara yang berada di tengah kota. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, nyonya.""Tunggu sebentar. Restoran nusantara?"Diana mengangguk. "Benar, nyonya. Restoran yang sangat terkenal itu.""Ah.. jadi mereka cuma pergi berdua?"Diana mengangguk. "Benar. Mereka berdua hanya makan bersama. Mungkin mereka ingin membicarakan masalah bisnis."Sepenglihatan mata-mata, keduanya duduk di restoran. Rico tampak memesan makanan sementara Elang sibuk memainkan ponselnya.Silvya tergelak. Ternyata dia sudah gegabah dengan berpikir Elang memiliki calon istri lain."Terima kasih atas bantuanmu."Silvya menarik laci yang ada di samping tempat tidurnya. Mengambil benda berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Diana."Ambil ini.""Terima kasih, nyonya. Dengan senang hati saya akan selalu membantu." Dian

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 10

    "Hai, Alisa." Silvya tersenyum cerah saat mengunjungi adik madunya."Ada mbak Silvya." Alisa ikut membalas senyuman manis itu. "Silahkan masuk, mbak. Apa mbak sudah sarapan?"Silvya masuk ke rumah kayu milik Alisa dimana tak lebih luas dari seperempat rumah utama."Sudah. Aku kemari membawakanmu ini." Silvya memberikan satu paper bag dari butik ternama."Pakaian hamil untukmu. Kebetulan kemarin aku ke butik langganan untuk membeli beberapa pakaian dan aku melihat ini." Ucapnya baik hati."Ah.. ini cantik sekali." Alisa menerima itu dengan senang hati. "Terima kasih, mbak.""Sama-sama." Silvya tersenyum dengan menyapu sudut rumah dengan matanya. "Elang sudah pergi bekerja?""Sudah, mbak. Baru saja."Silvya mengulum senyum. "Aku tidak melihatnya semalam. Padahal biasanya dia pulang tengah malam setelah dari rumahmu. Tapi rupanya dia menghabiskan waktunya disini bersamamu. Syukurlah, Alisa. Elang pasti sangat menyayangimu. Apalagi kamu mengandung putrinya."Alisa yang mendengar itu samp

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 9

    Elang memijit dahi hingga pangkal hidungnya. Khayalan macam apa tadi? Kenapa dia tiba-tiba melamar office girl seperti Regita. Astaga! Elang harus memeriksakan diri setelah ini. Sepertinya kepala itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya hilang akal.Sedangkan di hadapan pria itu, masih ada Regita yang berdiri ketakutan. Wajah wanita itu tertunduk menunggu hukuman yang akan diberikan."Apa kamu juga yang mengganti parfum ruangan ini?" Tanya Elang lagi.Suara itu tidak dingin. Namun cukup menusuk jantung Regita hingga membuat wanita ini semakin menggigil."Iya, tuan. Kemarin parfum ruangan anda habis. Saat saya ingin bertanya pada office boy sebelumnya, ternyata dia sedang sakit. Jadi, saya...."Ucapan Regita terhenti ketika Elang mengangkat tangannya."Cukup. Keluarlah."Regita terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan memandang kebingungan."Keluar dari sini." Ujar Elang mengulangi ucapannya.Sejenak Regita keheranan. Asisten pria itu tadi bilang jika Regita akan terkena hukuman ka

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 8

    Jika Elang pikir akan leluasa bertemu dengan Regita maka dia salah besar. Wanita itu hanya bekerja di ruangan ini ketika fajar tiba. Pukul 7 menjelang, Regita akan keluar dari ruang kerja Elang dan mengurus yang lain.Dia muncul ketika Jorgi membutuhkannya sewaktu-waktu saja.Aroma parfum ruangan yang berubah, bunga hidup di vas yang selalu diganti membuat suasana tempat Elang bekerja berubah total.Tak ada lagi kesan kuat dan menantang. Berganti dengan lembut dan penuh debaran."Satu jam lagi kita akan rapat dengan tuan Barnes. Beliau ingin mengajak anda untuk bekerja sama di bidang ekspor impor." Lapor Jorgi kala itu.Elang berdeham. "Siapkan jamuan yang terbaik."Elang tahu betul betapa bagusnya reputasi keluarga Barnes. Salah satu pebisnis yang sudah memiliki tiga turunan menguasai di bidang perdagangan.Tuan Barnes Senior sudah pensiun, sekarang diganti oleh Barnes Junior. Sebab itulah, Elang sangat penasaran akan p

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 7

    "Silvya.."Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya."Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi."Tidak. Bagaimana kata dokter?""Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak.""Lalu?""Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi.""Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya."Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 6

    "Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan."Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk."Bersihkan semua area depan termasuk parkiran.""Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah."Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!""Baik." Regita mengangguk.Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika."Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anakny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status