Share

Bab 7

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-08-21 17:14:05

"Silvya.."

Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya.

"Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi.

"Tidak. Bagaimana kata dokter?"

"Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak."

"Lalu?"

"Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi."

"Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.

Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya.

"Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.

"Bagus sekali. Itu artinya kamu dan putrimu bisa pindah ke rumah kayu."

Silvya menggeleng getir. "Kamu nggak mengerti maksudku, Elang. Jika kami tinggal di pondok, maka itu akan mengganggu perkembangan Rafika. Anak kita tidak bisa tinggal di tempat yang bersekat dan sempit. Dia sangat sensitif. Aku mohon belas kasihmu, Elang. Setidaknya sampai Rafika cukup waktu untuk belajar mengendalikan dirinya, aku minta izin untuk tinggal di rumah utama."

Perhatian Elang lalu tertuju pada Rafika yang sedari tadi diam saja. Meskipun begitu, tangan anak ini sibuk sekali memainkan ujung gaunnya. Ia mencoba menarik dan menggigitnya. Dibanding dengan anak seusianya, Rafika memang jauh tertinggal.

"Baiklah. Aku tidak akan melarangmu." Ujar Elang akhirnya.

Silvya lantas tersenyum. "Terima kasih atas kebaikanmu. Kalau begitu kami pulang dulu."

Silvya senang sekali. Elang memang dingin tapi mudah dibujuk. Sikapnya kaku tapi menyimpan banyak perhatian. Ia bersyukur tidak di depak dari rumah utama. Setidaknya status Silvya sebagai istri pertama tetap kokoh.

Berdoa saja supaya ide mencari istri ketiga itu tak ada lagi. Atau Silvya berjanji tak akan tinggal diam.

Lepas kepergian Silvya, Elang kembali ke kamar istirahat yang terletak di ujung ruang kerjanya. Disana ada Regita yang sedang membereskan piring bekas makan.

"Taruh saja disana, Regita. Biarkan pelayan yang mengurusnya." Ucap Elang.

Regita berbalik dan tersenyum. Sekejap Elang terpesona. Senyuman itu benar-benar teduh. Seperti bisa memberikan ketenangan.

"Saya juga pelayan, tuan. Terima kasih atas kebaikan tuan hari ini."

Elang berdeham untuk menetralisir gejolak di dadanya.

"Mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja di taman. Kamu akan menjadi office girl untuk ruang kerja saya."

Regita terperangah. "Maksud anda.. saya akan membersihkan ruang kerja ini?"

Elang mengangguk tanpa melepas tatapan mautnya. Regita pun kembali menyunggingkan senyum. Apapun perintah Elang.. dimana pun ia diposisikan maka tak akan jadi masalah.

"Baik, tuan. Terima kasih karena sudah membantu saya hari ini."

Esoknya, Regita mulai bekerja sebagai office girl khusus ruang kerja pemimpin tertinggi perusahaan.

Banyak pelayan lain yang iri. Mereka telah dilangkahi oleh pelayan baru yang bernama Regita.

Padahal pelayan disini masih banyak yang masih gadis bahkan cantik. Beberapa dari mereka malah berusaha untuk menarik perhatian Elang. Menjadi istri ketiga atau gundiknya pun tak masalah. Yang penting mereka bisa menjadi simpanan Elang dengan bonus kekayaan.

Tapi Elang yang dingin sangat sulit untuk dijamah. Kastanya yang tinggi begitu susah dijangkau.

Namun pelayan baru bernama Regita itu malah maju sekian langkah. Uh, tak tinggal diam. Mereka mengajukan protes pada kepala cleaning service.

"Diam saja! Jangan banyak bicara. Kecuali kalau kalian mau dipecat dari sini!" Bentak si gendut kesal.

Dia pun ikut emosi. Gara-gara Regita pingsan, dia langsung kena tegur. Padahal sudah jelas tugas Regita membersihkan taman. Ah,.. wanita itu sangat istimewa sehingga mendapatkan perhatian Elang.

Esoknya, Elang tiba di ruang kerjanya tepat pukul 8 pagi. Baru saja membuka pintu, aroma baru menerpa penciuman Elang.

Mata pria ini terpejam. Aroma ini sejuk dan lembut. Tak seperti biasa dimana ada harum strong dan maskulin yang melingkupi isi ruangan.

Elang duduk di kursi besarnya diikuti oleh Jorgi, sekretarisnya. Pria ini membawakan beberapa dokumen untuk Elang tanda tangani.

"Siapa yang mengganti parfum ruangan?" Tanya Elang.

Jorgi yang tersadar ikut mengendus harum yang berbeda.

"Mungkin office girl baru kita, tuan. Regita."

"Kamu yakin Regita yang melakukannya?" Tanyanya.

"Iya, tuan. Setiap jam 6 pagi ada pelayan yang akan membersihkan ruangan ini. Dan baru hari ini terjadi perubahan. Tapi saya akan menegurnya."

"Tidak perlu. Jangan ditegur."

Jorgi langsung mengernyit keheranan. Ia tahu betul jika Elang sangat kaku dan terstruktur. Pria ini terkadang tak suka perubahan.

"Biarkan saja. Aroma ini lebih baik."

Elang menarik nafas panjang untuk mengisi rongga parunya dengan aroma baru ini.

Aroma yang membelai seakan memberikan rasa nyaman.

"Daun teh.." gumam Elang tersenyum. "Wanita itu memiliki selera yang luar biasa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 11

    "Bagaimana, Diana?"Diana datang ke kamar yang ditempati oleh Silvya. Malam sudah menunjukkan pukul 11. Wanita ini bertindak sebagai burung pembawa kabar."Tuan dan asistennya pergi ke restoran nusantara yang berada di tengah kota. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, nyonya.""Tunggu sebentar. Restoran nusantara?"Diana mengangguk. "Benar, nyonya. Restoran yang sangat terkenal itu.""Ah.. jadi mereka cuma pergi berdua?"Diana mengangguk. "Benar. Mereka berdua hanya makan bersama. Mungkin mereka ingin membicarakan masalah bisnis."Sepenglihatan mata-mata, keduanya duduk di restoran. Rico tampak memesan makanan sementara Elang sibuk memainkan ponselnya.Silvya tergelak. Ternyata dia sudah gegabah dengan berpikir Elang memiliki calon istri lain."Terima kasih atas bantuanmu."Silvya menarik laci yang ada di samping tempat tidurnya. Mengambil benda berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Diana."Ambil ini.""Terima kasih, nyonya. Dengan senang hati saya akan selalu membantu." Dian

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 10

    "Hai, Alisa." Silvya tersenyum cerah saat mengunjungi adik madunya."Ada mbak Silvya." Alisa ikut membalas senyuman manis itu. "Silahkan masuk, mbak. Apa mbak sudah sarapan?"Silvya masuk ke rumah kayu milik Alisa dimana tak lebih luas dari seperempat rumah utama."Sudah. Aku kemari membawakanmu ini." Silvya memberikan satu paper bag dari butik ternama."Pakaian hamil untukmu. Kebetulan kemarin aku ke butik langganan untuk membeli beberapa pakaian dan aku melihat ini." Ucapnya baik hati."Ah.. ini cantik sekali." Alisa menerima itu dengan senang hati. "Terima kasih, mbak.""Sama-sama." Silvya tersenyum dengan menyapu sudut rumah dengan matanya. "Elang sudah pergi bekerja?""Sudah, mbak. Baru saja."Silvya mengulum senyum. "Aku tidak melihatnya semalam. Padahal biasanya dia pulang tengah malam setelah dari rumahmu. Tapi rupanya dia menghabiskan waktunya disini bersamamu. Syukurlah, Alisa. Elang pasti sangat menyayangimu. Apalagi kamu mengandung putrinya."Alisa yang mendengar itu samp

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 9

    Elang memijit dahi hingga pangkal hidungnya. Khayalan macam apa tadi? Kenapa dia tiba-tiba melamar office girl seperti Regita. Astaga! Elang harus memeriksakan diri setelah ini. Sepertinya kepala itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya hilang akal.Sedangkan di hadapan pria itu, masih ada Regita yang berdiri ketakutan. Wajah wanita itu tertunduk menunggu hukuman yang akan diberikan."Apa kamu juga yang mengganti parfum ruangan ini?" Tanya Elang lagi.Suara itu tidak dingin. Namun cukup menusuk jantung Regita hingga membuat wanita ini semakin menggigil."Iya, tuan. Kemarin parfum ruangan anda habis. Saat saya ingin bertanya pada office boy sebelumnya, ternyata dia sedang sakit. Jadi, saya...."Ucapan Regita terhenti ketika Elang mengangkat tangannya."Cukup. Keluarlah."Regita terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan memandang kebingungan."Keluar dari sini." Ujar Elang mengulangi ucapannya.Sejenak Regita keheranan. Asisten pria itu tadi bilang jika Regita akan terkena hukuman ka

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 8

    Jika Elang pikir akan leluasa bertemu dengan Regita maka dia salah besar. Wanita itu hanya bekerja di ruangan ini ketika fajar tiba. Pukul 7 menjelang, Regita akan keluar dari ruang kerja Elang dan mengurus yang lain.Dia muncul ketika Jorgi membutuhkannya sewaktu-waktu saja.Aroma parfum ruangan yang berubah, bunga hidup di vas yang selalu diganti membuat suasana tempat Elang bekerja berubah total.Tak ada lagi kesan kuat dan menantang. Berganti dengan lembut dan penuh debaran."Satu jam lagi kita akan rapat dengan tuan Barnes. Beliau ingin mengajak anda untuk bekerja sama di bidang ekspor impor." Lapor Jorgi kala itu.Elang berdeham. "Siapkan jamuan yang terbaik."Elang tahu betul betapa bagusnya reputasi keluarga Barnes. Salah satu pebisnis yang sudah memiliki tiga turunan menguasai di bidang perdagangan.Tuan Barnes Senior sudah pensiun, sekarang diganti oleh Barnes Junior. Sebab itulah, Elang sangat penasaran akan p

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 7

    "Silvya.."Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya."Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi."Tidak. Bagaimana kata dokter?""Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak.""Lalu?""Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi.""Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya."Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 6

    "Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan."Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk."Bersihkan semua area depan termasuk parkiran.""Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah."Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!""Baik." Regita mengangguk.Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika."Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anakny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status