LOGIN"Silvya.."
Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya. "Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi. "Tidak. Bagaimana kata dokter?" "Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak." "Lalu?" "Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi." "Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar. Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya. "Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya. "Bagus sekali. Itu artinya kamu dan putrimu bisa pindah ke rumah kayu." Silvya menggeleng getir. "Kamu nggak mengerti maksudku, Elang. Jika kami tinggal di pondok, maka itu akan mengganggu perkembangan Rafika. Anak kita tidak bisa tinggal di tempat yang bersekat dan sempit. Dia sangat sensitif. Aku mohon belas kasihmu, Elang. Setidaknya sampai Rafika cukup waktu untuk belajar mengendalikan dirinya, aku minta izin untuk tinggal di rumah utama." Perhatian Elang lalu tertuju pada Rafika yang sedari tadi diam saja. Meskipun begitu, tangan anak ini sibuk sekali memainkan ujung gaunnya. Ia mencoba menarik dan menggigitnya. Dibanding dengan anak seusianya, Rafika memang jauh tertinggal. "Baiklah. Aku tidak akan melarangmu." Ujar Elang akhirnya. Silvya lantas tersenyum. "Terima kasih atas kebaikanmu. Kalau begitu kami pulang dulu." Silvya senang sekali. Elang memang dingin tapi mudah dibujuk. Sikapnya kaku tapi menyimpan banyak perhatian. Ia bersyukur tidak di depak dari rumah utama. Setidaknya status Silvya sebagai istri pertama tetap kokoh. Berdoa saja supaya ide mencari istri ketiga itu tak ada lagi. Atau Silvya berjanji tak akan tinggal diam. Lepas kepergian Silvya, Elang kembali ke kamar istirahat yang terletak di ujung ruang kerjanya. Disana ada Regita yang sedang membereskan piring bekas makan. "Taruh saja disana, Regita. Biarkan pelayan yang mengurusnya." Ucap Elang. Regita berbalik dan tersenyum. Sekejap Elang terpesona. Senyuman itu benar-benar teduh. Seperti bisa memberikan ketenangan. "Saya juga pelayan, tuan. Terima kasih atas kebaikan tuan hari ini." Elang berdeham untuk menetralisir gejolak di dadanya. "Mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja di taman. Kamu akan menjadi office girl untuk ruang kerja saya." Regita terperangah. "Maksud anda.. saya akan membersihkan ruang kerja ini?" Elang mengangguk tanpa melepas tatapan mautnya. Regita pun kembali menyunggingkan senyum. Apapun perintah Elang.. dimana pun ia diposisikan maka tak akan jadi masalah. "Baik, tuan. Terima kasih karena sudah membantu saya hari ini." Esoknya, Regita mulai bekerja sebagai office girl khusus ruang kerja pemimpin tertinggi perusahaan. Banyak pelayan lain yang iri. Mereka telah dilangkahi oleh pelayan baru yang bernama Regita. Padahal pelayan disini masih banyak yang masih gadis bahkan cantik. Beberapa dari mereka malah berusaha untuk menarik perhatian Elang. Menjadi istri ketiga atau gundiknya pun tak masalah. Yang penting mereka bisa menjadi simpanan Elang dengan bonus kekayaan. Tapi Elang yang dingin sangat sulit untuk dijamah. Kastanya yang tinggi begitu susah dijangkau. Namun pelayan baru bernama Regita itu malah maju sekian langkah. Uh, tak tinggal diam. Mereka mengajukan protes pada kepala cleaning service. "Diam saja! Jangan banyak bicara. Kecuali kalau kalian mau dipecat dari sini!" Bentak si gendut kesal. Dia pun ikut emosi. Gara-gara Regita pingsan, dia langsung kena tegur. Padahal sudah jelas tugas Regita membersihkan taman. Ah,.. wanita itu sangat istimewa sehingga mendapatkan perhatian Elang. Esoknya, Elang tiba di ruang kerjanya tepat pukul 8 pagi. Baru saja membuka pintu, aroma baru menerpa penciuman Elang. Mata pria ini terpejam. Aroma ini sejuk dan lembut. Tak seperti biasa dimana ada harum strong dan maskulin yang melingkupi isi ruangan. Elang duduk di kursi besarnya diikuti oleh Jorgi, sekretarisnya. Pria ini membawakan beberapa dokumen untuk Elang tanda tangani. "Siapa yang mengganti parfum ruangan?" Tanya Elang. Jorgi yang tersadar ikut mengendus harum yang berbeda. "Mungkin office girl baru kita, tuan. Regita." "Kamu yakin Regita yang melakukannya?" Tanyanya. "Iya, tuan. Setiap jam 6 pagi ada pelayan yang akan membersihkan ruangan ini. Dan baru hari ini terjadi perubahan. Tapi saya akan menegurnya." "Tidak perlu. Jangan ditegur." Jorgi langsung mengernyit keheranan. Ia tahu betul jika Elang sangat kaku dan terstruktur. Pria ini terkadang tak suka perubahan. "Biarkan saja. Aroma ini lebih baik." Elang menarik nafas panjang untuk mengisi rongga parunya dengan aroma baru ini. Aroma yang membelai seakan memberikan rasa nyaman. "Daun teh.." gumam Elang tersenyum. "Wanita itu memiliki selera yang luar biasa.""Selamat jalan, papa."Regita mengusap peti mati yang mengantarkan Henry ke dalam liang tempat istirahat terakhirnya. Semua orang menundukkan kepala untuk berdoa.Regita memandang peti itu dengan datar. Seolah perpisahan ini tak lagi menyakitkan. Ya, dia sudah menjalani banyak perpisahan dalam hidupnya. Dan pelaku yang sudah memberikannya banyak luka tak pantas untuk mendapatkan air mata.Sekarang Henry sudah tenang di rumah barunya. Papan nisan tertulis nama pendiri perusahaan Barnes yang dulu sempat terkenal. Namun semuanya hancur seperti kepercayaan Henry pada putra kesayangannya."Aku turut berduka, Jane." Michel mengusap bahu Regita dengan simpatik.Regita tersenyum. "Terima kasih, Michel.""Sekarang apa rencanamu? Mengambil alih harta yang tersisa?""Semuanya akan ku simpan, Michel. Aku adalah ahli waris dari papaku. Rumah dan harta tidak bergerak akan aku jual. Tabungan deposito akan ku simpan ke bank Swiss. Jika
"Mari kita berpisah."Suara lirih itu terdengar. Mata itu memerah dan berkaca-kaca.Elang yang melihat itu tertegun sejenak. Regita lah yang terlebih dulu nyatanya mengungkapkan keinginannya."Aku tahu pernikahan kita tidak bisa diselamatkan, Elang. Aku sangat berdosa padamu.. dengan sengaja aku menipumu agar aku bisa mencapai tujuanku.. ya, aku jahat sekali." Helaan nafas berat keluar dari mulut Regita."Aku melakukan semua ini untuk membalaskan dendamku pada Jonathan. Dia dan ibunya telah merusak pernikahan orang tuaku.. menghancurkan hidup ibuku hingga mati. Lalu dia berusaha melenyapkanku dengan merancang pembunuhan berencana." Regita meneguk ludahnya. "Aku sangat membenci mereka, Elang. Sebab itulah aku ingin membalaskan kejahatan yang mereka lakukan pada kami."Regita lalu menatap lekat pria yang masih menjadi suaminya dengan air mata yang menitik."Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta, Elang. Si
Tak ada yang bisa mengalahkan penyesalan dari Raja saat ini. Oleh karena keegoisan Raja yang menginginkan cucu laki-laki membuat masalah bertubi-tubi menimpa anak kesayangannya.Istri pertama Elang yang manipulatif dan memiliki keinginan untuk melenyapkan istri yang lain.Istri kedua yang polos namun tak berdaya. Mudah sekali disinggung dan dimanfaatkan.Dan istri ketiga yang menjadi andalan Elang namun rupanya menyimpan rahasia yang menyakitkan.Raja sangat kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia tak memaksa Elang menikah dengan Silvya ataupun Alisa, mungkin semuanya tak akan seperti ini.Di rumah sakit, Regita sendiri sudah mendapatkan kesadarannya. Di sisinya ada Arthur dan Darius yang tertidur di ranjang bayi. Saat melihat kedua putranya, mata Regita berkaca-kaca. Ia ingin memeluk kedua anaknya."Michel. Anak-anakku." Keluh Regita.Michel yang baru saja terlelap lantas terbangun."Jangan banyak bergerak,
Seharian Alisa tak keluar dari kamarnya. Sepanjang hari ini, ia terus memeluk putri tunggalnya. Menangis dan meminta maaf hingga membuat Aliyah meronta dilepaskan.Pintu yang diketuk akhirnya membuat pelukan itu terlepas. Aliyah lolos dan berlari memeluk pengasuhnya."Nyonya.." tegur Nilam. "Anda ingin makan sesuatu?"Alisa menggeleng. "Aku ingin sendirian.""Nyonya.. nyonya Silvya terbukti menjadi pelaku penculikan Arthur dan Darius. Sekarang nyonya Silvya sudah dibawa ke kantor polisi."Jantung Alisa sampai berhenti di tempat. Ia lalu meremas seprai tempat tidur karena ketakutan.Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuat Nilam tertunduk. Ada Raja yang datang dan menatap menantu keduanya dari jauh."Alisa.."Alisa mengerjap. Ia menatap dengan penuh ketakutan. Di depan sana ada mertuanya yang pasti ingin menuntut segala hal."Papa! Aku.. aku tidak sengaja melakukannya." Ujar Alisa terisak. "Aku dipaksa.."
Dor!Dor!Tembakan itu melesat dengan bebas. Regita berlari saat melihat pistol itu ditujukan pada suaminya. Tubuh Elang ia peluk. Ia balik hingga tembakan tersebut mengenai bahunya.Elang merengkuh pinggang Regita ketika peluru itu bersarang di bahu istrinya. Ia lalu membawa Regita dalam pelukan."Brengsek!"Rico menendang pria itu sekali lagi hingga tak sadarkan diri. Bersama dengan pengawal lain, pria penculik itu berhasil diamankan. Sementara, Regita dibawa ke mobil oleh Elang."Bertahan!!"Elang melepaskan jas kerjanya dan membalut bahu Regita yang bercucuran darah. Wajah Regita memucat. Nadinya mulai melemah. Dibalik kursi kemudi, ia melihat Arthur dan Darius yang dipangku di kursi depan."Ma! Ma!" Arthur dan Darius menangis sambil memanggil nama ibunya.Elang membawa kepala Regita yang terkulai bersender di dadanya."Bertahanlah!" Seru Elang cemas. Ia mengusap wajah Regita yang
Nilam dan pengasuh Darius sampai berlari ikut mencari keberadaan kedua bayi yang tiba-tiba menghilang. Sedangkan Alisa memeluk Aliyah dengan erat. Anak itu menangis kencang karena baru saja terbebas dari ketakutan."Maafkan mama, nak." Bisik Alisa melirih. Ia jadi merasa bersalah karena sengaja mengurung Aliyah di kamar mandi."Nyonya! Kami sudah mencari si kembar berkeliling tapi tidak ditemukan!" Seru Nilam melapor."Kita harus memeriksa cctv! Aku sudah mencari mereka berkeliling taman bermain ini!" Ujar Regita muncul dengan emosi yang membuncah.Mata Alisa sampai melotot ketika melihat Regita yang tiba-tiba muncul dengan Michel. Peluh bercucuran tampak di wajahnya yang memerah."Regita.."Regita tak menyahuti. Dia menyuruh Michel untuk memeriksa kamera pengawas. Sementara Regita dan kedua pengasuh anaknya masih melanjutkan pencarian."Astaga! Bagaimana ini?" Alisa semakin ketakutan. Dia lalu diam-diam mengirim pesan p







