Share

Bab 6

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-29 20:03:09

"Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan.

"Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.

Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk.

"Bersihkan semua area depan termasuk parkiran."

"Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah.

"Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!"

"Baik." Regita mengangguk.

Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.

Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika.

"Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anaknya.

Rafika yang ketakutan memilih meringkuk dalam pelukan ibunya. Sedangkan, Elang hanya menoleh sekilas.

"Kamu belum pindah?" Tanya pria ini datar.

Silvya berdeham. "Putri kita masih sakit. Hari ini aku berencana ke dokter."

Elang menghirup teh hangatnya dengan tenang. Ia bangkit dari kursi makan dan berjalan ke arah Silvya yang tengah menggendong Rafika.

Tangan pria ini terulur menyentuh dahi Rafika. Anak kecil ini nampak meringis ngeri. Namun Elang hanya menatapnya tanpa rasa.

"Tidak panas."

"Baru saja kuberi obat penurun panas." Kilah Silvya.

Elang mengangguk. "Aku tidak bisa menemanimu, Silyva. Kamu saja."

"Iya, tidak apa-apa." Silvya tersenyum manis ketika Elang berlalu begitu saja.

Setidaknya alasan yang dia pakai untuk tidak pindah adalah tepat. Rafika akan menjadi senjata andalannya.

Elang pergi ke perusahaan diantar oleh sopirnya. Saat masuk ke area Cakrawala, mata Elang menyipit saat melihat wanita yang ia kenal tengah menyapu area parkir.

Disana ada pohon besar yang sangat rimbun. Daun-daun berguguran saat angin bertiup. Alhasil, Regita harus menyapunya berkali-kali.

"Selamat pagi, tuan Elang." Sambut Rico.

Elang berdeham. Matanya tak lepas mengawasi Regita.

"Kenapa dia disana?" Tanya Elang menunjuk menggunakan wajahnya.

"Kepala CS menempatkannya disana."

"Di area luar?"

Rico mengangguk. "Benar, tuan. Oh kita ada rapat hari ini dengan CEO perusahaan Nandira pukul 11 siang."

Akhirnya fokus Elang teralih.

"Iya." Jawabnya sedikit.

Pria itu lalu masuk dan bekerja seperti biasa. Selang beberapa jam kemudian, Elang ditemani oleh Jordi dan Rico keluar dari perusahaan untuk rapat dengan pemimpin perusahaan lain. Demi menjalin sebuah kerjasama.

Saat mobil itu berputar keluar area taman, disana juga Elang melihat Regita. Wanita yang berambut panjang itu tengah menyapu di taman yang penuh akan daun kering.

Sesekali ia mengusap keringatnya yang bercucuran. Siang ini panas sekali, sejak pagi dia sudah bergelut diluar. Memegang sapu, menghirup debu tanpa minum dan makan sedikitpun.

Regita membalik diri setelah selesai menyapu. Semilir angin berhembus lagi hingga membuat daun kembali runtuh dengan lebat.

Wanita ini menghela nafas panjang. Lagi-lagi dia harus menyapu taman yang besar ini.

Sambil menyeret separuh langkahnya, Regita menyapu dan mengambil daun kering tersebut. Namun saat dia berdiri, Regita mengeluh perutnya sakit. Pandangannya berubah gelap.

Ia pun jatuh tak sadarkan diri disaat dua buah tangan menangkap tubuhnya.

****

"Regita.." panggil pria ini lembut.

Regita mengerjap kesadarannya. Mata itu terbuka perlahan. Angin sejuk seolah menerpa wajahnya yang terbakar karena cahaya matahari. Dan aroma parfum maskulin ini membelai indera penciumannya.

Regita sontak tersadar. Ia terkejut saat sadar tengah tertidur di sebuah ranjang yang besar nan empuk.

"Tu-tuan.." Regita terkejut bukan main.

"Kamu pingsan tadi." Elang menatap lekat.

"A-aku pingsan?" Regita bangkit dan duduk dengan sopan. Wajahnya tertunduk. "Maaf, tuan. Maafkan aku.."

"Tidak apa-apa. Kamu sudah makan?"

Regita mengangkat wajahnya saat mendengar nada lembut itu.

"Be-belum." Sahut Regita dengan tangan gemetaran.

Melihat itu, Elang tersenyum. Ia lalu memanggil Rico yang sejak tadi berdiri di balik pintu kamar.

"Siapkan makan siang untuk Regita."

"Baik, tuan." Rico patuh dan mengambil sesuai pesanan.

Sementara, Regita masih syok. Dia merasa tersesat karena berada di ruangan yang terlihat seperti kamar.

"Ini.. dimana?"

"Ruang istirahatku."

"Ru-ruang istirahat?"

Elang terkekeh. "Kamu selalu gugup melihatku. Tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu. Ini adalah ruang kerjaku dimana ada ruang istirahat disini."

"Begitu rupanya.."

Tak lama, Rico datang lagi. Dia membawa satu trolli yang berisi makanan penuh.

"Ini tuan." Ucap Rico menghidangkan makanan tersebut.

"Mari makan, Regita. Kamu bisa keluar Rico, terima kasih."

Rico mengundurkan diri. Elang membuka tudung saji stenlis itu hingga terlihatlah makanan yang beragam disana.

Mulai steak daging, sayur, kentang goreng, puding, buah dan jus. Semuanya ada di depan mata Regita hingga membuat air liur itu hampir menetes.

"Kamu belum pernah melihat makanan sebanyak ini?" Tebak Elang.

Regita mengangguk cepat. Dia lalu memandang makanan itu dengan penuh cinta. Makanan lezat itu seperti memanggil namanya.

"Ini pisaunya. Kamu bisa memotong steaknya dengan itu."

Tak hanya satu porsi, Rico juga membawa dua porsi makanan untuk Elang.

Pria ini mengajari Regita terlebih dahulu cara memotong daging. Setelah itu, Regita mengikuti walau caranya tidak benar. Potongan daging itu sangat besar saat masuk ke mulut Regita. Wanita ini hampir tersedak saat menguyah.

"Pelan-pelan!" Elang memberikan satu gelas air pada Regita.

Regita menerima tersebut dengan wajah merah padam.

"Maaf, tuan." Regita jadi malu sekali.

"Tidak masalah. Ini pertama kali untukmu memakan steak. Aku memaklumi itu." Ucap Elang tersenyum. Entah kenapa ada daya tarik sendiri bagi Elang menatap wajah wanita ini.

Tok. Tok.

Pintu diketuk oleh Jordi. Pria ini membawakan kabar.

"Tuan. Ada nyonya Silvya diluar." Ucap Jordi.

"Silvya? Tunggu saja kalau begitu."

Elang menyeka mulutnya dengan sapu tangan. Ia lalu menatap Regita.

"Aku keluar dulu. Kamu habiskan saja makananmu."

"Baik, tuan. Terima kasih sekali lagi atas kebaikan anda."

Elang tersenyum akan nada polos itu. Ia lalu pergi keluar dari kamar menyusul Jordi terlebih dahulu.

Sedangkan Regita mencengkram pisaunya dengan erat setelah Elang tak terlihat. Pisau itu dibawanya ke atas daging steak. Di potong dengan kecil. Sangat anggun bak wanita berkelas.

Potongan daging itu ia taruh di atas mulut. Matanya yang menggelepar ketakutan berganti dengan tatapan yang sulit diartikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Trilasiah
siapakah Regita ini? makin penasaran sama ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 96

    "Selamat jalan, papa."Regita mengusap peti mati yang mengantarkan Henry ke dalam liang tempat istirahat terakhirnya. Semua orang menundukkan kepala untuk berdoa.Regita memandang peti itu dengan datar. Seolah perpisahan ini tak lagi menyakitkan. Ya, dia sudah menjalani banyak perpisahan dalam hidupnya. Dan pelaku yang sudah memberikannya banyak luka tak pantas untuk mendapatkan air mata.Sekarang Henry sudah tenang di rumah barunya. Papan nisan tertulis nama pendiri perusahaan Barnes yang dulu sempat terkenal. Namun semuanya hancur seperti kepercayaan Henry pada putra kesayangannya."Aku turut berduka, Jane." Michel mengusap bahu Regita dengan simpatik.Regita tersenyum. "Terima kasih, Michel.""Sekarang apa rencanamu? Mengambil alih harta yang tersisa?""Semuanya akan ku simpan, Michel. Aku adalah ahli waris dari papaku. Rumah dan harta tidak bergerak akan aku jual. Tabungan deposito akan ku simpan ke bank Swiss. Jika

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 95

    "Mari kita berpisah."Suara lirih itu terdengar. Mata itu memerah dan berkaca-kaca.Elang yang melihat itu tertegun sejenak. Regita lah yang terlebih dulu nyatanya mengungkapkan keinginannya."Aku tahu pernikahan kita tidak bisa diselamatkan, Elang. Aku sangat berdosa padamu.. dengan sengaja aku menipumu agar aku bisa mencapai tujuanku.. ya, aku jahat sekali." Helaan nafas berat keluar dari mulut Regita."Aku melakukan semua ini untuk membalaskan dendamku pada Jonathan. Dia dan ibunya telah merusak pernikahan orang tuaku.. menghancurkan hidup ibuku hingga mati. Lalu dia berusaha melenyapkanku dengan merancang pembunuhan berencana." Regita meneguk ludahnya. "Aku sangat membenci mereka, Elang. Sebab itulah aku ingin membalaskan kejahatan yang mereka lakukan pada kami."Regita lalu menatap lekat pria yang masih menjadi suaminya dengan air mata yang menitik."Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta, Elang. Si

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 94

    Tak ada yang bisa mengalahkan penyesalan dari Raja saat ini. Oleh karena keegoisan Raja yang menginginkan cucu laki-laki membuat masalah bertubi-tubi menimpa anak kesayangannya.Istri pertama Elang yang manipulatif dan memiliki keinginan untuk melenyapkan istri yang lain.Istri kedua yang polos namun tak berdaya. Mudah sekali disinggung dan dimanfaatkan.Dan istri ketiga yang menjadi andalan Elang namun rupanya menyimpan rahasia yang menyakitkan.Raja sangat kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia tak memaksa Elang menikah dengan Silvya ataupun Alisa, mungkin semuanya tak akan seperti ini.Di rumah sakit, Regita sendiri sudah mendapatkan kesadarannya. Di sisinya ada Arthur dan Darius yang tertidur di ranjang bayi. Saat melihat kedua putranya, mata Regita berkaca-kaca. Ia ingin memeluk kedua anaknya."Michel. Anak-anakku." Keluh Regita.Michel yang baru saja terlelap lantas terbangun."Jangan banyak bergerak,

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 93

    Seharian Alisa tak keluar dari kamarnya. Sepanjang hari ini, ia terus memeluk putri tunggalnya. Menangis dan meminta maaf hingga membuat Aliyah meronta dilepaskan.Pintu yang diketuk akhirnya membuat pelukan itu terlepas. Aliyah lolos dan berlari memeluk pengasuhnya."Nyonya.." tegur Nilam. "Anda ingin makan sesuatu?"Alisa menggeleng. "Aku ingin sendirian.""Nyonya.. nyonya Silvya terbukti menjadi pelaku penculikan Arthur dan Darius. Sekarang nyonya Silvya sudah dibawa ke kantor polisi."Jantung Alisa sampai berhenti di tempat. Ia lalu meremas seprai tempat tidur karena ketakutan.Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuat Nilam tertunduk. Ada Raja yang datang dan menatap menantu keduanya dari jauh."Alisa.."Alisa mengerjap. Ia menatap dengan penuh ketakutan. Di depan sana ada mertuanya yang pasti ingin menuntut segala hal."Papa! Aku.. aku tidak sengaja melakukannya." Ujar Alisa terisak. "Aku dipaksa.."

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 92

    Dor!Dor!Tembakan itu melesat dengan bebas. Regita berlari saat melihat pistol itu ditujukan pada suaminya. Tubuh Elang ia peluk. Ia balik hingga tembakan tersebut mengenai bahunya.Elang merengkuh pinggang Regita ketika peluru itu bersarang di bahu istrinya. Ia lalu membawa Regita dalam pelukan."Brengsek!"Rico menendang pria itu sekali lagi hingga tak sadarkan diri. Bersama dengan pengawal lain, pria penculik itu berhasil diamankan. Sementara, Regita dibawa ke mobil oleh Elang."Bertahan!!"Elang melepaskan jas kerjanya dan membalut bahu Regita yang bercucuran darah. Wajah Regita memucat. Nadinya mulai melemah. Dibalik kursi kemudi, ia melihat Arthur dan Darius yang dipangku di kursi depan."Ma! Ma!" Arthur dan Darius menangis sambil memanggil nama ibunya.Elang membawa kepala Regita yang terkulai bersender di dadanya."Bertahanlah!" Seru Elang cemas. Ia mengusap wajah Regita yang

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 91

    Nilam dan pengasuh Darius sampai berlari ikut mencari keberadaan kedua bayi yang tiba-tiba menghilang. Sedangkan Alisa memeluk Aliyah dengan erat. Anak itu menangis kencang karena baru saja terbebas dari ketakutan."Maafkan mama, nak." Bisik Alisa melirih. Ia jadi merasa bersalah karena sengaja mengurung Aliyah di kamar mandi."Nyonya! Kami sudah mencari si kembar berkeliling tapi tidak ditemukan!" Seru Nilam melapor."Kita harus memeriksa cctv! Aku sudah mencari mereka berkeliling taman bermain ini!" Ujar Regita muncul dengan emosi yang membuncah.Mata Alisa sampai melotot ketika melihat Regita yang tiba-tiba muncul dengan Michel. Peluh bercucuran tampak di wajahnya yang memerah."Regita.."Regita tak menyahuti. Dia menyuruh Michel untuk memeriksa kamera pengawas. Sementara Regita dan kedua pengasuh anaknya masih melanjutkan pencarian."Astaga! Bagaimana ini?" Alisa semakin ketakutan. Dia lalu diam-diam mengirim pesan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status