LOGIN"Mbak Silvya.."
Alisa menerima pelukan dari kakak madunya. Keduanya saling tersenyum. "Silahkan duduk." Alisa mempersilahkan. "Aku kemari untuk mengantarkan kue untukmu. Nilam bilang kamu suka sekali dengan kue coklat panggang." "Terima kasih." Alisa melihat dua kotak kue yang ada di atas meja. "Kemarin kita belum sempat saling menyapa. Padahal kita makan malam bersama. Maafkan putriku, Alisa. Rafika sudah membuat keributan kemarin." "Nggak apa-apa, mbak. Aku juga kemarin sedang tidak enak badan. Bagaimana keadaan Fika sekarang?" "Sakit." Silvya menunjukan wajah sedih. "Tiba-tiba saja dia demam tinggi hari ini." "Oh, kasihan sekali.." "Tapi dokter sudah memeriksanya. Mudah-mudahan demamnya turun setelah meminum obat." "Aku akan datang mengunjunginya besok." Sahut Alisa tahu balas budi. "Nilam bilang kamu hari ini ke dokter. Bagaimana kandunganmu?" "Syukurlah semuanya sehat. Tapi.. aku.." Wajah Alisa berubah suram. "Aku mengandung bayi perempuan." Silvya tertegun sejenak mendengar ucapan Alisa. Setelah menemukan kata-kata yang tepat, Silvya tersenyum dan mengambil tangan adik madunya lalu menggenggam dengan erat. "Tidak masalah, Alisa. Mau laki-laki atau perempuan, selama ada ibunya di dunia maka hidup anak kita akan baik-baik saja." "Tapi aku merasa sudah membuat papa kecewa, mbak. Papa dan mas Elang ingin sekali memiliki keturunan laki-laki." "Lalu apa masalahnya dengan kita, Alisa? Kita berdua sama-sama memberikan anak perempuan. Namun itulah takdir yang harus kita terima. Belum tentu jika Elang mencari istri lagi dan langsung memberikannya anak laki-laki." Silvya menggeleng. "Jika Tuhan tidak mengtakdirkan Elang memiliki anak laki-laki maka sampai kapanpun itu tidak akan terjadi. Lebih baik kamu fokus pada kehamilanmu saja. Jaga dengan baik agar kamu tidak kehilangan lagi." Alisa yang mendengar itu lantas tersenyum. Ia merasa mendapatkan semangat setelah mendengar ucapan dari Silvya. "Makasih sekali, mbak. Kamu memberikanku kekuatan." Silvya tertawa pelan. "Kita berdua adalah istri Elang, Alisa. Jelas kita harus hidup berdampingan." Alisa memeluk Silvya dengan erat. Dirinya tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia merasa terjebak dengan perjodohan pernikahan ini. Terlebih Elang yang separuh menerimanya. Untunglah ada Silvya yang menjadi teman ceritanya. Pada wanita ini, Alisa tak merasa canggung. Silvya selalu bersikap baik dan perhatian padanya. Di rumah sakit, Elang masuk ke ruang rawat dimana Regita tengah berbaring. Sengaja dia menunggu pada malam hari untuk memeriksa sendiri kegelisahan hatinya. Wanita yang bernama Regita itu mirip sekali dengan seseorang. Seorang wanita yang dulu pernah singgah di hatinya. Elang berjalan mendekat. Matanya tak lepas menatap Regita yang tengah tertidur lelap. Wajahnya yang cantik dengan kulit putih pucat. Hidung tinggi dengan alis berwarna coklat. Serta bulu mata panjang yang rapat seperti menjadi lukisan seorang wanita yang terindah. Rambut Regita yang kecoklatan menutupi setengah dahi wanita ini. Elang pun berinisiatif untuk mengibaskan rambut Regita agar tak menghalangi pandangannya. Tangan itu terulur ingin menyeka. Saat melewati wajah Regita, Elang terkejut. Matanya melotot saat Regita ikut membuka mata dan menatapnya tajam. Tangan Elang yang terulur di cengkramnya dengan kuat. "Kamu!!" Elang terkesiap. Regita reflek melepaskan tangan Elang dan beringsut duduk. Ia lalu menunjukkan wajah ketakutan. "Anda sedang apa disini?" Tanya Regita menggelepar. "Reflekmu bagus sekali. Tapi kenapa kamu bisa terjatuh di jalanan?" Regita tertunduk. Ia mengambil bantal dan menutupi bagian tubuh depannya dengan gugup. "Aku takut.. setiap malam aku bermimpi buruk." "Mimpi buruk?" "Sejak kecil aku sering disiksa oleh ayahku. Dia memukuliku. Aku takut dipukuli lagi." Ucap Regita dengan mata berkaca-kaca. "Dipukuli ayahmu?" Tanya Elang tak mengerti. Ia lalu duduk di tepi pembaringan dan menatap Regita lekat. Wanita ini menangis tersedu-sedu. Setelah itu, ia menceritakan kisah pahit hidupnya. "Sore itu, aku dikejar oleh teman-teman ayahku. Dia kalah berjudi dan menjadikanku barang taruhan. Aku takut.. aku terus berlari tanpa melihat apapun." "Dimana rumahmu?" Tanya Elang. "Di perkampungan dibawah jembatan. Aku tinggal disana." Jawabnya sambil menyeka air mata. Elang langsung berdiri. "Istirahatlah. Malam ini adalah hari terakhirmu di rumah sakit. Besok kamu diperbolehkan pulang." "Terima kasih karena sudah menolongku, tuan." Lirihnya suara Regita membuat Elang menatap wanita ini lagi. Wajah itu memerah karena tangisan. Hidungnya yang mancung ikut berwarna merah. Matanya yang jernih nampak sendu karena menangis. Entah kenapa Elang ingin sekali menyentuh pipi itu. Mengusapnya pelan dan mengatakan kalau semua baik-baik saja. Tapi.. ah.. perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba detak jantung Elang berdebar tak karuan. Dia harus cepat melarikan diri dari pesona wanita ini. Dengan langkah kaki yang cepat, Elang keluar dari ruang kamar rawat Regita. Pria ini lalu menghubungi asisten setianya. "Rico. Selidiki asal usul wanita bernama Regita itu. Aku ingin tahu seluk beluk kehidupannya." Ucap Elang memberikan perintah."Bagaimana, Diana?"Diana datang ke kamar yang ditempati oleh Silvya. Malam sudah menunjukkan pukul 11. Wanita ini bertindak sebagai burung pembawa kabar."Tuan dan asistennya pergi ke restoran nusantara yang berada di tengah kota. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, nyonya.""Tunggu sebentar. Restoran nusantara?"Diana mengangguk. "Benar, nyonya. Restoran yang sangat terkenal itu.""Ah.. jadi mereka cuma pergi berdua?"Diana mengangguk. "Benar. Mereka berdua hanya makan bersama. Mungkin mereka ingin membicarakan masalah bisnis."Sepenglihatan mata-mata, keduanya duduk di restoran. Rico tampak memesan makanan sementara Elang sibuk memainkan ponselnya.Silvya tergelak. Ternyata dia sudah gegabah dengan berpikir Elang memiliki calon istri lain."Terima kasih atas bantuanmu."Silvya menarik laci yang ada di samping tempat tidurnya. Mengambil benda berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Diana."Ambil ini.""Terima kasih, nyonya. Dengan senang hati saya akan selalu membantu." Dian
"Hai, Alisa." Silvya tersenyum cerah saat mengunjungi adik madunya."Ada mbak Silvya." Alisa ikut membalas senyuman manis itu. "Silahkan masuk, mbak. Apa mbak sudah sarapan?"Silvya masuk ke rumah kayu milik Alisa dimana tak lebih luas dari seperempat rumah utama."Sudah. Aku kemari membawakanmu ini." Silvya memberikan satu paper bag dari butik ternama."Pakaian hamil untukmu. Kebetulan kemarin aku ke butik langganan untuk membeli beberapa pakaian dan aku melihat ini." Ucapnya baik hati."Ah.. ini cantik sekali." Alisa menerima itu dengan senang hati. "Terima kasih, mbak.""Sama-sama." Silvya tersenyum dengan menyapu sudut rumah dengan matanya. "Elang sudah pergi bekerja?""Sudah, mbak. Baru saja."Silvya mengulum senyum. "Aku tidak melihatnya semalam. Padahal biasanya dia pulang tengah malam setelah dari rumahmu. Tapi rupanya dia menghabiskan waktunya disini bersamamu. Syukurlah, Alisa. Elang pasti sangat menyayangimu. Apalagi kamu mengandung putrinya."Alisa yang mendengar itu samp
Elang memijit dahi hingga pangkal hidungnya. Khayalan macam apa tadi? Kenapa dia tiba-tiba melamar office girl seperti Regita. Astaga! Elang harus memeriksakan diri setelah ini. Sepertinya kepala itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya hilang akal.Sedangkan di hadapan pria itu, masih ada Regita yang berdiri ketakutan. Wajah wanita itu tertunduk menunggu hukuman yang akan diberikan."Apa kamu juga yang mengganti parfum ruangan ini?" Tanya Elang lagi.Suara itu tidak dingin. Namun cukup menusuk jantung Regita hingga membuat wanita ini semakin menggigil."Iya, tuan. Kemarin parfum ruangan anda habis. Saat saya ingin bertanya pada office boy sebelumnya, ternyata dia sedang sakit. Jadi, saya...."Ucapan Regita terhenti ketika Elang mengangkat tangannya."Cukup. Keluarlah."Regita terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan memandang kebingungan."Keluar dari sini." Ujar Elang mengulangi ucapannya.Sejenak Regita keheranan. Asisten pria itu tadi bilang jika Regita akan terkena hukuman ka
Jika Elang pikir akan leluasa bertemu dengan Regita maka dia salah besar. Wanita itu hanya bekerja di ruangan ini ketika fajar tiba. Pukul 7 menjelang, Regita akan keluar dari ruang kerja Elang dan mengurus yang lain.Dia muncul ketika Jorgi membutuhkannya sewaktu-waktu saja.Aroma parfum ruangan yang berubah, bunga hidup di vas yang selalu diganti membuat suasana tempat Elang bekerja berubah total.Tak ada lagi kesan kuat dan menantang. Berganti dengan lembut dan penuh debaran."Satu jam lagi kita akan rapat dengan tuan Barnes. Beliau ingin mengajak anda untuk bekerja sama di bidang ekspor impor." Lapor Jorgi kala itu.Elang berdeham. "Siapkan jamuan yang terbaik."Elang tahu betul betapa bagusnya reputasi keluarga Barnes. Salah satu pebisnis yang sudah memiliki tiga turunan menguasai di bidang perdagangan.Tuan Barnes Senior sudah pensiun, sekarang diganti oleh Barnes Junior. Sebab itulah, Elang sangat penasaran akan p
"Silvya.."Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya."Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi."Tidak. Bagaimana kata dokter?""Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak.""Lalu?""Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi.""Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya."Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.
"Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan."Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk."Bersihkan semua area depan termasuk parkiran.""Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah."Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!""Baik." Regita mengangguk.Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika."Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anakny







