Share

Foto Tak Senonoh

Author: Erumanstory
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-03 15:32:38

Suasana syahdu di depan perapian perlahan berpindah ke kamar tidur. Dewa baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas dan hendak merebahkan diri di samping Lily ketika tiba-tiba layar ponselnya menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal melalui aplikasi WhatsApp.

​Awalnya Dewa mengira itu adalah urusan pekerjaan darurat. Begitu dia membuka pesan tersebut, rahangnya seketika mengeras. Matanya menatap tajam ke layar dengan kilat kemarahan yang tertahan. Di sana, terpampa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ayu Aqilla
ahh gak sabar nunggu lanjutan nya thor
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kelahiran Arka (Tamat)

    Lampu ruang persalinan yang terang benderang menciptakan suasana yang steril namun penuh ketegangan yang sakral. Aroma disinfektan bercampur dengan harum minyak kayu putih yang sempat dioleskan Dewa ke pelipis Lily untuk menenangkannya. Di tengah ruangan, Lily berbaring di atas tempat tidur persalinan, napasnya memburu, peluh membasahi dahi dan rambutnya yang terurai berantakan di atas bantal.​Dewa berdiri tepat di sisi kepala Lily. Dia tidak melepaskan jasnya, hanya menggulung lengan kemejanya hingga siku. Tangan kanannya digenggam erat oleh Lily—begitu erat hingga buku-buku jari Dewa memutih—sementara tangan kirinya terus mengusap keringat di wajah istrinya dengan handuk kecil.​"Tarik napas dalam, Lily. Bagus... buang perlahan," suara Dokter Sarah terdengar tenang namun tegas di ujung tempat tidur. "Pembukaan sudah lengkap. Kita akan mulai saat kontraksi berikutnya datang, ya?"​Lily mengangguk lemah, matanya menatap Dewa dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki. Rasa sakit yang

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kontraksi

    Malam itu, Jakarta sedang diguyur hujan rintik yang membawa hawa sejuk ke dalam kamar utama yang temaram. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Di tengah kesunyian yang dalam, Lily tiba-tiba terbangun bukan karena suara petir, melainkan karena sensasi kaku yang meremas perut bagian bawahnya.​Dia menarik napas panjang, mencoba tenang. "Mungkin hanya Braxton Hicks," gumamnya pelan, merujuk pada kontraksi palsu yang belakangan sering dia rasakan.​Sepuluh menit kemudian, rasa remasan itu datang lagi. Kali ini lebih lama, sekitar tiga puluh detik, dan menjalar hingga ke pinggang belakang. Lily melirik Dewa yang tertidur pulas di sampingnya. Wajah suaminya tampak sangat lelah setelah lembur menyelesaikan laporan tahunan perusahaan agar bisa mengambil cuti panjang saat Lily melahirkan nanti.​Lily memutuskan untuk tidak membangunkan Dewa dulu. Ia ingat pesan Dokter Sarah."Tetap rileks, gerakkan tubuhmu agar posisi janin optimal."​Dengan perlahan, Lily turu

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Penantian Akan Berakhir

    Setelah memastikan koper melahirkan tertutup rapat, Dewa tidak membiarkan Lily beristirahat begitu saja. Dia menuntun istrinya menuju sebuah pintu kayu bercat putih yang terletak tepat di sebelah kamar utama mereka. Pintu itu selama ini lebih sering tertutup rapat karena proses dekorasi yang dilakukan secara rahasia oleh Dewa dan para desainer interior.​"Sudah siap melihat istana kecil untuk anak kita?" bisik Dewa sambil memegang gagang pintu.​Lily mengangguk antusias. Begitu pintu terbuka, dia seolah melangkah masuk ke dalam dunia mimpi yang penuh dengan kelembutan. Kamar itu tidak lagi terlihat seperti ruangan kosong, melainkan sebuah ruang pamer kemewahan yang dibalut dengan rasa cinta yang mendalam.​Warna dindingnya adalah perpaduan antara warm grey dan putih tulang, memberikan kesan tenang dan lapang. Di tengah ruangan, berdiri sebuah crib atau ranjang bayi berbahan kayu ek impor dari Eropa dengan ukiran tangan yang sangat halus. Kelambu sutra tipis menjuntai dari langit-langi

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Persiapan Persalinan

    Sinar matahari sore yang hangat menerobos masuk melalui jendela besar di kamar utama, menciptakan siluet keemasan di atas ranjang king-size yang kini dipenuhi oleh berbagai perlengkapan bayi. Lily, dengan perutnya yang sudah membuncit besar namun tetap bergerak dengan anggun, sedang berlutut di atas karpet bulu yang tebal. Di depannya, sebuah tas koper berukuran sedang terbuka lebar.​Meskipun acara siraman tujuh bulanan baru saja usai beberapa hari yang lalu, Lily merasa ada dorongan naluri yang kuat untuk mulai mengepak barang-barang. Dia tidak ingin terburu-buru saat waktunya tiba nanti. Baginya, persiapan ini adalah bentuk ketenangan pikiran.​"Baju ganti untuk si kecil... sudah. Bedong kain sepuluh buah... sudah. Oh, kaos kaki mungil ini jangan sampai ketinggalan," gumam Lily pelan sambil melipat pakaian bayi yang sewarna awan dengan sangat hati-hati.​Dia memasukkannya ke dalam kantong-kantong plastik kedap udara yang sudah dia beri label: 'Hari 1', 'Hari 2', dan 'Baju Pulang'.

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Siraman

    Beberapa bulan berlalu, dan kediaman mewah Dewa serta Lily di Jakarta kini tampak berubah total. Halaman belakang yang luas telah disulap menjadi sebuah taman asri dengan dekorasi tradisional Jawa yang kental namun tetap elegan. Aroma melati yang segar menyeruak di udara, bercampur dengan wangi mawar dan kenanga yang terapung di dalam sebuah bokor besar berisi air jernih dari tujuh sumber mata air.Hari ini adalah hari istimewa, upacara adat mitoni atau siraman tujuh bulanan untuk Lily.Lily duduk di atas kursi kayu jati yang telah dihiasi janur kuning dan bunga-bunga segar. Dia mengenakan ronce melati yang menutupi bahu dan dadanya, serta balutan kain jumputan berwarna hijau cerah yang menonjolkan perutnya yang kini sudah membesar sempurna. Wajahnya memancarkan aura inner beauty yang luar biasa; tidak ada lagi jejak kecemasan atau trauma masa lalu, yang ada hanyalah ketenangan seorang calon ibu yang bahagia.Di barisan depan, duduk orang-orang terkasih mereka. Rahma dan Darto, oran

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Pulang

    Perjalanan pulang dari dataran tinggi menuju hiruk-pikuk Jakarta dimulai saat kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon pinus. Dewa memastikan semua barang bawaan—termasuk keranjang-keranjang berisi anggur segar dari Adrian dan tumpukan sayuran organik dari Paman Surya—tersusun rapi di bagasi belakang. Aroma tanah basah dan sisa wangi bunga kopi seolah ikut melekat di dalam kabin mobil, menjadi kenangan fisik yang manis untuk dibawa pulang.​"Sudah siap kembali ke realita, Sayang?" tanya Dewa sambil memakaikan sabuk pengaman untuk Lily, memastikan talinya tidak menekan perut istrinya yang kini menjadi prioritas utamanya.​Lily mengangguk dengan senyum yang jauh lebih lepas dibandingkan saat mereka berangkat beberapa hari lalu. "Siap, Mas. Kali ini aku pulang dengan perasaan yang lebih tenang. Terima kasih untuk semuanya."​Dewa mengecup sekilas punggung tangan Lily sebelum mulai menginjak pedal gas. Mobil SUV hitam itu meluncur perlahan menuruni jalanan berkelok. Di kiri dan k

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Berenang

    Cuaca sore hari yang lumayan panas membuat Lily tidak tahan untuk tidak menikmati sejuknya air yang ada di kolam renangnya. Sore ini, Dewa akan kembali, dan lelaki itu bilang, dia sudah berada di perjalanan menuju ke rumah Lily. Wanita itu berpesan pada Dewa kalau pintu rumahnya tidak dikunci. Lil

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Mengenang Masa Lalu

    Sepeninggal Lily, Aldo duduk di pinggiran ranjang. Dia merenungkan semua hal yang sudah mereka lewati bersama. Dulu, saat belum ada Nila di dalam pernikahan mereka, kisah mereka selalu indah. Tidak ada kebohongan, tidak ada saling menyakiti, juga tidak ada air mata. Aldo sadar, semua keretakan yang

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ketakutan Lily

    Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan pusat perbelanjaan. Dari dalam sana, keluar Nindi yang baru saja merawat dirinya ke salon. Dia menggunakan uang yang dia pinjam dari Yuna untuk memenuhi semua kebutuhannya. Dia tidak jadi menggunakan uang itu untuk biaya pengobatan Arman. Nindi juga sudah

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Nila Pendarahan

    Setibanya di rumah, mereka langsung membersihkan wajah, dan berganti pakaian. Aldo minta izin untuk melakukan panggilan di balkon, sementara Lily lebih memilih untuk tiduran di ranjang. Dia memainkan ponselnya, tentu saja untuk menghubungi Dewa.“Mas Dewa sudah tidur, ya?” tanyanya pada lelaki kesa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status