LOGINSinar matahari pagi di kediaman Darto dan Rahma semakin cerah, menembus kaca-kaca besar yang menghadap ke taman belakang yang asri. Lily, yang merasa jauh lebih segar setelah menghabiskan bubur buatan mertuanya, perlahan menuruni tangga dibantu oleh Dewa. Langkah mereka pelan, penuh kehati-hatian, hingga sampai di area ruang keluarga yang letaknya bersebelahan dengan teras belakang.Langkah Dewa terhenti saat dia mendengar suara ibunya yang terdengar sangat antusias dari arah teras. Dia memberikan isyarat pada Lily untuk diam sejenak.Di sana, Rahma sedang duduk di kursi rotan dengan ponsel di telinganya. Dia tampak sedang melakukan panggilan video dengan seseorang."Jeng Sari! Ya ampun, itu yang warna baby blue lucu sekali! Bahannya apa? Katun organik, kan? Aku tidak mau yang kasar, Jeng. Kulit cucuku nanti pasti sangat sensitif," suara Rahma terdengar renyah namun penuh penekanan.Lily dan Dewa saling berpandangan. Mereka berdiri di balik pilar besar, tidak sengaja menjadi pende
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui tirai sutra di kamar tamu kediaman Darto dan Rahma, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas sprei putih. Lily mengerjapkan matanya perlahan, merasakan sisa kantuk yang berat namun tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan semalam. Aroma gurih kaldu ayam dan jahe segar menyeruak, memenuhi indra penciumannya dan seketika membangkitkan selera makannya yang sempat hilang.Saat dia menoleh ke samping, dia mendapati Dewa sudah duduk di kursi kayu jati tepat di sisi tempat tidur. Suaminya itu masih mengenakan kaos oblong yang sama dengan semalam, tetapi wajahnya tampak jauh lebih segar meskipun matanya sedikit merah karena kurang tidur. Di tangannya, Dewa memegang sebuah nampan kayu kecil dengan semangkuk bubur ayam hangat yang masih mengepulkan uap."Selamat pagi, Sayang," bisik Dewa lembut. Suaranya yang berat dan dalam terdengar sangat menenangkan di telinga Lily.Lily mencoba bangkit untuk duduk, dan dengan sigap Dewa meleta
Suasana riang di ruang makan kediaman Darto dan Rahma baru saja mereda. Tawa renyah Lily saat mendengarkan cerita masa kecil Dewa masih menyisakan kehangatan di udara. Tapi, saat Lily mencoba berdiri dari kursi makannya yang empuk untuk membantu Rahma merapikan sisa pencuci mulut, wajahnya mendadak kehilangan rona."Lily? Kamu oke, Sayang?" Dewa, yang radar pelindungnya selalu aktif, segera menangkap perubahan raut wajah istrinya.Lily tidak menjawab. Dia hanya memegang pinggiran meja dengan jemari yang memucat. Pandangannya mengabur, lampu gantung di atas meja makan seolah berputar hebat. "Mas... pusing..." bisiknya lirih sebelum seluruh tenaganya luruh."Lily!" teriak Dewa histeris.Dengan refleks kilat, Dewa menyambar tubuh Lily sebelum jatuh ke lantai marmer. Rahma memekik tertahan, menjatuhkan serbet kainnya, sementara Darto langsung berdiri dengan wajah tegang. Ruangan yang tadinya penuh tawa itu seketika berubah menjadi panggung kepanikan."Cepat bawa ke kamar tamu bawah,
Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana rumah sudah sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jarum jam dan hembusan napas teratur Lily yang tertidur pulas di kamar utama. Setelah memastikan selimut istrinya terpasang dengan sempurna dan mengecup keningnya sekali lagi, Dewa melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati.Dia menuju balkon belakang, tempat favoritnya untuk menjernihkan pikiran. Dewa mengeluarkan ponselnya, mencari kontak yang sudah lama tidak dia hubungi secara personal di jam selarut ini. "Mama".Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara lembut namun penuh semangat menyahut di seberang sana."Dewa? Tumben sekali menelepon malam-malam begini? Ada apa, Sayang? Apa Lily baik-baik saja?" tanya Rahma, nada suaranya langsung berubah cemas. Sebagai ibu, instingnya selalu waspada jika putra tunggalnya menghubungi di luar jam biasa.Dewa tersenyum, meski ibunya tak melihat. "Lily baik-baik saja, Ma. Justru Dewa punya kabar bahagia.
Semburat jingga di langit Jakarta mulai meredup saat mobil mewah Dewa memasuki halaman rumah. Biasanya, Dewa akan turun dengan tas kerja dan raut wajah tegang khas penguasa korporat yang baru saja bertarung di meja rapat. Namun sore ini, pemandangannya berbeda. Sopir pribadinya bahkan tampak kewalahan membawa beberapa kantong belanjaan besar berisi aneka buah-buahan segar.Dewa melangkah masuk ke ruang tengah dengan semangat yang tidak bisa dia sembunyikan. Di tangannya, dia menjinjing keranjang berisi stroberi Korea yang besar, anggur shine muscat yang hijau berkilau, mangga harum manis yang sudah matang sempurna, hingga buah delima yang konon sangat baik untuk ibu hamil."Lily? Sayang?" panggil Dewa dengan nada suara yang melembut.Lily, yang sedang bersandar di sofa sambil membaca buku tentang perkembangan janin, menoleh dan terbelalak melihat tumpukan buah di meja makan. "Mas... kamu borong satu toko buah?"Dewa melepaskan jasnya, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, d
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar utama, jatuh tepat di atas wajah Lily yang masih terlelap. Suasana rumah begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dari arah taman belakang. Lily menggeliat pelan, tangannya secara instinktif meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.Kosong. Dingin.Lily membuka matanya perlahan. Jantungnya sempat mencelos sesaat—trauma beberapa hari lalu di Bali masih menyisakan sedikit rasa was-was. Apakah Dewa pergi lagi? Apakah ada urusan mendadak dengan Jihan atau klien lainnya? Tapi, bau maskulin khas parfum suaminya yang masih tertinggal di bantal sedikit menenangkan hatinya.Dengan gerakan hati-hati, mengingat pesan dokter untuk tidak banyak bergerak mendadak, Lily menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Sayang. Papa ke mana ya?" bisiknya lirih.Keingintahuan mengalahkan rasa kantuknya. Lily menyampirkan cardigan tipis di bahunya dan melangka
Saat asyik merenung. Lily justru dikagetkan oleh tangan seseorang yang mendekapnya dari arah belakang. Dia sangat hapal dengan wangi parfum ini. Senyumnya langsung merekah.“Mas Dewa?” sapanya manja.Dewa kemudian melepas pelukannya, dan memilih duduk di kursi yang ada di hadapan Lily. Seperti bias
“Kok bisa aku? Waktu itu saja hubungan kita tidak sedekat ini, Mas.”“Karena cinta aku ke kamu, Ly. Aku menghabiskan waktuku dengan bekerja supaya aku bisa melupakan kamu lebih cepat. Karena alasan itu, aku mengambil job apa saja yang ditawarkan padaku. Aku kemudian menghabiskan waktuku dengan semu
Aldo terbangun di sore harinya, dia menemukan Dewa tengah memainkan ponselnya tidak jauh darinya, di meja, ada segelas jus jeruk yang sudah hilang esnya, sementara di dekat Dewa, gelasnya sudah kosong. Aldo tidak menemukan Lily ada di antara mereka. Dengan gerakan perlahan, dia segera bangkit dari t
Sesampainya di rumah, mereka berkumpul di ruang keluarga. Lily berinisiatif membuatkan minuman untuk mereka di dapur. Wanita itu tampak begitu serius membuat minuman. Dia sedikit bersenandung untuk mengurangi kesepian yang merajainya. Hari ini tidak mudah bagi Lily. Dia yang harus berusaha bersika







