Share

Menghasut

Penulis: Erumanstory
last update Tanggal publikasi: 2025-12-15 18:57:55

Aldo menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa yang ada di rumah orang tuanya. Kedua mata lelaki itu menutup. Semua kenyataan ini terlalu bertubi-tubi menyerangnya. Seakan mereka semua tidak memberikan izin pada Aldo untuk bernapas. Kebenaran tenang awal mula hubungan yang Dewa dan Lily jalin di belakangnya membuat lelaki itu terpukul. Aldo mengakui dirinya bukan orang baik. Dia memiliki kekurangan dan kesalahan yang sangat besar. Tapi lihatlah, dua wanita sudah menghianatinya, dan itu sangat m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Menjadi Suami Siaga

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar utama, jatuh tepat di atas wajah Lily yang masih terlelap. Suasana rumah begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dari arah taman belakang. Lily menggeliat pelan, tangannya secara instinktif meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.​Kosong. Dingin.​Lily membuka matanya perlahan. Jantungnya sempat mencelos sesaat—trauma beberapa hari lalu di Bali masih menyisakan sedikit rasa was-was. Apakah Dewa pergi lagi? Apakah ada urusan mendadak dengan Jihan atau klien lainnya? Tapi, bau maskulin khas parfum suaminya yang masih tertinggal di bantal sedikit menenangkan hatinya.​Dengan gerakan hati-hati, mengingat pesan dokter untuk tidak banyak bergerak mendadak, Lily menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dia mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Sayang. Papa ke mana ya?" bisiknya lirih.​Keingintahuan mengalahkan rasa kantuknya. Lily menyampirkan cardigan tipis di bahunya dan melangka

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ziarah

    Udara pagi di Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat saat Dewa membantu Lily turun dari mobil. Kompleks perumahan mereka yang asri menyambut kepulangan sang nyonya rumah dengan lambaian dahan pohon pule yang berjajar di sepanjang trotoar. Lily menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma rumah yang sempat dia tinggalkan beberapa hari.​Setelah beberapa hari dalam perawatan intensif, dokter akhirnya mengizinkan Lily pulang dengan syarat bedrest total dan menghindari stres. Dewa, yang kini bertransformasi menjadi suami paling siaga, tidak membiarkan kaki Lily menyentuh lantai terlalu lama; dia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar utama.​Tapi, begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk yang sudah lama tidak dia tiduri, mata Lily tidak terpejam. Dia menatap sebuah bingkai foto kecil di atas nakas—sebuah foto siluet dua pasang sepatu bayi mungil yang pernah dia simpan.​"Mas," panggil Lily pelan.​Dewa yang sedang merapikan tas pakaian rumah sakit berpaling. "Iya, Sayang? Kamu butuh ses

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Peringatan Tegas

    Dewa terbangun oleh getaran ponsel di saku celananya. Sebuah nomor yang sudah dia hapus jejaknya di aplikasi pesan, namun memorinya masih mengenali siapa pemiliknya: Jihan. Dengan langkah berat, dia keluar dari ruang rawat Lily menuju balkon kecil di ujung koridor.​"Mau apa lagi, Jihan?" desis Dewa langsung saat mengangkat telepon.​Suara Jihan terdengar bergetar di seberang sana, kontras dengan kepercayaan diri yang ia tunjukkan di Ubud. "Dewa, aku di Jakarta. Aku sudah di depan lobi Medistra. Tolong... aku tidak bisa tenang sejak tahu apa yang terjadi pada Lily. Izinkan aku menjenguknya sebentar saja. Aku ingin meminta maaf secara langsung."​Dewa mendengus sinis. "Kamu pikir ini waktu yang tepat? Lily baru saja melewati masa kritis kandungannya karena tekanan mental yang—sejujurnya—kamu turut andil di dalamnya."​"Aku tahu, Dewa! Itulah sebabnya aku di sini. Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak tahu dia sedang hamil. Kumohon, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, lalu

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Berdamai

    Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Lorong rumah sakit sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara dengung mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas di kejauhan. Dewa masih terduduk di kursi tunggu, namun matanya tidak sedetik pun terpejam. Pikirannya penuh dengan kata-kata Bi Ijah tentang kehamilan Lily yang tidak terduga dan luka hati yang dia goreskan.​Melihat Bi Ijah tertidur pulas di kursi panjang seberang karena kelelahan, Dewa merasa inilah kesempatannya. Dengan gerakan sangat pelan, nyaris tanpa suara, dia memutar gagang pintu kamar nomor 402. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia menghadapi negosiasi bisnis paling krusial dalam hidupnya.​Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di sudut dinding yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Bau antiseptik bercampur dengan aroma samar parfum Lily yang masih tersisa, membuat dada Dewa sesak oleh rasa rindu yang menyakitkan.​Di atas ranjang, Lily terbaring lem

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tidak Ingin Bertemu

    Suasana di koridor rumah sakit itu terasa semakin mencekam. Dewa baru saja hendak menerjang masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti secara paksa. Bi Ijah, yang biasanya selalu menunduk patuh, kini berdiri tegak di depan pintu kamar VVIP itu. Kedua tangannya gemetar, tapi tatapannya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat."Bapak... mohon, Pak Dewa. Jangan masuk dulu," suara Bi Ijah serak, menahan tangis yang sejak tadi pecah di balik masker medisnya.Dewa mengerutkan kening, rahangnya mengeras karena frustrasi. "Bi Ijah, minggir! Saya suaminya. Saya harus memastikan keadaan Ibu Lily dengan mata kepala saya sendiri!""Ibu tidak mau bertemu Bapak!" potong Bi Ijah, suaranya naik satu nada karena kalut. "Tadi saat Ibu siuman sebentar, beliau langsung bertanya apakah Bapak ada di sini. Begitu tahu Bapak sedang dalam perjalanan dari Bali, Ibu histeris, Pak. Ibu bilang kalau sampai Bapak masuk ke ruangan ini, Ibu lebih baik pulang sekarang juga meski kondisinya masih sangat lema

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Gagal

    Suasana intim di restoran tepi tebing itu mendadak beku bagi Dewa. Jihan baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, jemarinya mengusap lengan pria itu dengan kelembutan yang manipulatif, ketika ponsel di atas meja bergetar hebat. Getaran itu terasa kasar, merusak simfoni musik klasik dan deburan ombak di bawah sana.​Dewa melirik layar. Nama BI Ijah tertera di sana. ​Biasanya, Dewa akan mengabaikan telepon rumah di jam sepuluh malam seperti ini, menganggapnya hanya urusan logistik dapur atau tagihan bulanan. Tapi, ada firasat buruk yang mencubit tengkuknya. Sesuatu yang lebih dingin dari angin malam Ubud.​"Sebentar, Jihan," ucap Dewa, suaranya mendadak datar. Dia melepaskan tangan Jihan dari bahunya dengan gerakan yang tidak lagi ragu.​"Halo, Bi? Ada apa menelepon saya jam segini?"​Suara di seberang sana pecah oleh tangisan. "Pak... Pak Dewa... Tolong, Pak! Bu Lily... Bu Lily pingsan!"​Dewa tersentak berdiri. Kursi kayu jati yang didudukinya bergeser kasar, menimbulkan buny

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Sebuah Persiapan

    Dewa sebenarnya sedang berbohong. Hari ini, dia tidak ada meeting dengan siapapun. Bahkan jadwalnya lumayan longgar. Dia sengaja berangkat pagi karena dia memiliki janji dengan Sandarra, sahabatnya yang merupakan pemilik toko berlian ketiga terbesar di Jakarta. Dewa sudah memesan sepasang cincin be

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Cemburu (Pura-pura)

    “Bos, ada tiga orang laki-laki mencurigakan yang selalu mengikuti gerak-gerik Bos dan juga bu bos. Sepertinya ketiga laki-laki itu suruhan seseorang. Mereka bukan mengincar Bos, tetapi target utama mereka adalah bu Bos.”“.........”“Untuk sementara ini, saya bisa memastikan Bos dan bu bos akan sel

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Akhirnya...

    “Sudah beberapa hari aku menghabiskan waktu di apartemen Bella untuk menenangkan diri, sudah saatnya aku kembali ke rumah. Aku sampai mengabaikan semua panggilan, dan juga pesan yang dikirimkan anak-anak. Rasanya aku tidak mau mendengar apapun dari mereka semua. Puncak dari rasa lelah ini ternyata

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ancaman Nindi

    Ting tong! Ting tong!Bunyi bel berulang membuat Lily yang sedang terlelap terganggu. Dia terbangun, dan duduk di pinggiran ranjang untuk sekedar memastikan kalau bunyi bel itu memang di unit apartemen tempatnya tinggal. Benar saja, beberapa saat berlalu, bunyi bel itu lagi-lagi berbunyi. Lily hera

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status