LOGINLily memacu mobilnya membelah jalanan dengan perasaan yang jauh lebih tidak sabar dibandingkan saat dia pergi kemarin. Setiap lampu merah terasa sangat lama, dan setiap ada kemacetan di jalan membuatnya ingin segera terbang sampai ke rumah. Air matanya sesekali masih jatuh, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa sesal yang amat dalam. Dia terus membayangkan wajah lesu Dewa yang diceritakan ibunya tadi.Seandainya dia mau mendengarkan Dewa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Rasa cemburunya terlalu besar hingga dia tidak bisa berpikir jernih. "Tunggu aku, Mas. Maafin aku, ya. Aku udah salah menilai kamu. Aku bahkan tidak mau mempercayai kamu, padahal kamu sudah kasih semuanya buat aku. Aku terlalu egois," bisiknya berkali-kali sambil mengusap perutnya yang terasa sedikit kencang karena emosi yang meluap.Sesampainya di halaman rumah, Lily bahkan tidak memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dia segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Keadaan di dalam sang
Pintu kamar Lily terbuka perlahan. Suara engselnya yang lembut seolah memberi peringatan bahwa seseorang tengah masuk membawa kebenaran. Lily, yang sejak tadi hanya meringkuk di balik selimut sambil menatap kosong ke arah jendela, tidak bergeming. Dia tahu itu ibunya.Winda berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Dia mengelus lembut rambut putrinya, sebuah sentuhan yang selalu berhasil membuat Lily merasa kecil dan terlindungi."Dewa baru saja pulang, Ly," ucap Winda tenang.Lily terdiam sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang mendengar nama itu disebut. Mungkinkah ibunya sudah tahu tentang yang sebenarnya terjadi?"Dia... dia bilang apa, Bu?" tanya Lily dengan suara parau. Tetap menyembunyikan semuanya, mencoba tetap bersikap biasa. Winda menghela napas panjang. "Dia minta maaf. Dia datang dengan wajah yang sangat kacau, Ly. Ibu bisa lihat kalau dia nggak tidur semalaman. Dia jujur sama Ibu kalau kalian sedang bertengkar, meski kamu berusaha menutupinya dari Ibu."Li
Pagi itu, mendung masih menggelayut di langit, seolah mencerminkan suasana hati Dewa yang porak-poranda. Setelah semalam suntuk hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan perasaan hampa, dia memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Dengan sisa keberanian dan rasa rindu yang meluap, Dewa mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Lily. Dia tahu Lily butuh waktu, tetapi dia juga tahu bahwa membiarkan salah paham berlarut-larut adalah racun bagi pernikahan mereka.Dewa tidak mau semuanya berlarut-larut. Kesalahpahaman ini harus segera diakhiri. Dia tidak kuat berlama-lama berpisah dengan Lily. Rasa rindu itu menyiksanya. Hingga dia tidak sanggup untuk bekerja. Menyerahkan segala urusan kantornya pada Joni.Sesampainya di sana, Dewa menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu. Tak lama, Winda membuka pintu. Wajah wanita itu tampak terkejut melihat menantunya berdiri di sana dengan mata merah dan kemeja yang sedikit kusut."Dewa? Loh, bukannya kemarin L
Mobil putih Lily berhenti dengan perlahan di depan pagar rumah masa kecilnya. Rumah itu tampak asri dengan tanaman bunga kertas yang merambat di pagar dan aroma tanah basah setelah disiram. Lily menghirup napas panjang, mencoba menekan sesak di dadanya sebelum turun dari mobil. Dia memaksakan sebuah senyuman di depan cermin spion, memastikan tidak ada jejak air mata yang tertinggal di wajahnya."Ibu!" seru Lily saat melihat sosok wanita paruh baya berwajah teduh keluar dari pintu utama.Winda, ibu Lily, tampak terkejut sekaligus sangat gembira dengan kedatangan putrinya."Ya ampun, Lily? Kok nggak bilang-bilang mau ke sini, Nak? Sama Dewa?" Winda melongok ke arah mobil, mencari sosok menantu kesayangannya.Lily turun membawa sekantong besar martabak manis dan beberapa kotak kue basah kesukaan ibunya. "Enggak, Bu. Lily sendiri. Kangen banget sama Ibu, makanya langsung meluncur ke sini," jawab Lily sambil mencium tangan ibunya cukup lama, lalu memeluknya erat. Pelukan itu terasa beg
Di kantor, Dewa benar-benar menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Ruangan kerja yang biasanya menjadi tempat ia menaklukkan angka-angka dan strategi bisnis kini terasa seperti penjara yang menyesakkan. Beberapa kali asistennya masuk untuk meminta tanda tangan pada dokumen penting, sementara Dewa hanya menatap kertas-kertas itu dengan pandangan kosong.Pikirannya melayang jauh ke meja makan pagi tadi—ke arah gelas susu yang mendingin dan punggung Lily yang menjauh dengan sangat dingin. Mereka seperti dua orang asing sekarang, dan Dewa sangat tidak suka dengan itu. Dia mencoba menghubungi ponsel Lily berkali-kali, namun hanya suara operator yang menyambutnya. Pesan-pesan singkatnya pun hanya menyisakan centang satu. Frustrasi, Dewa melempar ponselnya ke atas meja kerja. Dia tidak bisa fokus. Bayangan istrinya yang sedang hamil, menangis sendirian, dan menolak kehadirannya membuatnya merasa menjadi pria paling gagal di dunia."Sial!" umpatnya pelan.Dewa meremas rambutnya sendiri de
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, namun kehangatannya sama sekali tidak menyentuh hati Lily. Dia terbangun dengan mata yang sembab dan kepala yang berdenyut ringan akibat terlalu banyak menangis semalam. Di luar kamar, sayup-sayup terdengar bunyi denting sudip yang beradu dengan wajan dan aroma harum nasi goreng margarin—salah satu menu sarapan favoritnya yang biasa Dewa buatkan. Dewa sengaja bangun lebih pagi. Dia ingin menebus kesalahannya, ingin menjadi suami siaga yang mampu melunakkan hati istrinya melalui perhatian-perhatian kecil. Dia berharap, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang dimasak sempurna bisa menjadi jembatan untuk memulai obrolan yang tertunda semalam.Ketika Lily akhirnya keluar dari kamar dengan mata sembab, dan masih memakai baju tidur. Dewa segera berdiri dari kursi makan. Dia tersenyum lebar, meski matanya menyiratkan kelelahan karena kurang tidur di kamar tamu yang terasa hampa."Selamat pagi, Sayang. Mas sudah buatkan n







