공유

Ular

작가: Erumanstory
last update 게시일: 2025-11-27 10:16:00

Sesampainya di Surabaya, Aldo langsung menuju ke klinik dokter Hera. Dengan langkah tergesa, lelaki itu segera menghampiri ruang rawat Nila. Hal itu Aldo lakukan setelah menanyakan keberadaan istri mudanya itu pada perawat yang ada di sana.

“Nila, gimana keadaan kamu?” tanya Aldo, ketika dia sudah berada tepat di samping ranjang tempat Nila dirawat.

“Mas Aldo, syukurlah Mas Aldo sudah sampai. Keadaan aku baik-baik aja, Mas. Anak kita juga baik,” ucap Nila sambil memasang wajah sedih. Dia berhar
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Peringatan Tegas

    Dewa terbangun oleh getaran ponsel di saku celananya. Sebuah nomor yang sudah dia hapus jejaknya di aplikasi pesan, namun memorinya masih mengenali siapa pemiliknya: Jihan. Dengan langkah berat, dia keluar dari ruang rawat Lily menuju balkon kecil di ujung koridor.​"Mau apa lagi, Jihan?" desis Dewa langsung saat mengangkat telepon.​Suara Jihan terdengar bergetar di seberang sana, kontras dengan kepercayaan diri yang ia tunjukkan di Ubud. "Dewa, aku di Jakarta. Aku sudah di depan lobi Medistra. Tolong... aku tidak bisa tenang sejak tahu apa yang terjadi pada Lily. Izinkan aku menjenguknya sebentar saja. Aku ingin meminta maaf secara langsung."​Dewa mendengus sinis. "Kamu pikir ini waktu yang tepat? Lily baru saja melewati masa kritis kandungannya karena tekanan mental yang—sejujurnya—kamu turut andil di dalamnya."​"Aku tahu, Dewa! Itulah sebabnya aku di sini. Aku merasa sangat bersalah. Aku tidak tahu dia sedang hamil. Kumohon, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, lalu

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Kembali Berdamai

    Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Lorong rumah sakit sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara dengung mesin pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas di kejauhan. Dewa masih terduduk di kursi tunggu, namun matanya tidak sedetik pun terpejam. Pikirannya penuh dengan kata-kata Bi Ijah tentang kehamilan Lily yang tidak terduga dan luka hati yang dia goreskan.​Melihat Bi Ijah tertidur pulas di kursi panjang seberang karena kelelahan, Dewa merasa inilah kesempatannya. Dengan gerakan sangat pelan, nyaris tanpa suara, dia memutar gagang pintu kamar nomor 402. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat dia menghadapi negosiasi bisnis paling krusial dalam hidupnya.​Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di sudut dinding yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Bau antiseptik bercampur dengan aroma samar parfum Lily yang masih tersisa, membuat dada Dewa sesak oleh rasa rindu yang menyakitkan.​Di atas ranjang, Lily terbaring lem

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Tidak Ingin Bertemu

    Suasana di koridor rumah sakit itu terasa semakin mencekam. Dewa baru saja hendak menerjang masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti secara paksa. Bi Ijah, yang biasanya selalu menunduk patuh, kini berdiri tegak di depan pintu kamar VVIP itu. Kedua tangannya gemetar, tapi tatapannya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat."Bapak... mohon, Pak Dewa. Jangan masuk dulu," suara Bi Ijah serak, menahan tangis yang sejak tadi pecah di balik masker medisnya.Dewa mengerutkan kening, rahangnya mengeras karena frustrasi. "Bi Ijah, minggir! Saya suaminya. Saya harus memastikan keadaan Ibu Lily dengan mata kepala saya sendiri!""Ibu tidak mau bertemu Bapak!" potong Bi Ijah, suaranya naik satu nada karena kalut. "Tadi saat Ibu siuman sebentar, beliau langsung bertanya apakah Bapak ada di sini. Begitu tahu Bapak sedang dalam perjalanan dari Bali, Ibu histeris, Pak. Ibu bilang kalau sampai Bapak masuk ke ruangan ini, Ibu lebih baik pulang sekarang juga meski kondisinya masih sangat lema

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rencana Gagal

    Suasana intim di restoran tepi tebing itu mendadak beku bagi Dewa. Jihan baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, jemarinya mengusap lengan pria itu dengan kelembutan yang manipulatif, ketika ponsel di atas meja bergetar hebat. Getaran itu terasa kasar, merusak simfoni musik klasik dan deburan ombak di bawah sana.​Dewa melirik layar. Nama BI Ijah tertera di sana. ​Biasanya, Dewa akan mengabaikan telepon rumah di jam sepuluh malam seperti ini, menganggapnya hanya urusan logistik dapur atau tagihan bulanan. Tapi, ada firasat buruk yang mencubit tengkuknya. Sesuatu yang lebih dingin dari angin malam Ubud.​"Sebentar, Jihan," ucap Dewa, suaranya mendadak datar. Dia melepaskan tangan Jihan dari bahunya dengan gerakan yang tidak lagi ragu.​"Halo, Bi? Ada apa menelepon saya jam segini?"​Suara di seberang sana pecah oleh tangisan. "Pak... Pak Dewa... Tolong, Pak! Bu Lily... Bu Lily pingsan!"​Dewa tersentak berdiri. Kursi kayu jati yang didudukinya bergeser kasar, menimbulkan buny

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Mengenang Masa Lalu

    Malam di Ubud perlahan jatuh, menyelimuti deretan vila mewah dengan kabut tipis dan aroma dupa yang menenangkan. Tapi, bagi Dewa, suasana ini hanya mempertegas kesunyian yang ditinggalkan Lily. Di tengah kemelut hatinya, sebuah pesan singkat dari Jihan masuk, seolah menjadi satu-satunya distraksi yang dia butuhkan.​"Dewa, kurasa kita perlu merayakan kesepakatan final sore tadi. Ada restoran privat di tepi tebing yang sangat tenang. Anggap saja ini selebrasi kecil untuk kerja keras kita beberapa bulan terakhir. My treat?"​Dewa menatap layar ponselnya cukup lama. Logikanya berkata bahwa kesuksesan kontrak bernilai miliaran ini memang layak dirayakan. Jihan telah membuktikan profesionalismenya sebagai klien sekaligus mitra yang tangguh. Baginya, masa lalu mereka sudah selesai. ​"Boleh. Kirimkan lokasinya," balas Dewa singkat.​Restoran itu terletak di sebuah resor eksklusif yang hanya bisa diakses oleh tamu-tamu tertentu. Jihan sudah menunggu di sebuah meja yang letaknya menjorok ke a

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Rayuan Sang Ular

    Angin sepoi-sepoi di teras restoran Ubud yang asri itu sama sekali tidak mendinginkan kepala Dewa. Di hadapannya, Jihan masih tampak tenang menyesap latte-nya, sementara Dewa terus-menerus melirik ponsel yang layarnya tetap gelap. Pesan terakhir Lily yang menyebut tentang "sarapan produktif" benar-benar menghantam telak harga dirinya.​Jihan, yang sejak tadi memperhatikan kegelisahan pria di depannya, meletakkan cangkirnya perlahan. Dia adalah wanita yang tahu persis di mana letak celah dalam baju zirah seorang Dewa. Hubungan mereka di masa lalu membuat Jihan paham bahwa Dewa adalah pria yang dikendalikan oleh logika dan harga diri, bukan perasaan yang menggebu-gebu.​"Sepertinya pikiranmu tidak di sini, Dewa," suara Jihan lembut, namun mengandung magnet yang kuat. "Apa ini soal Lily? Foto yang aku unggah tadi pagi... apa istrimu salah paham?"​Dewa menghela napas panjang, menyugar rambutnya yang sudah berantakan. "Dia pulang ke Jakarta, Jihan. Sendirian. Dia melihat postinganmu dan

  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Hanya Demi Tita

    “Nila, sebaiknya kamu makan. Kalau kamu nggak mau makan, kasihan anak kamu. Nanti air susu kamu nggak keluar. Apalagi Tita lagi sakit, dia butuh banyak asupan asi,” saran Rima yang melihat putrinya tidak terlalu nafsu makan semenjak datang ke rumahnya.“Masih belum ingin makan, Bu. Tadi pagi aku su

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Menjenguk Rahma

    Dewa dan Lily tengah berjalan di koridor rumah sakit. Sejak turun dari mobil, Dewa terus menggandeng tangan istrinya dengan begitu posesif. Sejak kejadian Nindi yang menyerang Lily ke apartemen, Dewa memilih untuk mengantisipasi. Dia tidak mau hal itu terjadi lagi. Selama dia bisa menjaga Lily seo

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Penyelidikan

    “Bos, saya sudah menemukan di mana lokasi tempat tinggal mas Aldo,” lapor seorang lelaki dari ujung sana.“Bagus. Di kota apa tepatnya? Dia tinggal di hotel?” tanya Dewa dengan ekspresi serius.“Surabaya, Bos. Mas Aldo tidak tinggal di hotel, beliau tinggal di sebuah rumah besar.”“Rumah? Maksudku,

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
  • Dalam Rengkuhan Hasrat Kakak Ipar   Ketagihan

    Dewa dan Lily tengah menonton televisi. Lily tengah berada di pangkuan Dewa dengan posisi setengah tiduran. Sementara Dewa tampak sesekali menyuapkan buah-buahan yang sudah dipotong-potong ke mulut Lily. Begitu pula dengan Lily. Mereka saling menyuapkan buah secara bergantian. Layaknya pasangan yan

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status