Share

Dalam Rengkuhan Sang Antagonis
Dalam Rengkuhan Sang Antagonis
Author: silent-arl

01.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-07 17:33:23

Suara ketukan bolpoin di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Tatiana mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jarinya.

"Lima ratus juta, Tatiana. Itu kerugian yang harus kami tanggung karena skandal ini," suara Pak Bram, sang direktur, terdengar datar namun tajam. "Kamu tidak hanya menghancurkan namamu sendiri, tapi juga mencoreng kredibilitas perusahaan kami!"

Tatiana mendongak mantap, dia tidak gentar karena dia tahu bukan dirinya yang harus bertanggung jawab. "Saya tidak meniru satu kalimat pun dari buku itu, Pak. Saya menulisnya dari nol. Saya yang menciptakan semua tokohnya! Saya yang—"

"Cukup!" Seorang editor senior di pojok ruangan menyela dengan dengusan sinis. "Semua penulis amatir yang tertangkap basah akan mengatakan hal yang sama. Faktanya, alur ceritamu identik dengan buku yang terbit di luar negeri itu. Kamu pikir kami bodoh?"

Tatiana menghela napas panjang, ia merasa seperti sedang ditelanjangi di depan umum. Tidak ada yang membelanya. Teman-teman penulis yang dulu sering hangout dengannya kini hanya diam, menatap layar ponsel seolah-olah Tatiana adalah penyakit yang harus dihindari.

"Keluar," kata Pak Bram dingin. "Surat pemutusan kontrak dan tuntutan hukum akan sampai di apartemenmu besok. Dan oh... jangan harap ada penerbit lain yang mau menyentuh naskahmu lagi."

Tatiana berdiri dengan kaki lemas. “Baiklah, tapi kalian akan rugi.” dia mengibaskan rambutnya. “Selama ini, aku yang membawa seluruh investor itu untuk bergabung. Kalian…” kalimat itu mengantung di udara. Tidak ada gunanya membela diri lagi, semua hancur dalam sekejab hanya karena fitnah keji yang ia dapat. Sudah hampir empat tahun dia menjadi penulis dengan penjualan terbaik. 

Cukup satu skandal dan semua keringat itu tak ada artinya.

Dia berjalan keluar melewati lorong kantor yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa asing dan menyesakan. Tatapan menghakimi mengikutinya hingga ke pintu keluar.

***

Langkah kaki Tatiana terasa berat saat menyusuri lorong apartemennya. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu unit 402. Di sana, tumpukan amplop putih dan cokelat berserakan seperti bangkai surat yang dibuang sembarangan.

"Cepat sekali," bisik Tatiana. Ia memungut salah satu amplop berlogo firma hukum. Itu adalah surat tuntutan.

Ia masuk ke dalam, melempar tasnya ke sofa, lalu matanya tertuju pada sebuah paket yang baru saja ia terima pagi ini, sebelum dunia kiamat. Isinya adalah buku berjudul Die For You, karya penulis yang menuduhnya memplagiat.

“Kenapa judulnya juga sama…” gumam Tatiana lirih, buku miliknya berjudul I Wiil Die For You.

Tatiana merobek sampul plastiknya dengan tangan gemetar. Ia membalik halaman demi halaman dengan cepat. Matanya membelalak.

"Ini... ini tidak mungkin," gumamnya. Kalimatnya memang berbeda, tapi struktur emosi, cara karakter pria itu menatap, bahkan cara dia memegang gelas wiski... itu semua adalah nyawa dari Kaliel yang ia ciptakan. Tatiana meremas buku itu hingga sampulnya lecet. Seseorang telah mencuri karyanya dan menjualnya dengan nama lain.

Ia tertawa getir, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku yang menulisnya dengan susah payah, tapi aku juga yang dianggap pencuri.”

Ia tidak tahan lagi. Apartemen ini terasa mencekik. Dengan pemikiran impulsif, Tatiana menyambar koper kecil, memasukkan beberapa pakaian asal-asalan, dan membuka aplikasi pemesanan tiket di ponselnya.

"Ke mana saja. Yang paling jauh," jarinya menekan tiket kereta api menuju kota pinggiran yang bahkan ia tidak tahu letaknya di peta.

***

Suara gesekan roda kereta dengan rel tua menjadi melodi yang menemani lamunan Tatiana. Di dalam gerbong yang remang-remang, ia memeluk tasnya erat. Ia merasa seperti pecundang yang melarikan diri, tapi setidaknya di sini, tidak ada yang menatapnya dengan pandangan 'penulis plagiat'.

Kepalanya terkulai ke jendela yang bergetar. Kelelahan yang luar biasa akhirnya menyerangnya. 

Mata coklatnya menatap lurus ke arah jalanan yang berputar cepat sampai akhirnya ia terpejam. "Kaliel..." igilaunya pelan sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya. "Setidaknya di dalam bukuku, kau tidak pernah menghianatiku seperti ini."

Suara gesekan rel yang kasar mendadak senyap, berganti dengan dengungan halus yang terasa seperti getaran listrik di udara. Tatiana merasa tubuhnya seolah seringan kapas. Aroma debu dan minyak kayu putih yang tadi memenuhi gerbong menghilang, digantikan oleh aroma bersih yang sangat segar.

Tatiana mengerjap. Kursi kayu yang keras di bawahnya kini terasa seperti busa yang sangat empuk.

"Pemberhentian selanjutnya, Sektor Onyx. Harap pastikan identitas Anda aktif," sebuah suara robot pria yang jernih dan berwibawa menggema di seluruh ruangan.

Tatiana tersentak bangun, jantungnya berdetak hebat. Matanya membulat menatap interior gerbong yang kini terbuat dari logam putih mengkilap dan kaca transparan yang menampilkan pemandangan kota di luar sana. Sebuah kota yang tidak pernah ada di dunianya. Gedung-gedung pencakar langit dengan jembatan melayang, kendaraan tanpa roda yang melesat sunyi, dan lampu neon ungu yang menghiasi langit malam.

"Sektor... Onyx?" Tatiana membeku. Itu adalah nama distrik terlarang dalam naskahnya.

Pintu gerbong di depannya mendesis terbuka. Dan di sana, di balik kabut tipis, berdiri seorang pria.

Tinggi, tampan, angkuh, dan berbahaya.

Pria itu mengenakan mantel panjang yang pas di tubuh tegapnya. Saat dia menoleh, Tatiana hampir lupa cara bernapas. Itu adalah wajah yang selama ini menghuni mimpinya dan naskah sialannya yang difitnah itu.

Tatiana melangkah keluar dengan kaki gemetar, matanya yang besar menatap tanpa berkedip. "Ka-Kaliel?"

Pria itu tidak tersenyum. Sebaliknya, dia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Tatiana bisa merasakan panas tubuhnya. Kaliel mencengkeram dagu Tatiana dengan jari-jari dinginnya, memaksanya mendongak.

"Siapa kau?" suara itu rendah, menggetarkan dada Tatiana. Mata biru itu menyipit. “Aku tidak pernah melihatmu disini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 150 (end)

    Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Luke Kalien, bocah kecil yang dulu lahir prematur di usia delapan bulan dan sempat membuat ayah serta ibunya tak bisa melepaskan pandangan di ruang NICU, kini sudah bertumbuh menjadi balita aktif yang pandai berjalan, bahkan berlari ke sana kemari.Pagi itu, tepat tiga tahun setelah kelahiran Luke. Kehidupan di Sektor Onyx sudah banyak berubah. Kaliel, yang dulunya selalu menuntut kendali penuh atas segala urusan, kini telah resmi mundur dari berbagai jabatan birokrasi yang merepotkan.Pria itu sekarang lebih memilih memonitor seluruh pergerakan bisnis dan wilayahnya langsung dari rumah yang nyaman. Bagi Kaliel saat ini, melangkah keluar dari rumah adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Ia sudah cukup dengan segala hiruk-pikuk luar dan hanya ingin menikmati ketenangannya.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 149

    Kamar suite terbaik yang disewa Kaliel memiliki dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah Rumah Sakit Pusat Sektor Onyx. Di depan jendela itu, Tatiana berdiri diam, menatap lampu-lampu rumah sakit yang benderang di kejauhan dengan tatapan kosong dan penuh kerinduan.Kaliel melangkah mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Tatiana dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya, mencoba menyalurkan kehangatan dan rasa aman."Jangan suka menyiksa dirimu," bisik Kaliel rendah, tepat di tengkuk Tatiana. "Luke tidak sendirian di sana dan kau tidak perlu merasa bersalah."Kaliel membalikkan sedikit tubuh Tatiana agar wanita itu bisa melihat sudut pandang yang i

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 148

    Ketegangan yang sempat mencekam koridor rumah sakit itu mendadak luruh ketika pintu ganda ruang tindakan darurat kembali terbuka. Dokter melangkah keluar, melepas masker medisnya, dan langsung menyunggingkan senyum lebar yang penuh kelegaan."Semua selamat, Tuan Kaliel," ujar dokter itu dengan nada mantap. "Ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis. Jagoan kecil Anda lahir dengan selamat melalui tindakan vakum darurat, dan Nyonya Tatiana saat ini sudah sadar kembali, meskipun kondisinya masih sangat lemas."Mendengar kalimat itu, bahu kaku Kaliel yang sejak tadi tegang langsung merosot. Kepalan tangannya perlahan melonggar, dan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.Tanpa membuang waktu, Kaliel segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan pasca operasi. Di sana, di atas ranjang yang bersih, Tatiana berbari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 147

    Melihat celah kecil di antara himpitan mobil, mata Kaliel menangkap kilatan lampu rotator merah-biru yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka. Sebuah ambulans sektor kebetulan sedang berada di lokasi kecelakaan, baru saja selesai mengevakuasi korban tabrakan beruntun.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaliel menarik pintu mobilmya hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin sambil mendekap tubuh pucat Tatiana dengan protektif, melangkah lebar dan cepat menerobos sela-sela kendaraan yang berhenti total.Para pengendara lain yang terjebak macet sempat menoleh dengan pandangan ngeri dan segan melihat sosok pria yang kerap berseliweran di majalah bisnis Sektor Onyx berjalan dengan aura sedingin es, menggendong seorang wanita yang lemah di bawah siraman lampu jalan."Buka pintunya!" titah Kaliel menggeleg

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 146

    Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   S2. 145

    Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   03.

    Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perp

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   02.

    Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   07.

    Matahari Sektor Onyx baru saja merayap naik, memantul pada gedung-gedung kaca yang dingin. Di dalam kendaraan hitam legam milik Kaliel, suasana terasa kaku. Tatiana duduk di kursi penumpang, mencoba merapikan dress kuning cerah yang ia temukan di tumpukan kopernya,

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   06.

    Cengkeraman tangan Kaliel di pinggang Tatiana tidak melonggar, justru semakin mengunci. Jarak mereka begitu dekat hingga Tatiana bisa merasakan hawa panas yang menguar dari dada bidang Kaliel yang tak tertutup kemeja dengan sempurna."Jelaskan," desis Kaliel. Suaranya rendah, bergetar oleh perpadua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status