LOGINCengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah.
"Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus ke arah pori-pori kulit pria di depannya. "Halus banget. Aku nulis dia pakai perawatan apa, ya?"
Tanpa aba-aba, Tatiana mengangkat telunjuknya dan... Ia mencolek pipi Kaliel. Sekali. Lalu dua kali, memastikan apakah jari tangannya akan menembus bayangan atau tidak.
"Lembut," bisik Tatiana dengan wajah tanpa dosa. "Mimpinya terasa nyata banget. Bau parfumnya juga mahal.”
Rahang Kaliel menegang. Mata birunya yang sedalam samudra itu berkilat berbahaya. Ia melepaskan dagu Tatiana dengan sentakan kecil, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Kau... baru saja menyentuhku?" dengus Kaliel, terdengar seperti geraman singa yang terganggu tidurnya.
Tatiana tidak menghiraukan tatapan mematikan itu. Ia justru mulai panik sendiri saat menyadari pipi itu tetap terasa padat dan hangat. Ia mencubit lengannya sendiri. Aduh! Sakit!
Wajah Tatiana mendadak pucat pasi. Ia menatap sekeliling, peron yang canggih, robot-robot pembersih yang melintas, dan pria di depannya yang tampak ingin menelannya hidup-hidup.
"Tunggu, kalau ini bukan mimpi... berarti..." Tatiana menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya bergetar panik. "Berarti aku beneran mati?! Aku serangan jantung di kereta dan ini… neraka?”
"Apa yang kau bicarakan, Gadis Gila?" Kaliel melangkah maju, hendak memanggil pengawalnya.
Tapi Tatiana sudah terlanjur histeris. Dalam puncak kebingungannya, ia justru merangsek maju dan menyambar kedua kerah mantel mahal Kaliel. Ia menariknya dengan kuat hingga wajah pria itu tertunduk tepat di depan wajahnya.
"Heh, Kaliel. Kalau aku mati, harusnya aku masuk surga yang ada taman bunganya, bukan neraka yang isinya mafia seperti kamu!" teriak Tatiana sambil mengguncang-guncang kerah mantel itu. "Kenapa aku malah ketemu tokoh antagonis ciptaanku sendiri? Apa dosaku sebanyak itu sampai aku harus dikurung di naskah yang membuatku putus asa ini.”
Kaliel membeku. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai penguasa Sektor Onyx, ada seorang wanita yang berani menarik kerahnya, berteriak di depan wajahnya, dan mengatai dirinya sebagai 'tokoh antagonis'.
Napas hangat Tatiana menerpa wajah Kaliel, dan aroma bunga mawar dari sampo gadis itu entah bagaimana merusak konsentrasi sang mafia.
"Lepaskan. Tanganmu. Dari. Mantelku." Kaliel mengeja setiap kata dengan nada yang sanggup membuat nyali orang biasa menciut.
Tapi Tatiana justru makin kencang menariknya. "Tidak mau! Balikin aku ke dunia nyata! Aku belum mau mati sebelum lihat Pak Bram bangkrut! Kaliel, kau tahu maksudku, kan?”
***
Kaliel menyentak tangan Tatiana hingga pegangan gadis itu pada mantelnya terlepas. Ia merapikan kerahnya dengan gerakan kasar, matanya memancarkan permusuhan yang membara.
"Cukup sandiwaranya," desis Kaliel. Suaranya kini sedingin es di kutub. "Aku tidak tahu siapa yang mengirimmu atau obat apa yang kau konsumsi hingga kau bertingkah seperti orang gila. Tapi satu hal yang pasti..."
Kaliel memberi isyarat pada dua pengawal berseragam hitam yang muncul dari balik pilar peron. "Bawa dia ke pusat detensi. Pastikan dia tidak mati sebelum menjelaskan bagaimana dia bisa menembus keamanan keretaku."
Kaliel berbalik, berniat meninggalkan Tatiana tanpa menoleh lagi. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin buatan dari ventilasi stasiun.
"Kaliel, tunggu!" teriak Tatiana, suaranya melengking di tengah kesunyian peron. "Kau mau ke mana? Kau tidak akan menemui Elise, kan?”
Langkah kaki Kaliel terhenti seketika. Tubuhnya menegang, punggungnya terlihat kaku di bawah balutan mantel mahal itu. Ia berbalik perlahan, matanya menyipit penuh selidik.
Tatiana, yang masih berusaha mengatur napasnya yang memburu, melanjutkan dengan polos namun tajam. "Jangan bilang kau mau menemui wanita itu sekarang. Kau tahu tidak, kalau di bab... maksudku, kalau sebenarnya dia itu kubuat sebagai mata-mata?"
Suasana di peron mendadak terasa membeku. Para pengawal Kaliel bahkan berhenti bergerak, seolah-olah kata 'mata-mata' adalah mantra terlarang yang tidak boleh diucapkan.
Kaliel melangkah mendekat kembali. Kali ini, ia tidak mencengkeram dagu Tatiana. Ia justru berdiri sangat dekat hingga bayangan tubuhnya yang tinggi menenggelamkan sosok Tatiana. Ia menunduk, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Apa yang kau katakan tentang kekasihku?" tanya Kaliel, suaranya sangat rendah dan berbahaya.
Tatiana menghela napas panjang. Ia yang membuat semua cerita ini, tentu saja dia tahu rahasia dibalik kesempurnaan Elise, si pemeran wanita yang dikagumi.
"Dengarkan aku, Kaliel. Elise. Dia cantik, kan? Dia lembut, kan? Tapi dia juga yang sedang menyiapkan bom mematikan di bawah meja kerjamu sekarang, Kaliel. Dia ingin menghancurkanmu dan Sektor Onyx demi organisasinya." ujarnya penuh bangga. Tatiana sangat puas ketika menulis bab dimana Kaliel memohon pada Elise agar gadis itu tidak meninggalkannya.
Tatiana mengedikan bahu, menatap Kaliel dengan tatapan percaya diri. "Aku yang membuat dia semenyebalkan itu, jadi aku tahu persis kapan dia akan menusukmu dari belakang."
Kaliel terdiam lama.
Seharusnya aku tidak bisa mati lagi. Batin Tatiana kacau ketika tatapan mata Kaliel tak berpindah dari wajahnya. Jantung Tatiana berdegup kencang bukan cuma karena takut, tapi karena jarak mereka yang sangat dekat hingga ia bisa mencium aroma tubuh Kaliel yang memabukkan.
"Siapa sebenarnya kau?" tanya Kaliel lagi, kali ini tanpa nada meremehkan. Ada sedikit keraguan dan rasa ingin tahu yang besar di matanya. "Bagaimana kau tahu sedetail itu, tentang… Elise?”
Tatiana nyengir lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku? Aku cuma orang yang dituduh plagiat karena menciptakan pria sepertimu."
Tatiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat di bawah tekanan rasa bersalah. "Kukira aku tidak akan pernah goyah... aku mengaku aku salah, Kaliel!" seru Tatiana di balik tangannya, suaranya parau dan tersedat. "Tapi sampai detik ini... demi Tuhan, aku tidak mencintainya! Hanya kau, Kaliel. Hanya kau."Kaliel menyeringai, sebuah senyuman pahit dan penuh sarkasme yang memperlihatkan betapa hancur harga dirinya saat ini. "Kau pikir mudah bagiku untuk tidak cemburu pada pria itu?!" cetus Kaliel, matanya menatap Tatiana dengan amarah yang belum reda. "Kau membelanya, kau menyimpan kuncinya, kau memberinya peluang untuk masuk terlalu jauh, Tatiana! Tapi kau bertingkah seolah kau korban dan pura-pura tidak bersalah di sini. Kau egois!"Tatiana tidak bisa menjawab tuduhan itu, ia sadar dia telah melu
Edward memaksakan sebuah senyuman tipis, menatap wajah Tatiana yang tampak begitu kuyu di bawah pendar lampu kamar. "Kau kelihatan lelah," bisiknya parau.Tatiana menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan gelombang kesedihan yang mendesak di dadanya. "Kau kelihatan payah. Apa yang sebenarnya terjadi, Ed?" tuntutnya dengan suara bergetar.Edward langsung mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, menghindari kontak mata dengan Tatiana. "Aku sakit," jawabnya singkat, seolah kata itu cukup untuk menjelaskan segalanya.Mendengar jawaban yang begitu enteng, Tatiana memukul lengan Edward pelan, frustrasi karena pria itu selalu menutup diri. "Jelaskan apa penyakitmu!"Edward meringis pelan, karena rasa sakit yang kembali menusuk dadanya. "Sesu
Kaliel tidak langsung menyambut uluran tangan Joe. Alih-alih terharu, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. Sebuah senyuman tipis, setengah sinis, terukir di sudut bibirnya. Sebagai pria yang sudah kenyang dengan intrik, Kaliel tidak akan sebodoh itu langsung memercayai loyalitas instan dari seorang anak buah Laura."Apa motifmu, Joe?" tanya Kaliel dingin, matanya menyipit, mengunci pergerakan pria di hadapannya. "Kau rela membuang karier mapan di firma hukum sebesar ini hanya demi membela sepasang kekasih yang sedang diburu masalah? Jangan bercanda."Kedua alis Joe terangkat, sedikit terkejut dengan skeptisisme Kaliel, namun sedetik kemudian ekspresinya melembut, menyiratkan luka lama. "Entahlah," sahut Joe lirih, tatapannya menerawang ke arah tumpukan berkas. "Mungkin karena saya melihat diri saya yang dulu pada posisi Anda. D
Perjalanan menuju Sektor Onyx terasa berbeda dari biasanya. Di dalam kendaraan diselimuti keheningan yang agak tegang, meski kehadiran Tatiana di kursi sebelah kemudi sedikit banyak meredam kecemasan Kaliel. Pemandangan luar jendela perlahan berubah, dari pembatas sektor yang dijaga ketat hingga deretan bangunan tinggi khas Onyx yang mulai terlihat di cakrawala.Di tengah keheningan itu, Tatiana tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Kaliel yang fokus menatap jalanan di depan. “Kaliel, kenapa Edward tidak ada kabar seharian ya?" tanya Tatiana, keningnya sedikit berkerut cemas. "Biasanya dia selalu memberi kabar.”Mendengar nama Edward disebut,mood Kaliel seketia rusak. Kaliel mengangkat satu tangannya dari kemudi, menggosok hidungnya sekali dengan gerakan refleks yang menunjukkan rasa tidak nyaman sekaligus jengkel. "Tidak tahu," sahut
Kaliel memutar tubuhnya menjadi tengkurap dan membenamkan sebagian wajahnya di bantal. Namun, matanya tetap melirik tajam ke arah Tatiana. "Mandilah, Sayang, sebelum aku berubah pikiran untuk tidak membuatmu hamil sekarang juga," ancam Kaliel dengan suara tertahan yang justru terdengar sangat seksi dan penuh penekanan.Tatiana tertawa mendengarnya. Ia mencondongkan kepalanya ke belakang, menatap Kaliel dari atas bahunya dengan senyum kemenangan yang menghiasi bibirnya. "Baiklah, pikirkan saja itu sesukamu," sahut Tatiana santai sembari melangkah mundur menuju kamar mandi. "Tapi setelah itu kita harus sarapan. Kau butuh banyak energi untuk menghadapi apa pun yang menunggumu di luar sana hari ini."Pintu kamar mandi pun tertutup, menyisakan Kaliel yang perlahan memudarkan senyumnya di atas kasur. Begitu sendirian, bayangan tentang pria misterius yang
Malam menyelimuti rumah dengan kegelapan dan keheningan yang mencekam. Namun di dalam kamar, Kaliel memastikan di sekitar mereka terasa sehangat mungkin. Ia menyalakan lampu tidur, mengunci semua celah rumah dengan pengamanan, dan tidak membiarkan Tatiana lepas dari jangkauan pandangannya bahkan untuk sedetik pun.Kaliel merebahkan tubuhnya di sebelah Tatiana, menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh wanita itu yang masih sesekali berjengit kecil karena sisa takut siang tadi.Tanpa suara, Kaliel membawa Tatiana ke dalam dekapan dadanya, membiarkan wanita itu mendengarkan detak jantungnya."Tidurlah, Sayang. Aku menjaga sepanjang malam," bisik Kaliel lembut di telinga Tatiana, sambil mengecup pelan pelipisnya.Jemari kekar Kaliel bergerak perlahan, m







