Share

20.

Author: silent-arl
last update publish date: 2026-04-30 18:02:11

Mansion itu begitu hening, hingga suara denting sendok perak yang bersentuhan dengan cangkir porselen terdengar seperti kejutan yang tak layak di tunggu. Bram duduk di ujung meja makan panjang, menyesap tehnya dengan tenang, sementara Tatiana duduk di hadapannya dengan tangan terikat di balik kursi.

"Kau terlalu banyak bicara berputar-putar, Tatiana," ujar Bram, suaranya kini tidak lagi ramah. Ia meletakkan cangkirn

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   130.

    Tatiana mengelap bibirnya dengan tisu setelah suapan terakhirnya. Mereka kemudian bangkit dan melangkah menuju area supermarket besar yang berada di dalam mal tersebut untuk mengisi kulkas mereka yang kosong.Begitu mereka melewati barisan troli dan masuk ke area bahan makanan segar, Kaliel menoleh ke arah Tatiana sambil mendorong troli di samping gadis itu. "Kau ingin makan apa beberapa hari ke depan?" tanya Kaliel, siap mengambil apa saja yang diinginkan calon istrinya."Daging?" jawab Tatiana dengan nada bertanya, matanya langsung berbinar saat melihat etalase bagian daging segar yang memamerkan potongan-potongan premium.Kaliel terkekeh pelan dan langsung mengarahkan troli mereka ke stan daging. "Daging, pilihan yang bagus. Aku akan memilihkan potongan terbaik untukmu, dan pastikan kita juga me

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   129.

    Tatiana perlahan bangkit dari ranjang, merasakan sisa-sisa kehangatan dan rasa lemas yang masih menjalar di kedua tungkainya. Ia membungkuk untuk meraih baju tidur merah muda miliknya yang tadi sempat terlempar dan terjatuh di sisi ranjang, lalu menyampirkannya ke tubuh tanpa repot-repot mengancingkannya dengan benar."Aku mau mandi dulu," bisik Tatiana suaranya masih agak serak, tanpa menoleh ia melangkah perlahan menuju kamar mandi.Kaliel yang masih berbaring telentang hanya menatap punggung polos gadis itu dari belakang. Tatapannya begitu dalam, mengagumi setiap lekuk tubuh Tatiana yang kini sudah resmi menjadi miliknya sepenuhnya.Tak lama setelah pintu kamar mandi tertutup, Kaliel ikut bangkit dari ranjang. Tubuh atletisnya bergerak santai saat ia mengambil celana pendek hitamnya yang tergeletak di

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   128.

    Tatiana hampir mengangguk, menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona Kaliel. Namun, tepat sebelum bibir mereka kembali bertautan, sebuah ingatan membuatnya tersadar. Ia menahan dada Kaliel pelan."Joe. Bukannya dia akan datang?" bisik Tatiana dengan napas yang masih memburu.Kaliel mendesah pelan, sedikit kecewa karena momentumnya terganggu. Namun, ia tidak melepaskan Tatiana.Pria itu justru menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke punggung polos Tatiana, mengusap-usapnya dengan gerakan lambat yang menenangkan sekaligus sensual. "Ini masih pagi, Sayang," bisik Kaliel serak di depan bibir Tatiana. "Joe tidak akan berani mengacaukan rumahku sepagi ini."Kehangatan usapan tangan Kaliel di punggungnya membuat tubuhnya meremang. Tanpa bisa ditahan la

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   127.

    Suasana canggung yang tersisa dari malam sebelumnya ternyata tidak serta-merta pergi begitu pagi hari tiba. Tatiana terbangun beberapa saat setelah Kaliel. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.Langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga. Di ruang tengah yang minimalis itu, ia mendapati Kaliel sedang fokus melakukan olahraga paginya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Butiran keringat tampak berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan, mengalir melewati lekukan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna setiap kali pria itu bergerak.Tenggorokan Tatiana tiba-tiba terasa sangat kering. Ia refleks mengecap bibirnya sendiri yang mendadak terasa pias, terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan yang sulit dialihkan dari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   126.

    Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   125.

    Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   30.

    Ketegangan di teras itu terpecah ketika seorang pria tua muncul dari balik pintu sambil membawa baki berisi teko teh dan beberapa gelas. Ia memandang Kaliel dan Edward bergantian, lalu tersenyum lebar seolah tidak merasakan hawa dingin yang memancar dari kedua pria

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   29.

    Edward duduk di dalam mobil hitamnya yang terparkir di ujung jalan. Di tangannya bukan lagi laporan keuangan atau semua perintah yang Bram minta, melainkan sebuah tablet yang menampilkan data pelacakan GPS dari armada taksi kota.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   28.

    Dua hari kemudian…Elise membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa nyeri yang menusuk di area perutnya. Cahaya lampu di atasnya terasa begitu menyilaukan, membuatnya harus mengerjap bebera

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   27.

    Deburan ombak menyambut Tatiana saat ia turun dari taksi di pinggir jalan aspal yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir putih. Bau garam dan angin laut yang kencang langsung menerpa wajahnya, mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut sejak dari kasino.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status