Share

22.

Author: silent-arl
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-01 18:03:07

Bram mendengus, menyandarkan punggungnya di bingkai pintu yang rapuh. Ia memperhatikan bagaimana Edward dengan sangat hati-hati membantu Tatiana berdiri, seolah gadis itu adalah vas retak yang berharga.

"Aku akan membawanya ke atas untuk membersihkan lukanya, Bram. Dia tidak bisa memberikan informasi apa pun jika dia mati karena infeksi," ujar Edward dengan nada datar namun sopan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   129.

    Tatiana perlahan bangkit dari ranjang, merasakan sisa-sisa kehangatan dan rasa lemas yang masih menjalar di kedua tungkainya. Ia membungkuk untuk meraih baju tidur merah muda miliknya yang tadi sempat terlempar dan terjatuh di sisi ranjang, lalu menyampirkannya ke tubuh tanpa repot-repot mengancingkannya dengan benar."Aku mau mandi dulu," bisik Tatiana suaranya masih agak serak, tanpa menoleh ia melangkah perlahan menuju kamar mandi.Kaliel yang masih berbaring telentang hanya menatap punggung polos gadis itu dari belakang. Tatapannya begitu dalam, mengagumi setiap lekuk tubuh Tatiana yang kini sudah resmi menjadi miliknya sepenuhnya.Tak lama setelah pintu kamar mandi tertutup, Kaliel ikut bangkit dari ranjang. Tubuh atletisnya bergerak santai saat ia mengambil celana pendek hitamnya yang tergeletak di

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   128.

    Tatiana hampir mengangguk, menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona Kaliel. Namun, tepat sebelum bibir mereka kembali bertautan, sebuah ingatan membuatnya tersadar. Ia menahan dada Kaliel pelan."Joe. Bukannya dia akan datang?" bisik Tatiana dengan napas yang masih memburu.Kaliel mendesah pelan, sedikit kecewa karena momentumnya terganggu. Namun, ia tidak melepaskan Tatiana.Pria itu justru menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke punggung polos Tatiana, mengusap-usapnya dengan gerakan lambat yang menenangkan sekaligus sensual. "Ini masih pagi, Sayang," bisik Kaliel serak di depan bibir Tatiana. "Joe tidak akan berani mengacaukan rumahku sepagi ini."Kehangatan usapan tangan Kaliel di punggungnya membuat tubuhnya meremang. Tanpa bisa ditahan la

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   127.

    Suasana canggung yang tersisa dari malam sebelumnya ternyata tidak serta-merta pergi begitu pagi hari tiba. Tatiana terbangun beberapa saat setelah Kaliel. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.Langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga. Di ruang tengah yang minimalis itu, ia mendapati Kaliel sedang fokus melakukan olahraga paginya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Butiran keringat tampak berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan, mengalir melewati lekukan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna setiap kali pria itu bergerak.Tenggorokan Tatiana tiba-tiba terasa sangat kering. Ia refleks mengecap bibirnya sendiri yang mendadak terasa pias, terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan yang sulit dialihkan dari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   126.

    Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   125.

    Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   124.

    Refleks Kaliel bergerak secepat kilat. Ia langsung menarik tubuh Tatiana ke dalam dekapan dadanya, menggunakan badannya sendiri sebagai tameng sembari melindungi kepala gadis itu dengan kedua tangan."Kita keluar dari—" Kata-kata Kaliel terputus oleh rentetan suara tembakan susulan yang menggema lebih dekat, diiringi suara kaca pecah dan derap langkah kaki yang kacau. Sadar pintu keluar utama terlalu berisiko, Kaliel menarik Tatiana mundur, menyusuri koridor sempit hingga menemukan sebuah toilet umum yang tandanya sudah agak usang dan tampak rusak.Begitu mendorong pintu di salah satu bilik, Kaliel mendesak Tatiana masuk. "Berdiri di atas dudukan toilet, sembunyikan kakimu dari celah bawah pintu," bisiknya tajam penuh penekanan.Tatiana yang jantungnya berpacu hebat menatap Kaliel panik. "Lal

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   11.

    Tatiana tersedak, paru-parunya seolah dipaksa menghirup udara kembali setelah sedetik yang lalu ia merasa hidupnya berhenti di tangan Bram.Ia mengerjap. Tatiana menatap langit-langit yang mewah dengan lampu gantu

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   09.

    Ketegangan di ruang itu mereda secepat badai yang berlalu saat langkah kaki Kaliel terdengar kembali dari balkon. Elise melepaskan garpunya dengan kecepatan yang tidak masuk akal, kembali duduk dengan keanggunan seorang ratu seolah tidak terjadi apa-apa.

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   08.

    Mobil Kaliel terparkir di pekarangan rumah, rumah itu indah dan memiliki kesan sangat nyaman. Tatiana menuliskan rumah itu persis seperti apa yang ia harapkan. Rumah di tengah kota yang asri. Gadis itu tersenyum ketika Kaliel mendorong pintu kayu dengan mudah. 

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   07.

    Matahari Sektor Onyx baru saja merayap naik, memantul pada gedung-gedung kaca yang dingin. Di dalam kendaraan hitam legam milik Kaliel, suasana terasa kaku. Tatiana duduk di kursi penumpang, mencoba merapikan dress kuning cerah yang ia temukan di tumpukan kopernya,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status