共有

25.

作者: silent-arl
last update 公開日: 2026-05-03 14:04:43

Edward masih belum bergeming, jari-jarinya tetap melingkar di lengan Tatiana dengan kekuatan yang tidak berubah. Ia melirik Bram sekilas, memberikan kode bisu bahwa ia hanya akan bergerak jika ada instruksi resmi. "Aku menunggu perintah Tuan Bram, Kaliel. Aku tidak bekerja untukmu," ucap Edward datar, seolah tidak terpengaruh oleh moncong senjata yang mungkin meledak kapan saja.

Bram tertawa, suara tawanya menggema

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   128.

    Tatiana hampir mengangguk, menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona Kaliel. Namun, tepat sebelum bibir mereka kembali bertautan, sebuah ingatan membuatnya tersadar. Ia menahan dada Kaliel pelan."Joe. Bukannya dia akan datang?" bisik Tatiana dengan napas yang masih memburu.Kaliel mendesah pelan, sedikit kecewa karena momentumnya terganggu. Namun, ia tidak melepaskan Tatiana.Pria itu justru menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke punggung polos Tatiana, mengusap-usapnya dengan gerakan lambat yang menenangkan sekaligus sensual. "Ini masih pagi, Sayang," bisik Kaliel serak di depan bibir Tatiana. "Joe tidak akan berani mengacaukan rumahku sepagi ini."Kehangatan usapan tangan Kaliel di punggungnya membuat tubuhnya meremang. Tanpa bisa ditahan la

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   127.

    Suasana canggung yang tersisa dari malam sebelumnya ternyata tidak serta-merta pergi begitu pagi hari tiba. Tatiana terbangun beberapa saat setelah Kaliel. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.Langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga. Di ruang tengah yang minimalis itu, ia mendapati Kaliel sedang fokus melakukan olahraga paginya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Butiran keringat tampak berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan, mengalir melewati lekukan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna setiap kali pria itu bergerak.Tenggorokan Tatiana tiba-tiba terasa sangat kering. Ia refleks mengecap bibirnya sendiri yang mendadak terasa pias, terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan yang sulit dialihkan dari

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   126.

    Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   125.

    Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   124.

    Refleks Kaliel bergerak secepat kilat. Ia langsung menarik tubuh Tatiana ke dalam dekapan dadanya, menggunakan badannya sendiri sebagai tameng sembari melindungi kepala gadis itu dengan kedua tangan."Kita keluar dari—" Kata-kata Kaliel terputus oleh rentetan suara tembakan susulan yang menggema lebih dekat, diiringi suara kaca pecah dan derap langkah kaki yang kacau. Sadar pintu keluar utama terlalu berisiko, Kaliel menarik Tatiana mundur, menyusuri koridor sempit hingga menemukan sebuah toilet umum yang tandanya sudah agak usang dan tampak rusak.Begitu mendorong pintu di salah satu bilik, Kaliel mendesak Tatiana masuk. "Berdiri di atas dudukan toilet, sembunyikan kakimu dari celah bawah pintu," bisiknya tajam penuh penekanan.Tatiana yang jantungnya berpacu hebat menatap Kaliel panik. "Lal

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   123.

    Keesokan harinya, suasana tenang di Sektor Carasano mulai terusik. Kawasan yang selama ini terkenal sangat aman dan minim kriminalitas itu mendadak diguncang oleh berita-berita miring. Kasus pencurian kecil, penjambretan, hingga aksi nekat seperti yang dialami Tatiana kemarin mulai sering terjadi di berbagai sudut sektor.Saat sedang berjalan-jalan pagi, Tatiana tak sengaja mendengar obrolan serius di depan toko kue. Sepasang suami istri muda tampak sedang berbincang tegang dengan sang pemilik toko kue yang wajahnya terlihat cemas.Tatiana memperlambat langkahnya, berpura-pura melihat etalase sambil menajamkan pendengarannya."Ini benar-benar gila," ucap pria muda itu sambil menggelengkan kepala. "Carasano tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kemarin kedai dekat bundaran dirampok, lalu tadi malam a

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   23.

    Kaliel berdiri di balkon penthouse-nya, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang terasa hampa tanpa kehadiran Tatiana. Di ruang tengah, Elise sedang sibuk dengan laptopnya, berpura-pura membantu melacak sinyal SUV putih itu. Namun, Kaliel tidak lagi melihat Elise deng

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   22.

    Bram mendengus, menyandarkan punggungnya di bingkai pintu yang rapuh. Ia memperhatikan bagaimana Edward dengan sangat hati-hati membantu Tatiana berdiri, seolah gadis itu adalah vas retak yang berharga."Aku akan membaw

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   21.

    Lantai marmer yang indah itu kini berubah menjadi ranjau berisi kristal tajam. Tatiana mengerang saat merasakan perih yang menghujam telapak kakinya. Serpihan lampu gantung itu merobek kulitnya, meninggalkan jejak darah setiap kali Bram menyeretnya dengan kasar men

  • Dalam Rengkuhan Sang Antagonis   20.

    Mansion itu begitu hening, hingga suara denting sendok perak yang bersentuhan dengan cangkir porselen terdengar seperti kejutan yang tak layak di tunggu. Bram duduk di ujung meja makan panjang, menyesap tehnya dengan tenang, sementara Tatiana duduk di hadapannya de

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status