로그인Deburan ombak menyambut Tatiana saat ia turun dari taksi di pinggir jalan aspal yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir putih. Bau garam dan angin laut yang kencang langsung menerpa wajahnya, mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut sejak dari kasino.
Tatiana berdiri mematung, menatap garis pantai yang berpendar di bawah cahaya bulan. Pesisir ini... ia mengenalnya dengan sangat baik. Ini adalah tempat yang ia
Tatiana perlahan bangkit dari ranjang, merasakan sisa-sisa kehangatan dan rasa lemas yang masih menjalar di kedua tungkainya. Ia membungkuk untuk meraih baju tidur merah muda miliknya yang tadi sempat terlempar dan terjatuh di sisi ranjang, lalu menyampirkannya ke tubuh tanpa repot-repot mengancingkannya dengan benar."Aku mau mandi dulu," bisik Tatiana suaranya masih agak serak, tanpa menoleh ia melangkah perlahan menuju kamar mandi.Kaliel yang masih berbaring telentang hanya menatap punggung polos gadis itu dari belakang. Tatapannya begitu dalam, mengagumi setiap lekuk tubuh Tatiana yang kini sudah resmi menjadi miliknya sepenuhnya.Tak lama setelah pintu kamar mandi tertutup, Kaliel ikut bangkit dari ranjang. Tubuh atletisnya bergerak santai saat ia mengambil celana pendek hitamnya yang tergeletak di
Tatiana hampir mengangguk, menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona Kaliel. Namun, tepat sebelum bibir mereka kembali bertautan, sebuah ingatan membuatnya tersadar. Ia menahan dada Kaliel pelan."Joe. Bukannya dia akan datang?" bisik Tatiana dengan napas yang masih memburu.Kaliel mendesah pelan, sedikit kecewa karena momentumnya terganggu. Namun, ia tidak melepaskan Tatiana.Pria itu justru menyusupkan telapak tangannya yang hangat ke punggung polos Tatiana, mengusap-usapnya dengan gerakan lambat yang menenangkan sekaligus sensual. "Ini masih pagi, Sayang," bisik Kaliel serak di depan bibir Tatiana. "Joe tidak akan berani mengacaukan rumahku sepagi ini."Kehangatan usapan tangan Kaliel di punggungnya membuat tubuhnya meremang. Tanpa bisa ditahan la
Suasana canggung yang tersisa dari malam sebelumnya ternyata tidak serta-merta pergi begitu pagi hari tiba. Tatiana terbangun beberapa saat setelah Kaliel. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.Langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga. Di ruang tengah yang minimalis itu, ia mendapati Kaliel sedang fokus melakukan olahraga paginya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan kaos, hanya memakai celana pendek olahraga hitam. Butiran keringat tampak berkilau di atas kulitnya yang kecokelatan, mengalir melewati lekukan otot dada dan perutnya yang terbentuk sempurna setiap kali pria itu bergerak.Tenggorokan Tatiana tiba-tiba terasa sangat kering. Ia refleks mengecap bibirnya sendiri yang mendadak terasa pias, terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan yang sulit dialihkan dari
Tatiana terus menatap kalung berlian di tangannya tanpa ada niat untuk mengenakannya. Pikirannya masih berkecamuk, mencoba mencerna kegilaan situasi hari ini.Kaliel yang baru saja selesai mandi berdehem pelan sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Melihat tatapan kosong Tatiana yang tak kunjung beralih dari kotak perhiasan, ia terkekeh tipis. "Kau tampak menyeramkan, Sayang. Seperti sedang merencanakan hal yang jahat."Tatiana mendongak, menatap Kaliel dengan raut wajah yang masih diliputi kecemasan. "Tentu saja aku takut, Kaliel. Menikah bukan hal yang sesederhana seperti yang kau bayangkan."Kaliel melempar handuknya ke atas kursi kosong, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. "Bagiku sederhana. Hal-hal di dunia ini menjadi rumit hanya karena kau terlalu banyak berandai-andai
Mobil mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan area perbatasan yang kacau itu sejauh mungkin. Di tengah deru mesin yang, Kaliel memindahkan satu tangannya dari kemudi, lalu meremas lembut jemari Tatiana yang masih terasa dingin."Kita sudah memastikan polisi datang sebelum pergi tadi, kan?" Pria itu terdengar terlalu santai.Tatiana mengembuskan napas lega yang panjang, ketegangan yang sejak tadi menumpuk di bahunya perlahan menguap. Ia menoleh, menatap wajah Kaliel dari samping yang tampak begitu tenang di balik kemudi. "Kau... sama sekali tidak punya rasa takut, ya?"Kaliel terkekeh rendah, namun sorot matanya yang melirik Tatiana sesaat tampak begitu tulus. "Satu-satunya yang membuatku takut di dunia ini adalah kau, Tatiana. Urat tegang, rasa takut, dan kecemasanku hanya ak
Refleks Kaliel bergerak secepat kilat. Ia langsung menarik tubuh Tatiana ke dalam dekapan dadanya, menggunakan badannya sendiri sebagai tameng sembari melindungi kepala gadis itu dengan kedua tangan."Kita keluar dari—" Kata-kata Kaliel terputus oleh rentetan suara tembakan susulan yang menggema lebih dekat, diiringi suara kaca pecah dan derap langkah kaki yang kacau. Sadar pintu keluar utama terlalu berisiko, Kaliel menarik Tatiana mundur, menyusuri koridor sempit hingga menemukan sebuah toilet umum yang tandanya sudah agak usang dan tampak rusak.Begitu mendorong pintu di salah satu bilik, Kaliel mendesak Tatiana masuk. "Berdiri di atas dudukan toilet, sembunyikan kakimu dari celah bawah pintu," bisiknya tajam penuh penekanan.Tatiana yang jantungnya berpacu hebat menatap Kaliel panik. "Lal
Kaliel perlahan melepaskan ciumannya, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Napasnya yang memburu terasa panas di kulit Tatiana, dan matanya menatap dengan intensitas yang nyaris membuat nyali Tatiana menciut."Inga
Keheningan setelah badai gairah itu pecah saat Kaliel menarik diri dan pandangannya jatuh pada noda merah yang menghiasi sprei putih di bawah mereka. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya, hanya tatapan intens yang seolah sedang menandai sebuah wilayah yang baru
Ciuman itu dimulai dengan lembut, sentuhan hangat yang terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi keterpaksaan atau keraguan yang membayangi. Tatiana memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi itu, secara sukarela membuka di
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden penthouse terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Tatiana. Ia mengerang, menutupi wajahnya dengan b







