LOGIN
"Tuan! Nyonya menghilang!"
Telapak sepatu merah dari pantofel Dante baru memijaki ubin marmer kediamannya. Namun, seruan Kepala Pelayan berdengung bagai lelucon di hari yang seharusnya menjadikan perayaan satu tahun pernikahan mereka. "Apa yang sedang kau bicarakan?" Dia bersuara datar. Masih dengan kepercayaan diri, bahwa wanitanya kini tengah duduk manis di sofa favoritnya, seraya memangku buku astronomi kesayangannya. Tungkai pria itu melangkah percaya diri, membunyikan ketukan terkonsolidasi di setiap pijakan. "Seluruh pakaian Nyonya dan barang-barangnya tidak kami temukan. Seluruh pelayan sudah mencari Nyonya, tapi kami tidak menemukan tanda keberadaannya! Di ruang baca pun, tidak ada!" Laporan Allison diiringi khawatir dan panik luar biasa menghantam keras benak Dante. Dekapan pada buket bunga mawar merah melonggar, sebelum jatuh teronggok mengenaskan di atas marmer. Mata biru sebagaimana lautan di balik kacamata hitamnya membola, sementara bulatan kecil di dalam kornea mata menyusut. "Jangan bercanda." Bariton suaranya memberat, membunyikan ancaman bila laporan Allison adalah prank di hari anniversary-nya dengan Sang Istri. "Saya berani bersumpah demi nyawa saya sendiri, Tuan. Tuan bisa melihatnya langsung di kamar Nyonya." Napas Allison terputus-putus, lelah usai mencari Sang Majikan. Tungkai dibalut celana panjang hitam milik Dante diseret cepat, setiap ketukannya membunyikan emosi negatif yang merayapi benak, perlahan menumbuhkan ketakutan yang merupakan ancaman. "Untuk apa dia pergi?" Dante enggan percaya pada ucapan Allison. Namun, selama mengenal wanita setengah baya itu, Dante tak pernah mendengar kelakar darinya. "Tidak ada tempat yang menjadi tempatnya pulang selain mansion ini." Dari nada suaranya: terdapat getaran dari sebuah ketakutan, panik serta khawatir bila yang Allison katakan adalah kenyataan. "Tuan!!" Dari arah jam dua, berlarian seorang wanita pendek. Wajah bulat wanita itu membentangkan senyum, suara tawa kecilnya menjadi pertanyaan besar bagi Dante. Langkah kecil dari kaki pendeknya memutus jarak di antara mereka. "Kabar apa yang ingin kau sampaikan?" Suara rendah nan berat Dante menyapu rungu wanita tersebut. Sorot tajam dari iris biru Dante tidak membuat wanita tersebut melenyapkan senyumnya, seolah berkas yang ada di tangannya adalah harta paling penting dari nyawanya. "Saya membawa kabar bahagia!" Wanita itu memekik, lantas mengambil hasil laboratorium dari dalam amplop coklat. "Selamat Tuan, anda akan menjadi ayah. Nyonya sedang hamil saat in—" Kata-kata yang telah ia rangkai dengan suka-cita terputus, Sang Tuan terburu merebut kertas di tangannya. Telaga birunya seolah ingin membakar kertas tersebut. Setiap kata yang ia baca dipelototi, enggan terlewati barang satu huruf pun. Di balik wajahnya yang tak seperti biasanya datar dan pongah, terdapat debaran luar biasa di dalam dada, seakan jantungnya tengah memohon untuk dikeluarkan. Tanpa dapat semua orang prediksi, sosoknya melangkahkan tungkai dengan kecepatan tinggi. Pijakan dari sepatu pantofelnya menjejaki ketakutan. Gemuruh jantung di dalam dada adalah kidung yang mengiringi jalannya. Brak! Pintu kayu menjulang tinggi di depannya terbuka lebar, memberi jalan untuknya memastikan kabar dari Bennet. "Liv!!" Kala nama Sang Dara, ia bunyikan, lehernya mengetat, liukan urat menggarisi leher saling bertonjolan. "Liv!" Dia kembali memanggil Sang Istri. Namun, angin lalu yang menyahuti. Untuk memastikan lebih dalam keberadaan Sang Istri, kakinya dibawa menuju kamar. "Aku tidak akan membiarkanmu lari membawa keturunanku." Tekadnya mengakar, bersama ambisi yang kembali bangkit ke permukaan. Liv Florence Bailey Cruz, dari awal pernikahan mereka dikarenakan keturunan untuk mewarisi kartel yang ia pimpin. Namun, kini, dia pergi membawa pondasi dari hubungan mereka. "Pergilah sejauh yang kau mau, aku akan menangkapmu sekalipun kau pergi ke neraka." ** “Saya janji akan membayarnya segera. Saya bersumpah!” Itu adalah kalimat yang selalu didengar dari ayahnya saat ada laki laki itu menagih. “Jenis sampah apalagi yang kau keluarkan dari mulutmu?” hardik pria di hadapannya, genggaman di ujung tongkatnya mengetat. Punggung dibalut jas hitam berpadukan kameja putihnya terlihat tegap. Samar, otot bisepnya menonjol kokoh di balik balutan setelan formalnya. “Sampai aku turun tangan pun, kau masih beralasan?” Kata-kata yang dilontarkan terlampau dingin, membekukan nyali. “Tu-Tuan. Kali ini saya benar-benar bersumpah. Saya … saya ….” Lidah ayahnya terasa membeku, jelas tak memiliki kuasa melawan Tuannya. “Ben.” Tangan Dante mengulur, meminta pistol dari asisten pribadinya. Sebuah pistol jenis scarface bertempat di tangannya, terdengar suara pelatuk ketika ia tarik pelatuknya. Mendengar suara pelatuk, Kane meneguk saliva. Rasa takut menghantui. Nyawanya akan lenyap di tangan pria ini. Buih-buih keringat bermunculan di pelipis. Saraf di otaknya terasa berhenti berfungsi, buat pikirannya sejenak membeku tak mampu pikirkan jalan lain, sebelum ujung matanya menangkap pintu kamar yang telah rapuh, nyaris hancur. Di sana, Liv yakin, ada telinga yang diam-diam terpasang— mendengar dialog mereka, menangkap dan merekam ancaman. Dia telah mendapatkan jalan lain, dan berharap Sang Tuan akan menerima. “Sa-saya punya opsi lain.” Segera ayahnya mengalihkan pria yang sudah bersiap hendak menembaknya. “Tu-Tuan bisa menikahi putri saya.” Di belakang pintu yang telah dimakan rayap itu … dia menutup mulut, menahan napas agar kehidupannya tak dijangkau oleh mafia itu. Dia yakin, yang dimaksud ayahnya adalah dia, bukan kakaknya. Liv Florence Bailey Cruz, putri pertama Kane yang tak pernah dianggap anak. Rasa takut menghantam, merayap sebagaimana serangga di seluruh sel, membuatnya bergidik kala bayangan pria menyeramkan itu dapat menghabiskan hidup bersamanya. Pria berwajah tanpa ekspresi itu menyahut, “Apa yang bisa Putrimu berikan kepadaku?” Seraya menunduk, Kane menjawab dengan suara bergetar. “Di-dia bisa memasak. Dan jug—” “Aku tidak sedang menyediakan panggung untuk komedi. Dan sekarang kau bermain-main denganku?” Jemari Dante mengusap halus permukaan pistolnya. Mulutnya meniup ujung pistol yang bisa kapan saja menembuskan peluru di kepala Kane. Liv Florence bergetar ketakutan, bola matanya nyaris keluar dan menggelinding melihat tingkah pongah dan menyeramkan Dante. Pria itu bukan sembarang manusia, dia adalah asisten malaikat maut. Liv yakin, jika dia menikah dengan Dante, artinya dia bisa mati kapan saja. Dan hidupnya bukan lagi tentang cara untuk bertahan, tapi mencari cara untuk tidak mati sia-sia di tangan Dante. “A-apa yang Ayah katakan?” Suaranya tergagap, menahan takut yang telah mengakar. Tangisnya mendesak, sementara telinga tetap terjaga untuk menangkap dialog mereka di balik pintu kayu rapuh. Butir-butir keringat dingin bercucuran di pelipis, benaknya terdorong logika untuk lari saat itu juga, sebelum dijebloskan dalam sangkar pria berbahaya itu. “Anak saya masih perawan.” Kane berucap cepat, khawatir pistol yang Dante pegang lebih dulu menembaknya. “Tuan bisa menjadikannya pelacur.” Jantung Liv berdegup terlalu kencang. Kata-kata sang ayah merupakan titik terendah dalam hidupnya, seolah belum cukup oleh penderitaan fisik dan batin selama ini. Sementara di balik pintu yang menjadi tempat Liv menguping, seringai Dante membentang, sorot tajam dari telaga biru di balik kacamatanya hitamnya bergulir liar, mencari gerangan yang Kane maksud. “Benar juga.” Dia bergumam. “EOA Cartel membutuhkan pewaris, aku bisa menjadikannya mesin produksi anakku.” Karena akhirnya dia dapat menggunakan putri tidak bergunanya sebagai tumbal agar dia dapat terlepas dari jeratan hutang atas kesalahannya sendiri. “Tuan bisa mengambilnya dan menjadikannya sebagai apapun yang Tuan mau.” Tanpa naluri sebagai ayah, lupakan darahnya yang mengalir deras di nadi sang putri, Kane berikan secara suka rela putri yang selama ini ia besarkan. “Tapi, Tuan … saya mohon untuk Tuan menikahinya terlebih dulu sebelum menjadikannya mesin untuk menghasilkan keturunan Tuan.” Dante menarik napas, lantas mengembuskan begitu panjang. Kepalanya menimang permintaan tidak tahu diri orang itu, orang yang telah berani menggelapkan dana pertanian kokain.Jarum jam tiada henti berdetak, suaranya berdentum menampar telinga kala senyap menguasai. Namun, di beberapa momen, suara Allison akan terdengar, seperti saat ini.Telah tiba saatnya Allison mengajari Liv mengatur keuangan mansion, membuktikan kepada tuannya bahwa dia kepala pelayan yang dapat diandalkan, bukan sekadar memberi perintah kepada pelayan lain."Apa Nyonya sudah membaca secara keseluruhan anggaran bulanan mansion yang saya beri?" Mata Allison penuh selidik, mencari celah dari perempuan yang dipilih Tuannya. Padahal Liv tidak memiliki sedikitpun keunggulan yang wajar untuk menyabet gelar Nyonya Greyson."Sudah," jawab Liv lugas. Punggungnya tegak, jemari saling bertaut di atas pangkuan, memperlihatkan ketenangan di balik debaran samar dalam dada. Dia ingin terlihat pantas menjadi Nyonya Greyson—memiliki martabat dan kekuasaan di depan Kepala Pelayan."Sejauh mana?" Di balik kacamata yang bertengger di pangkal hidung, Allison memindai tajam majikannya.Tak peduli status y
"Apa yang kau katakan?" balas Dante, balik bertanya.Samar, kening Liv bergelombang. Bibir ranumnya sedikit mengerucut—bukan merajuk, ia tengah mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya."Bukankah aku pasanganmu?" Beberapa kali Liv mengedipkan kelopak mata—mencoba mencerna maksud ucapan Dante. Walau vokalnya terdengar jelas, tapi ia berusaha percaya di atas ragu karena percakapan pelayan."Tentu aku mengerti bagaimana kau," imbuh Dante selama istrinya terdiam. "Kau suka melamun, seperti ada banyak sekali hal di dalam kepala mungilmu.""Dante tahu?" Perempuan itu bersuara rendah, sangat rendah, persis bisikan. "Dante bisa menebak apa yang Liv pikirkan sekarang?"Dante menarik udara panjang, memerosoki rongga hidung hingga paru-paru penuh oleh oksigen. Kemudian dia lepaskan perlahan."Bukan hal penting," ucapnya, nampak tak mengindahkan pertanyaan Liv. "Kepalamu terlalu berharga.""Berhentilah memikirkan hal-hal tak penting." Punggung tangan Liv diberikan usapan, gerakannya ritmis, te
Matahari menyorot tajam kala itu, jatuh tepat di atas kepala Liv, buat Liv kernyitkan kening dalam, halau ketajaman sari sorot matahari merusak penglihatannya.Kain-kain yang Allison perintahkan untuk dijemur, baru setengah Liv selesai jemur. Tak hanya menjemur, Liv diberi titah untuk mencucinya. Nyaris setengah hari waktu Liv dihabiskan mencuci pakaian, padahal mereka bisa mencuci di loundry.Sudah jelas untuk apa tujuan Allison memberinya tugas seperti ini—menyiksanya."Jika wanita itu benar-benar akan dijadikan Nyonya Greyson, bukankah Tuan harus mengadakan peresmian?" Samar, rungu Liv menangkap gosip dari pelayan tepat di balik kain yang tengah Liv bentangkan di atas tali.Pembicaraan itu sangat menarik untuk Liv dengar. Saksama, dia dengarkan, tak akan biarkan diri tertinggal satupun kata. Terlebih, mereka menyelipkan dirinya dan menjadikannya tokoh utama dalam pembicaraan tersebut."Mengadakan peresmian? Tapi kenapa Tuan tidak melakukannya? Malah Tuan seperti membiarkan wanita i
Setiap ketukan alas sepatu di ubin yang ia pijaki, punggungnya terasa panas akan banyaknya mata menyorot sebagaimana laser. Sementara langkah terus ia bawa maju, walau debaran di dalam dada seperti ditusuk ribuan jarum.Liv tahu, mereka tidak sedang menatapnya. Namun, benak terus merasa tatapan mereka berpusat padanya. Dia terlalu memikirkan hal tak seharusnya, berakhir resah tak keruan menggelayuti diri."Ekhem!" Seseorang menghadang langkah, berdiri pongah seolah pemimpin.Tundukan kepala, spontan Liv arahkan ke atas—tepat pada kedatangan seseorang yang menjadi pengganggu selama ia berada di lingkungan kampus."Kau berjalan seolah-olah tidak membuat kesalahan sebelumnya." Lengan orang tersebut menyilang di depan tubuh, memberi kesan betapa berkuasanya ia.Caranya menatap, seakan ingin memerosoki Liv dalam jurang kesialan. Walau memang tujuannya menghadang Liv di koridor adalah memberi kesialan di awal Liv menjalani rutinitas sebagai mahasiswi."Ha-Hailey butuh apa?" Kala pertanyaan
Telah terpasang sempurna setelan formal di tubuh Dante, membentuk siluet anggun nan gagah yang membungkus tonjolan ototnya.Begitu cermin dia lihat guna pindai diri, ada satu kecacatan di lehernya—dasi—benda itu belum Dante pasang. Telaga birunya dilempar pada insan yang membantunya bersiap pagi ini—sang istri—dia menatap kagum sosoknya yang berwibawa dalam bungkusan setelan formal."Did I look handsome, My Lady?" Dia membalikkan badan, perlihatkan betapa menawannya dirinya.Labium Lib mengukir senyum kagum. Tertera di telaga almondnya binar kagum untuk sang pria. "Everytime," sahut Liv. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, adalah kesempurnaan dari Dante Greyson. Pria itu diciptakan tanpa sedikitpun celah, seolah dewa dari Yunani.Dalam wajah datar kendati telah diberi pujian, Dante berkata, "Kau tidak merasa ada yang kurang?"Bibir Liv mengkerut, perhatikan lagi penampilan Dante—cari celah dari kesempurnaan yang telah tercipta. Lekas tatapannya mengacu pada leher yang kosong."Ah,
Di ujung ranjang, sosoknya duduk diam dengan kepala menunduk. Bola matanya terus bergulir ke kanan dan kiri, selama tidak berpusat pada seseorang yang baru membuka setelan kerjanya. Acap kali hidungnya mengembus aroma black opium dari pria ini, ingatan akan malam panas penuh gairah kemarin menyelinap. Memorinya masih menyimpan bagaimana perlakuan pria itu. Sentuhan-sentuhan lembutnya membekas begitu lekat. Terkadang, Liv merasa malu dalam diamnya. Selama dirinya hidup, tidak ada satupun pria menyentuhnya.Ujung sepatu Dante mengetuk. Alas sepatu warna merah sebagai simbol kekuasaannya membunyikan ketukan intimidatif.Lama waktu berselang, buat hening meraja di dalam kamar, Dante baru bersuara, "Aku lihat-lihat kau sering sekali melamun."Ujung telunjuk pria itu menggerakkan dagu Liv, agar kepala wanitanya tidak selalu menunduk."Aku mengerti." Kala bibirnya mengetukkan kata, aroma mint dari mulutnya terembus begitu segar di wajah Liv. "Sulit bagimu beradaptasi di duniaku. Tapi ada s