ANMELDEN“Segera bersiap.” Hannah, ibu tiri Liv, dia memaksa Liv berdiri.
“Bodoh! Kenapa kau menangis!” ujar ibunya mendorong keras kepala Liv hingga Liv terhuyung. Geram melihat Liv yang terisak, meratapi nasib tanpa sempat menolak. “Jangan menangis, Bodoh!” Belum puas menoyor kepala Liv, Hannah mencubit keras tangan Liv. “Akh. Sakit.” Liv mencicit, menjauhkan tangannya dari genggaman kuat ibu tirinya. “Pakai gaun ini.” Hannah paksa Liv membuka pakaiannya, mengganti pakaian lusuh Liv dengan gaun pengantin yang entah dia dapat dari mana. Tangannya menjulur, menjewer daun telinga Liv. “Sebagai manusia tidak berguna, harusnya kau bersyukur karena Tuan Dante mau menikahimu!” Liv meringis, menyentuh telinga yang dipegang tadi. “Mama bersyukur karena Ayah tidak ditembak.” Surai berminyak milik Liv ditarik paksa oleh Hannah, menyatukannya dalam satu ikatan rambut sebelum dipasangkan veil. “Setelah kau menikah dengan Tuan Dante, kau tidak boleh melupakan kami.” Gigi Hannah menyatu, membuat suaranya terdengar penuh penekanan. “Setiap hari kau harus memberikan kami uang, dan barang-barang branded. Berani kau menolak, habis kau di tanganku.” “Kau dengar itu, Bodoh?” Satu ikatan rambut Liv, dicengkram kuat oleh Hannah. “I-iya.” Liv meringis, pejamkan mata begitu rasa sakit dia terima. “Jangan iya-iya saja!” katanya menampar Liv, lekas menekan rahang Liv. “Kau harus menguras hartanya, lalu berikan semua hartanya pada kami.” “Kalau saja Ayah tidak menyerahkanmu pada Tuan Dante, kau tidak akan hidup enak dengan menjadi Nyonya Greyson!” Hannah melanjutkan. Kebahagiaan datang setelah mendengar sendiri di balik pintu kamar masing-masing pembicaraan Kane dan Dante, sebelum Kane memberi perintah untuk mempersiapkan Liv sebagai mempelai wanita. “Ayo keluar.” Hailey menarik paksa Liv, membuat Liv jalan sempoyongan karena tingginya heels yang ia kenakan. “Tuan.” Hannah memasang senyum lebar, terlalu lebar untuk dikatakan sebagai ibu yang telah menumbalkan anaknya. Sedangkan Liv hanya menunduk, hindari tatap tajam dari iris biru Dante. Walau tanpa Liv lihat pun dia merasakan betapa menusuknya tatapan pria itu. “Pengantinnya sudah siap.” Diam-diam Hannah mencubit Liv, memberi isyarat agar Liv tidak menunduk seperti orang bodoh. Ditekan oleh rasa takut, kecewa, sedih dan marah, membuat seluruh kosa kata di kepala Liv pergi melanglang buana. Dia tak memiliki kekuatan barang untuk membalas tatapan Dante. Jiwanya seolah tak memiliki harga. Dia diserahkan begitu saja sebagai bayaran atas dosa yang ayahnya lakukan. Bahkan mulutnya sendiri tak mampu melontarkan kata sebagai bentuk dari protes. Liv manusia, dia memiliki harga diri, meski harga dirinya dianggap sampah oleh orang-orang. Namun, kini, tak hanya harga diri, bahkan raga yang menjadi sisa harapannya dijual tanpa nilai kepada pria ini. “Biar kulihat.” Dagu Liv terangkat saat sebuah telunjuk menyentuhnya, buat netra rapuhnya bersinggungan dengan netra tajam Dante. “Kane. Sepertinya kau ingin merendahkanku.” Suara datarnya menerpa rungi Liv, terdengar adanya marah di setiap katanya. Lapisan air mata telah menggenang di pelupuk mata Liv, menahan tangis atas terjualnya harga diri serta raga yang ia miliki. Direndahkan bagai sampah di depan orang-orang. Mereka menjadikannya bahan tontonan, tanpa ada belas kasihan. “Ck. Kau ingin membayar hutangmu dengan perempuan seperti ini?” Pria itu menilai penampilan berantakan Liv di balik gaun pengantinnya. “Rasanya aku ingin menangisi hidupku.” Dante terkekeh, tertawakan nasibnya. ** Dinding katedral terasa begitu dingin menusuk hingga tulang rusuk, nyaris mengoyak jiwa yang telah rapuh. Keheningan membuat sumpah yang pendeta utarakan menggema, menggaungkan janji atas nama Tuhan. Namun, kebohongan menjadi sahutan dari kedua mempelai. “Sekarang, hidupmu adalah milikku.” Suara berat Dante membisik di sisi telinga Liv. Usai pendeta meminta bibir mereka untuk bertaut— menyatukan janji yang telah mereka lontarkan. Jemari Dante menyelip di surai Liv, menarik lebih dekat wajah gadis itu, sebelum bibir mereka bertemu. Lidah Dante menyesap kasar bibir Liv, giginya menggigit bibir bawah Liv. Rasa asin pun menyapu lidah Dante. Cairan merah keluar dari bibir Liv, jejak gigitan Dante tertera di sana. Liv mengeluarkan napas usai ciuman mereka terlepas, kepalanya menunduk. “Selamat, kalian telah resmi menjadi pasangan suami-istri di hadapan Tuhan.” Pendeta membentangkan senyum. Hanya formalitas, sebab matanya sendiri tak menangkap gurat bahagia dari mempelai. Tidak ada sahutan, keduanya bungkam sampai pendeta berinisiatif berlalu mendahului mereka. “Ben, bawa dia.” Dante memberi isyarat agar Liv diseret menuju limousine-nya. “Liv, ya ampun anak Mama. Mama tidak menyangka kamu akan meninggalkan kami secepat ini.” Sementara Hannah, memandang pilu dibuat-buat kepergian putri tirinya. “Bahagia selalu, Kakak! Jangan lupakan aku!” Tangan kakak tirinya berdadah ria, tak lupa deraian air mata dia persembahkan sebagai bumbu drama. “Maafkan, Ayah, Liv. Ayah selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Kane hampiri putrinya, hendak bergerak dan mendekap Sang Putri. Sebelum dekapan mereka terjadi, Dante menarik Liv menjauh dari Kane. Dengan menjadikan Liv bayaran atas hutangnya, Dante tahu bagaimana hidup Liv di keluarga itu. “Tidak ada kamera di sini,” kata Dante. “Kau juga bukan aktor.” Abaikan keluarga Liv yang sibuk memerankan sebagaimana keluarga cemara, Dante mendorong Liv memasuki limousine-nya tanpa bekas kasih. ** “Aku tau kau terpaksa menikah denganku.” Dasi yang menggantung di leher Dante dilepaskan. Seusai pernikahan, keduanya kini berdiri di rumah besar milik Dante. Telaga birunya membidik istrinya— dingin, menyerupai es. Takut berubah wujud, Liv berubah tegak. Jantungnya bertalu jauh lebih cepat dari biasanya. Sadar betul siapa yang kini berdiri satu atap dengannya. Dante Greyson, pria yang tak segan memotong leher siapapun yang menguji kesabarannya. Pria dengan tingkat kesabaran setipis tisu dibelah seribu. Sayangnya, pria itu adalah suaminya. Telaga biru sebagaimana samudra milik Dante lebih mirip bongkahan es di Antartika. Acap kali pandangan mereka bertemu, Liv merasa membeku. “Bukankah di dunia ini tidak ada yang gratis?” Kameja putih semula dikenakan Dante terlepas memperlihatkan tubuh atletisnya. Dari profil belakang, tonjolan otot Dante begitu keras, sebagai gambaran atas konsistensi olahraganya. Punggungnya kokoh, seakan tercipta untuk memberi perlindungan, terbentuk sebagaimana perisai."Tuan tolong ke rumah sakit, Nyonya mengalami pendarahan hebat!!"Bagai palu godam menghantam telak dadanya, kalimat itu hancurkan seluruh imajinasi semulanya terangkai indah.Liv? Pendarahan? Benaknya penuh keterkejutan menanyakan hal tersebut, menepis untuk percaya saat ia sendiri telah berekspektasi kebahagiaan rumah tangga mereka.Setiap langkah menapak di ubin, tak begitu ia rasakan pijakannya kala kalut dalam kepala begitu ricuh. Dadanya berdegup jauh lebih kencang, rona di wajah surut oleh ketegangan.Begitu jauh suara-suara di sekitar, nyaris tak dapat didengar saat fokusnya telah pecah berkeping-keping. Ketakutan yang tidak pernah datang bahkan dalam bentuk bayangan sekalipun, terasa begitu sangat nyata.Napasnya terputus-putus, dadanya berat untuk menampung lebih banyak oksigen. Nyaris tubuh gagah itu runtuh begitu tiba di depan ruang emergency room."Tuan!" Allison menyeru, ia hampiri Tuannya yang sedang menyetabilkan aliran napas."Bagaimana bisa terjadi—" Bahkan untuk ber
Sementara waktu Hailey melipir dari keramaian pesta menuju kamar mandi. Baru saja ia mencicipi kek dengan krim penuh sampai mengotori riasannya berujung harus memperbaiki riasan dengan harga ribuan dollar.Di dalam cermin, sosoknya begitu sempurna. Gaun malam jatuh sempurna membentuk siluet indah pada tubuhnya, kilauan dari kalungnya menyimpan kesan kemewahan yang sangat cocok untuknya.Dari dalam tas, ponsel ia raih. Aplikasi kamera pun ia kunjungi sebelum mengabadikan dirinya pada sebuah foto untuk ia kirim pada Liv."Mari kita lihat, siapa yang akan hancur di sini." Terkekeh puas usai mengirim foto dirinya disertai kalimat provokatif.Sentuhan terakhir adalah tatanan rambutnya, selepas semuanya beres Hailey bersiap pergi dari kamar mandi."Akh!"Jeritannya mengalun sebab kejutan berupa kedua pistol yang saat ini menempel di pelipisnya."A-apa yang kalian lakukan?" Tubuhnya bergetar mengetahui posisinya sangat tidak am
"Nyonya tolong hentikan!"Sesungguhnya tidak ada hal mengejutkan yang membuat dada Anna ingin mengeluarkan jantungnya dari apa yang ia lihat saat ini."Berikan itu! Liv sangat membutuhkan alkohol!"Melihat Liv hendak meminum alkohol, wajar jika jantung Anna terasa meloncat. Untung saja ia segera datang dan mencegah hal buruk terjadi."Mohon maaf Nyonya, untuk ini saya melarang. Tidak peduli jika nanti Tuan memecat saya, setidaknya saya bisa menyelamatkan nyawa bayi di kandungan anda." Anna mengoceh, sebotol wine berusaha ia jauhkan dari jangkauan Liv."Hanya satu teguk saja. Itu tidak akan membuat bayi Liv mati." Sementara perempuan itu memohon dengan wajah telah dibanjiri air mata."Ayolah Anna ... Liv sangat membutuhkan alkohol.""Ada cara lain untuk menghilangkan rasa sedih anda." Perlahan, nada suara Anna stabil kembali, jauh lebih lembut saat teringat besarnya luka yang terlihat di wajah basah Liv Greyson.
Matahari belum menempati singgasananya, tetapi alam bawah sadar Dante telah datang memenuhi raga.Teringat rencana mereka untuk berjalan-jalan di pagi hari, sontak Dante periksa sosok yang seharusnya ada mendekapnya.Sayang, yang ia dapat lagi-lagi kekosongan. Hampa dalam benak pun tumbuh, berikut ngilu tak terukur akan adanya kecewa."Pergi lagi?" Suara seraknya bertanya culas. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan?"Berdasarkan penyelidikan dari Ace, tidak ada hal mencurigakan dari Liv. Isi ponselnya bersih, tidak ada satupun riwayat mencurigakan seperti perselingkuhan yang sebelumnya Dante curigakan.Tanpa sadar, lidahnya membunyikan decakan keras—bunyikan kemarahan usai dikecewakan yang kedua kalinya oleh orang yang sama.***"Kau tahu ke mana istriku pergi?"Sebab tidak ada satupun orang yang bisa Dante tanyai selain Allison mengenai kepergian Liv, buat Allison terdampar di ruangan suram miliknya."Pag
Matahari dari Timur menyingsing sebelum cahaya merebak penuhi bentala Los Angeles. Karena cahayanya yang terang dari balik jendela, seseorang terbangun.Perlahan tapi pasti, kelopak matanya terbuka. Samar terlihat olehnya kekosongan di sisi, hal aneh yang ia temukan saat bangun tidur.Di hari kemarin dan sebelum-sebelumnya, paginya selalu disambut oleh manis dari senyuman sang istri. Sayangnya hari ini ia tidak diberikan seulas pun senyum dari Liv, justru kekosongan ia dapatkan yang kemudian menjalari benak.Saat hendak turun kemudian menghampiri sang istri yang kemungkinan di luar kamar, matanya lebih dulu menangkap post it di atas nakas.[Liv berangkat kuliah karena ada kelas pagi. Maaf tidak bisa bangun bersama. Liv cinta Dante semuka bumi"Tumben sekali," gumam Dante sebab ini kali pertama ia ditinggalkan.Sekelibat ingatan kemarin malam datang. Saat matanya temukan kejanggalan pada sang istri, membuat
Cklek.Terdengar engsel pintu dari sudut kanan kamar, yang kemudian menampilkan sesosok insan hanya berbalut kaos abu-abu kebesaran yang menenggelamkan tubuh mungilnya.Sebuah handuk bertengger di atas kepala, belum ia singkirkan sebelum mengenakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.Ting.Bersamaan hairdryer hendak ia ambil, denting notifikasi menyeret atensi, membuatnya beralih pada benda pipih yang tergeletak di sisi nakas."Hailey?" Bibirnya gumamkan nama tersebut.Terbesit perasaan tak enak—mengingat kemarin ia mendapatkan pesan provokatif dari Hailey—untuk saat ini, dia ingin menghindarinya.Awalnya demikian. Namun, sebuah foto yang Hailey kirimkan akhirnya menuntun ibu jari Liv 'tuk membuka pesan tersebut."Bukankah ini—"Dan rasa penasarannya tersebut menjatuhkan Liv pada jurang paling dalam.Tepat di depan matanya, sosok Hailey begitu cantik mengenakan gaun rumbai dengan kalung emerald persis seperti yang ia kenakan sewaktu kencan dengan Dante.Tidak hanya kalung emerald,
Entah apa yang terjadi, Dante membatalkan janjinya. Itupun melalui Allison, bukan menghubungi Liv secara langsung, entah itu melalui telepon maupun pesan.Dia menghilang begitu saja.Membiarkan Liv akhirnya pergi seorang diri ke rumah sakit.Bahkan hadiah yang dijanjika
"Karena hari ini kita akan pergi kencan. Aku memiliki sesuatu untukmu."Dante dan rahasianya, selalu berhasil menumbuhkan harapan dibaluri bunga-bunga bermekaran dalam benak istrinya.Terulas cantik bagai mekarnya mawar sebuah senyum di rupa sang istri. "Hmm, kencan hari ini pasti sangat spesial."
Limousine bentley membelah kepadatan kota, jatuhnya matahari dari atas mengkilapkan kemewahan dari setiap inci body-nya.Bising deruan kendaraan lain di balik jendela mobil tak begitu tersampaikan, terlepas saat ini pandangannya jatuh pada kesibukan kota."James," panggil Dante
"Punggungku belum disikat, tolong kau sikat." Serahkan sikat punggung pada sang istri, bergantian setelah ia membersihkan punggung Liv.Memutar tubuh usai menerima sikat dari Dante, mengkerutkan kening tatkala Dante tidak menandakan membalikan posisi agar memudahkan Liv menjangkau punggungnya."Ken







