LOGINSemburat hangat cahaya matahari mencolek pipi Rosalynd. Gadis itu melenguh kecil. Ia mencoba bergerak akan tetapi ia menyadari lengan suaminya melingkar kuat di pinggang nya. Wajah tampan sang Tiran yang masih terlelap lah yang pertama kali ia lihat. Aroma wangi dari sabun mandi menyeruak dari badan Kenneth. Ternyata, ia telah membersihkan dirinya lebih awal dan kembali berbaring. "Selamat pagi, Sayang." Suara khas bangun tidur Kenneth terdengar begitu serak dan seksi tepat di telinga Rosalynd. Perlahan, ia membuka matanya dan menatap Rosalynd dengan binar yang meneduhkan. Ular Kecil itu merasa tersipu. Kembali ia menyembunyikan rona merah itu di dada bidang Kenneth yang tidak terhalang kain seperti biasa. "Selamat pagi Tuan. Apakah sekarang hobi anda membuat saya tersipu malu, Tuan?" selidiknya dengan santai. Kenneth hanya terkekeh rendah. Satu kecupan singkat kembali mendarat di bibir Rosalynd. "Morning kiss. Selamat pagi kembali, Sayang. Bagaimana, apa sudah mendin
Karena terasa sudah larut, Kenneth perlahan melepas pautan keduanya. Akan tetapi, jemarinya tak sedetikpun lepas dari punggung tangan Rosalynd. Kenneth menangkup pipi Rosalynd pelan. "Sayang, sudah malam. Ayo pulang. Aku takut kamu kedinginan. Kapan-kapan kita kesini lagi, hemthh." Pinta Kenneth lembut. Rosalynd mengangguk pelan dan Kenneth memapah tubuhnya pelan, membelah keramaian pasar malam dan berjalan menuju mobil sedan mewah hitam kekaisaran yang sudah menunggu di sudut jalan. Kaelion membukakan pintu mobil tanpa berani bersuara atau menatap netra Kaisarnya. Aroma wangi interior kulit mewah semerbak bercampur dengan parfum yang dikenakan Kenneth langsung menyeruak indra penciuman Rosalynd. Perlahan, mobil berjalan pelan meninggalkan suasana ibu kota yang bertabur lampu-lampu yang indah. Kenneth menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Rosalynd. Tangannya kembali melingkar di pinggang mungil Rosalynd. "Lelah, Manis?" tanya Kenneth rendah. Suaranya begitu halus
Langit sore perlahan meredup dan tergantikan oleh lampu warna-warni yang mulai menyala di sepanjang area pasar malam di ibu kota. Hiruk pikuk suara para pedagang dan gelak tawa masyarakat yang memadati kawasan itu. Udaranya cukup sejuk dan berbanding terbalik dengan hawa dingin AC Paviliun Mawar yang mampu membuat Rosalynd jenuh. Di tengah keramaian, Rosalynd berjalan dengan jemarinya yang selalu bertaut di jemari kekar Kenneth. Sore ini, Tiran itu menepati janjinya. Ia tidak mengenakan seragam kebesarannya, melainkan hanya memakai kemeja hitam yang digulung hingga ke siku. "Bagaimana, Sayang. Udara disini jauh lebih segar daripada udara di kamarmu, bukan?" tanya Kenneth santai seolah berusaha memecah keheningan di antara mereka. Rosalynd berlagak seperti anak kecil yang diajak ayahnya pergi ke pasar malam. Tanpa beban dan tanpa kecurigaan. "Benar sekali, Tuan. Suasana disini sangat ramai dan nyaman. Terima kasih ya sudah membawaku kesini." Ucap Rosalynd dengan nada yan
Rosalynd mengerutkan keningnya tipis, menoleh pelan ke samping dan benar saja Kenneth masih dalam keadaan mata terpejam, sangat tenang dan sangat jauh dari seorang Tiran yang ingin menghabisi seseorang kapan saja. "Sudah bangun, Sayang?" Suara khas bangun tidur Kenneth membuyarkan semuanya. Netranya terbuka perlahan dan menatap lurus pada Rosalynd dengan sangat lembut. Tatapan itu seolah membuat Rosalynd merinding setengah mati setelah apa yang ia lihat di meja riasnya semalam. Rosalynd terpaksa tersenyum. "Selamat pagi, Tuan. A—apakah anda tidur nyenyak semalam?" Kenneth tertawa rendah. Ia menarik tubuh mungil Rosalynd untuk semakin dekat dengannya. Mengecup kening Rosalynd dalam dan memperlakukannya seolah suami yang sangat mencintai istrinya. "Tentu saja. Apalagi ada kau di sisiku, Sayang." Tutur Kenneth santai sembari mengusap pipi Rosalynd lembut. "Bagaimana lehermu? Salepnya bekerja dengan baik, bukan?" tanya Kenneth kembali. Rosalynd mengangguk pelan. "Eumt
Bisikan yang dilontarkan Kenneth sedekat itu berhasil membuat bulu kuduknya meremang. Bukan karena takut, melainkan karena intensitasnya. Jemari Kenneth masih terus mengusap lembut sisa salep yang belum merata di lehernya. Rosalynd menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya supaya terlihat tenang di depan cermin. Setelah dirasa tenang, ia membalikkan badannya pelan dan mendongak untuk menatap langsung netra Kenneth. "Kalau menurut saya. Saya merasa bahwa instalasi listrik disini memang memerlukan pemeliharaan," ungkap Rosalynd dengan suaranya yang lembut. "Bagaimana mungkin, istana semegah dan semewah Blackwood memiliki kabel usang?" Kenneth menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya pun terangkat bersamaan. "Pandai sekali. Berusaha mengalihkan pertanyaan ku, Rosalynd?" Rosalynd hanya tersenyum singkat. "Anda salah, Yang Mulia. Saya sedang tidak mengalihkan apapun." Balas Rosalynd pelan. Kedua tangannya meraba dada bidang Kenneth. "Sa
Bunyi keras dari pintu yang terkunci dari luar laksana penjara baru bagi Rosalynd. Di dalam kamar itu, suasana mendadak kembali mencekam. Langkah kaki prajurit kavaleri yang mengantar nya tadi perlahan meninggalkan kediamannya. Tak lupa mereka juga menutup setiap akses keluar termasuk balkon yang menghadap langsung ke taman belakang istana. Gadis itu berjalan gontai mendekati cermin besar berbingkai emas yang diletakkan di sudut ruangan. Jemarinya menyentuh leher putihnya. "Isolasi ini nyata adanya dan akhirnya aku melewati ini semua." Gumamnya lirih dan menatap pantulan dirinya yang terlihat seperti mayat hidup. Ia memejamkan netranya pelan, seolah berusaha menepis bayangan tatapan beringas Kenneth. Tak lama setelah ia membayangkan kebrutalan suaminya, pintu kamarnya kembali diketuk pelan. Seorang pelayan paruh baya membawa baki makanan masuk dengan kepala tertunduk. Dibelakangnya ada dua prajurit yang mendampingi nya di ambang pintu. "Mohon maaf mengganggu waktunya,
Rosalynd membuka matanya pelan, mentari pagi perlahan menyusup ke celah gorden paviliun. Ketika ia mencoba bangun, ia meringis pelan sembari memegangi lehernya yang masih nyeri. Di pantulan meja riasnya, ia melihat dirinya sendiri dan bekas cengkeraman di dagunya. Masih di posisi yang sama, pint
Akhirnya, setelah huru-hara yang dibuat rosalynd di jamuan makan malam selesai sudah. Para selir dan ibunda nya segera meninggalkan aula utama. Rosalynd pun berjalan kembali ke paviliunnya. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat. Rosalynd langsung menghembuskan napasnya panjang dan melepaskan topen
Suasana kamar itu mendadak mencekam. Rosalynd hanya bisa terpaku. Tepat di depan bibirnya yang ranum, Kenneth justru memberikan sebuah hadiah mengejutkan. Satu kecupan singkat yang dingin namun penuh dengan tekanan, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya pada tubuh Rosalynd. Pria Tiran
Matahari sudah tepat di atas kepala dan membuat kondisi Paviliun Mawar menjadi terasa pengap. Sepeninggalan Kenneth, tak ada satu pun pelayan yang berani mendekati paviliun itu. Hukuman Cassandra ini benar-benar berjalan. Rosalynd masih bersandar di meja riasnya dengan kondisi semakin pucat pas







