تسجيل الدخولLily berhenti tepat di ambang pintu perpustakaan. Gadis itu berbalik pelan dan meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin, kemudian menundukkan kepalanya diam-diam di depan penguasa Shanza. "A—ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan Gavin?" tanya Lily dengan suara yang bergetar. Pria tegap bersetelan kemeja longgar melangkah pelan memutari meja. Suasana hangat dan ramah yang baru saja terpampang di hadapan Rosalynd sirna seketika, berganti dengan suasana yang mencekam dan penuh dengan intimidasi. Gavin menghentikan langkahnya dua jengkal di hadapan Lily, menatap dayang setia adiknya dengan tatapan tajam yang menusuk. "Bawa lukisannya ke kamar seperti yang ia minta," perintah Gavin dengan suara yang sangat rendah, namun penuh penekanan. "Dan dengarkan aku baik-baik, Lily." Lily mengangguk. "Ba—baik, Tuan—" Lily menahan napasnya tak berani mendongak. Aura yang dipancarkan Gavin saat ini sama sekali tak kalah mengerikannya dengan yang dilakukan oleh Kenneth. "Mulai detik i
Beberapa minggu berlalu di kediaman klan Shanza layaknya mimpi indah yang tak ingin Rosalynd akhiri. Di bawah langit Shanza yang biru dan udara pegunungan yang sejuk, luka fisik pada pergelangan tangannya perlahan memudar dan menyisakan bekas goresan tipis yang tertutup rapi oleh pakaiannya. Raut wajah Rosalynd tak sepucat ketika ia terbaring di ruang medis Blackwood. Rona merah alami di pipinya kembali merona. Ia mulai melukis di selasar taman kaca, menikmati jamuan teh dan tertawa lepas bersama Lily serta beberapa pelayan yang melayani nya dengan kasih sayang. Rasa tenang yang selama ini menghilang sejenak, akhirnya kembali lagi. Sore harinya, di perpustakaan pribadi mansion yang hangat oleh perapian, Gavin duduk berhadapan dengan Rosalynd. Di atas meja kayu mahoni sudah tersaji dua cangkir teh Chamomile hangat dan sepiring kudapan manis kesukaan Rosalynd. Gavin memandangi adik kecilnya dengan tatapan hangat, lalu menggeser cangkir teh mendekati Rosalynd. "Kamu terlihat jauh leb
Berbeda dengan kehangatan yang menyelimuti tanah Shanza. Istana Utama Blackwood justru diselimuti kabut hitam yang sangat mencekam. Angin malam berhembus dingin menembus lorong-lorong megah yang tampak sepi seperti kuburan. Tak ada langkah pelayan yang berlalu lalang dan tak ada lagi gelak tawa halus yang biasa menghias sudut-sudut Paviliun. Istana megah itu mendadak kehilangan jiwanya. Kenneth sudah tak berada di ruang kerjanya, tidak pula di kamar utamanya. Kaisar Tiran itu hanya mengurung diri di kamar Paviliun Mawar, ruangan yang kini gelap gulita. Pria gagah itu duduk membisu di tepi ranjang, merenung dalam remang cahaya bulan yang menembus jendela kaca yang sedikit retak. Kenneth melarang seluruh pelayannya yang mencoba menawarkan untuk membersihkan kamarnya. Alhasil, pecahan vas bunga dan porselen masih berserakan dimana-mana, tertinggal bersama noda darah mengering milik Rosalynd. Botol whisky yang ada dalam genggamannya berdenting ketika ia meneguknya langsung dari botol n
Keesokan harinya, Rosalynd benar-benar diizinkan Kenneth untuk kembali ke kediamannya. Beberapa iring-iringan limusin hitam berlogo serigala milik klan Shanza sudah menunggunya di lobi. "Hati-hati ya Sayang. Jangan lupa pulang ke rumah mu yang sebenarnya. Aku selalu setia menunggumu." kata Kenneth seolah memberikan salam perpisahan. Rosalynd hanya tersenyum ketus dan berjalan meninggalkan nya sendirian. Ia dijemput oleh Gavin dan membantunya masuk mobil. Setelah memastikan Rosalynd aman, Gavin tersenyum penuh arti pada Kenneth. Padahal, Kenneth tau apa yang sebenarnya Gavin maksud. Setelah dirasa sudah aman, iring-iringan mobil yang membawa Rosalynd melaju mulus menembus gerbang utama yang megah. Selang waktu tiga jam melintasi perbatasan wilayah, suasana mencekam yang ada di Istana Utama Blackwood diganti menjadi hembusan angin yang sangat menyejukkan jiwa. Rosalynd menurunkan sedikit kaca mobil. Netranya yang semula redup, kini berganti dengan tatapan ceria karena hamparan padan
Pertanyaan dingin yang keluar dari bibir pucat Rosalynd membeku di udara. Aliran darah di tubuh Kenneth seolah ikut membeku. Sang Kaisar Tiran membisu kaku, menatap sepasang netra redup istrinya dengan dada nya yang sesak karena rasa bersalahnya yang dalam. Lidahnya kelu, tak sanggup lagi merangkai kebohongan baru di hadapan wanita yang baru saja mencelakakan nyawa nya sendiri. Belum sempat Kenneth menjawab, pintu ruangan kembali terbuka pelan. Kepala dokter melangkah masuk bersama dua asistennya dengan membawa obat dan kain kasa bersih. "Permisi, Yang Mulia. Mohon izin, saya harus memeriksa kembali denyut nadi dan luka pendarahan pada pergelangan tangan Selir Rosalynd." Izin kepala dokter sambil membungkuk hormat, memecah keheningan di antara sepasang suami istri yang sedang bersitegang. Kenneth bangkit perlahan dan mempersilahkan dokter untuk memeriksa kondisi istrinya, meski jemari tegapnya enggan melepaskan genggaman Rosalynd. Dengan mata kepalanya sendiri, Kenneth terus memper
"Minggir!" pekik Kenneth ibarat binatang buas yang sedang terluka. Penguasa Blackwood itu menggendong tubuh Rosalynd yang terkulai lemas dalam pelukannya. Ia menepis luka robek di lututnya sendiri yang terus mengucurkan darah akibat tancapan kaca dan tak memperdulikan rasa perih yang menjalar. Seluruh dunianya runtuh dan seolah terfokus sepenuhnya pada gaun tidur putih istrinya yang berubah menjadi merah pekat berlumuran darah segar. Dengan langkah yang memburu dan histeris yang tak tertahankan, Kenneth menerobos koridor istana Blackwood menuju ruang medis. Kaelion dan puluhan prajurit divisi bayang berlari mengekor di belakangnya dengan senjata yang terhunus, membelah keheningan malam istana yang mendadak berubah mencekam karena ketakutan. Brak! Kenneth menendang pintu kayu ruang medis terbuka lebar. Para dokter kerajaan yang berada dalam ruangan seketika meloncat terkejut. Wajah mereka pucat pasi melihat sang penguasa masuk dengan tubuh yang berlumuran darah. "Selamatkan dia!
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem







